Header Ads

Header ADS

Pemimpin Bertauhid yang Merakyat dan Bermusyawarah


Oleh: Ulfa Sularsih, S.Pd.
Sekretaris PD Nasyiatul ‘Aisyiyah Sukoharjo


Menjalani kehidupan bersama banyak orang tentu membutuhkan sosok pemimpin. Pemimpin yang mampu mengatur agar segala urusan dalam kehidupan bersama menjadi lebih tertata dan memiliki arah tujuan yang jelas.

Dalam kehidupan berumah tangga, misalnya, ada sosok ayah sebagai kepala keluarga yang menjadi pemimpin dalam mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Meskipun demikian, bukan berarti seluruh keputusan mutlak berada di tangan ayah. Tetap ada musyawarah bersama ibu dan anak-anak sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

Naik satu tingkat di atas keluarga, kehidupan bermasyarakat pun membutuhkan seorang pemimpin. Hidup bertetangga dengan banyak kepala keluarga yang tinggal berdekatan tentu tidak lepas dari berbagai kepentingan yang saling bersinggungan. Dapat dibayangkan apabila tidak ada sosok pemimpin di tengah masyarakat, niscaya akan muncul banyak gesekan. Karena itulah ada Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Ketua Rukun Warga (RW) yang bertugas mengatur jalannya kehidupan bermasyarakat serta menjadi pemangku kebijakan yang ditaati oleh warga.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ï·º bersabda, "Tidak diperkenankan bagi tiga orang yang berada di padang luas melainkan mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin." (HR. Ahmad)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa kita tidak diperkenankan hidup tanpa seorang pemimpin. Meskipun hanya tiga orang yang hidup bersama, tetap dianjurkan mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin. Rasulullah ï·º menegaskan pentingnya kepemimpinan agar kehidupan dapat berjalan secara teratur, terarah, dan mampu mencapai tujuan yang jelas.

Begitu pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosok pemimpin selalu menjadi sorotan masyarakat. Terlebih ketika negara akan menyelenggarakan pesta demokrasi untuk memilih para pemimpin yang akan mengatur kehidupan masyarakat Indonesia. Lantas, seperti apakah sosok pemimpin yang ideal?


Pemimpin yang Merakyat

Apa yang dimaksud dengan pemimpin yang merakyat?

Sebelum membahasnya, ada baiknya kita menyimak kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Siapa yang tidak mengenal Al-Faruq, Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu? Beliau dikenal sebagai pemimpin yang tegas, zuhud, sekaligus sangat dekat dengan rakyatnya.

Rabi' bin Ziyad al-Haritsi pernah menceritakan sebuah kisah tentang beliau. Pada awalnya, Rabi' hanyalah seorang utusan yang diutus menghadap Umar radhiallahu 'anhu. Dalam perjalanannya, ia sangat mengagumi kepribadian sang khalifah.

Suatu ketika Rabi' mengadukan rasa tidak nyaman yang ia rasakan karena harus memakan makanan yang sangat sederhana sebagaimana makanan Umar radhiallahu 'anhu. Ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sungguh orang yang paling pantas mendapatkan makanan yang enak, pakaian yang lembut, dan kendaraan yang nyaman adalah engkau."

Saat itu Umar radhiallahu 'anhu sedang duduk sambil memegang sebatang pelepah kurma. Beliau lalu menyentuh Rabi' secara pelan dengan pelepah tersebut seraya berkata, "Demi Allah, aku melakukan ini agar engkau merasa dekat denganku, sebab aku melihat banyak kebaikan dalam dirimu. Ketahuilah, perumpamaan antara aku dan rakyatku adalah seperti sekelompok musafir yang mempercayakan bekal perjalanan mereka kepada salah seorang di antara mereka. Jika orang yang dipercaya itu menggunakan bekal tersebut untuk dirinya sendiri, apakah ia telah berbuat benar?"

Rabi' menjawab, "Tentu tidak."

Sungguh luar biasa teladan yang diberikan oleh Umar radhiallahu 'anhu. Inilah hakikat pemimpin yang merakyat. Tidak banyak berjanji, tetapi nyata dalam tindakan. Beliau memilih menikmati makanan yang sama dengan rakyatnya, bukan hidup dalam kemewahan yang jauh dari kondisi masyarakat.

Keadaan ini sangat berbeda dengan realitas yang sering kita saksikan saat ini. Tidak sedikit pemimpin yang justru mempertontonkan kemewahan melalui kendaraan, rumah, gaya hidup, maupun penampilan. Dengan segala fasilitas tersebut mereka berusaha menunjukkan kedekatan dengan rakyat melalui kunjungan ke pelosok desa, berbaur dengan masyarakat, atau mengunggah berbagai aktivitas di media sosial.

Padahal, pemimpin yang merakyat bukanlah pemimpin yang sibuk membangun pencitraan melalui blusukan atau swafoto bersama masyarakat. Merakyat berarti berpikir dan bertindak demi kepentingan rakyat. Pemimpin yang benar-benar merakyat adalah pemimpin yang menghadirkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, bukan sekadar mengejar popularitas.


Pemimpin yang Bermusyawarah

Gemar bermusyawarah merupakan salah satu karakter mulia yang selalu dipegang oleh Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Beliau tidak pernah memosisikan dirinya sebagai penguasa yang paling benar. Sebaliknya, beliau menganggap dirinya memiliki kedudukan yang sama dengan anggota musyawarah lainnya.

Dalam setiap persoalan, beliau senantiasa meminta pendapat orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya adalah pemegang kekuasaan yang bebas mengambil keputusan sesuka hati.

Umar radhiallahu 'anhu bahkan menanamkan keyakinan bahwa rakyatnya adalah guru yang dapat menunjukkan jalan kebenaran dan menyelamatkannya dari beratnya hisab di akhirat kelak. Masyaallah, sebuah kerendahan hati yang luar biasa. Beliau meyakini bahwa berbagai pendapat yang muncul dalam musyawarah akan semakin memperjelas kebenaran.

Andai setiap pemimpin di berbagai negara meneladani sikap Umar radhiallahu 'anhu, tentu rakyat akan mencintai dan menghormati pemimpinnya.

Lantas, sudahkah kita memiliki pemimpin seperti itu?

Ironisnya, saat ini banyak pemimpin yang tidak lagi meminta pendapat rakyat sebelum merancang sebuah kebijakan. Penyusunan kebijakan sering kali tidak melibatkan partisipasi masyarakat sehingga lahirlah berbagai kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bahkan tidak sedikit kebijakan yang lebih menguntungkan pihak tertentu dan justru merugikan masyarakat luas.

Lebih memprihatinkan lagi, rakyat sering kali baru mengetahui adanya suatu kebijakan ketika mereka dianggap telah melanggarnya. Ketika masyarakat menyampaikan penolakan, kekuasaan justru digunakan untuk membungkam suara mereka.

Seandainya teladan Umar radhiallahu 'anhu dalam bermusyawarah benar-benar diterapkan, niscaya hubungan antara pemimpin dan rakyat akan semakin dekat. Kedekatan itulah yang akan melahirkan kedamaian dan kepercayaan di tengah masyarakat.


Pemimpin yang Mengutamakan Tauhid

Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu pernah mencopot Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu dari jabatannya sebagai panglima perang. Menurut pendapat yang masyhur, keputusan tersebut diambil demi menjaga kemurnian tauhid.

Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu dikenal sebagai panglima perang yang luar biasa. Beliau tidak pernah mengalami kekalahan, baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam. Sejak diangkat menjadi panglima pada masa Khalifah Abu Bakar radhiallahu 'anhu, setiap peperangan yang dipimpinnya selalu berakhir dengan kemenangan.

Lama-kelamaan muncul keyakinan di tengah kaum muslimin, "Jika panglimanya Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu, maka pasti akan menang."

Bahkan sebagian kaum muslimin mulai menganggap bahwa Khalid radhiallahu 'anhu adalah penyebab kemenangan itu sendiri. Mereka menggantungkan harapan kepada beliau dan mulai melupakan pentingnya berdoa serta memohon pertolongan kepada Allah ï·».

Melihat keadaan tersebut, Umar radhiallahu 'anhu mengambil keputusan untuk mengganti panglima perang. Beliau memahami bahwa menjaga kemurnian tauhid jauh lebih penting daripada apa pun. Bukan karena menginginkan kekalahan kaum muslimin, tetapi agar umat menyadari bahwa kemenangan hanya datang dari Allah ï·», siapa pun panglimanya.

Umar radhiallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah atau karena ia berkhianat. Akan tetapi, manusia telah terfitnah, dan aku ingin mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang memberikan kemenangan."

Tauhid berarti memurnikan keesaan Allah ï·» dan menyandarkan seluruh urusan hanya kepada-Nya, bukan kepada makhluk.

Masyaallah, sungguh indah teladan yang diwariskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu. Semoga para pemimpin kita mampu meneladani seluruh kebaikan beliau: menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat, gemar bermusyawarah, dan menjadikan tauhid sebagai landasan utama dalam setiap kebijakan serta kepemimpinannya. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.