Header Ads

Header ADS

Pengajian Tarjih Pertemuan II: Iman Kepada Allah Yang Maha Mulia


Pengajian Tarjih Pertemuan II: Iman Kepada Allah Yang Maha Mulia

 

Oleh: Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A.

Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta

 

Setelah pendahuluan, bahasan berikutnya di Kitabul Iman dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT) ialah tentang rukun iman yang pertama, yaitu beriman kepada Allah, yang telah disebutkan dalam Hadiitsu Jibriil sebelumnya. Abul Mu'iin An-Nasafiyy menyebutkan bahwa ada tiga poin yang amat esensial pada rukun iman pertama ini, yaitu mengimani wujud/eksistensi Allah, keesaan Allah, dan sifat Allah. Kata beliau, dengan mengimani wujudNya, seseorang selamat dari ta'thiil (meniadakan Tuhan), dengan mengimani keesaanNya, seseorang selamat dari kemusyrikan (menyekutukan Tuhan), serta dengan mengimani sifatNya, seseorang selamat dari tasybiih (menyerupakan Tuhan dengan selainNya)1. Memang ketiga poin esensial inilah yang disebutkan dalam HPT.


Pengajian Tarjih Pertemuan 3: Iman Kepada Malaikat

Wajib kita percaya akan Allah Tuhan (Rabb) kita. Dialah Tuhan (Ilaah) yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (Al-Waajibul Wujuud). Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan.

Keberadaan Allah subhaanahuu wata'aalaa merupakan suatu kepastian. Dialah Al-Waajibul Wujuud2. Hanya Dia yang harus ada. Selainnya boleh ada, boleh juga tidak. Malah ada di antara selain-Nya yang mustahil ada. Allah berfirman: "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya serta cahaya (Quran) yang telah aku turunkan. Dan Allah maha mengetahui akan perbuatanmu." [QS. At-Taghaabun (64): 8] "Itulah Allah Tuhanmu yang hak (benar). Tidak ada kebenaran di luar itu, melainkan kesesatan, maka mengapakah kamu berpaling?" [QS. Yuunus (10): 32] Adanya Allah merupakan salah satu sifatNya, yaitu Al-Wujuud3.

Kemudian keberadaan Allah tidaklah didahului ketiadaan serta tidak diakhiri dengan ketiadaan. Istilah teknisnya dalam ilmu akidah ialah Allah memiliki sifat Al-Qidam4 dan Al-Baqaa'5. Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Dialah yang Awal dan Yang akhir, yang Dhahir dan yang bathin dan Dia mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Hadiid (57): 3] "Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap Kekallah tuhanmu yang maha agung dan maha mulia." [QS. Ar-Rahmaan (55): 26-27]

Tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Yang Esa tentang ketuhananNya, sifat-sifatNya, dan perbuatanNya.

Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa di antara keyakinan yang disepakati seluruh Ahlussunnah wal Jama'ah ialah tidak ada sesuatu pun yang serupa ataupun menyamai Allah, apatah lagi melebihinya6. Bila Allah berilmu, maka ilmu Allah tidak sama seperti ilmu para makhlukNya. Begitu pula seluruh sifat Allah, tidaklah serupa dengan makhlukNya. Konsep ini sering disebut sebagai sifat Mukhaalafatun lil-Hawaadits7.

Tidak ada yang serupa dengan Allah dalam UluuhiyyahNya (ketuhananNya), sehingga tidak ada yang boleh diibadahi dan disembah selainnya. Dari sinilah, sesuai penjelasan K.H. Mas Mansur8, maka terlaranglah, termasuk kemusyrikanlah, dan bertolak belakang dengan tauhidlah perbuatan menyembelih hewan dengan sebagai bentuk penyembahan kepada selain Allah, atau berdoa sebagai bentuk ibadah kepada selain Allah, serta bentuk-bentuk ibadah lainnya bila dipersembahkan kepada selain Allah subhaanahuu wata'aalaa. Dia berfirman: "Katakanlah: Dialah Yang Maha Esa, Allahlah pusat permohonan, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak sesuatu yang menyamainya." [QS. Al-Ikhlaash (112): 1-4]

Tidak pula ada yang serupa denganNya dalam sifat-sifatNya9. Dalam salah satu fatwa Tarjih dinyatakan: "Dalam konsep Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, Allah tidak diserupai oleh seorang pun dari makhluk-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Syura ayat 11, Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. [QS. Asy-Syuuraa (42): 11] Inilah yang harus kita tetapkan dan wajib kita yakini, yaitu mempercayai dan mengimani apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan tidak menyerupakan-Nya dengan seorang pun dari makhluk-Nya."10

Juga tidak ada yang serupa denganNya dalam perbuatan-perbuatanNya11. Tidak ada yang mencipta bersamaNya, tidak pula selainNya. Tidak ada yang memberi rezeki selainNya ataupun bersamaNya. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan bersamaNya ataupun selainNya. Karena itu, tidak boleh serta merupakan kemusyrikanlah meyakini bahwa rasi bintang tertentu atau angka tertentu bisa dengan sendirinya memberikan kemanfaatan ataupun kemudaratan12. Allah berfirman: "Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan telah menurunkan air dari langit untukmu, lalu aku tumbuhkan dengan air itu beberapa kebun yang indah serasi, yang kamu tidak dapat tumbuhkan pohon-pohonnya. Adakah Tuhan lain disamping Allah? Memang mereka itu orang-orang yang menyimpang." [QS. An-Naml (27): 60] Kadang dimensi ini diistilahkan juga dengan Tauhid Rubuubiyyah13. Dalam Himpunan Putusan Tarjih jilid III dituliskan: "Tauhid Rububiyyah yang dengannya Allah memelihara alam semesta."14

Kesemua dimensi kemahaesaan Allah ini sering diistilahkan sebagai sifat Al-Wahdaaniyyah15. Sama seperti namanya, ketiga dimensi tauhid di atas merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan secara rigid. Penyimpangan dalam salah satu dimensi tauhid akan berdampak pada penyimpangan dalam dimensi lainnya dari tauhid. Muhammad ibn 'Abdilwahhaab mengatakan: "Tidaklah keliru dalam dimensi tauhid Uluuhiyyah melainkan orang yang keliru pula dalam dimensi tauhid Rubuubiyyah."16

Yang hidup (Al-Hayy) dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (Al-Qayyuum). Yang mendengar (As-Samii') dan yang melihat (Al-Bashiir).

Allah itu Al-Hayy, yang Maha Hidup, berarti memiliki sifat Kemahahidupan. Sifat ini diistilahkan dengan sifat Al-Hayaah17. Kemudian Dia juga Al-Qayyuum, yang pasti ada dan mengadakan segala yang ada, yang Maha Berdiri Sendiri. Ini berkonsekuensi Dia memiliki sifat Al-Qayyuumiyyah atau lebih populer dengan istilah Al-Qiyaam Bin-Nafs/Qiyaamuhuu Binafsihii18. Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Allah, yang tiada Tuhan yang wajib disembah selain Dia, yang hidup dan berdiri sendiri…." [QS. Al-Baqarah (2): 255]

Allah juga As-Samii' dan Al-Bashiir. Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kedua nama Allah ini mengandung dua sifat yang disebut dengan sifat As-Sam' dan Al-Bashar19. Allah berfirman: "Dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." [QS. Asy-Syuuraa (42): 11]


Dan Dialah yang berkuasa (Al-Qadiir) atas segala sesuatu. Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka jadilah sesuatu itu. Dan dia mengetahui (Al-'Aliim) segala yang mereka kerjakan.

Termasuk di antara sifatNya juga ialah Al-Qudrah20, bahwa Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah berfirman: "Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Mulk

(67): 1] Begitu pula di antara sifatNya adalah Al-Iraadah21. Dia Maha Berkehendak serta selalu mewujudkan apapun yang Dia kehendaki. Allah berfirman: "Sesungguhnya firman-ku kepada sesuatu, apabila aku menghendaki adanya, Aku hanya mengatakan : Jadilah, maka jadilah ia." [QS. An-Nahl (16): 40]

Allah juga memiliki sifat Al-'Ilm22, KemahatahuanNya atas segala sesuatu. Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Dan Dia itu Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah (2): 29] "Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'raaf (7): 89] "Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. An-Nahl (16): 91]

Yang bersabda (berfirman) dan memiliki segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan.

Termasuk di antara sifat Allah ialah sifat Al-Kalaam23 Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung)." [QS. An-Nisaa' (4): 164] "Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,  " [QS. Al-A'raaf (7): 143]

Seluruh sifatNya sempurna dan Dia tersucikan dari sifat mustahil semisal lawan-lawan dari sifat-sifat Allah yang disebutkan di pembahasan ini24 serta juga dari hal-hal yang menunjukkan kekurangan25. Allah berfirman: "Maha suci Allah dari pada apa yang mereka sifati." [QS. Al-Mu'minuun (23): 91]

Maka karena Allah memiliki sifat Al-Wujuud, mustahil bagiNya sifat Al-'Adam (ketiadaan)26. Karena Allah memiliki sifat Al-Qidam, maka mustahil bagiNya sifat Al-Huduuts (ada setelah tiada)27. Karena Dia memiliki sifat Al-Baqaa', maka mustahil bagiNya sifat Al-Fanaa' (tiada setelah ada)28. Lalu karena Dia bersifat Mukhaalafatun Lil-Hawaaditsi, maka mustahil bagiNya bersifat Mumaatsalatun Lil-Hawaaditsi (serupa dengan makhluk)29. Begitu juga mustahil bagiNya sifat At-Ta'addud (keberbilangan) karena Dia bersifat Al-Wahdaaniyyah30, mustahil bagiNya sifat Al-Mawt (kematian) karena Dia memiliki sifat Al-Hayaah31, serta mustahil bagiNya sifat Al-Qiyaam Bil-Ghair/Qiyaamuhuu Bighairihii (berdiri pada selainNya) karena Dia memiliki sifat Al-Qiyaam Bin-Nafs/Qiyaamuhuu Binafsihii32.

Demikian pula disebabkan Allah memiliki sifat As-Sam' dan Al-Bashar, mustahil bagiNya memiliki sifat Ash-Shamam (kebisuan) dan Al-'Amaa (kebutaan)33. Oleh karena Allah memiliki sifat Al-Qudrah dan Al-Iraadah, maka mustahil Dia memiliki sifat Al-'Ajz (kelemahan)34 dan Al-Karaahah (keterpaksaan)35. Kemudian karena Allah mempunyai sifat Al-'Ilm dan Al-Kalaam, maka mustahil Dia mempunyai sifat Al-Jahl (ketidaktahuan) dan Al-Bakam (kebisuan)36.

Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya (biyadihii) dan kepada-Nya akan kembali.

Allah subhaanahuu wata'aalaa juga memiliki sifat Al-Khalq (kemahamenciptaan)37, atau meminjam istilah Abuu Manshuur Al-Maaturiidiyy: sifat At-Takwiin38. Allah berfirman: "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih". [QS. Al-Qashash (28): 68]

Di sini juga ada penetapan secara tasliim sifat Al-Yad bagi Allah, sebagaimana ditetapkan oleh Abuu Haniifah39, Ahmad bin Hanbal40, Abul Hasan Al-Asy'ariyy41, dan para ulama Salaf42. Dalam fatwa Tarjih dikatakan: "Tiada suatu pun dari makhluk Allah yang menyamai Allah. Jika dikatakan bahwa Allah mempunyai tangan, maka tangan Allah berbeda dengan tangan manusia atau makhluk lainnya. Jika dia mempunyai wajah, maka wajah Allah berbeda dengan wajah manusia atau makhluk lainnya, dan seterusnya."43

Kemudian ada pula sifat Al-Ba'ts (kemahamembangkitkan)44, Al-I'aadah (kemahamengembalikan)45, dan Al-Jam' (kemahamengumpulkan)46. Allah berfirman: “Bagi Allah-lah segala perkara, pada sebelum dan sesudahnya."[QS. Ar-Ruum (30): 4] Masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang tidak disinggung dalam Himpunan Putusan Tarjih, sebab memang sifat-sifat Allah jumlahnya tidak terbatas47.

Nama-nama yang kita umumnya ketahui saja jumlahnya 99: "Allaah, Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Malik, Al-Quduus, As-Salaam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin, Al-'Aziiz, Al-Jabbaar, Al-Mutakabbir, Al-Khaaliq, Al-Baari', Al-Mushawwir, Al-Ghaffaar, Al-Qahhaar, Al-Wahhaab, Ar-Razzaaq, Al-Fattaah, Al-'Aliim, Al-Qaabidh, Al-Baasith, Al-Khaafidh, Ar-Raafi', Al-Mu'izz, Al-Mudzill, As-Samii', Al-Bashiir, Al-Hakam, Al-'Adl, Al-Lathiif, Al-Khabiir, Al-Haliim, Al-'Adzhiim, Al-Ghafuur, Asy-Syakuur, Al-'Aliyy, Al-Kabiir, Al-Hafiidzh, Al-Muqiit, Al-Hasiib, Al-Jaliil, Al-Kariim, Ar-Raqiib, Al-Mujiib, Al-Waasi', Al-Hakiim, Al-Waduud, Al-Majiid, Al-Baa'its, Asy-Syahiid, Al-Haqq, Al-Wakiil, Al-Qawiyy, Al-Matiin, Al-Waliyy, Al-Hamiid, Al-Muhshii, Al-Mubdi', Al-Mu'iid, Al-Muhyii, Al-Mumiit, Al-Hayy, Al-Qayyuum, Al-Waajid, Al-Maajid, Al-Waahid, Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Qaadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim, Al-Muakhkhir, Al-Awwal, Al-Aakhir, Adzh-Dzhaahir, Al-Baathin, Al-Waalii, Al-Muta'aalii, Al-Barr, At-Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-'Afuww, Ar-Rauuf, Maalikul Mulk, Dzul Jalaali wal-Ikraam, Al-Muqsith, Al-Jaami', Al-Ghaniyy, Al-Mughnii, Al-Maani', Adh-Dhaarr, An-Naafi', An-Nuur, Al-Haadii, Al-Badii', Al-Baaqii, Al-Waarits, Ar-Rasyiid, dan Ash-Shabuur." [HR. At-Tirmidziyy]

Terlepas dari pendapat para pakar hadis seputar ketidaksahihan tambahan penyebutan 99 nama Allah ini secara marfuu'48, memang di luar nama-nama ini masih ada banyak lagi nama lain yang kita tidak ketahui karena jumlahnya tak terbatas sebagaimana dijelaskan Al-Ghazaaliyy49. Itu berarti sifat-sifatNya akan lebih banyak lagi sebab setiap nama mengandung sifat50. Ath-Thuufiyy (w. 716 H), misalnya, dalam kitab Hallaalul 'Uqad menyebutkan satu per satu sifat yang dikandung dalam setiap nama dari 99 nama di Al-Asmaaul Husnaa riwayat At-Tirmidziyy nan terkenal tadi ini yang sebagiannya sudah terbahas51. Prof. K.H. Ahmad Azhar Basyir (w. 1994) juga menuliskan: "Al-Qur'an juga menyebut banyak nama Tuhan yang masing-masing menunjukkan salah satu sifatNya."52 Nashrun minallaahi wafathun qariib wabasysyiril mu'miniin.


Disampaikan dalam PENGAJIAN TARJIH pertemuan 2, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI Jakarta) Masjid Jami' Asy-Syakirin, 26 Januari 2024


1 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. I hlm. 224 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2022).

2 Ibnu Taimiyyah, Syarhul Ashbahaaniyyah hlm. 8 (Riyadh: Maktabah Daaril Minhaaj, 1430 H).

3 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 177 (Mekkah: Daar Thaibatil Khadhraa', 2019).

4 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatil Kubraa hlm. 239 (Damaskus: Daarut Taqwaa, 2019).

5 Al-Jurjaaniyy, Syarhul Mawaaqif jld. VIII hlm. 106-107 (Kairo: Daar Miiraatsin Nubuwwah, 2019).

6 Ibnu Taimiyyah, Al-'Aqiidah Al-Waasithiyyah hlm. 10 (Kairo: Daarussalaam, 2009).

7 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 148 (Damaskus: Daarut Taqwaa, 2019).

8 Mas Mansur, Risalah Tauhid dan Syirik hlm. 31 (Surabaya: Al-Ihsan, 1991).

9 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 416 (Riyadh: Daarut Tauhiid, 2016).

10 Fatwa Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 28 Desember 2012, dimuat di majalah Suara Muhammadiyah no. 07 tahun 2013.

11 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 416

12 An-Nawawiyy, Raudhatuth Thaalibiin jld. II hlm. 95 (Beirut: Al-Maktab Al-Islaamiyy, 1991).

13 Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin hlm. 912 (Beirut: Daar Ibn Hazm, 2013).

14 Himpunan Putusan Tarjih jld. III hlm. 638 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).

15 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 153.

16 Ibnu Qaasim, Ad-Durar As-Saniyyah jld. II hlm. 64 (Riyadh: Daarul Qaasim, 1417 H).

17 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 177.

18 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 150-152.

19 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 182.

20 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 176.

21 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. II hlm. 949.

22 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173-175.

23 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 450.

24 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 181-203.

25 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722-724.

26 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 723.

27 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 181-182.

28 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722-723.

29 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.

30 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 188-189.

31 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.

32 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 187.

33 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.

34 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.

35 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 191-195.

36 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.

37 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173.

38 Abuu Manshuur Al-Maaturiidiyy, Kitaabut Tauhiid hlm. 113 (Beirut: Daar Shaadir, 2010).

39 Al-Bayaadhiyy, Isyaaraatul Maraam hlm. 372-375 (Kairo: Daarush Shaalih, 2021).

40 Abul Fadhl At-Tamiimiyy, I'tiqaadul Imaamil Munabbal hlm. 22 (Beirut: Daarul Kutubil 'Ilmiyyah, 2001).

41 At-Taftaazaaniyy, Syarhul Maqaashid jld. II hlm. 8-9 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2020).

42 Abul Hasan Al-Asy'ariyy, Maqaalaatul Islaamiyyiin jld. I hlm. 226 (Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah, 2015).

43 Fatwa Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 10 Maret 2006. Dimuat di Suara Muhammadiyah no. 12 tahun 2006.

44 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 22 (Beirut: Daarul Faraabiyy, 1437 H).

45 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 24.

46 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 28.

47 Al-Jurjaaniyy, Syarhul Mawaaqif jld. VIII hlm. 104 (Kairo: Daar Miiraatsin Nubuwwah, 2019).

48 Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniyy, Buluughul Maraam hlm. 409 (Kairo: Daarus Salaam, 2008) & Ash-Shan'aaniyy, Subulus Salaam jld. IV hlm. 148 (Kairo: Daarul Hadiits, 2007).

49 Al-Ghazaaliyy, Al-Maqshad Al-Asnaa hlm. 332 (Jeddah: Daarul Minhaaj, 2020).

50 Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin hlm. 22.

51 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 14-30.

52 Ahmad Azhar Basyir, Akidah Islam hlm. 100 (Yogyakarta: UII Press, 1991).

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.