Timeline Pemakmuran dan Pembebasan Baitul Maqdis
Paling pertama, Masjidil Aqsha menjadi masjid tertua kedua yang dibangun di muka bumi, 40 tahun sesudah Ka'bah Masjidil Haram (Q.s. Ali 'Imran [3]: 96-97, Muttafaq 'alaih dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu). Tidak disebutkan pendirinya, tetapi mayoritas ulama sepakat itu adalah Nabi Adam 'alaihis salam, karena beliau dan anak-turunnya sudah mendapatkan perintah untuk beribadah kepada Allah ï·». Sebagian ulama malah mengatakan sebelumnya lagi, yaitu dipakai ibadah para malaikat.
Baitul Maqdis Merdeka, Impian Besar Kita
Beribu-ribu tahun manusia bertauhid sampai akhirnya kesyirikan mulai terjadi pada zaman Nabi Nuh 'alaihis salam, mereka juga lalai dari memakmurkan dua Rumah Allah ï·» tersebut, maka terjadilah azab banjir besar. Kemudian pada zaman berikutnya Allah ï·» memerintahkan Nabi Ibrahim 'alaihis salam untuk meninggikan fondasi Baitullah Ka'bah (merenovasinya) dan membersihkannya. Di tanah suci inilah beliau meninggalkan separuh keluarganya (Hajar dan Nabi Ismail 'alaihis salam), memakmurkannya, dan mengembangkan peradaban manusia, menjadi nenek moyang bangsa Arab (Q.s. al-Baqarah [2]: 124-130; Ibrahim [13]: 34-40). Sebelumnya, untuk menyelamatkan diri dari kezaliman musuhnya (Raja Namrud), Nabi Ibrahim 'alaihis salam telah diperintahkan Allah ï·» untuk menempati tanah suci yang lain, yaitu Baitul Maqdis, bersama separuh keluarganya (Sarah, kelak lahir pula Nabi Ishaq 'alaihis salam), akhirnya pun berkembang menjadi peradaban manusia. Tepatnya beliau mendiami Kota al-Khalil—diambil dari kata Ibrahim al-Khalilullah (kekasih Allah). Orang Yahudi menyebutnya Kota Hebron. Keponakan Ibrahim, Nabi Luth 'alaihis salam, juga hijrah ke sini pasca-azab menimpa Sodom.
Nabi Ishaq 'alaihis salam mempunyai anak yang terus mendiami kawasan ini bernama Nabi Ya'qub 'alaihis salam, yang mempunyai nama lain Israil. Namun, ketika putranya, Nabi Yusuf 'alaihis salam, menjadi pejabat penting di Mesir, Nabi Ya'qub 'alaihis salam dan keluarga besarnya ikut pindah ke Mesir (Q.s. Yusuf). Mereka berkembang menjadi Bani Ya'qub (Bani Israil). Adapun kawasan Baitul Maqdis kini dihuni kaum paganis musyrik tak menyembah Allah ï·», itulah bangsa Kan'aan.
Dinasti Mesir berganti. Bani Israil yang pada masa Nabi Yusuf 'alaihis salam hidup mulia sebagai warga negara kelas atas di Mesir kemudian berubah menjadi bangsa yang diperbudak. Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihis salam lahir dan diutus pada masa ini. Mereka dari keturunan Lawi (Levi) bin Ya'qub, kakak Nabi Yusuf.
Setelah Nabi Musa, Nabi Harun 'alaihis salam, dan pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Fir'aun dan pasukannya, Allah ï·» memerintahkan agar mereka memasuki tanah suci Baitul Maqdis yang sudah dihuni bangsa musyrik. Caranya dengan berjihad. Bani Israil enggan bahkan menolak dengan kasar. Allah ï·» pun murka dan menghukum Bani Israil dengan membuat mereka kebingungan memasuki kawasan tanah suci selama 40 tahun. Pada periode inilah Nabi Harun 'alaihis salam kemudian Musa wafat. Musa dimakamkan di luar batas tanah suci. Nabi Musa 'alaihis salam berhasil mengader murid setianya, Nabi Yusya' bin Nun 'alaihis salam (Joshua, hidup ± 1400-1290 SM). Kelak melalui jihad pimpinannya, Bani Israil berhasil menghuni tanah suci Baitul Maqdis. Dari sinilah narasi “Tanah yang Dijanjikan” sangat dimitoskan oleh orang-orang Yahudi. Padahal kita tahu, mayoritas Bani Israil enggan berjihad, dan segelintir pengikut Yusya' saja yang berjasa (H.r. Ahmad. Shahih).
Bani Israil masih dilingkupi bangsa-bangsa lain yang musyrik dan zalim. Pada masa berikutnya, Bani Israil yang beriman di bawah kepemimpinan Raja Thalut berhasil mengalahkan musuh mereka pimpinan Raja Jalut, lalu kepemimpinan dilanjutkan oleh raja baru, Dawud 'alaihis salam, sekaligus diangkat Allah ï·» menjadi seorang nabi (Q.s. al-Baqarah [2]: 246-252, dll). Dawud 'alaihis salam wafat dan digantikan putranya, Nabi Sulaiman 'alaihis salam (memerintah ± 970–931 SM). Puncak kemakmuran dicapai. Beliau pun membangun ulang Masjidil Aqsha (H.r. an-Nasa'i dan Ibnu Majah. Shahih). Dalam narasi Yahudi peristiwa ini dikenal sebagai “Raja Solomon orang pertama yang membangun Kuil”.
Nabi Sulaiman 'alaihis salam wafat, degradasi tauhid, ibadah, dan akhlak dialami Bani Israil. Silih berganti mereka dikuasai bangsa lain. Masjidil Aqsha hasil pembagusan dari Nabi Sulaiman 'alaihis salam ini dihancurleburkan oleh Raja Babilonia Nebukadnezar II tahun 587 SM, mayoritas Bani Israil diperbudak dan eksodus ke berbagai negeri. Pada periode ini diutus banyak nabi seperti Jeremiah, Daniyal, hingga Zakariya, Yahya, dan akhirnya disempurnakan Isa dengan Kitab Injil-nya. Inilah mengapa mayoritas warga di situ kemudian mengikuti ajaran Isa yang terbarukan dan tidak lagi Musa (Dalam narasi Barat: kemudian mayoritas mereka menjadi Kristen dan tidak lagi Yahudi).
Kemudian raja lokal Bani Israil Herodes mendirikan ulang kompleks masjid tetapi bentuknya berubah dari arsitektur Sulaiman. Ini mereka klaim sebagai "pembangunan kedua". Pada saat itu Bani Israil tidak 100% merdeka, mereka di bawah pendudukan Romawi. Sampai akhirnya Kaisar Romawi Titus tahun 70 M menghancurkan lagi dan sejak itu reruntuhan Masjidil Aqsha tak pernah dibangun ulang. Baitul Maqdis silih berganti dikuasai Romawi atau Persia. Pada periode inilah Nabi Muhammad ï·º melakukan perjalanan Isra' Mi'raj. Tidak tampak reruntuhan berarti bahkan tampak sebagai tanah kosong. Dalam hadis Hudzaifah al-Yamani radhiyallahu 'anhu beliau meragukan Nabi shalat di kompleks (H.r. Ahmad, shahih), tapi dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu secara gamblang disebutkan bahwa Nabi Muhammad ï·º menambatkan Buraq-nya, menunaikan shalat di kompleks, bahkan dimakmumi para nabi yang lain dan para malaikat, kemudian baru naik ke langit dan di setiap langit bertemu nabi-nabi yang berbeda (H.r. Ahmad, shahih).
Saat membebaskan Baitul Maqdis dari Romawi Byzantium tahun 637/8 M, Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu melaksanakan shalat di beberapa tempat. Pertama, ketika bertemu Uskup Agung Yerusalem Sophronius dan serah terima kunci kota, Umar mengumumkan Jaminan Keamanan (al-'Uhudah al-'Umariyyah) yang legendaris pada seluruh penduduk Aelia (nama dari Romawi untuk koloni Palestina). Umat Nasrani dan minoritas Yahudi justru menyambut kemenangan Umar karena mereka dijamin hidup damai dan sejahtera. Kemudian beliau pun shalat di luar kompleks Gereja Makam Suci. Di situlah berdiri Masjid Umar. Kedua, kemudian Umar memasuki tanah kompleks Masjidil Aqsha yang penuh sampah, bersih-bersih, shalat, dan mendirikan masjid di sisi selatan kompleks—waktu itu masih sederhana—yang kini dikenal sebagai Jami' Qibli.
Berabad-abad pemerintahan Islam dari berbagai dinasti terus berupaya menjaga kesucian dan kemuliaan Masjidil Aqsha dan kawasan Baitul Maqdis sampai akhirnya Pasukan Salib dari Frank Eropa Barat menyerbu dan merebutnya dalam Perang Salib I, tepatnya 15 Juli 1099. Gambaran kekejaman dan penodaan masjid dan kawasan suci ini sudah masyhur, ditulis oleh sejarawan Islam maupun Barat itu sendiri. Hampir satu abad masjid dan kawasan suci mengalami penodaan, hingga akhirnya Sultan an-Nashir Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub berhasil membebaskannya pasca-Perang Salib II, tepatnya 2 Oktober 1187. Kekalahan pasukan Salib ini memantik datangnya koalisi pasukan Salib baru dari Eropa sehingga meletuslah Perang Salib III. Shalahuddin kehilangan banyak daerah terutama sepanjang pantai. Namun, Shalahuddin berhasil menjaga Yerusalem dan Masjidil Aqsha dalam lindungan kaum Muslimin. Kisah kepahlawanan dan keadilan Shalahuddin al-Ayyubi kepada semua pihak sudah sangat populer di kalangan umat Islam maupun Barat.
Berabad-abad sesudah itu selalu terjadi perang (Perang Salib maupun lainnya) memperebutkan Kota Yerusalem. Puncaknya Sultan Mamluk al-Asyraf Shalahuddin Khalil bin Qalawun pada 18 Mei 1291 berhasil mengusir pasukan Salib dari seluruh bumi Syam dan Arab minus Pulau Siprus. (Qishashul-Anbiya', Musnad Ahmad, Tafsir al-Qurthubi, Shalahuddin al-Ayyubi..., hidayatullah.com, islamdigest.republika.co.id)
Itulah timeline pemakmuran dan pembebasan Baitul Maqdis pada masa lalu. Bagaimana dengan sekarang?
Sumber: Kalender tahun 2024, Spesial Series: Baitul Maqdis. Yogyakarta: Pro-U Media.

Tidak ada komentar