Pengajian Tarjih Pertemuan 3: Iman Kepada Malaikat
Pengajian Tarjih Pertemuan 3: Iman Kepada Malaikat
Oleh: Nur Fajri Romadhon,
Lc., M.A.
Wakil Ketua Majelis
Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta
Secara etimologi, kata “malāikah” yang bentuk tunggalnya ialah “malak” dalam
Bahasa Arab berasal
dari kata “alūkah” (pengutusan)1. Yakni
para malaikat diutus
oleh Allah subḥānahū wata’ālā untuk suatu misi dan tugas tertentu. Mereka adalah hamba-hamba
Allah subḥānahū wata’ālā juga sama seperti manusia. Malaikat bukanlah dewa ataupun tuhan. Karena
itu Prof. Buya Hamka nyatakan: “Memuja malaikat adalah syirk (menyekutukan
Tuhan).”2
Pengajian Tarjih Pertemuan 4: Iman Kepada Kitab
Kita wajib percaya, Allah itu mempunyai
malaikat yang bersayap, ada yang dua, ada yang tiga, dan ada yang empat.
“Segala Puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan
Malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap, ada yang dua, tiga dan ada yang
empat.” [QS. Fāthir
(35): 1] Yakni dua pasang, tiga pasang, dan empat pasang, sebagaimana
dijelaskan Al-Qurthubiyy3. Juga ada yang sayapnya lebih banyak
daripada itu sebagaimana lanjutan firman Allah subḥānahū wata’ālā tadi: “…
dan Allah menambahkan bagi para makhlukNya sesuai yang Dia kehendaki.” [QS. Fāthir (35): 1]. Al-Baghawiyy meriwayatkan bahwa tafsirnya ialah Allah menambahkan jumlah
sayap bagi para malaikat yang Dia kehendaki4.
Dan mereka adalah hamba Allah yang dimuliakan
yang tidak pernah menentang perintah-Nya dan mereka senantiasa mengerjakan apa
yang diperintahkan.
Yang demikian ialah berdasarkan firman Allah subḥānahū wata’ālā: “Bahkan para Malaikat itu hamba yang di muliakan (terhormat) yang tidak
mendahului firman Allah, sedang mereka selalu mengerjakan perintahNya.” [QS.
Al-Anbiyā' (21): 26-27]
Dia juga berfirman: “Wahai orang
yang beriman jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia
dan batu, penjaganya adalah para Malaikat yang kasar, yang keras dan yang tidak
pernah menentang perintah Allah, dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang
diperintahkan.” [QS. At-Taḥrīm (66): 6] At-Taftāzāniyy menyatakan bahwa kedisiplinan para malaikat dalam ketakwaan ini
disebabkan mereka tidak diberikan syahwat, karena itulah manusia yang disiplin
dalam ketakwaan padahal diberikan syahwat akan lebih tinggi derajatnya di sisi
Allah daripada malaikat5.
Adapun Iblis, maka ia bukanlah dari jenis malaikat, tetapi dari jenis jin. Karena itu Ketika menyebutkan tentang kedurhakaan Iblis, Allah subḥānahū wata’ālā menyebutkan salah satu latar belakangnya ialah karena Iblis termasuk jin. Andai Iblis itu malaikat, maka ia tidak akan durhaka sebagaimana keumuman malaikat. Demikian diterangkan Ibnu Katsīr ketika menafsirkan firman Allah subḥānahū wata’ālā: “(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia termasuk (golongan) jin, makanya dia mendurhakai perintah Tuhannya. Apakah kalian menjadikannya dan keturunannya sebagai pelindung selain-Ku?” [QS. Al-Kahf (18): 50]6 Terlebih, kata Abū Ya’lā, ayat ini ditutup dengan menyebutkan bahwa Iblis memiliki keturunan, sementara malaikat tidak memiliki keturunan7.
Sedangkan
mengenai malaikat Hārūt
dan Mārūt, maka telah didudukkan perkara tentang mereka
berdua dalam salah satu Fatwa Tarjih:
“Memang dijelaskan dalam
Al-Qur’an bahwa Allah
mengutus dua dari para malaikat untuk turun ke bumi dengan
membawa tugas, yaitu mengajarkan manusia pengetahuan ilmu sihir, yang tujuannya
adalah untuk melawan ilmu-ilmu sihir setan dan mengajarkan manusia kebaikan.
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa
kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman
itu mengerjakan sihir),
padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang
kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang
diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut,
sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum
mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah
kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang
dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan
isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya
kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah.
Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak
memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa
yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di
akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau
mereka mengetahui." [QS. Al-Baqarah (2): 102].
Jelaslah yang dimaksud dari ayat di atas,
bahwa kedua malaikat (Harut dan Marut) itu mengajarkan kepada manusia tentang
peringatan terhadap sihir dan cara melawan ilmu sihir setan bukan mengajarkan
untuk mengajak mereka melakukan
sihir. (al-Jami’ li Ahkamil-Qur’an, Juz II, hal. 472). Metode inilah yang dipakai
kedua Malaikat tersebut dalam mengajarkan sihir.
Mengenai hukum mempelajari sihir, mayoritas
ulama berpendapat bahwa belajar atau mengajarkan sihir hukumnya haram.
Alasannya karena Al-Qur’an telah mengecamnya dan menjelaskan bahwa
sihir adalah kafir. Seandainya saja mempelajari dan menggunakan sihir
bukan perbuatan kafir
tentulah peringatan dalam
ayat di atas dengan ungkapan fitnah tidak akan disebut.”8
Mereka tidak makan dan tidak minum.
Saat menafsirkan firman Allah subḥānahū wata’ālā: “Maka ketika Nabi Ibrahim
melihat tangan malaikat tidak menjamah hidangan, yang memandang aneh dan merasa
takut, berkatalah para Malaikat: Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami diutus untuk menghadapi kaum Luth.” [QS.
Hūd (11): 70], Abul Barakāt
An-Nasafiyy menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalām setelah
merasakan keganjilan akibat melihat para tamunya tersebut tidak makan, maka
beliau lantas mengenali dari situ bahwa mereka adalah malaikat sebab malaikat tidak makan. Dari situlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām takut kalau-kalau kedatangan para malaikat ke rumah beliau merupakan pertanda Allah subḥānahū wata’ālā mengutus untuk sesuatu yang tidak menenangkan9.
Tidak menikah dan tidak tidur. Dan sepanjang
masa tidak putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan.
Ar-Rāziyy menukilkan ijmā’ seluruh ulama bahwasanya para malaikat selain tidak makan dan tidak minum, juga tidak menikah serta menghabiskan setiap waktu untuk bertasbih10. Allah subḥānahū wata’ālā berfirman tentang para malaikat: “Sepanjang masa tiada putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan.” [QS. Al-Anbiyā’ (21): 20] Lalu bagaimana mungkin malaikat saling menikah sementara mereka tidak disifati dengan kelelakian ataupun keperempuanan, sebagaimana dipaparkan oleh ‘Aliyy Al-Qāriyy berlandaskan semisal firman Allah subḥānahū wata’ālā: “Adakah Tuhanmu telah memilih kamu sekalian sebagai anak laki-laki dan menjadikan anak perempuan kepada para Malaikat? Sesungguhnya kamu telah mengatakan ucapan yang besar (dosanya).” [QS. Al-Isrā' (17): 40]
Firman Allah subḥānahū wata’ālā tentang kepatuhan dan ibadah para malaikat
yang konsisten serta bagaimana mereka senantiasa mensucikan Allah subḥānahū wata’ālā dari sifat-sifat kekurangan yang tadi disebutkan itu sebetulnya menjadi
bantahan atas dua keyakinan yang berkembang waktu itu. Satu ekstrim kanan
mengultuskan para malaikat secara berlebihan hingga menempatkan mereka sebagai
putri-putrinya Tuhan serta mempersembahkan sebagian ibadah kepada mereka. Di
sisi lain ada esktrim kiri yang merendahkan
para malaikat serta
mengklaim bahwa para malaikat juga berdosa bahkan
melakukan kekafiran dan
kemusyrikan. Abul Mu’īn An-Nasafiyy mengatakan: “Allah telah menjaga umat Nabi
Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam dari sikap ekstrim kanannya
orang-orang musyrikin Mekkah yang meyakini bahwa para malaikat merupakan
putri-putrinya Allah serta dari sikap ekstrim kirinya
Ahli Kitab dari kalangan
Yahudi yang mengklaim bahwa malaikat kadang melakukan kekafiran.”11
Dan masing-masing dari mereka mempunyai kedudukan
atau tugas tertentu. Ada yang memikul Arsy Tuhan, ada yang menjadi utusan
seperti Jibril dan Mikail, dan ada yang mengamati serta mencatat (amal
manusia).
Ibnu Taimiyyah paparkan
bahwa para malaikat
terbagi menjadi berbagai
kategori12. Allah subḥānahū wata’ālā berfirman: “Dan tidak ada daripada kami
(Malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu.” [QS. Ash-Shaffāt
(37): 164]
Di antara ayat yang menyebutkan tugas malaikat yang Allah subḥānahū wata’ālā ialah “Dan pada hari itu ada
delapan Malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas mereka.” [QS. Al-Ḥāqqah (69): 17], “Di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, dijunjung dan disucikan, di
tangan para utusan (Malaikat) yang mulia lagi berbakti.” [QS. ‘Abasa
(81): 13-16], “Al-Qur’an dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril), kepada hatimu agar kamu
menjadi golongan orang yang menyampaikan peringatan.” [QS. Asy-Syu’arā' (26): 193-194], “Barang siapa memusuhi
Allah, Malaikat-malaikat-Nya, utusanutusan-Nya serta Jibril dan Mikail, maka Allah
akan memusuhi orang-orang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 98], serta “Sungguh di atasmu itu ada
pengawas (Malaikat) yang mulia
yang selalu mencatat, mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Infithār (82): 10-12] Begitu pula sebagian hadis
menyebutkan tugas malaikat, misalnya hadis: “Adapun rumah ini adalah rumahnya para syuhada’ dan aku adalah
Jibril dan ini adalah Mikail”……dan seterusnya. [HR. Al-Bukhāriyy]
Kita tidak boleh menggambarkan tentang malaikat
kecuali dengan apa yang diterangkan oleh syara’. Oleh Allah kita dituntut untuk
mengetahui hakekat Malaikat, kita hanya diperintahkan agar percaya akan adanya,
adapun para Nabi, mereka pernah melihatnya dalam rupa manusia ataupun lain-lainnya.
Tentang hal ini beritanya telah mutawatir (meyakinkan). Namun kita tidak boleh
menggambarkan tentang Malaikat, kecuali dengan dasar keterangan dari Nabi shallallāhu
‘alaihi wasallam yang sampai kepada kita dengan pemberitaan yang
menyakinkan. “Dan tiada seorangpun yang mengetahui hakekat tentara (Malaikat)
Tuhannmu selain Dia.” (Surat Mudatstsir: 31)
Sesuai dengan kaidah umum dalam mengimani hal yang gaib, kita tidak dituntut mengetahui hakikat malaikat tetapi hanya diperintahkan mengimani dalil-dalil yang meyakinkan terkaitnya, semisal dari ayat Al-Qur’an, hadis-hadis yang mutawatir, dan yang semisalnya. Menggambarkan malaikat dengan rupa tertentu sesuai khayalan kita termasuk mereka-reka hal yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya lagi terlarang. Begitu pula membatasi jumlahnya menjadi 10 saja misalnya. “Jangan engkau mengikuti apa-apa yang tidak kamu ketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu kesemuanya akan ditanyai.” [QS. Al-Isrā' (17): 36] “Dan tidak ada yang mengetahui tentara (malaikat) Tuhanmu selain Dia.” [QS. Al-Muddatstsir (74): 31]
Memang, kadang malaikat
mengubah rupanya dengan
izin Allah menjadi
manusia misalnya. Seperti
Ḥadītsu Jibrīl yang disebutkan di awal Himpunan
Putusan Tarjih ini. “Dari Umar radhiyallahu
‘anhu berkata: "Pada saat kami duduk pada suatu hari bersama Rasulullah shallallāhu
‘alaihi wasallam datanglah seorang laki-laki putih bersih pakaiannya, hitam
bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang sedang bepergian dan
tiada seorang pun diantara kami yang mengenalnya, kemudian bersimpuh di hadapan
Nabi dengan merapatkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi dan meletakkan
kedua telapak tanganya pada paha Nabi. Lalu ia berkata: "Hai Muhammad
terangkanlah kepadaku tentang Islam", Nabi menjawab "Islam ialah
engkau mempersaksikan, tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah
utusan Allah, mengerjakan shalat, membayar zakat,
berpuasa Ramadhan dan pergi
haji bila engkau mampu melakukannya". Kata orang itu: "Benar
engkau….dan seterusnya. [HR. Muslim]
Tentang hikmah mengimani malaikat, Prof. K.H.
Ahmad Azhar Basyir menuliskan: “Dengan mengetahui fungsi malaikat sebagaimana
disebutkan di atas, khususnya yang berhubungan dengan kehidupan manusia,
manusia terdorong untuk berusaha berhubungan dengan mereka dengan jalan
mensucikan jiwa, membersihkan hati, dan beribadat kepada Allah dengan khusyuk
dan mengerjakan amal kebaikan lainnya. Doa malaikat tidak pernah ditolak Tuhan.
Maka orang akan amat beruntung bila termasuk golongan mereka yang didoakan oleh
para malaikat. Sebaliknya, orang akan amat rugi bila termasuk golongan yang
didoakan buruk oleh mereka.”13
Dalam salah satu Fatwa Tarjih, disebutkan
sebuah hadis tentang doanya malaikat bagi orang yang beramal shalih: “Shalat seseorang berjamaah dilipatgandakan
pahalanya dari shalat di rumah atau di pasar sampai 25 kali lipat. Hal yang demikian
karena ia telah
berwudlu dan dengan
baik wudlunya kemudian
keluar untuk shalat ke masjid
yang tidak akan keluar ke masjid kecuali untuk shalat. Orang itu tidak
melangkah (menuju masjid) kecuali diangkat untuknya derajat dan dihapuskan
kesalahan. Dan apabila orang itu shalat, maka malaikat selalu mendoakan baik kepadanya, selama ia berada di tempat shalat itu dengan doanya:
“Mudah-mudahan Allah mengampuni orang yang sedang shalat itu dan
mudah-mudahan Allah memberi rahmat dan semoga orang itu diberi pahala shalat
selama ia menunggu shalat (berikutnya).” [HR. Al-Bukhāriyy & Muslim]14
Sementara itu, di antara contoh doa buruk
malaikat atas manusia yang melakukan perbuatan tercela ialah semisal dalam
hadis yang disebutkan dalam salah Fatwa Tarjih lainnya
yaitu: “Dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi
shallallāhu ‘alaihi wasallam
bersabda: Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya
kecuali akan turun (datang) dua malaikat
kepadanya lalu salah
satunya berkata; "Ya
Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya, sedangkan yang satunya lagi berkata; Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan)
kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)".” [HR. Al-Bukhāriyy &
Muslim]15
Selain menyebutkan hikmah di atas, Prof. Buya Yunahar Ilyas menambahkan hikmah-hikmah lainnya seraya menuliskan: “Dengan beriman kepada malaikat, seseorang akan:
- Lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah subḥānahū wata’ālā yang menciptakan dan menugaskan para malaikat tersebut.
- Lebih bersyukur kepada Allah subḥānahū wata’ālā atas perhatian dan perlindungan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan menugaskan para malaikat untuk menjaga, membantu, dan mendoakan hamba-hamba-Nya. ...
- Berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemaksiatan serta ingat senantiasa kepada Allah subḥānahū wata’ālā sebab para malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia.”16
Nashrun minallāhi wafatḥun qarīb wabasysyiril mu`minīn.
Disampaikan dalam PENGAJIAN TARJIH pertemuan
3, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI
Jakarta) Masjid Jami' Asy-Syakirin, 2 Februari 2024
1 As-Safffārīniyy, Lawāmi’ul Anwāril
Bahiyyah jld. III hlm. 637 (Riyadh: Dārut
Tawḥīd, 2016).
2 Hamka, Pelajaran Agama Islam hlm. 117 (Jakarta: Bulan Bintang, 1996).
3 Al-Qurthubiyy, Al-Jāmi’ li-Aḥkāmil Qur`ān jld. XIV hlm. 221 (Kairo: Al-Maktabah At-Tawfiqiyyah, 2012).
4 Al-Baghawiyy, Ma’ālimut Tanzīl
hlm. 1067 (Beirut:
Dār Ibni Ḥazm, 2014).
5 At-Taftaazaaniyy, Syarhul Maqaashid jld. V hlm. 66 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2020).
6 Ibnu Katsīr, Tafsīrul
Qur`ānil ‘Adzhīm jld. II hlm. 1106 (Riyadh:
Dārul Muayyad, 2009).
7 Abū Ya’lā, Mukhtashar Al-Mu’tamad hlm. 357 (Mekkah: Dār Thaybah Al-Khadhrā`, 2019).
8 Fatwa Majelis Tarjih
& Tajdid Pimpinan
Pusat Muhammadiyah pada tanggal 29 April 2011.
9 Abul Barakāt An-Nasafiyy, Madārikut Tanzīl jld. II hlm. 72 (Beirut:
Dārul Kalimith Thayyib,
1998).
10 Ar-Rāziyy, At-Tafsīr Al-Kabīr jld. I hlm. 85 (Beirut: Dāru Iḥyāit Turātsil ‘Arabiyy, 1420 H).
11 Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. II hlm. 759 (Kairo:
Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2022).
12 Ibnu Taimiyyah, Majmū’atul Fatāwā jld. IV hlm. 252 (Riyadh: Wizāratul
Awqāf, 2004).
13 Ahmad Azhar Basyir,
Akidah Islam hlm. 115 (Yogyakarta: UII Press, 2013)
14 Tanya Jawab Agama jld. IV hlm. 133 (Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2015).
15 Fatwa Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah no. 23 tahun 2014.
16 Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam hlm. 92 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020).
Tidak ada komentar