Adab Berbicara dan Mendengar dalam Islam
Dalam kehidupan sehari-hari, ada dua hal mendasar yang selalu melekat dalam
diri kita, yaitu adab berbicara dan adab mendengar. Menjaga lisan merupakan
salah satu bentuk ibadah dan hak Allah ﷻ
yang cukup berat untuk ditunaikan. Prinsip utamanya sederhana: berkata yang
baik, atau jika tidak bisa, lebih baik diam daripada mengucapkan hal yang
buruk.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan
tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,
hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adab-Adab dalam Berbicara
Agar lisan membawa keberkahan dan
kemaslahatan, berikut adalah beberapa adab berbicara yang perlu kita
perhatikan:
1. Berbicara dengan Jelas dan
Mudah Dipahami
Saat menyampaikan sesuatu, sampaikanlah
secara jelas agar lawan bicara dapat memahami maksud dan pesan kita dengan
baik.
2. Menggunakan Ungkapan yang
Sederhana
Gunakan bahasa yang simpel dan tidak
mencari-cari kosa kata yang terlalu tinggi atau rumit, sehingga tidak
membingungkan pendengar.
3. Tidak Mengulang-ulang
Ucapan Tanpa Alasan
Pengulangan sebaiknya hanya dilakukan untuk
memberikan penekanan makna. Sebab, sebaik-baik ucapan adalah yang singkat namun
padat arti, sedangkan seburuk-buruk ucapan adalah yang panjang dan membosankan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَـرَ
خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ
“Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya
khutbah seseorang merupakan bukti pemahaman agamanya yang dalam.” (HR. Muslim)
4. Santun dan Tidak
Dibuat-buat
Ucapan yang keluar haruslah bernilai baik,
tidak dibuat-buat, serta terhindar dari kata-kata kotor, keji, maupun mungkar.
Ciri Pembicaraan yang Bermanfaat
Setiap pembicaraan hendaknya mengandung
kebaikan, seperti perintah pada kebaikan, anjuran bersedekah, atau upaya
mendamaikan sesama. Allah ﷻ
berfirman:
لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ
اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ١١٤
“Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan
rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh
bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.
Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan
kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An-Nisa/4: 114)
Oleh karena itu, kita hendaknya menghindari
pembicaraan yang bukan menjadi urusan kita, terlebih membicarakan aib orang
lain (ghibah)—yang diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.
Sebaliknya, tinggalkanlah ucapan yang sia-sia
dan tidak bermanfaat. Allah ﷻ
berfirman:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ ١الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ ٢وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَۙ ٣
“Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang meninggalkan
(perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun/23: 1–3)
Penting pula untuk berbicara sesuai dengan
kapasitas dan kadar pemahaman lawan bicara. Beberapa contoh konkret perkataan
yang baik antara lain menyebarkan salam, mendoakan sesama muslim, dan menjalin
tali silaturahmi.
Menahan Diri dan Bersabar dalam Berdialog
Seseorang yang memiliki akhlak terpuji tentu
mampu menahan dirinya dari ucapan jahat yang tidak membawa kemaslahatan. Allah ﷻ
berfirman:
وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا
بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ
ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ
اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٤٦
“Janganlah kamu mendebat Ahlulkitab melainkan
dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang berbuat zalim di
antara mereka. Katakanlah, ‘Kami beriman pada (kitab) yang diturunkan kepada
kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu. Hanya
kepada-Nya kami berserah diri.’” (QS. Al-Ankabut/29: 46)
Selain itu, bersabar saat berdialog dengan
orang-orang yang bodoh atau jahil dapat menjaga diri kita dari rasa marah.
Menjauhi tempat-tempat kejahatan dan maksiat juga sangat dianjurkan, karena
tempat-tempat tersebut rawan menjadi wadah pembicaraan kotor dan keji. Padahal,
seseorang yang sering berkata keji pada hakikatnya sedang merendahkan harga
dirinya sendiri.
Adab-Adab dalam Mendengarkan
Menjadi pendengar yang baik sering kali lebih
sulit daripada menjadi pembicara. Memiliki sikap mau mendengarkan membutuhkan
kerendahan hati. Berikut adalah adab-adab mendengarkan yang patut kita amalkan:
1. Diam dan Menyimak dengan
Seksama
Diam saat orang lain berbicara mencegah
ucapan bercampur baur dan menjadi sulit dipahami. Allah ﷻ
berfirman:
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا
لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٢٠٤
“Jika dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah
(dengan saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-A’raf/7: 204)
Meski merasa lebih pandai, jangan sekali-kali
merendahkan orang yang sedang berbicara dengan kita.
2. Tidak Memotong Pembicaraan
Orang Lain
Jangan memenggal ucapan orang lain hanya
karena ingin menguasai pembicaraan atau merasa paling pintar. Memotong
pembicaraan adalah perbuatan yang kurang sopan. Tunggulah sampai pembicara
selesai, baru sampaikan pendapat kita dengan tutur kata yang santun.
3. Menghadapkan Wajah kepada
Pembicara
Fokuskan perhatian dan hadapkan wajah kepada
pembicara (selama dalam rangka ketaatan kepada Allah ﷻ).
Tetaplah menyimak meskipun materi yang disampaikan terasa kurang menarik atau
cara penyampaiannya belum lancar.
4. Tidak Menunjukkan Sikap
Berbeda atau Meremehkan
Meskipun kita mungkin lebih tahu mengenai
topik yang dibahas, jangan menunjukkan sikap acuh atau meremehkan, selama
pembicara tidak menyampaikan hal yang salah.
5. Menjauhi Sikap Sombong dan
Takabur
Jangan menampakkan kepada orang banyak bahwa
kita lebih alim atau lebih berilmu dibanding si pembicara. Hal tersebut dapat
memicu rasa sombong dan takabur dalam hati. Padahal, kesombongan hanyalah milik
Allah ﷻ semata.
Kesombongan adalah "pakaian" Allah ﷻ.
Lantas, tidakkah kita merasa malu kepada Allah ﷻ?
Kita yang tidak memiliki jaminan masuk surga ini, mengapa masih saja menyisakan
kesombongan dan ketakaburan di dalam dada?
Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar