Pengajian Tarjih Pertemuan I: Kitabul Iman
Pengajian Tarjih
Pertemuan I: Kitabul
Iman
Oleh: Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A.
Wakil Ketua Majelis Tarjih
dan Tajdid Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta
Isu ketarjihan pertama yang dibahas oleh para
ulama Muhammadiyah generasi awal dalam Congres Moehammadijah ke-18 di Solo (30
Januari-5 Februari 1929) ialah bahasan terkait akidah. Shalat, zakat, dan
seterusnya sangatlah penting. Namun tetap saja dalam Islam yang paling penting
ialah hal tekait keimanan. Muhammad 'Abduh (w. 1905) pernah menyatakan bahwa
memperbaiki akidah merupakan tujuan tertinggi diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam1. Begitu
juga para nabi lainnya dan begitu pula prioritas
para ulama lintas sejarah. Muhammad Rasyiid Ridhaa (w. 1935) pun menuliskan
dalam majalah Al-Manaar - yang KH. Ahmad Dahlan (w. 1923) rutin membacanya2- bahwa majalah beliau memberi perhatian
paling pertama kepada
perbaikan akidah3. Demikian jugalah Muhammadiyah menempatkannya
sebagai hal yang pertama dan utama.
Di antara bukti lain yang menunjukkan kesungguhan Muhammadiyah menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama ialah dijadikannya bahasan akidah sebagai bahasan pertama di Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah4. Setali tiga uang, bahasan akidah disebutkan lebih dulu dalam penyebutan bidang-bidang bekerjanya Muhammadiyah di Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah. Dikatakan di sana: “Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.”5
Pengajian Tarjih Pertemuan II: Iman Kepada Allah Yang Maha Mulia
“Bismillahirrohmanirrohim”
(Dengan nama Allah, Maha Penyayang, Maha Pengasih). Tiada tuhan selain
Allah sendiri, tiada
bersekutu dan dengan-Nyalah adanya daya-kekuatan. Segala puji untuk
Allah yang menciptakan semua ‘alam dan yang
mengembalikan ruh kepada jasadnya di hari Kiamat. Rahmat dan Salam semoga
terlimpah pada junjungan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam penutup para Nabi dan
seutama-utamanya Utusan, serta pada sekalian keluarganya.
Tersebut dalam hadist, dari sahabat ‘Umar radhiyallahu 'anhu: “Saat kami duduk pada suatu hari bersama-sama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam datanglah seorang laki-laki, putih bersih pakaiannya hitam bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang sedang bepergian dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya; kemudian ia bersimpuh di hadapan Nabi dengan merapatkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha Nabi.
Lalu ia berkata: “Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!”. Nabi menjawab: “Islam ialah engkau mempersaksikan: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan pergi Haji bila kamu mampu melakukannya”. Kata orang itu: “Benar engkau”. Maka kami terheran, kenapa ia bertanya lalu ia membenarkan. Orang itu bertanya lagi: “terangkanlah padaku tentang Iman!” Nabi menjawab: “Iman ialah bahwa engkau percaya akan Allah, malaikatnya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kemudian dan percaya akan takdir baik dan takdir buruk”. Orang itu berkata: “Benar engkau!” [HR. Muslim]
Hadis yang terkenal sebagai "Hadiitsu Jibriil" ini sangat tepat dijadikan awalan dari Kitaabul Iman. Ia menghimpun inti semua ajaran hadis-hadis lainnya. Di dalamnya ada kelima rukun Islam: syahadatain, shalat, zakat, puasa, dan haji. Di dalamnya ada keenam rukun iman. Ada pula pembahasan ihsan. Kelak, seluruh pembahasan fikih akan kembali ke rukun Islam, seluruh pembahasan akidah akan kembali ke rukun iman, serta seluruh pembahasan akhlak akan kembali ke ihsan. Ilmu-ilmu Islam seluas apapun akan berujung pada ketiga pembahasan ini. Semuanya terhimpun dalam satu hadis ini. Sebab itulah Ibnu Rajab menjulukinya sebagai Ummus Sunnah6 persis seperti surah Al-Faatihah yang dijuluki Ummul Kitaab. Kesatuan tiga ilmu tadi dalam satu hadis menunjukkan juga bahwa ketiganya memiliki keterkaitan erat. Disebutkan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah: “Ajaran Islam bersifat menyeluruh yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan meliputi bidang-bidang aqidah, akhlaq, ibadah, dan muamalah duniawiyah.”
Kemudian dari
pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu (Salaf), yakni mereka yang terjamin
keselamatannya (Al-Firqah An-Naajiyah), mereka telah sependapat atas keyakinan
bahwa seluruh alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah
dari ketidakadaan dan mempunyai sifat akan punah.
Al-Firqah An-Naajiyah merupakan sebagian dari umat Islam yang diistimewakan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Ummat Yahudi telah bercerai berai menjadi 71 atau 72 golongan; dan ummat Nasranipun demikian pula. Dan ummatku akan bercerai berai menjadi 73 golongan.” [HR. At-Tirmidziyy]
Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa siapa yang ingin tergolong ke dalam Al-Firqah An-Naajiyah, maka ia semestinya meneladani jejak beliau dan para sahabat-sahabat. Dari Abdullah bin ‘Amr, katanya: “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, teladan ceripu dengan ceripu-ceripu sampai kalau ada orang yang menggagahi ibunya dengan terang-terangan, pastilah di antara ummatku ada pula yang berbuat demikian. Dan bahwasanya Bani Israil telah bercerai-berai menjadi 72 golongan dan ummatku akan bercerai-berai menjadi 73 golongan; semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya: “Siapakah golongan yang satu itu ya Rasululllah?” Jawab beliau: “Ialah mereka yang mengikuti jejakku dan jejak sahabat-sahabatku”. [HR. At-Tirmidziyy]
Selanjutnya generasi yang dipuji khusus oleh Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam karena konsisten meneladani jejak beliau dan para sahabat ialah tiga generasi pertama umat ini yang diistilahkan "Salaf". Generasi ini menurut As-Saffaariiniyy (w. 1188 H) mencakup sekitar tiga abad pertama kaum muslimin. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia ialah qarn/kurunku (generasi/abad), kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” [HR. Al-Bukhaariyy & Muslim]. Al-Ghazaaliyy (w. 505 H) tegaskan bahwa dalam berakidah, maka akidah generasi Salaf inilah yang tidak diragukan kebenarannya7. Dalam salah satu fatwa Tarjih dituliskan: “Dalam hadis disebutkan orde pengamalan Islam terbaik ialah di zaman Nabi bersama sahabat, baru kurun berikutnya.”8
Akidah Islam yang diyakini oleh Al-Firqah An-Naajiyah dari kalangan Salaf ini pada akhirnya sering dikenal secara teknis dengan istilah akidah Ahli Sunnah wal Jamaah. Akidah yang disebutkan dalam Kitabul Iman ini sendiri merupakan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah sebagaimana akan semakin jelas di pertemuan-pertemuan mendatang. Dalam salah satu fatwa Tarjih disebutkan: “Muhammadiyah tidak bisa lain kecuali juga termasuk pengertian Ahli Sunnah wal Jamaah.”9
Di sini disebutkan keyakinan pertama Al-Firqah An-Naajiyah dari kalangan Salaf, yakni bahwasanya alam semesta ialah baharu, tadinya tiada lalu diadakan dan diciptakan. Alam semesta ini memiliki permulaan10. Demikianlah memang adanya sebab yang ada tanpa permulaan serta tanpa didahului ketiadaan hanyalah Allah subhaanahuu wata'aalaa, nama-nama, dan shifat-shifat-Nya seperti disebutkan Abul Manshuur Al-Maaturiidiyy (w. 333 H)11. “Itulah Allah, Tuhanmu sekalian, tidak ada tuhan yang wajib disembah selain Allah, yang menciptakan segala sesuatu, maka hambakanlah dirimu pada-Nya dan Dialah yang mengurusi segala sesuatu”. [QS. Al-An’aam (6): 102]
Alam semesta yang baharu, memiliki
permulaan, ada setelah
sebelumnya tiada ini tentulah memiliki
sifat intrinsik akan
fana/punah, berbeda dengan Allah subhaanahuu wata'aalaa, nama, dan shifat-Nya
yang kekal12. “Dan janganlah engkau memohon
kepada Tuhan selain
Allah, sebab tidak
ada Tuhan yang wajib disembah
selain Allah, segala sesuatu
akan binasa kecuali
Dia yang menentukan hukum, dan kepada-Nya kamu dikembalikan”. [QS. Al-Qashash
(28): 88]
Mereka
berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan (nadzhar) tentang alam untuk mendapat
pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama.
Berikutnya termasuk yang menjadi keyakinan Firqah Naajiyah dari kalangan generasi Salaf ialah bahwa nadzhar (memperdalam pengetahuan dan merenungi/berpikir) terhadap alam semesta untuk sampai pada simpulan adanya Allah dihukumi sebagai sebuah kewajiban. Abuu Ya'laa (w. 458 H) menjelaskan bahwa Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) mewajibkan proses nadzhar dalam berakidah13. Proses berpikir ini harus dilakukan supaya seseorang tidak beriman secara dogmatis dan sekadar ikut-ikutan (taqliid) belaka. Islam mengharuskan setiap muslim mengimani pokok-pokok akidah Islam secara mandiri dengan bukti-buktinya walau sederhana, tidak harus dengan proses yang rumit14. KH. Prof. Ahmad Azhar Basyir (w. 1994) mengistilahkannya: “Beragama Islam secara sadar.”15
Muhammad bin 'Abdilwahhaab (w. 1206 H) memberi contoh bagaimana proses nadzhar yang sederhana namun mencukupi itu dengan mengatakan: “Bila engkau ditanya: Bagaimana kamu mengenal Tuhanmu?, maka jawablah: Aku mengenalnya dengan tanda-tanda dan makhluk-makhluk-Nya. Di antara tandanya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Sedangkan termasuk dari makhluk-makhluk-Nya ialah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh.”16 Yakni adanya alam semesta yang baharu nan tadinya tiada ini pastilah menunjukkan adanya Dzat yang mengadakannya.
Ditegaskan pula oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bahwa menjadikan keberadaan alam semesta setelah tadinya didahului ketiadaan sebagai dalil logis tentang adanya Allah subhaanahuu wata'aalaa merupakan metodenya Al-Qur'an17. Kita melihat manusia yang tadinya tiada lalu menjadi ada. Kita menyaksikan perubahan-perubahan di alam semesta, yang tadinya basah menjadi kering, tadinya terang lalu menghitam, tadinya kecil menjadi besar, dan seterusnya dari segala hal yang kita jumpai di planet Bumi ini ataupun juga di langit sana. Sesuatu yang tadinya tiada lalu menjadi ada pastilah ada yang mengadakannya. Tentulah ada yang menciptakannya. Yang mengadakan dan menciptakannya tentulah tak didahului ketiadaan juga serta tidak diciptakan pula agar tidak terjadi "tasalsul/infinite regress" nan tak logis18. Yang mengadakan dan menciptakan itulah Yang Maha Pertama (Al-Awwal). Dialah yang kita sebut sebagai Allah subhaanahuu wata'aalaa. Demikian penjelasan Buya Prof. Yunahar Ilyas (w. 2020)19.
Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang mengajarkan
agar kita memperhatikan alam semesta, termasuk juga mempelajari ilmu-ilmu alam,
sehingga kita mengetahui dan semakin meyakini adanya Sang Khaaliq ialah
beberapa firman-Nya berikut. “Tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di
atasnya bagaimanakah aku telah membangunnya dan menghiasinya dengan tiada
retak? Dan bumi telah kubentangkan dan kuletakkkan padanya gunung-gunung dan kutumbuhkan padanya
segala jenis berjodoh
yang serasi? Kesemuanya itu menjadi ibarat
dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang mau kembali (kepada Allah). Dan Aku
turunkan air dari langit yang banyak manfaatnya, dan kutumbuhkan beberapa
kebun dan biji-biji ketaman; begitu juga pohon kurma
yang tingggi bermayang yang tersusun menjadi
rizki bagi segenap
hamba; dengan demikian
Aku hidupkan tanah yang
tandus (mati) dan sedemikianlah (hal) kebangkitan (dari kubur)”. [QS. Qaaf
(50): 6-11]
“Tidaklah mereka memperhatikan kepada unta,
bagaimana ia dijadikan? Kepada langit, bagaimana ia ditinggikan? Kepada
gunung-gunung bagaimana ia dibentangkan?” [QS. Al-Ghaasyiyah (88): 17-20]
“Katakanlah (wahai Nabi Muhammad)! Perhatikanlah apa yang ada di beberapa
langit dan bumi. Tidaklah berguna beberapa bukti dan peringatan itu bagi
golongan yang tidak beriman”. [QS. Yunus (10): 101] “Sesungguhnya pada
penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dengan siang, sungguh
menjadi bukti bagi orang-orang yang berakal.” [QS. Aali 'Imraan (3): 189]
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, adanya perahu (kapal) yang berlayar di laut membawa barang yang berfaedah bagi manusia, air yang diturunkan Allah dari langit yang digunakan untuk menyuburkan bumi sesudah mati dan membiakkan binatang-binatang serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar menjadi tanda bukti bagi orang-orang yang berfikir.” [QS. Al-Baqarah (2): 164]
Abul Mu'iin An-Nasafiyy (w. 508 H) menjelaskan bahwa
alam semesta yang baharu ini tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri.
Sebab bila ia menciptakan dirinya
sendiri sebelum dirinya
ada, bagaimana mungkin
sesuatu yang tiada dapat
melakukan penciptaan (istilahnya "dawr/circular reasoning").
Sementara itu, bila ia sudah ada, tidak logis sesuatu yang ada masih perlu
diadakan (istilahnya "tahshiilul haashil")20.
Dan
demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang
benar (Al-'Aqaaid Ash-Shahiihah).
Insyaallah lanjutan Kitabul Iman akan membahas dasar-dasar akidah yang sahih dalam bentuk uraian ringkas terhadap keenam rukun Iman: Iman kepada Allah subhaanahuu wata'aalaa, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab suci, kepada para nabi, kepada hari Akhir, dan kepada takdir yang keenamnya menurut Abul Hasan Al-Asy'ariyy (w. 324 H) merupakan pokok terpenting akidah Islam21. Nashrun minallaahi wafathun qariib wabasysyiril mu'miniin.
Disampaikan dalam PENGAJIAN TARJIH pertemuan I, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI Jakarta) Masjid Jami' Asy-Syakirin, 19 Januari 2024
1 Muhammad 'Abduh,
Risaalatut Tauhiid hlm. 9 (Kairo:
Aafaaq, 2016).
2 Hery Sucipto
& Najamuddin Ramly,
Tajdid Muhammadiyah hlm. 28 (Jakarta:
Grafindo, 2005)
3 Majalah Al-Manaar hlm. 1 edisi 22 Syawwaal
1315 H.
4 Manhaj Gerakan
Muhammadiyah hlm. 123 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2009).
5 Manhaj Gerakan
Muhammadiyah hlm. 56.
6 Ibnu Rajab, Fat-hul Baarii jld. I hlm. 222 (Madinah: Maktabah
Al-Ghurabaa' Al-Atsariyyah, 1996).
7 Al-Ghazaaliyy, Iljaamul
'Awaamm 'an 'Ilmil Kalaam hlm. 49 (Jeddah:
Daarul Minhaaj, 2017).
8 Tanya Jawab Agama jld. II hlm. 7 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015).
9 Tanya Jawab Agama jld. I hlm. 8.
10 Ibnu Taimiyyah, Minhaajus Sunnah an-Nabawiyyah jld. II hlm. 355-356 (Riyadh:
Mathba'ah Jaami'atil Imaam, 1406 H).
11 Abul Manshuur
Al-Maaturiidiyy, Kitaabut Tauhiid
hlm. 159 (Beirut:
Daar Shaadir, 2010).
12 At-Taftaazaaniyy, Syarhul
Maqaashid jld. II hlm. 8-9 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2020).
13 Abuu Ya'laa,
Ar-Riwaayatain wal-Wajhain hlm. 72-73 (Riyadh:
Adhwaaus Salaf, 1419 H).
14 Ibnu Muflih,
Ushuulul Fiqh jld. IV hlm. 1583 (Riyadh:
Maktabah Al-'Ubaikaan, 1420 H).
15 Ahmad Azhar
Basyir, Akidah Islam hlm. 1 (Yogyakarta: UII Press, 1991)
16 Muhammad bin 'Abdilwahhaab hlm. 11 (Riyadh:
Daarul Qabas, 2013).
17 Ibnu Taimiyyah, Dar-u Ta'aarudhil 'Aqli wan-Naqli jld. III hlm. 371 (Riyadh:
Daarul Fadhiilah, 2008).
18 Al-Jurjaaniyy, Syarhul
Mawaaqif jld. IV hlm. 160-161
(Kairo: Daar Miiraatsin Nubuwwah, 2019).
19 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam hlm. 16 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020)
20 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. I hlm. 224 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2022).
21 Abul Hasan Al-Asy'ariyy, Maqaalaatul Islaamiyyiin jld. I hlm. 226 (Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah, 2015).
Tidak ada komentar