Mencetak Anak Shaleh
Semua
orang yang telah menikah dan memiliki anak pasti menginginkan anaknya menjadi shaleh
dan bermanfaat bagi orang tua serta agamanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
(yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau doa anak yang shaleh.”
(HR. Muslim)
Anak
shaleh adalah harapan setiap orang tua. Terutama ketika orang tua telah tiada,
ia terus mendapatkan manfaat darinya. Bukan hanya dari doa, tetapi juga dari
amal shaleh anak.
Untuk
mewujudkan anak shaleh, ada beberapa kiat yang bisa ditempuh.
1.
Doa
Tanpa
doa, tidak mungkin anak shaleh bisa terwujud karena keshalehan adalah hidayah
Allah ﷻ.
مَنْ
يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْخَاسِرُونَ
“Barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-A’raf: 178)
Karena
hidayah di tangan Allah ﷻ,
tentu kita harus banyak berdoa. Berikut contoh-contoh doa yang telah
dipraktikkan oleh para nabi.
Doa
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya
Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang
saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Doa
Nabi Zakariya ‘alaihis salam:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya
Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)
Doa
‘Ibadurrahman (hamba Allah yang beriman):
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya
Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
ثَلَاثُ
دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ
الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada
tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang tua, doa
orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Abu Dawud,
Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Jangan
mendoakan kejelekan. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
لَا
تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا
عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا
عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah
kalian mendoakan kejelekan untuk diri kalian sendiri, dan janganlah kalian
mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian, serta jangan mendoakan kejelekan
untuk harta kalian. Janganlah kalian berdoa seperti itu karena boleh jadi
bersesuaian dengan satu waktu dari Allah yang jika Dia diminta sesuatu pada
waktu tersebut, Dia pasti mengabulkannya untuk kalian.” (HR. Muslim)
Doa
jelek ini terlarang karena bisa jadi bertepatan dengan waktu terkabulnya doa.
Akhirnya yang ada adalah penyesalan. Dalam hadis Ummu Salamah radhiyallahu
‘anha disebutkan sabda Nabi ﷺ,
لَا
تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ
يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
“Jangan
mendoakan jelek untuk diri kalian sendiri. Doakanlah yang baik-baik saja karena
malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Abu Dawud)
Tentang
doa jelek bisa mengambil ibrah dari kisah Juraij yang didoakan jelek oleh
ibunya.
Tentang
doa baik bisa mengambil ibrah dari kisah doa ibu Syaikh Abdurrahman As-Sudais.
Kekuatan
Doa Orang Tua untuk Anaknya
Ulama
Kuwait, Syaikh Fahad Al-Kandari, bercerita,
“Dulu
saat mengimami sebuah masjid di Kuwait, saya lupa sebuah ayat. Ternyata ada
seorang yang membenarkan bacaan saya. Hanya seorang, yang ternyata ia adalah
kakek tua. Saya tertarik untuk menemuinya.”
Syaikh
Fahad bertanya, “Kek, Anda hafal Al-Qur'an ya?”
“Iya,
benar,” kata kakek itu.
Syaikh
Fahad berkata, “Masya Allah, tentu Anda hafal Al-Qur'an sejak kecil, kan?”
“Tidak,
Syaikh. Saya baru mulai menghafal sejak usia 60 tahun,” jawab kakek tersebut.
Syaikh
Fahad tertegun, kemudian bertanya, “Masya Allah, bagaimana ceritanya? Bukankah
itu sulit?”
“Tidak
juga. Mungkin salah satu penyebabnya adalah ibuku. Ada satu hal yang selalu ia
lakukan, tak pernah ia tinggalkan hingga beliau meninggal.”
“Apa
itu?” tanya Syaikh Fahad.
“Ibuku
tak pernah berhenti mendoakanku agar hafal Al-Qur'an,” kata kakek tua tersebut.
Pesan
untuk para orang tua dari kisah di atas: jangan pernah berhenti mendoakan
kebaikan bagi anak. Walaupun saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal,
hidayah berada di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya ia menjadi anak yang shaleh
berkat doa yang tidak pernah putus.
2.
Orang Tua Harus Berusaha Menjadi Shaleh
Kalau
ingin anak yang shaleh, orang tua juga harus memperbaiki diri. Bukan hanya
berharap anaknya menjadi baik, sedangkan orang tua masih bermaksiat, sulit
shalat, enggan menutup aurat, dan lain-lain.
Sebagian
salaf sampai-sampai terus menambah shalat hanya agar anaknya menjadi shaleh.
Sa'id bin Al-Musayyib pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh
aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shaleh).”
‘Umar
bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan, “Setiap mukmin yang meninggal dunia (di
mana ia terus memperhatikan kewajiban kepada Allah), maka Allah akan senantiasa
menjaga anak dan keturunannya setelah itu.”
3.
Pendidikan Agama Sejak Dini
Allah
ﷻ berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Dalam
Tafsir Ibnu Katsir (7:321), ‘Ali mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini
adalah, “Ajarilah adab dan agama kepada mereka.”
Tentang
shalat pun diperintahkan agar anak diajak dan diajarkan sejak dini. Rasulullah ﷺ bersabda,
مُرُوا
أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ
عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي
الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan
anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul
mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah
tempat-tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
Tentang
adab makan yang benar, Rasulullah ﷺ pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah.
Beliau berkata kepada ‘Umar,
يَا
غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai
anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makan. Makanlah
dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Bukan
hanya shalat dan adab saja, hendaklah anak diajarkan menjauhi yang haram dan
perbuatan tercela. Semua itu pada asalnya adalah tanggung jawab orang tua.
Kalau orang tua merasa tidak mampu karena kurang ilmu, anak bisa dimasukkan ke
TPA atau MADIN di luar waktu sekolahnya, atau dimasukkan ke pesantren maupun
sekolah-sekolah Islam.
Dari
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Pada masa Nabi ﷺ ada dua orang bersaudara. Yang satu suka
datang menemui Nabi ﷺ
untuk menuntut ilmu agama, sedangkan yang lainnya giat bekerja agar saudaranya
bisa mendapatkan rezeki. Kemudian orang yang giat bekerja mengadu kepada Nabi ﷺ tentang keadaan saudaranya itu. Beliau
bersabda, ‘Barangkali engkau mendapatkan rezeki (dari Allah) karena sebab
saudaramu (yang rajin belajar itu).’” (HR. Tirmidzi)
Semoga
kita menjadi orang tua yang dikaruniai anak-anak penyejuk mata. Al-Hasan
Al-Bashri berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang
mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat kepada Allah ‘azza wa jalla.”
Tidak ada komentar