Header Ads

Header ADS

Tuntunan Idul Fitri

H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A

Wakil Ketua PDM Sukoharjo, Direktur Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo

 

Idul Fitri merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawwal dalam kalender Hijriyah. Umat Islam dituntunkan oleh Rasulullah untuk merayakan hari tersebut sebagai bentuk syukur, karena selama satu bulan penuh sebelumnya—yaitu pada bulan Ramadhan—mereka telah menunaikan kewajiban dari Allah berupa ibadah puasa.

Terdapat beberapa amalan dan tuntunan terkait Idul Fitri yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada umat Islam untuk dilaksanakan. Dengan mengamalkannya, umat Islam diharapkan dapat memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah . Di antaranya adalah:

 

1.  Memperbanyak takbir pada malam Hari Raya ‘Idul Fitri, sejak matahari terbenam, hingga esok, ketika shalat ‘Id dimulai.

Dasarnya adalah firman Allah :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ تَكْبِيْرَاتُ لَيْلَةِ الفِطْرِ.

Shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ’anhuma (dalam menafsirkan ayat tersebut) berkata: "Itu adalah takbir pada malam hari  (menjelang) Idul Fithr.

(Lihat tafsir Ar-Rozi, Al-Qurthubi, Ad-Durrul Mantsur, Fathul Qodir, Al-Baghowi, Zad-Al-Masiir, Al-Kasyf Wal Bayan, Al-Wajiz dan kitab  Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu).

Diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i, Sa'id bin Musayyab, 'Urwah dan Abu Salamah, bahwa mereka semua termasuk yang selalu bertakbir di malam menjelang Idul Fitri. Demikian juga ketika malam menjelang Idul Adha kecuali yang sedang menunaikan ibadah Haji.

 

2.  Sebelum berangkat ke tempat shalat, hendaklah memakai pakaian yang terbaik yang dimilikinya, memakai wangi-wangian, makan secukupnya. Pada waktu berangkat shalat hendaklah selalu membaca takbir. Dan pada waktu pulang hendaklah mengambil jalan lain ketika berangkat. Semua kaum muslimin dan muslimat dianjurkan mendatangi tempat shalat untuk mendengarkan khutbah. Para wanita yang sedang haidl cukup mendengarkan khutbah, tidak mengerjakan shalat.

Dasar-dasarnya adalah:

a.  Hadits Nabi Muhammad :

عَنِ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ العِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبَسَ أَجْوَدَ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نَتَطَيَّبَ بِأَجْوَدِ ماَ نَجِدُ وَأَنْ نُضَحِّيَ بِأَسْمَنِ ماَ نَجِدُ ( رواه الحاكم )

“Dari Anas radhiallahu ‘anhu (diriwayatkan bahwa) Rasulullah menyuruh kami pada dua hari raya [Idul Fitri dan Idul Adlha] agar memakai pakaian yang terbaik yang kami miliki, memakai wangi-wangian yang terbaik, dan menyembelih binatang yang paling gemuk.” (HR. Al-Hakim)

b.  Hadits Nabi Muhammad :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدَيْنِ يَرْجِعُ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي خَرَجَ فِيهِ.  ( رواه أحمد ومسلم )

“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah apabila keluar ke tempat shalat dua Hari Raya, pulangnya selalu mengambil jalan lain dari ketika beliau keluar.” (HR. Ahmad dan Muslim)

c.  Hadits Nabi Muhammad :

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ يَأْكلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ. (رواه الترمذي)

Dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Termasuk sunnah Nabi , pergi ke tempat shalat ‘Id dengan berjalan kaki dan makan sedikit sebelum keluar.” (HR at- Tirmidzi)

d.  Hadits Nabi Muhammad :

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا ( رواه الجماعة )

“Dari Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah memerintahkan kami supaya menyuruh mereka keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adlha: yaitu semua gadis remaja, wanita sedang haid dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat shalat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya meminjaminya baju kurungnya.” (HR. Al-Jama‘ah)

 

3.  Lafadz Takbir

Lafadz takbir untuk Hari Raya adalah:

اَللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Dasarnya adalah hadits Nabi Muhammad :

عَنْ سَلْماَنَ قَالَ: كَبِّرُوْا اَللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كبِيْرًا . وَجَاءَ عَنْ عُمَرَ وَاْبنِ مَسْعُوْدٍ: اَللهُ أَكبَرُ اَللهُ أَكبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكبَرُ، اَللهُ أَكبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ ( رواه عبد الرزاق بسند صحيح )

“Dari Salman (dilaporkan bahwa) ia berkata: Bertakbirlah dengan: Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiiran. Dan dari Umar dan Ibnu Mas‘ud (dilaporkan): Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahilhamd.” (HR. ‘Abdur-Razzaq, dengan sanad shahih)

 

4.  Zakat Fitri

Zakat fitri diwajibkan kepada setiap orang muslim/muslimah, tua muda, dan anak kecil, yang pada menjelang Hari Raya mempunyai kelebihan makanan pokok. Zakat fitri berupa makanan pokok sebanyak 1 sha‘ (± 2,5 kg). Zakat fitri ditunaikan pada akhir Ramadhan, dan selambat-lambatnya sebelum shalat ‘Id dilaksanakan. Apabila zakat tersebut ditunaikan sesudah shalat ‘Id, maka berubah menjadi shadaqah biasa. Sebaiknya zakat fitri dikumpulkan pada Panitia Zakat (Amil Zakat), agar dapat dibagikan secara merata dan teratur.

Adapun tujuan zakat fitri ialah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari dosa-dosanya, karena ketika berpuasa, baik sengaja maupun tidak sengaja, telah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Syari‘ah, dan juga untuk menyantuni para fakir miskin.

Dalam hadits Nabi disebutkan sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ) رواه أبو دادود وابن ماجه(

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Id, maka itu adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya sesudah shalat ‘Id, maka itu hanyalah sekedar sedekah.”  (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كلِّ نَفْسٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ أَوْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ صَغِيرٍ أَوْ كبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ )رواه مسلم(

“Dari Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma (diriwayatkan bahwa) Rasulullah telah mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan atas setiap jiwa orang Muslim, baik merdeka ataupun budak, laki-laki ataupun wanita, kecil ataupun besar, sebanyak satu sha' kurma atau gandum. (HR. Muslim)

 

5.  Shalat dan Khutbah ‘Idul Fitri

a.  Shalat Idul Fitri dikerjakan secara berjama‘ah di tanah lapang. Jumlah rakaat shalat Idul Fitri adalah dua rakaat, dengan tujuh kali takbir setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan lima kali takbir setelah takbirotul qiyam pada rakaat kedua. Dasar-dasarnya adalah:

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ( رواه البخارى )

“Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anhu (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Nabi Muhammad selalu keluar pada hari Idul Fitri dan hari Idul Adlha menuju lapangan, lalu hal pertama yang ia lakukan adalah shalat ...” (HR. Al-Bukhari)

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا... ( رواه السبعة )

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah pada hari Idul Adlha atau Idul Fitri keluar, lalu shalat dua rakaat, dan tidak mengerjakan shalat apapun sebelum maupun sesudahnya. [Ditakhrijkan oleh tujuh ahli hadis].

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا وَخَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ  (رواه أحمد)

“Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma (diriwayatkan bahwa) Rasulullah pada shalat dua hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan surat)”. (HR Ahmad)

Kemudian pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dan Ad-Daruqthni ada tambahan keterangan,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى الثَّقَفِىُّ أَخْبَرَنِى عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ كَبَّرَ فِى الْعِيدَيْنِ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا ، فِى الأُولَى سَبْعًا ، وَفِى الآخِرَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الصَّلاَةِ. ( رواه البيهقي والدارقطنى )

Bercerita Abdullah bin Abdirrahman bin Ya’la Ats-Tsaqafi, memberitahuku Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah bertakbir pada dua shalat Ied, yaitu Fitri dan Adha, tujuh kali dan lima kali selain takbir dalam shalat (yaitu takbiratul ihram dan takbiratul qiyam). (H.R. Al-Baihaqi dan Ad-Daruquthni)

 

b.  Khutbah Idul Fitri dikerjakan satu kali sesudah melaksanakan shalat Idul Fitri, dimulai dengan bacaan hamdalah. Dasarnya adalah:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ (متفق عليه )

“Dari Abu Sa‘id al-Khudri (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha menuju lapangan tempat shalat, maka hal pertama yang dia lakukan adalah shalat, kemudian manakala selesai beliau berdiri menghadap orang banyak yang tetap duduk dalam saf-saf mereka, lalu Nabi menyampaikan nasehat dan pesan-pesan dan perintah kepada mereka; lalu jikan beliau hendak memberangkatkan angkatan perang atau hendak memerintahkan sesuatu beliau laksanakan, kemudia lalu beliau pulang.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ شَهِدْتُ الصَّلاَةَ مَعَ رَسُولِ اللهِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ فَلَمَّا قَضَى الصَّلاَةَ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكّرَهُمْ وَحَثَّهُمْ عَلَى طَاعَتِهِ ... ( رواه النسائ )

“Dari Jabir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya menghadiri shalat pada suatu hari raya bersama Rasulullah : sebelum khutbah beliau memulai dengan shalat tanpa azan dan tanpa iqamat. Lalu manakala selesai shalat beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal. Lalu ia bertahmid dan memuji Allah, menyampaikan nasehat dan peringatan untuk jamaah, serta mendorong mereka supaya patuh kepada-Nya...” (HR. an-Nasa’i)

 

Tuntunan-tuntunan Idul Fitri yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa hari raya ini bukan sekadar perayaan kemenangan setelah menunaikan ibadah puasa, melainkan momentum ibadah yang sarat dengan nilai ketaatan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Idul Fitri dimaknai sebagai kembalinya kaum muslimin kepada kebolehan berbuka setelah sebulan penuh menahan diri, yang disyukuri dengan memperbanyak takbir, menunaikan zakat fitri, serta melaksanakan shalat dan khutbah ‘Id sesuai tuntunan Nabi Muhammad . Dengan demikian, Idul Fitri menjadi sarana penyempurna ibadah Ramadhan dan penguat ketakwaan kepada Allah serta perekat ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.