Bila Semangat Juang Memudar
Berbagai godaan dan tekanan hebat yang melanda medan dakwah sering kali membawa virus futur yang mewabah dan menjangkiti para aktivisnya. Sebuah penyakit yang harus diwaspadai oleh para aktivis gerakan Islam. Karena jika dibiarkan begitu saja akan berakibat sangat fatal. Tak cuma semangat yang menjadi luntur, bahkan akidah pun bisa melayang dibuatnya.
Futur berasal dari bahasa Arab yang artinya terputus, berhenti, malas, dan lambat, setelah sebelumnya rajin dan konsisten. Dalam konteks dakwah, futur bermakna kondisi menurunnya semangat beriman dan beramal shalih serta melemahnya ghirah seseorang dalam berjihad dan berdakwah. Futur terdiri dari banyak tingkatan. Yang paling ringan adalah apabila seseorang mengalami penurunan kualitas ruhiyah, ibadah, serta amal shalih. Kemudian beranjak pada berkurangnya kuantitas ibadah dan amal shalih. Lebih jauh lagi adalah tingkatan yang mulai meninggalkan sama sekali ibadah dan amal shalih tersebut. Dan terakhir yang paling parah adalah meninggalkan keimanan sama sekali (Untung Wahono, 2006: 21).
Dalam konteks dakwah kontemporer, fenomena futur sering muncul dalam beberapa kasus. Seorang ustadz pernah bercerita, “Kita adalah orang yang insya Allah telah teruji daya tahan kita dalam menghadapi masa-masa sulit. Namun belum teruji di saat memasuki masa-masa mudah. Dulu adalah hal biasa salah seorang di antara kita berjalan kaki dari Bogor ke Puncak untuk mengisi daurah di sebuah vila pinjaman, karena kita tak punya uang. Kita kuat.”
Beliau khawatir para kader dakwah justru akan mengalami futur di saat memasuki masa-masa mudah. “Saya justru khawatir ketangguhan itu hilang di saat kita telah mampu ke Puncak dengan mobil sendiri, di saat kenikmatan dunia mulai berada di sekitar kita.”
Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan kepada kaum Muslimin di Madinah yang berlomba-lomba mendapatkan pembagian harta hasil jizyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (H.R. Muslim).
Menurut Ustadz Hamim Thohari (2006), ada tiga jenis kefuturan yang menimpa para aktivis dakwah. Pertama, aktivis yang ditinggalkan. Umumnya mereka adalah para pemalas yang tidak mau mengasah dirinya dengan menambah berbagai ilmu keislaman dan kreativitas dakwah. Mereka tidak punya kesungguhan untuk memperbarui (update) dan meningkatkan diri (upgrade) mereka secara terus-menerus. Karenanya, kualitas keislamannya dangkal, kiprah dakwahnya juga hambar dan tidak berkembang, padahal lingkungan sekitarnya terus berubah dan mengalami kemajuan demi kemajuan. Mereka sebenarnya tidak pantas lagi menyandang predikat sebagai seorang aktivis dakwah karena mereka pasif. Bukankah seorang Muslim setiap harinya harus lebih baik? Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin, dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin.
Kedua, aktivis yang ditinggalkan. Mereka adalah mantan aktivis yang telah melakukan kesalahan fatal, baik dari segi akidah, syariah, atau akhlak. Setiap aktivis harus menyadari bahwa diri mereka adalah pemimpin dan penggerak perubahan. Mereka harus sadar bahwa ribuan pasang mata selalu memandang dan mengawasi gerak-geriknya. Masyarakat akan mengikuti jika mereka berlaku baik dan benar, tetapi akan meninggalkannya ketika para aktivis itu mulai melakukan kesalahan, penyelewengan, apalagi sampai pada penyimpangan. Aktivis yang tidak bisa menjadi teladan, cepat atau lambat pasti akan ditinggalkan. Mereka akan futur, putus di tengah jalan.
Ketiga, aktivis yang meninggalkan. Mereka adalah mantan aktivis yang tidak sabar dan tidak istiqamah menapaki jalan perjuangan yang terjal dan panjang. Mereka tidak tahan menghadapi cobaan dan rayuan. Mereka juga tidak kuat menahan derita yang kadang sangat panjang dan menyakitkan. Belum lagi fitnah yang kadang datangnya tak terduga. Semua ini membuat mereka putus di tengah jalan. Mereka meninggalkan arena perjuangan dengan berbagai alasan. Ada yang ingin menata ekonomi keluarganya, membenahi sekolahnya, ingin menjadi masyarakat biasa, ingin uzlah supaya khusyuk beribadah, dan banyak lagi alasan yang lain. Pada intinya, mereka tidak tahan lagi hidup sebagai aktivis.
Sedangkan menurut Irfan S. Awwas (2007), para aktivis yang bergelut di medan dakwah mempunyai beberapa musuh, di antaranya yaitu: (1) kekuatan tirani (penguasa thaghut); (2) putus asa dari kemenangan; (3) keruwetan hidup dan kesulitan ekonomi; (4) sikap individualis dan egois; (5) tunduk pada rutinitas dan menyerah pada kenyataan; (6) melemparkan tanggung jawab; (7) konspirasi kaum kafir dan munafik; (8) nyaman pada kemapanan hidup; (9) terlalu lama beristirahat; dan (10) merasa aman dari rintangan.
Maka, ada dua kunci yang harus kita miliki untuk menaklukkan semua rintangan dan kefuturan itu agar kemudian dapat meraih kemenangan dalam berdakwah. Yang pertama adalah ikhlas. Ikhlas bukanlah ucapan yang hanya terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah “permata” yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketenteraman dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara kita semua mengetahui bahwa tanpa keikhlasan, tak ada amal yang akan diterima.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (H.R. Muslim).
Ikhlas adalah rahasia kesuksesan dakwah para nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang shalih (salaf ash-shalih). Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali.
Mereka adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. an-Nisa’ [4]: 69).
Kalau kita memang ikhlas, niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain. Kalau kita memang ikhlas, maka amalan sekecil apa pun tidak akan pernah kita sepelekan. Kalau kita memang ikhlas, maka kita akan selalu beramal meskipun tak ada seorang pun yang melihat dan memuji amalan kita.
Sedangkan kunci yang kedua adalah ittiba’, berpegang teguh kepada jalan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Takkan ada kekuatan apa pun yang dapat mempertahankan benteng kebenaran kecuali dengan pertolongan-Nya. Dan pertolongan-Nya tidak akan diberikan kecuali hanya kepada para aktivis yang tetap berdiri tegak di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu istiqamah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik teladan (uswah hasanah) dalam setiap sendi kehidupan yang dijalaninya.
Siapa saja yang berpaling dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah sahihah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat senang maupun susah, bahagia maupun menderita, di kala sempit maupun lapang, maka ia akan ditemani setan—baik dari jenis jin maupun manusia—yang akan selalu menyesatkan dan menghalangi mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 43–44).
Wallahu A’lam.
Tidak ada komentar