Pengajian Tarjih Pertemuan II: Iman Kepada Allah Yang Maha Mulia
Pengajian Tarjih
Pertemuan II: Iman Kepada Allah Yang Maha Mulia
Oleh: Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A.
Wakil Ketua Majelis Tarjih
dan Tajdid Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta
Setelah
pendahuluan, bahasan berikutnya di Kitabul Iman dari Himpunan Putusan Tarjih
(HPT) ialah tentang rukun iman yang pertama, yaitu
beriman kepada Allah,
yang telah disebutkan dalam Hadiitsu Jibriil
sebelumnya. Abul Mu'iin An-Nasafiyy menyebutkan bahwa ada tiga poin yang
amat esensial pada rukun iman pertama ini, yaitu mengimani wujud/eksistensi
Allah, keesaan Allah, dan sifat Allah. Kata beliau, dengan mengimani wujudNya,
seseorang selamat dari ta'thiil (meniadakan Tuhan), dengan mengimani
keesaanNya, seseorang selamat dari kemusyrikan (menyekutukan Tuhan), serta
dengan mengimani sifatNya, seseorang selamat dari tasybiih (menyerupakan Tuhan
dengan selainNya)1. Memang ketiga poin esensial inilah yang
disebutkan dalam HPT.
Pengajian Tarjih Pertemuan 3: Iman Kepada Malaikat
Wajib
kita percaya akan Allah Tuhan (Rabb) kita. Dialah Tuhan (Ilaah) yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (Al-Waajibul
Wujuud). Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan.
Keberadaan Allah subhaanahuu wata'aalaa merupakan suatu kepastian. Dialah Al-Waajibul Wujuud2. Hanya Dia yang harus
ada. Selainnya boleh ada, boleh juga tidak. Malah ada di antara selain-Nya yang
mustahil ada. Allah berfirman: "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan
RasulNya serta cahaya (Quran) yang telah aku turunkan. Dan Allah maha
mengetahui akan perbuatanmu." [QS. At-Taghaabun (64): 8] "Itulah
Allah Tuhanmu yang hak (benar). Tidak ada kebenaran di luar itu, melainkan kesesatan, maka mengapakah kamu berpaling?" [QS. Yuunus
(10): 32] Adanya Allah merupakan salah satu sifatNya, yaitu Al-Wujuud3.
Kemudian keberadaan Allah tidaklah didahului ketiadaan serta tidak
diakhiri dengan ketiadaan. Istilah teknisnya
dalam ilmu akidah ialah Allah memiliki sifat Al-Qidam4 dan Al-Baqaa'5.
Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Dialah yang Awal dan Yang akhir, yang Dhahir dan yang bathin dan Dia mengetahui segala sesuatu."
[QS. Al-Hadiid (57):
3] "Segala yang ada di bumi itu akan binasa.
Dan tetap Kekallah
tuhanmu yang maha agung
dan maha mulia." [QS. Ar-Rahmaan (55): 26-27]
Tiada sesuatu yang
menyamai-Nya. Yang Esa tentang ketuhananNya, sifat-sifatNya, dan perbuatanNya.
Ibnu Taimiyyah
menegaskan bahwa di antara keyakinan
yang disepakati seluruh
Ahlussunnah wal Jama'ah
ialah tidak ada sesuatu
pun yang serupa
ataupun menyamai Allah,
apatah lagi melebihinya6. Bila Allah berilmu,
maka ilmu Allah tidak sama seperti ilmu para makhlukNya. Begitu pula
seluruh sifat Allah, tidaklah serupa dengan makhlukNya. Konsep ini sering
disebut sebagai sifat Mukhaalafatun lil-Hawaadits7.
Tidak ada yang serupa dengan Allah dalam UluuhiyyahNya (ketuhananNya), sehingga tidak ada yang boleh diibadahi dan disembah selainnya. Dari sinilah, sesuai penjelasan K.H. Mas Mansur8, maka terlaranglah, termasuk kemusyrikanlah, dan bertolak belakang dengan tauhidlah perbuatan menyembelih hewan dengan sebagai bentuk penyembahan kepada selain Allah, atau berdoa sebagai bentuk ibadah kepada selain Allah, serta bentuk-bentuk ibadah lainnya bila dipersembahkan kepada selain Allah subhaanahuu wata'aalaa. Dia berfirman: "Katakanlah: Dialah Yang Maha Esa, Allahlah pusat permohonan, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak sesuatu yang menyamainya." [QS. Al-Ikhlaash (112): 1-4]
Tidak pula ada yang serupa denganNya dalam sifat-sifatNya9. Dalam
salah satu fatwa
Tarjih dinyatakan: "Dalam konsep Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, Allah tidak diserupai oleh
seorang pun dari makhluk-Nya, sebagaimana yang
termaktub dalam surat al-Syura ayat 11, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. [QS. Asy-Syuuraa (42): 11] Inilah
yang harus kita tetapkan dan wajib kita yakini,
yaitu mempercayai dan mengimani apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan
tidak menyerupakan-Nya dengan seorang pun dari makhluk-Nya."10
Juga tidak
ada yang serupa
denganNya dalam perbuatan-perbuatanNya11. Tidak
ada yang mencipta
bersamaNya, tidak pula selainNya. Tidak ada yang memberi rezeki
selainNya ataupun bersamaNya. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan
bersamaNya ataupun selainNya. Karena itu, tidak boleh serta merupakan
kemusyrikanlah meyakini bahwa rasi bintang tertentu atau angka tertentu bisa
dengan sendirinya memberikan kemanfaatan ataupun kemudaratan12.
Allah berfirman: "Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan
telah menurunkan air dari langit untukmu, lalu aku tumbuhkan dengan air itu
beberapa kebun yang indah serasi,
yang kamu tidak dapat tumbuhkan pohon-pohonnya. Adakah Tuhan lain disamping
Allah? Memang mereka itu orang-orang yang menyimpang." [QS. An-Naml (27):
60] Kadang dimensi ini diistilahkan juga dengan Tauhid Rubuubiyyah13. Dalam
Himpunan Putusan Tarjih
jilid III dituliskan: "Tauhid Rububiyyah yang dengannya Allah memelihara alam semesta."14
Kesemua
dimensi kemahaesaan Allah ini sering diistilahkan sebagai sifat Al-Wahdaaniyyah15.
Sama seperti namanya, ketiga dimensi tauhid di atas merupakan satu kesatuan
yang tidak bisa dipisah-pisahkan secara rigid. Penyimpangan dalam
salah satu dimensi
tauhid akan berdampak pada penyimpangan dalam
dimensi lainnya dari tauhid. Muhammad ibn 'Abdilwahhaab
mengatakan: "Tidaklah keliru dalam dimensi tauhid Uluuhiyyah melainkan
orang yang keliru pula dalam dimensi tauhid Rubuubiyyah."16
Yang hidup
(Al-Hayy) dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (Al-Qayyuum). Yang
mendengar (As-Samii') dan yang melihat (Al-Bashiir).
Allah
itu Al-Hayy, yang Maha Hidup, berarti memiliki sifat Kemahahidupan. Sifat ini
diistilahkan dengan sifat Al-Hayaah17. Kemudian Dia juga Al-Qayyuum,
yang pasti ada dan mengadakan segala yang ada, yang Maha Berdiri Sendiri. Ini
berkonsekuensi Dia memiliki sifat Al-Qayyuumiyyah atau lebih populer dengan
istilah Al-Qiyaam Bin-Nafs/Qiyaamuhuu Binafsihii18. Allah
subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Allah, yang tiada Tuhan yang wajib
disembah selain Dia, yang hidup dan berdiri sendiri…." [QS. Al-Baqarah
(2): 255]
Allah
juga As-Samii' dan Al-Bashiir. Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kedua nama
Allah ini mengandung dua sifat yang disebut dengan sifat As-Sam' dan Al-Bashar19.
Allah berfirman: "Dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui." [QS. Asy-Syuuraa (42): 11]
Dan Dialah
yang berkuasa (Al-Qadiir) atas segala sesuatu.
Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka jadilah
sesuatu itu. Dan dia mengetahui (Al-'Aliim) segala
yang mereka kerjakan.
Termasuk di antara sifatNya
juga ialah Al-Qudrah20, bahwa
Dia Maha Kuasa
atas segala sesuatu.
Allah berfirman: "Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu." [QS. Al-Mulk
(67): 1]
Begitu pula di antara sifatNya adalah Al-Iraadah21. Dia Maha
Berkehendak serta selalu mewujudkan apapun yang Dia kehendaki. Allah berfirman:
"Sesungguhnya firman-ku kepada sesuatu, apabila aku menghendaki adanya,
Aku hanya mengatakan : Jadilah, maka jadilah ia." [QS. An-Nahl (16): 40]
Allah
juga memiliki sifat Al-'Ilm22, KemahatahuanNya atas segala sesuatu.
Allah subhaanahuu wata'aalaa berfirman: "Dan
Dia itu Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Baqarah (2): 29] "Pengetahuan Tuhan kami
meliputi segala sesuatu." [QS. Al-A'raaf (7): 89] "Sesungguhnya Allah
itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. An-Nahl (16): 91]
Yang bersabda
(berfirman) dan memiliki
segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat
mustahil dan segala kekurangan.
Termasuk
di antara sifat Allah ialah sifat Al-Kalaam23 Allah subhaanahuu
wata'aalaa berfirman: "Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa
(secara langsung)." [QS. An-Nisaa' (4): 164] "Ketika Musa datang
untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh
hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, " [QS. Al-A'raaf
(7): 143]
Seluruh sifatNya
sempurna dan Dia tersucikan dari sifat mustahil
semisal lawan-lawan dari sifat-sifat Allah
yang disebutkan di pembahasan ini24 serta juga dari hal-hal
yang menunjukkan kekurangan25. Allah
berfirman: "Maha suci
Allah dari pada apa yang mereka sifati." [QS. Al-Mu'minuun (23): 91]
Maka
karena Allah memiliki sifat Al-Wujuud, mustahil bagiNya sifat Al-'Adam
(ketiadaan)26. Karena Allah memiliki sifat Al-Qidam, maka mustahil
bagiNya sifat Al-Huduuts (ada setelah tiada)27. Karena Dia memiliki
sifat Al-Baqaa', maka mustahil bagiNya sifat Al-Fanaa' (tiada setelah ada)28.
Lalu karena Dia bersifat Mukhaalafatun Lil-Hawaaditsi, maka mustahil bagiNya
bersifat Mumaatsalatun Lil-Hawaaditsi (serupa dengan makhluk)29.
Begitu juga mustahil bagiNya sifat At-Ta'addud (keberbilangan) karena Dia
bersifat Al-Wahdaaniyyah30, mustahil bagiNya sifat Al-Mawt
(kematian) karena Dia memiliki sifat Al-Hayaah31, serta mustahil
bagiNya sifat Al-Qiyaam Bil-Ghair/Qiyaamuhuu Bighairihii (berdiri pada
selainNya) karena Dia memiliki sifat Al-Qiyaam Bin-Nafs/Qiyaamuhuu Binafsihii32.
Demikian pula disebabkan Allah memiliki sifat As-Sam' dan Al-Bashar, mustahil bagiNya memiliki sifat Ash-Shamam (kebisuan) dan Al-'Amaa (kebutaan)33. Oleh karena Allah memiliki sifat Al-Qudrah dan Al-Iraadah, maka mustahil Dia memiliki sifat Al-'Ajz (kelemahan)34 dan Al-Karaahah (keterpaksaan)35. Kemudian karena Allah mempunyai sifat Al-'Ilm dan Al-Kalaam, maka mustahil Dia mempunyai sifat Al-Jahl (ketidaktahuan) dan Al-Bakam (kebisuan)36.
Dialah yang
menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada
ditangan-Nya (biyadihii) dan kepada-Nya akan kembali.
Allah subhaanahuu wata'aalaa juga memiliki
sifat Al-Khalq (kemahamenciptaan)37, atau meminjam istilah
Abuu Manshuur Al-Maaturiidiyy: sifat At-Takwiin38. Allah
berfirman: "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia
pilih". [QS. Al-Qashash (28): 68]
Di sini juga ada penetapan secara tasliim sifat Al-Yad bagi Allah, sebagaimana ditetapkan oleh Abuu Haniifah39,
Ahmad bin Hanbal40, Abul Hasan
Al-Asy'ariyy41, dan para ulama Salaf42. Dalam
fatwa Tarjih dikatakan: "Tiada suatu pun dari makhluk Allah yang menyamai Allah.
Jika dikatakan bahwa Allah mempunyai tangan, maka tangan Allah berbeda dengan
tangan manusia atau makhluk lainnya. Jika dia mempunyai wajah, maka wajah Allah
berbeda dengan wajah manusia atau makhluk lainnya, dan seterusnya."43
Kemudian ada pula sifat
Al-Ba'ts (kemahamembangkitkan)44, Al-I'aadah (kemahamengembalikan)45, dan Al-Jam'
(kemahamengumpulkan)46. Allah berfirman: “Bagi Allah-lah segala
perkara, pada sebelum
dan sesudahnya."[QS.
Ar-Ruum (30): 4] Masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang tidak disinggung
dalam Himpunan Putusan Tarjih, sebab memang sifat-sifat Allah jumlahnya tidak
terbatas47.
Nama-nama
yang kita umumnya ketahui saja jumlahnya 99: "Allaah, Ar-Rahmaan,
Ar-Rahiim, Al-Malik, Al-Quduus, As-Salaam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin, Al-'Aziiz, Al-Jabbaar, Al-Mutakabbir, Al-Khaaliq, Al-Baari', Al-Mushawwir, Al-Ghaffaar, Al-Qahhaar, Al-Wahhaab, Ar-Razzaaq,
Al-Fattaah, Al-'Aliim, Al-Qaabidh, Al-Baasith, Al-Khaafidh, Ar-Raafi',
Al-Mu'izz, Al-Mudzill, As-Samii', Al-Bashiir, Al-Hakam, Al-'Adl, Al-Lathiif,
Al-Khabiir, Al-Haliim, Al-'Adzhiim, Al-Ghafuur, Asy-Syakuur, Al-'Aliyy,
Al-Kabiir, Al-Hafiidzh, Al-Muqiit, Al-Hasiib,
Al-Jaliil, Al-Kariim, Ar-Raqiib, Al-Mujiib, Al-Waasi', Al-Hakiim, Al-Waduud, Al-Majiid, Al-Baa'its, Asy-Syahiid, Al-Haqq,
Al-Wakiil, Al-Qawiyy, Al-Matiin, Al-Waliyy, Al-Hamiid, Al-Muhshii, Al-Mubdi',
Al-Mu'iid, Al-Muhyii, Al-Mumiit, Al-Hayy, Al-Qayyuum, Al-Waajid, Al-Maajid,
Al-Waahid, Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Qaadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim,
Al-Muakhkhir, Al-Awwal, Al-Aakhir, Adzh-Dzhaahir, Al-Baathin, Al-Waalii, Al-Muta'aalii, Al-Barr, At-Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-'Afuww, Ar-Rauuf,
Maalikul Mulk, Dzul Jalaali
wal-Ikraam, Al-Muqsith, Al-Jaami', Al-Ghaniyy, Al-Mughnii, Al-Maani',
Adh-Dhaarr, An-Naafi', An-Nuur, Al-Haadii, Al-Badii', Al-Baaqii, Al-Waarits,
Ar-Rasyiid, dan Ash-Shabuur." [HR. At-Tirmidziyy]
Terlepas dari pendapat para pakar hadis seputar ketidaksahihan tambahan penyebutan 99 nama Allah ini secara marfuu'48, memang di luar nama-nama ini masih ada banyak lagi nama lain yang kita tidak ketahui karena jumlahnya tak terbatas sebagaimana dijelaskan Al-Ghazaaliyy49. Itu berarti sifat-sifatNya akan lebih banyak lagi sebab setiap nama mengandung sifat50. Ath-Thuufiyy (w. 716 H), misalnya, dalam kitab Hallaalul 'Uqad menyebutkan satu per satu sifat yang dikandung dalam setiap nama dari 99 nama di Al-Asmaaul Husnaa riwayat At-Tirmidziyy nan terkenal tadi ini yang sebagiannya sudah terbahas51. Prof. K.H. Ahmad Azhar Basyir (w. 1994) juga menuliskan: "Al-Qur'an juga menyebut banyak nama Tuhan yang masing-masing menunjukkan salah satu sifatNya."52 Nashrun minallaahi wafathun qariib wabasysyiril mu'miniin.
Disampaikan dalam PENGAJIAN TARJIH pertemuan 2, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI Jakarta) Masjid Jami' Asy-Syakirin, 26 Januari 2024
1 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. I hlm. 224 (Kairo:
Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2022).
2 Ibnu Taimiyyah, Syarhul
Ashbahaaniyyah hlm. 8 (Riyadh: Maktabah
Daaril Minhaaj, 1430 H).
3 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 177 (Mekkah: Daar Thaibatil Khadhraa', 2019).
4 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatil Kubraa hlm. 239 (Damaskus: Daarut Taqwaa, 2019).
5 Al-Jurjaaniyy, Syarhul Mawaaqif jld. VIII hlm. 106-107 (Kairo: Daar Miiraatsin Nubuwwah, 2019).
6 Ibnu Taimiyyah, Al-'Aqiidah Al-Waasithiyyah hlm. 10 (Kairo: Daarussalaam, 2009).
7 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 148 (Damaskus: Daarut Taqwaa, 2019).
8 Mas Mansur, Risalah
Tauhid dan Syirik
hlm. 31 (Surabaya: Al-Ihsan, 1991).
9 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 416 (Riyadh: Daarut Tauhiid, 2016).
10 Fatwa Majelis Tarjih
& Tajdid Pimpinan
Pusat Muhammadiyah pada 28 Desember
2012, dimuat di majalah Suara Muhammadiyah no. 07 tahun
2013.
11 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 416
12 An-Nawawiyy,
Raudhatuth Thaalibiin jld. II hlm. 95 (Beirut:
Al-Maktab Al-Islaamiyy, 1991).
13 Ibnul Qayyim, Madaarijus Saalikiin hlm. 912 (Beirut: Daar Ibn Hazm, 2013).
14 Himpunan Putusan Tarjih
jld. III hlm. 638 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).
15 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 153.
16 Ibnu Qaasim, Ad-Durar
As-Saniyyah jld. II hlm. 64 (Riyadh: Daarul
Qaasim, 1417 H).
17 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 177.
18 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 150-152.
19 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 182.
20 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173 & 176.
21 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. II hlm. 949.
22 Abuu Ya'laa, Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173-175.
23 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 450.
24 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 181-203.
25 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722-724.
26 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 723.
27 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 181-182.
28 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722-723.
29 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.
30 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 188-189.
31 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.
32 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 187.
33 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.
34 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.
35 As-Sanuusiyy, Syarhul 'Aqiidatish Shughraa hlm. 191-195.
36 As-Saffaariiniyy, Lawaami'ul Anwaaril Bahiyyah jld. I hlm. 722.
37 Abuu Ya'laa,
Mukhtashar Al-Mu'tamad hlm. 173.
38 Abuu Manshuur Al-Maaturiidiyy, Kitaabut Tauhiid hlm. 113 (Beirut: Daar Shaadir, 2010).
39 Al-Bayaadhiyy, Isyaaraatul Maraam hlm. 372-375 (Kairo: Daarush Shaalih, 2021).
40 Abul Fadhl At-Tamiimiyy, I'tiqaadul Imaamil Munabbal hlm. 22 (Beirut: Daarul Kutubil 'Ilmiyyah, 2001).
41 At-Taftaazaaniyy, Syarhul Maqaashid jld. II hlm. 8-9 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2020).
42 Abul Hasan Al-Asy'ariyy, Maqaalaatul Islaamiyyiin jld. I hlm. 226 (Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah, 2015).
43 Fatwa Majelis Tarjih
& Tajdid Pimpinan
Pusat Muhammadiyah pada 10 Maret
2006. Dimuat di Suara Muhammadiyah no. 12 tahun
2006.
44 Ath-Thuufiyy,
Hallaalul 'Uqad hlm. 22 (Beirut:
Daarul Faraabiyy, 1437 H).
45 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 24.
46 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 28.
47 Al-Jurjaaniyy,
Syarhul Mawaaqif jld. VIII hlm. 104 (Kairo:
Daar Miiraatsin Nubuwwah,
2019).
48 Ibnu Hajar Al-'Asqalaaniyy, Buluughul Maraam hlm. 409 (Kairo:
Daarus Salaam, 2008) & Ash-Shan'aaniyy, Subulus Salaam jld. IV hlm. 148 (Kairo:
Daarul Hadiits, 2007).
49 Al-Ghazaaliyy, Al-Maqshad Al-Asnaa hlm. 332 (Jeddah: Daarul Minhaaj, 2020).
50 Ibnul Qayyim,
Madaarijus Saalikiin hlm. 22.
51 Ath-Thuufiyy, Hallaalul 'Uqad hlm. 14-30.
52 Ahmad Azhar Basyir, Akidah
Islam hlm. 100 (Yogyakarta: UII Press, 1991).
Tidak ada komentar