Etika Terhadap Rasulullah ﷺ
H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A
Wakil Ketua PDM
Sukoharjo, Direktur Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo
Pada bulan September 2023 M bertepatan
dengan datangnya bulan Rabi‘ul Awwal 1445 H. Jika melihat kembali sejarah,
terdapat peristiwa yang sangat penting yang terjadi pada 12 Rabi‘ul Awwal,
yaitu lahirnya Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun demikian, para sejarawan muslim berbeda pendapat
mengenai tanggal kelahiran beliau. Ada yang menyebut tanggal 2, ada yang
menyebut tanggal 9. Namun, mayoritas dari mereka berpendapat bahwa beliau lahir
pada hari Senin, tanggal 12 Rabi‘ul Awwal, tahun Gajah.
Perbedaan tersebut tidaklah penting bagi
kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mendalami sejarah dakwah dan
perjuangan beliau serta meneladaninya. Karena Allah ﷻ telah berfirman:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]:
21)
Setiap muslim harus
mengetahui dan meyakini bahwa beretika yang baik terhadap Rasulullah Muhammad ﷺ hukumnya wajib. Setiap muslim
baru benar-benar dikatakan memiliki etika yang baik terhadap Rasulullah ﷺ apabila telah melakukan hal-hal
berikut ini:
1. Taat
kepada semua syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ
Allah
ﷻ
berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا
فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (٣٢)
“Katakanlah (Hai Muhammad!): "Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Hai Muhammad!): "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika
kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (Q.S. Ali Imran [3]: 31-32)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tanda cinta seorang muslim kepada Allah ﷻ adalah apabila ia selalu menaati
Rasulullah ﷺ. Bahkan, apabila seseorang menentang syariat yang dibawa oleh
Rasulullah ﷺ, maka ia sudah pantas disebut sebagai orang kafir.
2.
Mencintainya
dengan sepenuh hati di atas semua makhluk Allah ﷻ
yang lain
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ
اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤)
Katakanlah:
"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S. At Taubah [9]: 24)
Dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِى نَفْـسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُـمْ
حَتَّى أَكُـوْنَ أَحَـبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَـدِهِ وَوَالِـدِهِ وَالنَّـاسِ أَجْمَعِـيْنَ (متّفق عليه)
“Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, salah seorang kalian tidak beriman hingga aku lebih dicintai
daripada anaknya, ayahnya dan seluruh manusia.” (Muttafaqun 'alaihi)
Bukan berarti kita tidak boleh mencintai orang tua, suami, istri,
anak-anak, harta benda, dan sesama makhluk Allah ﷻ. Namun, cinta kita kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya haruslah lebih
tinggi dari semua itu. Sehingga apabila terjadi pertentangan antara syariat
Allah ﷻ dan Rasul-Nya di satu sisi, dengan harapan atau permintaan dari
orang-orang yang kita cintai di sisi lain, maka kita harus memilih dan
mendahulukan syariat Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
Termasuk bukti mencintai Rasulullah ﷺ setelah beliau wafat adalah
dengan mempelajari dan meneladani sirah perjuangan beliau, mencontoh akhlak dan
adab beliau, serta ikut serta membantah (baca: meluruskan) berbagai tuduhan
bohong yang dilemparkan oleh para musuh dan penentang Rasulullah ﷺ.
3.
Mencintai siapa saja yang dicintai Rasulullah ﷺ, memusuhi siapa saja yang memusuhi Rasulullah ﷺ, ridha dengan apa yang diridhai beliau, dan marah dengan apa
yang membuat beliau marah
Allah ﷻ berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ .... (٢٩)
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang
sesama mereka…” (Q.S. Al Fath [48] :29)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar mencintai
Rasulullah ﷺ akan mengikuti sikap dan pendirian beliau, yaitu tegas terhadap
orang-orang yang memusuhi dan memerangi agama Allah, namun penuh kasih sayang
terhadap sesama kaum muslimin. Dengan mencintai apa yang dicintai Rasulullah ﷺ dan membenci apa yang beliau
benci, seorang muslim menunjukkan kesetiaan dan kecintaannya kepada beliau
secara nyata dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sehari-hari.
4. Mengagungkan nama Rasulullah ﷺ,
bersikap santun terhadap beliau, menghormati beliau ketika nama beliau
disebutkan dan menghormati semua kelebihan beliau.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا
أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ
كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا
تَشْعُرُونَ (٢) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ
أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu
lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras
sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain,
supaya tidak hapus (pahala) amalanmu
sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya
orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah
orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka
ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al Hujurat [49]: 2 - 3)
Ayat tersebut
menjelaskan kewajiban kaum muslimin untuk mengagungkan dan menghormati
Rasulullah ﷺ, baik dalam ucapan
maupun sikap. Menghormati beliau dengan bersikap santun, merendahkan suara, dan
memuliakan nama serta kedudukan beliau merupakan bukti ketakwaan dan keimanan
seorang muslim, yang akan berbuah ampunan dan pahala besar dari Allah ﷻ.
5. Membenarkan apa yang dijelaskan Rasulullah ﷺ tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia maupun akhirat
Allah ﷻ
berfirman:
وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ
كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (١٨)
“Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum
kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah
menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya." (Q.S. Al 'Ankabuut [29]: 18)
Allah ﷻ juga
berfirman:
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ
شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٨) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٩)
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di
waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al Fath [48]: 8)
Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ adalah menyampaikan risalah Allah dengan jelas, dan kewajiban umat Islam adalah membenarkan
serta mengimani seluruh penjelasan beliau, baik yang berkaitan dengan urusan
dunia maupun akhirat. Membenarkan Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari keimanan
kepada Allah ﷻ dan bentuk penghormatan serta
pengagungan terhadap risalah yang beliau bawa.
6. Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ,
menegakkan syari'at beliau, menyampaikan dakwah beliau dan melaksanakan
wasiat-wasiat beliau.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا
عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا
فَعَلُوهُ إِلا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ
لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (٦٦)
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:
"Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka
tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya
kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal
yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (Q.S. An Nisaa' [4]: 66)
Allah ﷻ juga
berfirman:
يَا أَيُّـهَا الَّذِينَ
آمَنُـوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُـولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ
إِنَّ اللَّهَ سَمِيـعٌ عَلِيمٌ (١)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Hujurat [49]: 1)
Jadi, memiliki etika yang
baik kepada Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar mengadakan
acara-acara khusus dalam rangka memperingati kelahiran beliau, kemudian setelah
itu tidak melaksanakan syariat yang beliau bawa. Bahkan, di dalam acara-acara
khusus tersebut sering kali dicampur dengan kepercayaan-kepercayaan yang justru
menyimpang dari ajaran Rasulullah ﷺ. Na‘udzu billahi min dzalik.
Dengan demikian, beberapa poin di atas merupakan bentuk yang sebenarnya dari beretika yang baik terhadap Rasulullah ﷺ. Setiap muslim harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan etika-etika tersebut, karena kesempurnaan dirinya terkait erat dengan pelaksanaannya, dan kebahagiaannya, baik di dunia maupun di akhirat, bergantung kepadanya. Wallahu a’lam
Tidak ada komentar