Kitab Kuning vs Keranjang Kuning: Melawan Arus Konsumerisme dari Bilik Pesantren
Oleh: Dr. Eko
Purbiyanto, S.Mn., M.M.*)
Di
tengah meningkatnya biaya hidup dan derasnya godaan konsumsi melalui belanja
online, istilah frugal living semakin populer, khususnya di kalangan
masyarakat urban. Frugal living pada dasarnya bukan sekadar hidup dengan
pengeluaran sedikit, melainkan sebuah cara mengelola keuangan dengan membedakan
kebutuhan dan keinginan, menghindari pemborosan, serta mengalokasikan uang
secara bijak. Menariknya, pola hidup semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang
baru bagi santri; jauh sebelum istilah frugal living menjadi tren di
media sosial, kehidupan pesantren telah mengajarkan praktik hidup sederhana
melalui kebiasaan sehari-hari. Santri hidup dalam lingkungan yang relatif
komunal, di mana makan, belajar, beribadah, dan berbagai aktivitas dilakukan
dengan fasilitas bersama, sehingga secara tidak langsung membentuk kebiasaan
untuk menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan, berbagi fasilitas, dan tidak
menjadikan kepemilikan barang sebagai ukuran status sosial. Santri belajar
bahwa kehidupan tidak harus selalu mengikuti tren—baju yang masih layak dipakai
tidak perlu segera diganti hanya karena muncul model baru, makanan tidak harus
mahal untuk dapat dinikmati, dan barang yang masih berfungsi tidak perlu
dibuang hanya karena ada produk terbaru.
Prinsip
kebersamaan dan kecukupan ini sejalan dengan fondasi ajaran Islam yang secara
tegas melarang sikap konsumtif dan berlebih-lebihan. Allah Swt. berfirman dalam
QS. Al-A'raf [7]: ayat 31:
يٰبَنِيْٓ
اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا
تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Wahai anak cucu Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi
jangan bermewah-mewahan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
bermewah-mewahan.”
Kutipan
ayat tersebut mempertegas bahwa Islam memperbolehkan umatnya menikmati rezeki
yang halal, namun memberikan batasan tegas agar tidak terjebak dalam gaya hidup
melampaui batas (israf). Melalui habituasi kehidupan pesantren yang selaras
dengan pesan Al-Qur'an ini, tradisi santri membuktikan bahwa kesederhanaan
bukanlah wujud dari kekurangan, melainkan sebuah bentuk kesadaran, kontrol
diri, dan kecerdasan dalam mengelola rezeki.
Kemandirian
santri di lingkungan pesantren tidak dibangun atas dasar keterpaksaan,
melainkan melalui proses pendidikan karakter yang berkesinambungan. Dalam
menyikapi alokasi uang saku, sikap hemat dan bersahaja yang ditunjukkan santri
bukanlah cerminan dari ketidakmampuan finansial atau bentuk kekurangan.
Sebaliknya, hal tersebut merupakan hasil dari kesadaran spiritual yang tinggi
untuk senantiasa bersyukur atas setiap rezeki yang diterima, sekaligus cerminan
kemampuan mereka dalam memprioritaskan kebutuhan (needs) di atas sekadar
keinginan (wants). Lingkungan pesantren secara sistematis melatih santri
untuk mengendalikan hawa nafsu konsumtif, sehingga mereka mampu mengelola
finansial secara bijak sejak usia muda.
Sebagaimana
dijelaskan oleh Abdullah (2020), "Kemandirian finansial santri tidak
diukur dari seberapa besar nominal uang yang mereka miliki, melainkan dari
sejauh mana mereka mampu mengendalikan diri dan membedakan antara kebutuhan
hakiki dan keinginan sesaat". Melalui pembiasaan pola hidup sederhana ini,
pesantren berhasil menanamkan pondasi karakter yang tangguh, di mana nilai diri
seseorang tidak ditentukan oleh tingkat konsumsi, melainkan oleh tingkat
pengendalian diri dan rasa syukur. {Abdullah, M. (2020). Pendidikan Karakter
dan Kemandirian di Pesantren Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar}.
Ekosistem Pesantren: Kunci Sukses
Santri Hidup Hemat Tanpa Merasa Melarat
Pesantren
memiliki ekosistem yang secara alami membentuk pola hidup hemat. Keberadaan
koperasi pesantren (kopontren) memudahkan santri memperoleh kebutuhan
sehari-hari tanpa harus sering berbelanja ke luar. Kemenag menyebut koperasi
sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan
memenuhi kebutuhan warga pesantren secara lebih efisien.
Pembatasan
membawa dan menggunakan gadget secara berlebihan juga dapat mengurangi paparan
terhadap iklan, flash sale, dan budaya belanja daring yang mendorong
konsumsi impulsif. Karena itu, aturan gadget bukan hanya persoalan
kedisiplinan, tetapi dapat menjadi sarana melatih santri mengendalikan
keinginan konsumtif.
Sementara
itu, tradisi makan bersama menggunakan talam atau mayoriti membuat kebutuhan
pangan dikelola secara kolektif. Santri tidak perlu setiap hari menentukan
sendiri makanan dan mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli makanan di luar.
Pola ini sekaligus menumbuhkan kebersamaan, berbagi, dan kesederhanaan.
Dengan
demikian, hidup hemat santri bukan karena mereka hidup kekurangan, tetapi
karena kebutuhan mereka dikelola melalui sistem yang sederhana dan kolektif.
Kopontren, pembatasan gadget, dan makan bersama menjadi bagian dari ekosistem
yang mengajarkan frugal living sejak dini dan hemat dalam pengeluaran,
tetapi tetap kaya dalam kebersamaan dan pengalaman hidup.
Santri Era Digital: Menjaga Tradisi
Hemat di Tengah Gempuran Online Shopping
Kondisi
santri saat ini sebenarnya berbeda dengan pelajar umum karena santri tidak
bebas membawa dan menggunakan HP. Di banyak pesantren, penggunaan HP diatur
secara ketat dan biasanya hanya diperbolehkan pada waktu atau kondisi tertentu,
misalnya saat perizinan. Justru pada momen inilah tantangan konsumtif dapat
muncul. Ketika mendapat kesempatan memegang HP, santri dapat langsung mengakses
marketplace, melihat promo, dan tergoda membeli barang.
Contohnya,
santri yang awalnya hanya ingin membeli perlengkapan mandi melalui marketplace
justru ikut membeli pakaian, sepatu, atau aksesori karena tergoda flash sale.
Karena itu, keterbatasan penggunaan HP perlu diikuti dengan literasi keuangan,
agar santri mampu mengendalikan keinginan berbelanja ketika memperoleh akses
digital.
Dengan
demikian, tradisi hemat pesantren tetap relevan. Tidak bebas membawa HP
merupakan salah satu bentuk lingkungan yang membantu membatasi konsumsi,
sementara kemampuan menahan diri ketika memperoleh akses belanja online menjadi
keterampilan ekonomi yang penting bagi santri di era digital.
Investasi Masa Depan: Mengapa Mantan
Santri Lebih Siap Menghadapi Krisis Ekonomi
Kebiasaan
hidup hemat yang dibangun di pesantren dapat menjadi modal mental dan finansial
jangka panjang bagi santri ketika memasuki dunia kerja dan membangun rumah
tangga. Santri terbiasa hidup dengan kebutuhan yang terukur, berbagi fasilitas,
serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebiasaan tersebut penting karena
kemampuan mengelola keuangan bukan hanya soal besar kecilnya pendapatan, tetapi
juga bagaimana seseorang mengendalikan pengeluaran.
Prof.
Dr. H. Ahmad Syafii Maarif dapat menjadi teladan bahwa kesederhanaan tidak
menghalangi seseorang untuk mencapai keberhasilan. Lulusan Madrasah Muallimin
Muhammadiyah Lintau dan Yogyakarta ini kemudian menjadi Ketua Umum PP
Muhammadiyah serta intelektual yang dikenal luas. Meski memiliki posisi dan
reputasi besar, Buya tetap dikenal hidup sederhana, mulai dari menggunakan
transportasi umum hingga beraktivitas dekat dengan masyarakat.
{Muhammadiyah.or.id: 2022}. Kesederhanaannya menunjukkan bahwa keberhasilan
tidak harus diwujudkan melalui gaya hidup mewah. Bagi santri, inilah pelajaran
penting: boleh memiliki cita-cita setinggi langit, tetapi tetap ngirit,
sederhana, dan tidak berlebihan.
Pengalaman
hidup sederhana juga melatih santri menghadapi situasi serba terbatas.
Misalnya, ketika baru bekerja dengan gaji yang belum besar, mantan santri
cenderung lebih mudah menyesuaikan gaya hidup daripada memaksakan konsumsi
mengikuti lingkungan. Ketika sudah berkeluarga, kebiasaan tersebut dapat
diterapkan dengan membuat anggaran, menabung, menghindari utang konsumtif, dan mendahulukan
kebutuhan pendidikan serta kebutuhan pokok.
Kebiasaan
hidup hemat di pesantren dapat dijelaskan melalui teori self-control
yang dikembangkan Thaler dan Shefrin. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang
sering menghadapi konflik antara keinginan untuk menikmati sesuatu saat ini dan
kepentingan jangka panjang. Individu yang mampu mengendalikan keinginan
konsumtif akan lebih mampu menunda kepuasan dan mengalokasikan pendapatannya
untuk kebutuhan masa depan.
Pemikiran
tersebut kemudian dikembangkan dalam Behavioral Life-Cycle Hypothesis oleh
Shefrin dan Thaler (1988), yang memasukkan unsur self-control, mental
accounting, dan framing dalam perilaku menabung. Menurut teori ini,
keputusan seseorang untuk menabung atau membelanjakan uang tidak hanya dipengaruhi
oleh jumlah pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan diri dan cara
seseorang memperlakukan uang yang dimilikinya. {Shefrin, H. M., & Thaler,
R. H. (1988). The Behavioral Life-Cycle Hypothesis. Economic Inquiry,
26(4), 609–643}.
Dalam
konteks pesantren, kehidupan yang sederhana, aturan konsumsi, keterbatasan
membawa HP, serta kebiasaan memenuhi kebutuhan secara kolektif dapat dipandang
sebagai lingkungan yang melatih self-control. Santri terbiasa menunda
keinginan, menggunakan uang sesuai kebutuhan, dan tidak selalu mengikuti
dorongan konsumsi sesaat. Kebiasaan tersebut menjadi modal ketika mereka
memasuki dunia kerja dan rumah tangga, terutama saat harus menentukan prioritas
antara konsumsi sekarang dan kebutuhan masa depan.
Dengan
demikian, budaya hemat pesantren bukan sekadar kebiasaan “ngirit”, tetapi
proses pembentukan kemampuan mengendalikan diri secara ekonomi. Sejalan dengan
Thaler dan Shefrin, kemampuan menahan keinginan konsumtif dan mempertimbangkan
kepentingan jangka panjang merupakan bagian penting dalam keputusan menabung
dan konsumsi.
Pada
akhirnya, pesantren tidak hanya mengajarkan santri bagaimana bertahan dengan
uang yang terbatas, tetapi juga membentuk mental untuk hidup sesuai kemampuan.
Inilah investasi yang mungkin tidak terlihat saat masih menjadi santri, tetapi
sangat berharga ketika menghadapi PHK, pendapatan menurun, kenaikan harga
kebutuhan pokok, atau kebutuhan keluarga yang semakin besar. Hemat bukan
berarti takut mengeluarkan uang, melainkan mampu menentukan kapan uang harus
dikeluarkan dan untuk apa.
Penutup: Hemat sebagai Identitas dan
Bekal Kehidupan
Pada
akhirnya, gaya hidup santri dan remaja di luar pesantren menghadapi tantangan
konsumsi yang berbeda. Remaja di luar pesantren relatif lebih bebas mengikuti
tren, online shopping, dan media sosial sehingga FOMO (Fear of
Missing Out) dapat mendorong keinginan untuk memiliki barang yang sedang
viral atau mengikuti gaya teman. Sementara itu, santri terbiasa dengan
kehidupan yang lebih terbatas dan teratur. Bagi santri, ngirit bukan
sesuatu yang memalukan, tetapi bagian dari proses belajar hidup sederhana.
Nilai ngirit
tersebut juga tidak berarti hidup serba kekurangan. Ada nilai berkah dalam
kesederhanaan dan kebersamaan yang mereka jalani. Semangat zuhud
mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak harus diukur dari banyaknya barang yang
dimiliki. Karena itu, ketika kelak keluar dari pesantren, santri diharapkan
mampu mengatakan “cukup” ketika yang lain terus mengejar “lebih”. Di tengah
budaya konsumtif dan FOMO, kemampuan mengendalikan keinginan inilah yang
menjadi salah satu warisan berharga kehidupan pesantren.
*) Dr. Eko Purbiyanto, S.Mn., M.M. (lahir di Karanganyar, 15 Juli 1983) merupakan akademisi yang menyelesaikan S1 Manajemen di Universitas Terbuka, S2 Manajemen di UNISRI Surakarta, dan S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta. Ia juga menempuh pendidikan diniyah di Ponpes Nashirus Sunnah Mesir dan Ponpes MQS Yogyakarta. Saat ini, ia aktif sebagai dosen Politeknik Assalaam Surakarta, tutor Universitas Terbuka, dan pengajar di Ponpes Muhammadiyah Imam Syuhodo Polokarto.

Tidak ada komentar