Energi Syukur: Sikap Hidup yang Membuahkan Kebahagiaan
KH. Ihsan Saifuddin, S.Ag
Penasihat
Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
Bersyukur itu tidak mudah
Banyak orang mengira bersyukur itu
mudah, namun ternyata bersyukur tak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang.
Jika bersyukur sekadar dalam ucapan, memang tidaklah sulit. Sekiranya syukur
itu masalah yang mudah, tentu Allah ﷻ tak perlu mengulang perintah
bersyukur dalam satu surat yang sama hingga 31 kali (lihat Surat Ar-Rahman).
Pengulangan perintah bersyukur hingga 31 kali menandakan bahwa bersyukur itu
tidak mudah. Allah ﷻ
berfirman: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman: 13).
Sekiranya syukur itu perkara yang
mudah, tentu banyak manusia yang mengamalkannya. Pada kenyataannya masih
sedikit hamba yang bersyukur. Allah ﷻ berfirman: “…Dan
sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Melengkapi kenyataan bahwa bersyukur
itu tidak mudah, Nabi ﷺ
melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak, padahal dosa-dosa beliau
yang lalu dan yang akan datang telah diampuni. Tersebut dalam sebuah riwayat: “Dari
Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa Nabi ﷺ apabila
qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak-bengkak.” Aisyah radhiyallahu ‘anhuma pun
bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat demikian, bukankah Allah
telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau ﷺ menjawab, “Wahai Aisyah, tidakkah
aku ingin digolongkan sebagai hamba yang bersyukur?” (HR. Muslim).
Mempertegas kembali bahwa bersyukur
itu tidak mudah, seseorang yang secara lahiriah mengekspresikan syukur pun
belum tentu menunjukkan syukur yang sesungguhnya. Sebut saja misalnya acara
syukuran Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, tidak sedikit di antaranya diisi dengan
hura-hura yang justru kontradiktif dengan jerih payah perjuangan para pahlawan
dalam mewujudkan kemerdekaan. Contoh lain, syukuran menempati rumah baru.
Ternyata, di balik istilah syukuran, ada maksud pamer tentang kebagusan
rumahnya di hadapan orang yang hadir, demikian dan semisalnya. Wallahu
a’lam.
Termasuk bukti lain bahwa bersyukur
itu tidak mudah, banyak orang bersyukur hanya di saat senang atau beroleh
kebahagiaan. Padahal, Nabi ﷺ mengajarkan kita bersyukur dalam segala keadaan. Ini
terbukti bahwa apa pun kondisi yang dialaminya, beliau selalu merespons dengan
ucapan “Alhamdulillah” yang merupakan ekspresi syukur seorang hamba.
Antara Shalih dan Muslih: Aja Leren Dadi Wong Apik
Syukur Itu Membahagiakan
Lafal Alhamdulillah yang
senantiasa terucap dalam setiap keadaan inilah yang menyebabkan seorang hamba
mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah riwayat yang berkenaan dengan
hal tersebut: “Adalah Nabi ﷺ apabila
melihat kondisi yang menyenangkan, beliau mengucapkan ‘Alhamdulillahil ladzi
bini’matihi tatimmush shalihat’ (segala puji bagi Allah yang dengan
nikmat-nikmat tersebut tersempurnakan amal shaleh), dan apabila menemui kondisi
yang kurang menyenangkan, beliau mengucapkan ‘Alhamdulillah ‘ala kulli hal’
(segala puji bagi Allah dalam segala keadaan).” (HR. Ibnu Majah).
Bersyukur yang membuahkan
kebahagiaan dunia dan akhirat adalah syukur yang dilakukan dalam segala
keadaan. Seorang hamba yang senantiasa bersyukur dalam segala keadaan berhak
mendapat istana di surga. Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa ketika seorang
hamba tetap bersyukur meski anggota keluarga yang dicintainya meninggal, maka
Allah ﷻ
akan membangunkan baginya sebuah
istana di surga. Dalam hadits diterangkan bahwa Nabi
ﷺ bersabda,
إِذَا
مَاتَ وَلَدُ العَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي،
فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُولُونَ:
نَعَمْ، فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ،
فَيَقُولُ اللَّهُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ
الحَمْدِ.] سنن الترمذي [ .
“Ketika kematian anak seorang hamba,
Allah berfirman pada
malaikat, “engkau telah cabut nyawa anak hamba-Ku?” Malaikat menjawab, “Ya,” Allah bertanya, “engkau cabut nyawa buah hatinya?”
Malaikat menjawab, “Ya,” Allah bertanya, “apa yang diucapkannya?” Malaikat menjawab, “dia memuji-Mu dan menaruh harap pada-Mu,” Allah berfirman, “Bangunkan sebuah rumah di surga dan beri
nama rumah itu dengan baitul hamdi”. (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian anggota keluarga
adalah keadaan yang menyedihkan, namun tetap dihadapi dengan syukur, maka hal
itu dapat dimaknai bahwa bersyukur yang membuahkan kebahagiaan dunia dan
akhirat adalah syukur yang dilakukan dalam segala keadaan.
Memperkuat pernyataan bahwa bersyukur itu membahagiakan, hal tersebut dibuktikan pula dengan syukurnya Nabi Ayub ‘alaihis salam. Meski dalam kondisi sakit, bahkan sakit berat yang tiada bandingnya, syukur Nabi Ayub ‘alaihis salam dibuktikan dengan tetap memuji Allah ﷻ meski dalam kondisi sakit. Allah ﷻ berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’” (QS. Al-Anbiya’: 83).
Syukur Itu Menambah Nikmat
Di antara berkah di balik rasa
syukur adalah bahwa syukur itu menambah nikmat dan menangkal azab. Hal ini
sesuai dengan janji dan jaminan Allah ﷻ untuk
menambah nikmat dan mencegah azab bagi hamba yang bersyukur. Allah ﷻ berfirman: “Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.
Ibrahim: 7).
Lebih dari sekadar menambah nikmat,
hamba yang bersyukur akan terhindar dari azab. Allah ﷻ berfirman: “Mengapa
Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha
Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 147).
Tips Mudah Bersyukur
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa
bersyukur itu tidaklah mudah, terbukti mayoritas manusia pun tidak bersyukur.
Untuk mempermudah syukur, Islam mengajarkan beberapa kiat, antara lain:
1. Melihat ke
Bawah
Agar seorang hamba mudah bersyukur, Nabi ﷺ memberikan tips “melihat ke bawah”. Melihat ke bawah dalam arti melihat orang-orang yang kondisinya berada di bawah kita. Tentu yang dimaksud adalah melihat penderitaan dan kesulitan hidup orang lain yang ternyata jauh lebih berat dibandingkan dengan kondisi kita. Nabi ﷺ bersabda:
انْظُرُوا
إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah pada orang yang berada di
bawahmu jangan melihat orang yang berada
di atasmu, hal itu lebih layak agar
tidak meremehkan nikmat Allah yang terlimpah kepadamu.” (HR.
Bukhari-Muslim)
Adapun yang dimaksud dengan melihat
ke bawah adalah membandingkan perkara-perkara duniawi yang diperoleh orang
lain. Misalnya dalam masalah rumah tinggal. Meskipun rumah yang kita miliki
bertipe RSS, hal tersebut masih lebih menguntungkan dibandingkan orang lain
yang tidak memiliki rumah, sehingga akhirnya menjadi kontraktor (baca: tukang
kontrak) yang tidak pernah memiliki rumah sendiri.
2. Menyadari
Besarnya Nikmat Allah ﷻ
Seorang hamba yang kurang bersyukur
pada umumnya karena tidak pandai menyadari besarnya nikmat Allah ﷻ.
Padahal, nikmat Allah ﷻ sangatlah
banyak, saking banyaknya hingga tidak dapat dihitung. Allah ﷻ
berfirman: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak
dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Di antara contoh nikmat Allah ﷻ adalah nikmat sehat. Dengan
kesehatan, makan terasa enak, tidur terasa nyenyak, dan kehidupan dipenuhi rasa
nyaman. Hal ini tentu berbeda dengan orang yang sedang sakit, belum lagi harus
mengeluarkan biaya pengobatan dan semisalnya.
3. Berdoa agar
Dimudahkan Bersyukur
Kebenaran makna bacaan hauqalah “La
haula wa la quwwata illa billah”—tiada daya dan kekuatan melainkan karena
pertolongan Allah—sungguh sangat nyata. Sesungguhnya manusia itu sangat lemah,
sedemikian lemahnya hingga dalam urusan bersyukur pun, tanpa pertolongan Allah ﷻ,
seorang hamba tidak dapat melakukannya. Agar seorang hamba mudah bersyukur,
Nabi ﷺ mengajarkan
doa berikut:
اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“(Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa
syukrika wa husni ‘ibadatika). Ya Allah, tolonglah aku agar mudah mengingat-Mu,
mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. An-Nasa’i)
Ruang Lingkup Syukur
Bersyukur kepada Allah ﷻ mencakup
tiga hal, yaitu syukrul qalbi, syukrul lisan, dan syukrul
jawarih. Ketiga ruang lingkup syukur tersebut beserta sekilas penjabarannya
dapat diterangkan sebagaimana pernyataan berikut:
الشُّكْرُ
ثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ: شُكْرُ الْقَلْبِ، وَهُوَ تَصَوُّرُ النِّعْمَةِ، وَشُكْرُ
اللِّسَانِ، وَهُوَ الثَّنَاءُ عَلَى الْمُنْعِمِ، وَشُكْرُ الْجَوَارِحِ، وَهُوَ
مُكَافَأَةُ النِّعْمَةِ بِقَدْرِ اسْتِحْقَاقِهَا.
“Syukur itu ruang lingkupnya mencakup
tiga hal: (1) syukrul qalbi, yaitu memahat nikmat di dalam hati, yakni hati
yang mengakui seluruh nikmat datangnya dari Allah ﷻ; (2) syukrul lisan, yaitu lisan yang
sanggup menyampaikan pujian kepada Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah ﷻ; (3) syukrul jawarih, yaitu mempergunakan nikmat sesuai dengan
keharusannya.”
(Energi Syukur: 32)
Mengikat Nikmat dengan Syukur
Di saat beroleh nikmat, tentu setiap
orang menginginkan nikmat tersebut terus melekat padanya dan senantiasa
membersamainya. Ia tidak ingin kenikmatan itu lepas darinya. Lihatlah keadaan
orang yang beroleh nikmat kekayaan berupa perhiasan emas, misalnya. Untuk
menjaganya, emas tersebut dimasukkan ke dalam kotak yang dikunci, kotak
dimasukkan ke dalam lemari yang juga dikunci. Ketika meninggalkan rumah,
kamarnya dikunci, rumahnya dikunci, dan pintu pagarnya pun dikunci. Demikian
seterusnya, semua dilakukan agar kekayaan yang dimilikinya tidak hilang atau
lepas.
Sebenarnya, mengikat nikmat tidaklah
serumit persoalan di atas. Cukuplah dengan syukur, maka nikmat itu akan
langgeng dan terus menyertai. Syukur dalam arti menggunakan nikmat di jalan
kebaikan sesuai porsi dan proporsinya merupakan langkah mengikat nikmat. Hal
ini sebagaimana dijelaskan oleh Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dalam
pernyataan berikut ini:
قَيِّدُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ بِشُكْرِ اللَّهِ
“Ikatlah nikmat Allah dengan cara
mensyukurinya.” (Energi Syukur: 50)
Bersyukur, Jangan
Kufur
Tentang syukur yang membuahkan
kebahagiaan dan kufur (tidak bersyukur) yang menyebabkan azab, tersebutkan
kisah tentang ashabul jannah (pemilik kebun) yang dijelaskan dalam
Al-Qur’an.
Dari rangkaian kisah tersebut dapat
disimpulkan bahwa kufur (tidak bersyukur) mengundang azab. Bentuk
ketidaksyukuran yang terjadi dalam kisah tersebut adalah keengganan untuk
berbagi dengan orang lain. Sekelompok petani tersebut sengaja ingin memetik hasil
panen di pagi buta sebelum orang-orang miskin bangun tidur. Hal itu dimaksudkan
agar orang-orang miskin tidak meminta bagian.
Bayangkan betapa cepatnya azab yang
ditimpakan kepada orang yang tidak bersyukur. Baru sebatas rencana untuk tidak
ingin berbagi dengan orang miskin saja sudah tertimpa azab, apalagi jika
benar-benar dilaksanakan, tentu azab Allah ﷻ jauh lebih dahsyat. Bersyukurlah,
wahai hamba Allah ﷻ,
dengan cara berbagi kepada orang lain dan janganlah berlaku pelit. Semoga Allah
ﷻ menyelamatkan
Anda dari azab. (Pembahasan lebih detail, silakan baca Al-Qur’an Surat
Al-Qalam: 17–33).
Demikian serba singkat tentang syukur yang dengannya menjadi salah satu di antara sekian banyak sebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk pembahasan lebih lanjut, silakan membaca buku “ENERGI SYUKUR”. Wallahu a’lam bish-shawab.
Tidak ada komentar