Header Ads

Header ADS

Sejarah Indah Hubungan Erat Indonesia-Palestina


Budi Marta Saudin, Lc.
Mahasiswa S2 Jurusan Ushul Tarbiyah, KSU, Arab Saudi

Abdurrahman Azzam Pasya, Sekjen Liga Arab, berada di ruang kerjanya sambil melihat peta dunia yang terbentang di hadapannya. Ia merasa heran karena ada satu negara yang belum tercantum pada secarik kertas yang tergulung rapi itu.

Untuk memastikan apakah penglihatannya keliru, lembaran kertas itu didekatkannya. Ternyata, tidak ada negara Indonesia. Yang ada hanyalah sebuah wilayah bertuliskan Juzur al-Hindi al-Hulandiyah asy-Syarqiyyah.

Syaikh Azzam merasa heran. Sebab, ia mendengar bahwa Indonesia telah merdeka pada 1945 dan telah terbebas dari penjajahan Belanda. Namun kali ini, ia tidak menemukan nama negara tersebut pada peta yang dipegangnya.

Dikutip dari buku Perjuangan yang Dilupakan karya Rizki Lesus, Syaikh Azzam kemudian menghadap pejabat tinggi Mesir untuk membicarakan hal penting ini. Ia bertemu Mahmud Fahmi Nokrasyi, yang kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri.

“Bagaimana pendapat Yang Mulia seandainya kita memberi dukungan atas perjuangan bangsa Indonesia?” tanya Syaikh Azzam.

“Yang Mulia, bangsa Indonesia adalah bangsa Muslim yang sedang berjuang untuk merebut kemerdekaannya kembali dari tangan penjajah Belanda. Menurut pendapat saya, apabila bangsa ini memperoleh dukungan dan bantuan sepenuhnya dari negeri-negeri Arab dan Islam, bisa dipastikan mereka akan mempunyai pengaruh dan peranan dalam perimbangan kekuatan dunia, menggantikan Jepang yang sudah menyerah kalah,” kata Syaikh Azzam lagi.

Diskusi berlangsung cukup panjang. Perdana Menteri Mesir berpesan agar dirinya diberi data-data yang cukup untuk menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Syaikh Azzam tersebut.

Selain Perdana Menteri, Syaikh Azzam juga menemui Raja Farouk untuk membicarakan dukungan atas kemerdekaan Indonesia.

Gayung bersambut. Raja Mesir itu berkata melalui gagang telepon kepada Syaikh Azzam, “Apa yang paling diperlukan Indonesia?”

Sekjen Liga Arab ini sangat bersemangat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Ia terinspirasi oleh dua sosok yang lebih dahulu getol menyuarakan kemerdekaan Indonesia, yaitu Mufti Palestina bernama Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini dan seorang pedagang Palestina kaya raya, Muhammad Ali Taher.

Sejarah mencatat, dua tokoh penting Palestina ini menyiarkan kemerdekaan Indonesia lebih dahulu daripada pembacaan proklamasi oleh Sukarno-Hatta. Pada 6 September 1944, mereka mengumumkannya melalui siaran radio berbahasa Arab.

Pada tahun 1946, sidang pleno Liga Arab merekomendasikan kepada anggota-anggotanya untuk mengakui kedaulatan negara Indonesia. Sebuah kado istimewa dari bangsa Arab, dengan andil Palestina, untuk bangsa Indonesia.

Utusan Liga Arab ke Indonesia

Informasi dari Mufti Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini, tentang kemerdekaan Indonesia yang sampai kepada Sekjen Liga Arab, Syaikh Abdurrahman Azzam Pasya, dan mendapatkan dukungan dari Raja Mesir, menyisakan kejadian menarik di Tanah Air.

Dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, diceritakan bahwa pada 13 Maret 1947 telah mendarat sebuah pesawat di Bandara Meguwo, Yogyakarta. Kedatangan pesawat ini mengantar utusan Liga Arab sekaligus Konsul Jenderal Mesir di India, Syaikh Abdul Mun’im.

Tak ada yang memberitahukan sebelumnya bahwa akan datang tamu dari luar negeri. Setelah pesawat mendarat di bandara, Syaikh Abdul Mun’im menyampaikan kepada orang-orang bahwa ia ingin bertemu dengan pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka.

Setelah terkatung-katung beberapa jam, barulah ia disambut oleh utusan resmi negara. Saat itu belum ada aturan protokoler istana. Syaikh Abdul Mun’im kemudian diajak menuju Istana Negara yang saat itu berada di Kota Yogyakarta.

Pihak istana kebingungan menentukan siapa yang akan menjadi penerjemah dalam pertemuan tersebut. Teringatlah mereka kepada H.M. Rasjidi karena ia merupakan alumni Mesir dan memiliki kecakapan dalam bahasa Arab.

Dari Kotagede, Rasjidi mengayuh sepeda menuju istana. Sebelum berangkat menemui tamu, ia sempat bingung karena tidak memiliki pakaian yang layak untuk menyambut tamu dari negeri Arab tersebut.

Akhirnya, ia mendapatkan pinjaman pakaian yang cukup pantas dari seorang temannya. Dengan pakaian pinjaman itulah ia berangkat menemui tamu penting tersebut.

Sesampainya di istana, Rasjidi menjadi penerjemah dan percakapan pun berlangsung dengan lancar. Kedatangan tamu tersebut membawa kabar gembira berupa pengakuan dan dukungan penuh bangsa Arab terhadap kemerdekaan Indonesia.

Syaikh Abdul Mun’im menginap di Yogyakarta selama empat hari. Ia dijadwalkan kembali ke Mesir pada 17 Maret 1947.

Pada saat itu, ia mengajak agar ada utusan dari bangsa Indonesia yang ikut berangkat bersamanya ke Mesir.

Delegasi Indonesia pun akhirnya diberangkatkan. Rombongan tersebut dipimpin oleh Haji Agus Salim dengan sekretarisnya H.M. Rasjidi, serta beberapa orang lain yang turut serta.

Kisah keberangkatan ini sangat mengharukan. Rombongan tidak dibekali uang oleh negara karena memang tidak tersedia dana saat itu.

Mereka berangkat hanya dengan membawa bekal masing-masing yang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan, pesawat yang mereka tumpangi pun menumpang milik Liga Arab.

Saat berada di dalam pesawat, Pak Rasjidi diberi sebuah plastik berisi beberapa gelang dan cincin oleh seseorang. Orang itu berkata, “Untuk bekal nanti di luar negeri.”

Setibanya di Mesir, rombongan menempati sebuah rumah sempit. Tempat itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Kedutaan Indonesia di Mesir.

Tim tersebut kemudian menyebarkan informasi ke negara-negara Arab bahwa Indonesia telah merdeka. Mereka dibantu oleh para mahasiswa Indonesia yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Mesir.

Di antara para mahasiswa tersebut adalah Harun Nasution yang kala itu masih muda dan turut membantu menyuarakan kemerdekaan Indonesia di negeri Arab.

Peran Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina

Mufti Palestina dan juga negara-negara Arab menjadi As Sabiqun Al Awwalun (paling awal) dalam dukungannya kepada kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, sejak dideklarasikan berdirinya negara Israel pada tahun 1948, rakyat Palestina terus mengalami penindasan dan tekanan yang sangat dahsyat.

Upaya kemerdekaan bangsa Palestina terus dilakukan. Indonesia, sebagai negara berdaulat, terus mengupayakan agar langkah tersebut sukses.

Ketika penjajahan Israel atas Palestina sulit dihentikan, atas dasar ukhuwah Islamiyah, negara-negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam berkumpul dan membentuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 1969 dengan tujuan untuk membantu rakyat Palestina terlepas dari belenggu kejahatan Israel. Indonesia turut serta aktif dalam organisasi ini dengan mengikuti rapat dan konferensi yang digelar secara bersama.

Beberapa kali pemimpin Palestina berkunjung ke Indonesia. Pada tahun 1984, Presiden Palestina, Yasser Arafat, untuk pertama kalinya datang ke Jakarta menemui Presiden Suharto. Kunjungan berikutnya dilakukan pada tahun 1992, 1993, dan 2000. Lalu, pada tahun 2007, Presiden Palestina Mahmoud Abbas melakukan kunjungan kenegaraan resmi pertamanya ke Indonesia. Dalam kunjungannya, Presiden Abbas telah menandatangani beberapa perjanjian kerja sama dengan Indonesia. Perjanjian kerja sama termasuk di bidang komunikasi dan pendidikan. Abbas kembali mengunjungi Indonesia pada bulan Mei 2010 dan Februari 2014 (Saragih, 2018).

Indonesia sejak lama memperjuangkan agar bangsa Palestina dapat merdeka dari penjajahan. Landasan hukum yang dipegang oleh Indonesia adalah resolusi DK PBB 242 (1967) dan 338 (1972) yang berisi agar seluruh wilayah Palestina harus dikembalikan tanpa syarat yang dijajah oleh Israel serta seluruh hak sah bangsa Palestina untuk dapat menentukan kemerdekaannya, menegakkan bangsa di tanah airnya, dan Al Quds Asy Syarif di Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Konsistensi dukungan Indonesia terhadap Palestina juga terlihat dari respons Indonesia terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2007. Indonesia, melalui Presiden Joko Widodo, mengeluarkan enam usulan tegas dalam merespons hal tersebut. Keenam usulan tersebut antara lain: Pertama, OKI harus tegas menolak pengakuan bilateral dari Amerika Serikat terkait Yerusalem tersebut. Yerusalem Timur adalah ibu kota Palestina. Kedua, semua negara yang memiliki kedutaan di Tel Aviv tidak mengikuti keputusan AS. Ketiga, negara anggota OKI diminta untuk menjadi motor penggerak dukungan negara-negara lain yang belum mengakui untuk dapat mengakui Palestina. Keempat, negara anggota OKI yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel sebaiknya mengambil langkah diplomatik sesuai dengan resolusi OKI. Kelima, negara-negara OKI diminta untuk mengambil langkah bersama meningkatkan bantuan kemanusiaan, peningkatan kapasitas, dan kerja sama ekonomi dengan Palestina. Keenam, OKI harus mampu menjadi motor pergerakan di berbagai forum internasional atau multilateral untuk membantu Palestina (Prasetya dan Srifaizi, 2018).

Pernyataan Presiden Joko Widodo ini berpijak pada UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, juga sesuai dengan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dukungan Indonesia kepada rakyat dan bangsa Palestina pada saat terjadi perang HAMAS–Israel tahun 2023 di Jalur Gaza. Pada KTT Luar Biasa yang diselenggarakan di Riyadh, Arab Saudi, 11 November 2023, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa hal penting, seperti dilansir resmi dari laman Kementerian Luar Negeri RI:

Pertama, gencatan senjata harus segera dilakukan. Alasan Israel bahwa ini adalah sebuah self-defence tidak dapat diterima. Ini merupakan sebuah collective punishment.

Kedua, bantuan kemanusiaan harus dipercepat dan diperluas. Negara-negara OKI atau OKI harus mengusulkan mekanisme bantuan yang lebih predictable dan sustainable. Presiden juga menyampaikan bahwa Indonesia telah kirim bantuan dan ke depan akan dapat menambahkan lagi bantuan-bantuan berikutnya.

Presiden memberikan contoh kekejaman kemanusiaan yang dilakukan Israel, yaitu menjadikan rumah sakit sebagai target, termasuk Rumah Sakit Indonesia. Rumah Sakit Indonesia telah kehabisan bahan bakar dan hal ini mengurangi kemampuan rumah sakit untuk melayani masyarakat yang sangat memerlukan bantuan. Presiden mendesak semua pihak menghormati Hukum Humaniter Internasional.

Ketiga, OKI harus menggunakan semua lini untuk menuntut pertanggungjawaban Israel terhadap kekejaman kemanusiaan yang telah dilakukan, misalnya mendesak diberikannya akses kepada Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory yang dibentuk Dewan HAM PBB untuk dapat melaksanakan mandatnya, serta terus mendorong proses advisory opinion di Mahkamah Internasional.

Keempat, OKI harus mendesak agar perundingan damai segera dimulai demi terwujudnya two state solution. Presiden menolak pemikiran one state solution karena dapat dipastikan bahwa Palestina akan dikorbankan. Presiden mengatakan bahwa Indonesia siap untuk berkontribusi dalam proses perdamaian Palestina.

Usai gelaran KTT OKI Luar Biasa ini, Presiden Joko Widodo bertolak ke Amerika Serikat untuk menemui Presiden Joe Biden. Dalam lawatan resmi kenegaraan ini, Jokowi juga menyampaikan hasil pertemuan negara-negara Islam dan Arab ini, berupa dukungan kepada bangsa Palestina.

Masyarakat Indonesia Dukung Palestina

Sudah berapa banyak jumlah harta yang dikumpulkan oleh masyarakat Indonesia untuk rakyat Palestina. Penggalangan donasi terus digalakkan oleh ormas, yayasan, LSM, dari pintu ke pintu, dari masjid ke masjid, dari pengajian ke pengajian, dari sekolah ke sekolah, dan lain-lain.

Salah satu andil besar masyarakat Indonesia dalam bidang kemanusiaan untuk membantu korban perang rakyat Palestina adalah pendirian rumah sakit di Jalur Gaza. Layanan fasilitas kesehatan ini dibangun atas donasi dari rakyat Indonesia, dengan kerja sama antara LSM, pemerintah Indonesia, dan Kementerian Kesehatan Palestina.

Wikipedia mencatat, Rumah Sakit Indonesia ini berdiri di Bait Lahiya, Gaza Utara. Perencanaan pembangunannya mulai tahun 2009, sedangkan pelaksanaannya pada tahun 2011, dan pada 27 Desember 2015 diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pada perjalanannya, rumah sakit yang murni menjalankan misi kemanusiaan ini kerap diserang rudal oleh tentara Israel. Saat mulai pembangunan pada tahun 2011, sejumlah bom Israel diledakkan di dekat fasilitas kesehatan ini. Pada tahun 2018, saat rumah sakit sudah beroperasi, juga terkena sasaran rudal Israel. Terbaru, pada November 2023, beberapa rudal sengaja diluncurkan berada di dekat Rumah Sakit Indonesia.

Kami Bersama Palestina

Palestina, negeri para nabi, juga di dalamnya ada Masjid Al Aqsha, yang Allah Ta’ala menyebut di dalam Al-Qur’an “Alladzii baaraknaa haulahu”, yang Allah berkahi tanah di sekelilingnya. Masjid sebagai kiblat pertama umat Islam ini telah dikuasai oleh kaum Yahudi.

Indonesia, baik rakyat maupun pemerintahnya, sejak dahulu hingga saat ini, ingin agar bangsa Palestina merdeka dari penindasan dan penjajahan. Sejarah telah mencatat, Mufti Palestina dulu menjadi penggerak di dunia Arab untuk share info kemerdekaan Indonesia, sehingga negara-negara Arab tahu dan mendukung kemerdekaan ini.

Indonesia dan Palestina, dua negara yang memiliki ikatan erat kuat: ikatan imaniyah dan ikatan insaniyah. Sejak dulu, hingga kini, dan di masa mendatang.

Semoga Allah memberikan kemenangan untuk bangsa Palestina. Amin.


Referensi

  1. Lesus, Rizki. Perjuangan yang Dilupakan. Pro-U Media, 2017.

  2. Ananda, Endang Basri. 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Harian Umum Pelita, 1985.

  3. Saragih, Hendra Maujana. “Kebijakan Luar Negeri Indonesia dalam Mendukung Palestina sebagai Negara Merdeka pada Masa Pemerintahan Joko Widodo.” Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan, STAIN Curup Bengkulu, Vol. 3, No. 2, 2018.

  4. Prasetya, Muh. Novan, dan Aulia Srifaizi. “Diplomasi Politik Indonesia terhadap Kemerdekaan Palestina.” Jurnal PIR, Vol. 2, No. 2, Februari 2018.

  5. Wikipedia. “Rumah Sakit Indonesia (Gaza).” https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Sakit_Indonesia_(Gaza)

  6. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. “Press Briefing Menlu RI KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Riyadh, 11 November 2023.” https://kemlu.go.id/portal/id/read/5481/siaran_pers/press-briefing-menlu-ri-ktt-luar-biasa-organisasi-kerja-sama-islam-oki-riyadh-11-november-2023

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.