Mengajarkan Aqidah yang Lurus Sejak Dini
Islam adalah agama yang sempurna dan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah ﷻ. Siapa saja yang tidak mau menerima Islam, pastilah termasuk orang yang merugi baik di dunia maupun di akhirat nanti. Keyakinan seperti ini harus diajarkan kepada anak-anak kita sejak dini.
Memang di dalam agama Islam, anak kecil belum disebut mukallaf (yang mendapat beban dari agama untuk melaksanakan perintah-perintah agama dan meninggalkan larangan-larangan agama). Namun Islam memerintahkan kepada setiap orang tua agar sedini mungkin mengenalkan agama Islam yang lurus tersebut kepada anak-anaknya. Tujuannya adalah agar ketika anak tersebut menginjak dewasa, sudah sangat siap untuk melaksanakan perintah-perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Memberikan pemahaman yang benar tentang agama Islam kepada anak-anak bukanlah perkara yang mudah, karena pada dasarnya anak-anak belum memiliki akal yang sempurna. Karena itu, para orang tua hendaknya tidak malu untuk selalu belajar bagaimana cara yang mudah dan sederhana untuk memahamkan agama Islam yang lurus kepada anak-anaknya.
Tentunya banyak ulama yang sudah mencoba memperkenalkan metode yang sederhana atau cara yang mudah untuk mengajarkan pemahaman agama, khususnya pemahaman aqidah yang lurus kepada anak-anak. Di antara metode yang sudah diusahakan oleh para ulama yang berperan aktif dalam dunia pendidikan anak adalah dengan menjelaskan beberapa hal yang sangat penting dan pokok dengan keterangan yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Secara singkat, sebenarnya perlu ditempuh beberapa langkah yang penting.
Pertama, kita kenalkan anak-anak tentang Allah ﷻ. Bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kemudian kita menjelaskan bahwa Allah adalah Dzat yang telah menciptakan semua yang ada di muka bumi ini; Allah yang menciptakan langit, bumi, matahari, bulan, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain. Dalam setiap kesempatan, para orang tua hendaknya selalu mencoba banyak bertanya kepada anak-anaknya. Misalnya ketika berjalan-jalan dengan anak, menanyakan siapa yang menciptakan pohon, sungai, kambing, bulan, dan seterusnya. Ketika anak kita menjawab, “Allah”, maka kita katakan kepadanya: hebat, jawabanmu benar, atau pinter kamu, dan lain sebagainya.
Kedua, kita mengajarkan kepada anak-anak untuk mencintai Allah ﷻ dengan menunjukkan berbagai macam kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah ﷻ kepada kita semua. Umpamanya kita bertanya: siapa yang memberimu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kaki untuk berjalan, makanan, dan minuman? Kemudian kita jawab sendiri untuk mengenalkannya bahwa yang menciptakan semua itu adalah Allah Sang Pencipta yang Maha Perkasa. Lalu kita katakan kepada anak-anak bahwa jika kita mencintai Allah ﷻ, maka Allah juga akan mencintai kita, dan jika Allah mencintai kita, maka semua yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah ﷻ.
Ketiga, kita mengajarkan kepada anak-anak bahwa supaya kita dicintai Allah, kita harus taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya yang pasti baik, dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang pasti jelek. Kemudian kita ajarkan untuk selalu berbuat baik. Kita bisa menjelaskan: kalau kita tidak pelit membagikan makanan kepada adik atau teman, akan disayang Allah; kalau kita sayang dan tidak nakal kepada adik, akan disayang Allah; kalau rajin belajar, akan disayang Allah; kalau shalat, akan disayang Allah; kalau puasa, akan disayang Allah; dan seterusnya.
Keempat, kita mengajarkan kepada anak-anak untuk meninggalkan hal-hal yang dibenci Allah ﷻ dan yang menyebabkan-Nya marah. Kita bisa menjelaskan: kalau kita mencuri, Allah marah; kalau bohong, Allah marah; kalau nakal, Allah marah; kalau tidak shalat, Allah marah; kalau tidak puasa, Allah marah; dan seterusnya. Kemudian kita sebutkan akibatnya jika Allah marah, yaitu kita tidak diberi makan, tidak diberi minum, dan kelak dimasukkan ke dalam api neraka yang sangat panas.
Kelima, kita kenalkan kepada anak-anak semua nabi yang telah diutus oleh Allah, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad ﷺ. Kita ajarkan siapa dan bagaimana perjuangan para nabi dan rasul tersebut, khususnya yang termasuk Ulul Azmi. Kita ceritakan kehebatan para nabi tersebut sehingga anak-anak mengidolakan para nabi, bukan mengidolakan superman, spiderman, krisna, bima, dan lain-lain. Kemudian secara lebih detail kita kenalkan anak-anak tentang siapa sebenarnya Nabi Muhammad ﷺ sejak beliau lahir sampai dipanggil oleh Allah ﷻ, bagaimana kehebatan beliau, bagaimana akhlaq beliau, dan bagaimana perjuangan beliau, sehingga anak-anak mengidolakan Rasulullah ﷺ.
Keenam, kita kenalkan anak-anak dengan rukun-rukun iman lainnya, seperti iman kepada para malaikat; bagaimana sifat-sifat mereka yang disampaikan melalui firman Allah ﷻ atau sabda Nabi Muhammad ﷺ; tugas-tugas mereka; kemudian iman kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah ﷻ; iman kepada hari kiamat; iman kepada surga dan neraka dengan menjelaskan betapa nikmatnya masuk surga dan betapa menderitanya masuk neraka.
Ketujuh, kita kenalkan anak-anak dengan Al-Qur’an, wahyu yang diturunkan Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah, harakat, makharijul huruf, kemudian membacanya dengan benar sesuai dengan ilmu tajwid. Mendidik anak untuk mencintai Al-Qur’an, membacanya secara rutin, serta menjelaskan poin-poin penting yang terkandung di dalamnya agar anak mengenalnya dengan baik dan benar, serta menjelaskan keutamaan mempelajarinya, dan seterusnya.
Kedelapan, kita hendaknya mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak, dimulai dengan kebiasaan shalat berjamaah di masjid, memulai dan mengakhiri makan dengan berdoa, berbagi dengan saudara atau teman ketika memiliki makanan atau mainan, membuang sampah pada tempatnya, tidak nakal kepada adik, selalu jujur dalam bertutur kata, meminta maaf jika bersalah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Semua itu dijelaskan dengan penekanan bahwa jika kita melakukannya, Allah akan mencintai kita dan memasukkan kita ke surga-Nya.
Ada satu hal yang sangat penting dan perlu digarisbawahi, yaitu dalam mendidik anak sangat diperlukan keteladanan dari orang tua. Ketika orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang shalih, maka ia harus menjadi orang tua yang shalih. Ketika mengajarkan pentingnya shalat, ia harus mempraktikkan dan mencontohkannya di depan anaknya, atau jika anak sudah berumur tujuh tahun, diajak shalat berjamaah di masjid. Ketika mengajarkan akhlak yang baik, ia harus langsung mencontohkannya, karena pada masa tersebut anak selalu ingin meniru apa yang ia lihat.
Itulah beberapa tahapan sederhana yang insyaAllah mudah dipahami oleh anak-anak. Mudah-mudahan jika kita para orang tua secara berkesinambungan tidak bosan-bosan mengajarkannya, anak-anak akan memiliki aqidah yang benar dan akhlaq yang mulia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tidak ada komentar