Header Ads

Header ADS

Tahun Baru: Tambah Umurnya, Tambah Cerdasnya


Harjanto, S.Pd.I., M.Pd.

Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita. Nikmat iman dan Islam, dua nikmat yang tidak semua orang menerimanya. Maka, marilah kita jaga sampai pisahnya antara raga dan jiwa (nyawa). Sekali iman dan Islam, sampai akhir hayat tetap iman dan Islam, syukur husnul khatimah.

Nikmat sehat dan sempat (waktu luang), dua nikmat yang sering terlupakan oleh kebanyakan manusia, sebagaimana sabda Nabi . Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya, yaitu: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari, no. 6412)

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Pergantian tahun dalam Islam, tahun 1447 H menjadi 1448 H, berarti bertambahnya usia setiap manusia. Bertambahnya usia manusia sejatinya berkurangnya jatah hidup di dunia, walaupun manusia tidak tahu kapan waktu bertemunya pada satu titik yang memisahkan antara raga dan jiwa. Tetapi, kepastian itu tetap akan terjadi, karena setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Firman Allah dalam Surah Al-'Ankabut ayat 57:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan."

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Satu pertanyaan yang perlu kita jawab dalam hati kita masing-masing: "Bertambahnya tahun, bertambah pula usia kita, berkurangnya jatah hidup di dunia, bertambahkah kecerdasan kita? Atau justru kita semakin bodoh?"

Kalau normal sesuai fitrah/sunatullah, tambah umur tambah berkualitas. Ibarat ilmu padi, semakin tua semakin berisi. Tetapi kalau padi tidak berkualitas, semakin tua semakin kosong. Ibarat pepatah Jawa: "Gaplek Pringkilan, Tambah Tuwek Tambah Petakilan." Semakin tua bukan semakin menunjukkan kecerdasannya, justru menunjukkan kebodohannya.

 

Makna Cerdas Menurut Nabi Muhammad .

Cerdas dalam Islam bukan kecerdasan IQ yang ditentukan dengan angka berdasarkan tingkat kecerdasan: sangat rendah (very low/profound), IQ < 20; rendah berat (severe), IQ 20–34; rendah sedang (moderate), IQ 35–49; rendah ringan (mild), IQ 50–69; di bawah rata-rata (borderline), IQ 70–79; rata-rata bawah (low average), IQ 80–89; rata-rata (average), IQ 90–109; rata-rata atas (high average), IQ 110–119; cerdas/superior, IQ 120–129; sangat cerdas/genius, IQ ≥ 130.

Bukan juga orang yang pandai bicara atau orang yang kaya, namun orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik dalam menyiapkan bekal untuk kematian.

Sebagaimana Sabda Nabi :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ».

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah , lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah mereka orang-orang yang paling cerdas.”” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Hadis tersebut menjelaskan ketika Rasulullah ditanya tentang orang mukmin yang paling utama maka jawabanya sangat tegas yaitu orang yang paling baik akhlaknya. Menurut  Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali:

الأَخْلَاقُ هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِي النَّفْسِ رَاسِخَةٍ، تَصْدُرُ عَنْهَا الأَفْعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ، مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ.

Akhlak adalah sifat yang tertanam kuat dalam jiwa, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu (jawa=pakulinan).

Contoh sederhana tentang akhlak yaitu ada seseorang yang menguap, menutup mulut, lalu secara spontan membaca astaghfirullah, tetapi ada juga orang yang menguap membaca bunyi hewan. Satu berakhlak baik dan satu berakhlak tercela atau berbudi pekerti luhur dan tidak luhur.

Ketika ditanya tentang orang mukmin yang cerdas, maka jawaban Nabi sangat tegas, yaitu orang yang banyak mengingat kematian dan paling baik dalam menyiapkan bekal untuk kematian.

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Orang yang banyak mengingat kematian itu bukan pesimis, tapi realistis. Mengingat kematian bukan membuat: takut berlebihan, malas hidup, putus asa justru membuat seseorang: tidak menunda taubat, tidak serakah pada dunia, serius dalam amal.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

ذِكْرُ الْمَوْتِ يُمِيتُ الشَّهَوَاتِ، وَيُحْيِي الْقَلْبَ بِذِكْرِ الْآخِرَةِ

Mengingat mati itu mematikan syahwat dunia dan menghidupkan kesadaran akhirat. (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba'dahu)

Imam Al-Ghazali rahimahullāh berkata:

مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثٍ: تَعْجِيلِ التَّوْبَةِ، وَقَنَاعَةِ الْقَلْبِ، وَنَشَاطِ الْعِبَادَةِ

“Barang siapa banyak mengingat kematian, akan dimuliakan dengan tiga hal: cepat bertaubat, hati yang qana‘ah, dan semangat beribadah.” (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba'dahu.)

Orang yang cerdas selain memperbanyak kematian juga mempersiapkan bekal untuk menyiapkan kematian. Bekal yang banyak dan baik menjadi penentu kebahagian hidup setelah kematian.

Imam Al-Ghazali rahimahullāh berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْمَوْتَ أَمْرٌ لَا بُدَّ مِنْهُ، وَالسَّفَرَ إِلَى الْآخِرَةِ وَاقِعٌ، وَلَا بُدَّ لِلسَّفَرِ مِنْ زَادٍ، وَزَادُهُ التَّقْوَى وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ.

Ketahuilah bahwa kematian adalah suatu perkara yang pasti terjadi, dan perjalanan menuju akhirat adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Setiap perjalanan pasti memerlukan bekal, dan bekalnya adalah ketakwaan serta amal saleh. (Imam Al-Ghazali, Kitab Ihya Ulumuddin, Jilid 4, Kitab Dzikril Maut wa Ma Ba'dahu)

 

Makna Taqwa dan Amal Shaleh.

Dalam mendefinisikan akar kata takwa, Ibnu Manzhur (t.th., 15:378) menyatakan secara langsung dalam Lisanul 'Arab:

»أَنَّ التَّقْوَى فِي اللُّغَةِ أَصْلُهَا مِنَ "الْوَقْيِ" وَهُوَ الْحِفْظُ وَالصِّيَانَةُ، وَالْوِقَايَةُ مَا يَقِي الشَّيْءَ.«

Bahwa takwa secara bahasa (etimologi) asalnya dari kata 'al-waqyu', yaitu menjaga dan memelihara; sedangkan 'al-wiqayah' adalah sesuatu yang melindungi sesuatu yang lain.

Dalam mendefinisikan takwa, Ibnu Rajab Al-Hanbali (2008, 1:398) menggabungkan aspek etimologi dan terminologi secara padat. Sisi etimologi diwakili oleh kalimat:

»أَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا يَخَافُهُ وَيَحْذَرُهُ وِقَايَةً تَقِيهِ مِنْهُ«

(...seorang hamba membuat perlindungan antara dirinya dan apa yang ditakuti serta dikhawatirkannya, yang dapat melindunginya dari hal tersebut).

Sedangkan makna terminologi syariat dikunci melalui frasa:

» وَهُوَ: فِعْلُ طَاعَتِهِ وَاجْتِنَابُ مَعَاصِيهِ«

(...yaitu dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya).

Diskursus mengenai amal saleh tidak dapat dipisahkan dari definisi ibadah yang dirumuskan oleh para ulama otoritatif. Terkait hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara langsung mendefinisikan batasan amalan yang diridai tersebut dalam kitabnya Al-'Ubudiyah:

"الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ"

 (Ibadah adalah suatu istilah mencakup segala hal yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir).

Lebih lanjut, agar amalan tersebut sah secara syariat dan diterima di sisi Allah, ia wajib memenuhi dua prasyarat mutlak. Mengenai standarisasi ini, Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menukil langsung perkataan tabi'ut tabi'in, Al-Fudhail bin 'Iyadh, yang menegaskan:

 "إنَّ العَمَلَ إذا كانَ خالِصًا ولَمْ يَكُنْ صَوابًا لَمْ يُقْبَلْ، وإذا كانَ صَوابًا ولَمْ يَكُنْ خالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حتّى يَكُونَ خالِصًا صَوابًا؛ والخالِصُ أنْ يَكُونَ لِلَّهِ، والصَّوابُ أنْ يَكُونَ على السُّنَّةِ"

(Sesungguhnya amal jika dilakukan ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima, sampai amal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika ditujukan hanya karena Allah, dan benar itu jika berada di atas Sunah). Berdasarkan dua kutipan otoritatif tersebut, suatu perbuatan baru dapat dikategorikan sebagai amal saleh sejati apabila motif internalnya murni demi Allah dan tata cara eksternalnya valid mengikuti tuntunan nabi.

 

Hubungan Takwa dan Amal Shaleh

Takwa bertindak sebagai sebab (motif internal), sedangkan amal saleh adalah akibat (output eksternal). Seseorang tidak akan tergerak untuk melakukan amal saleh dengan konsisten jika di dalam hatinya tidak ada rasa takut, cinta, dan pengawasan kepada Allah (hakikat takwa).

Imam Al-Ghazali sering menganalogikan iman/takwa dan amal saleh seperti pohon dan buahnya. Tanpa akar takwa yang menghunjam kuat di dalam hati, amal saleh seseorang akan rapuh, hambar, dan mudah layu karena penyakit hati (seperti riya atau sum'ah). Sebaliknya, klaim "takwa" di dalam hati tanpa adanya amal saleh adalah klaim yang mati, karena pohon yang hidup pasti akan menghasilkan buah.

Di dalam Al-Qur'an, Allah hampir selalu menggandengkan karakteristik orang bertakwa (muttaqin) dengan indikator amal saleh yang nyata. Hubungan ini bisa dilihat dalam dua pola:

1. Takwa sebagai prasyarat diterimanya amal saleh:

Dalam QS. Al-Ma'idah: 27, Allah menegaskan:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa."

Artinya, kualitas takwa seseorang menentukan status keabsahan amal salehnya di sisi Allah.

2. Amal saleh sebagai bukti nyata ketakwaan:

Dalam QS. Ali 'Imran: 133-134, saat Allah menyediakan surga untuk orang yang bertakwa (u'iddat lil-muttaqiin), Allah langsung menyambungnya dengan daftar amal saleh mereka: yaitu orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain.

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Beberapa amal shaleh yang perlu kita perhatikan dengan serius karena amal ini pahalanya akan terus mengalir walupun manusia yang melaksanakannya sudah meninggal dunia. Di antara amalan tersebut:

1. Tiga Amalan Utama (Berdasarkan Hadis Riwayat Muslim): Sedekah Jariyah (Wakaf) , Ilmu yang Bermanfaat (Mengajar & Menulis) , Mendidik Anak Menjadi Saleh

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, No. 1631)

2. Tujuh Fasilitas Kebaikan (Berdasarkan Hadis Riwayat Ibnu Majah)

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، تَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ.

 “Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menyusulnya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf Al-Qur'an yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai/saluran air yang dialirkannya, serta sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya sewaktu sehat dan hidupnya, semuanya akan menyusulnya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah, No. 242)

3. Amalan-Amalan Mandiri Lainnya

a. Menanam Pohon / Penghijauan

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari, No. 2320)

b. Menjaga Perbatasan Wilayah Kaum Muslimin (Ribat)

كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Setiap orang yang meninggal dunia akan diputus akhir dari amalnya, kecuali orang yang mati dalam keadaan ribat (menjaga perbatasan) di jalan Allah. Sesungguhnya amalan kebaikannya akan terus dikembangkan sampai hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, No. 2500)

c. Mengajarkan Al-Qur'an secara Langsung

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, No. 5027)

d. Pelopor Tradisi Kebaikan Baru (Sunah Hasanah)

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

“Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang baik (sunah hasanah) dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan setelahnya...” (HR. Muslim, No. 1017)

e. Doa Tulus dari Orang Lain Atas Kebaikan Kita

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya secara sembunyi-sembunyi (tanpa sepengetahuan orangnya) adalah doa yang dikabulkan...” (HR. Muslim, No. 2733)

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Marilah kita bermuhasabah/instropeksi diri. Seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah dan seberapa banyak amal shaleh yang sudah kita kerjakan selama hidup di dunia? sebelum kita dihisab pada hari penghisaban. Sebagaimana perkataan Umar Bin Khatab:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْغِدِ أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

 “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang. Karena sesungguhnya akan lebih ringan bagi kalian di hari esok (kiamat) jika kalian menghisab diri kalian hari ini. Dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari pertunjukan yang agung (hari kiamat); pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).”

 

Jamaah yang berbahagia, semoga selalu dirahmati, diberkahi dan diridhai oleh Allah .

Sebagai kesimpulan dari apa yang kita kaji pada pagi hari yang penuh berkah ini, marilah kita jadikan momentum pergantian tahun dari 1447 H menuju 1448 H ini bukan sekadar pergantian angka di kalender. Sesuai dengan nasihat Baginda Nabi dan para ulama yang telah kita dengar tadi, mari kita buktikan bahwa kita adalah hamba-hamba pilihan yang "cerdas", yaitu mereka yang tidak tertipu oleh kesehatan dan waktu luang, yang senantiasa menundukkan syahwat dunia dengan mengingat mati, serta yang paling gigih mengumpulkan bekal takwa dan amal saleh sebelum hari persidangan yang agung itu tiba.

Semoga Allah menghidupkan hati kita, mengaruniakan kepada kita akhlak yang mulia, memberikan kepada kita istikamah dalam bertobat, serta mencatat kita semua sebagai golongan orang-orang yang wafat dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal 'Alamin.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ، وَالرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.