Marhaban Yaa Ramadhan
Harjanto Wiwoho, S.Pd.I, M.Pd
Koordinator Korps Mubaligh
Muhammadiyah (KMM) Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
Menjelang bulan suci Ramadhan tiba, ucapan kalimat
tahniah (selamat datang) sebagai bentuk kegembiraan dan kebahagiaan menyambut
“tamu” agung, seperti kalimat “Marhaban Yaa Ramadhan”, dari pribadi,
komunitas, lembaga, ormas, dan sebagainya dapat kita saksikan, baca, dan dengar
di berbagai media, baik media cetak, elektronik, maupun media sosial.
Berbagai spanduk dan baliho bertuliskan selamat datang
bulan suci Ramadhan bertebaran menghiasi masjid, mushalla, madrasah/sekolah,
sudut-sudut perkotaan sampai pedesaan seluruh nusantara, bahkan belahan dunia.
Hal ini merupakan sebuah fenomena nyata ketika menjelang datangnya bulan suci
Ramadhan.
Media sosial (medsos) seperti TikTok, WhatsApp (WA),
Instagram (IG), Facebook (FB), dan lainnya menjadi pilihan yang paling favorit
digunakan untuk menyampaikan tahniah “Marhaban Yaa Ramadhan” karena
lebih cepat, efektif, murah, dan dapat menjangkau berbagai komunitas sehingga
pesan tahniah cepat tersampaikan.
Instansi pemerintah dan swasta seakan juga tidak mau
ketinggalan berpartisipasi mengucapkan tahniah bulan suci Ramadhan dengan
menjadi sponsorship. Tidak hanya membuat spanduk dan baliho, tetapi juga ucapan
“Marhaban Yaa Ramadhan” secara langsung lewat radio, televisi nasional
maupun swasta yang berbayar.
Bahkan banyak tokoh lokal sampai nasional
berlomba-lomba menggunakan momentum datangnya bulan suci Ramadhan untuk
menyampaikan tahniah “Marhaban Yaa Ramadhan” secara pribadi lewat
berbagai media. Selain sebagai ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan akan
datangnya bulan suci Ramadhan, hal tersebut juga sebagai wasilah silaturrahmi
dan mengenalkan diri kepada khalayak umum, masyarakat, atau umat agar dikenal,
diketahui, dan dimengerti maksud serta tujuannya.
Di samping menyambut bulan Ramadhan dengan ucapan
tahniah “Marhaban Yaa Ramadhan”, kaum muslimin juga menyambutnya dengan
berbagai kegiatan. Pengajian adalah salah satu bentuk kegiatan yang biasa
dilakukan dalam menyambut bulan suci Ramadhan untuk menambah dan memperdalam
ilmu tentang ibadah puasa Ramadhan. Selain itu, juga dilakukan berbagai
persiapan, baik persiapan jasadiyah, ruhiyah, materiil, maupun ilmiah.
Menyambut datangnya bulan Ramadhan yang hanya sebulan
dalam satu tahun dengan kelapangan hati dan gembira bukanlah sesuatu yang tanpa
sebab. Keutamaan bulan Ramadhan dan amalan yang ada di dalamnya menjadi sebab
kaum muslimin menyambut bulan tersebut dengan kelapangan hati dan gembira ria.
Di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu surga,
ditutupnya pintu-pintu neraka, serta dibelenggunya setan-setan. Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
وَعَنْهُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ
النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang maka dibukalah pintu-pintu surga,
ditutuplah pintu-pintu neraka, serta dibelenggulah setan-setan.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Makna Marhaban Yaa Ramadhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marhaban
adalah kata seru (afektif) untuk menyambut atau menghormati tamu.
Kata marhaban secara etimologis (bahasa)
berasal dari fi’il ra-hi-ba, yarhabu, rahbun yang berarti luas, lapang,
dan lebar. Selanjutnya menjadi fi’il rahhaba, yurahhibu, tarhiban yang
mengandung arti menyambut atau menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran, dan
keterbukaan hati. Masdarnya adalah tarhib yang mengandung pengertian
penyambutan.
Secara terminologi, tarhib/marhaban jika
dikaitkan dengan Ramadhan berarti menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan
segala kesiapan, keluasan, kelapangan, keterbukaan, dan kelebaran yang
dimiliki, baik materiil, spiritual, jiwa, raga, dan segala apa yang ada dalam
diri kita.
Yaa (يا) dalam ilmu nahwu/tata bahasa Arab termasuk huruf nida, yang
mempunyai arti undangan atau panggilan, seperti يا
محمد yang
bermakna Ya Muhammad.
Sedangkan Ramadhan (رمضان) adalah nama salah satu bulan Hijriyah, tepatnya bulan ke-9,
yang berasal dari bahasa Arab ramidla (رمض) yang berarti terik atau sangat panas. Para ulama memaknai kata
Ramadhan sebagai membakar atau menghapus dosa-dosa orang yang berpuasa
pada bulan tersebut, dan hal ini bukanlah tanpa dasar dan alasan.
Sebagaimana Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad
Al-Baghdadi atau Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan
pembakaran dosa. Hal ini sesuai dengan riwayat Anas bin Malik RA, Rasulullah
SAW bersabda:
وَقَدْ
رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا سُمِّي رَمَضَانُ لأَنَّهُ يُرْمَضُ الذُّنُوبُ
“Dan sungguh, Anas bin Malik RA telah meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena
membakar dosa.”
Maksud dari membakar dosa pada hadits di atas adalah
bahwa dengan ibadah puasa, semua dosa yang ada dalam diri umat Islam akan
hilang. Puasa tersebut akan menghapus dan menghilangkan semua dosa-dosanya.
Jadi, makna Marhaban Yaa Ramadhan adalah
menyambut dan menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran, dan keterbukaan hati
datangnya bulan yang membakar atau menghapus dosa-dosa orang yang berpuasa pada
bulan tersebut dengan segala apa yang ada dalam diri kita, baik materiil,
spiritual, jiwa, maupun raga.
Marhaban Yaa Ramadhan, Bolehkah?
Marhaban Yaa Ramadhan adalah ungkapan kegembiraan menyambut datangnya bulan
suci Ramadhan, ungkapan yang menyiratkan kebahagiaan atas nikmat yang
diperoleh. Datangnya bulan yang penuh dengan keistimewaan tentunya kita sambut
dengan penuh kegembiraan.
Menyambut dengan mengucapkan selamat tergolong adat
atau kebiasaan manusia. Hukum asal kebiasaan manusia adalah mubah atau boleh
sampai ada dalil yang mengubahnya menjadi wajib, sunnah, makruh, atau haram.
Berbeda dengan hukum asal ibadah yang adalah haram, sebagaimana kaidah fikih الأصل
في العبادات التحريم atau hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai
datang dalil) الأصل في العبادة التوقف.
Allah SWT mengajarkan kepada manusia untuk bergembira
dan memperlihatkan kegembiraan atas segala keutamaan dan rahmat yang telah
Allah SWT berikan kepada kita. Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus ayat 58:
قُلْ
بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌۭ
مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya,
hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih
baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Rasulullah SAW juga mengungkapkan kegembiraan kepada
para sahabatnya mengenai kedatangan bulan Ramadhan, sebagaimana dalam hadits
berikut:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لأَصْحَابِهِ: «قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ
رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ»
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah
SAW berkata kepada para sahabatnya: sungguh telah datang kepada kalian bulan
Ramadhan, bulan yang penuh berkah.” (HR. Ahmad dalam Musnad 2/385).
Persiapan Ramadhan
Bukti keseriusan menyambut datangnya bulan suci
Ramadhan tidak hanya senang dalam hati dan diungkapkan dengan kata-kata saja,
tetapi yang lebih penting adalah mempersiapkan diri secara lahir dan batin agar
maksimal dalam mengisi amalan bulan Ramadhan. Persiapan secara khusus tidak ada
syariatnya dan tentunya tidak boleh bertentangan dengan aturan-aturan syariat
yang ada.
Di antara persiapan bulan suci Ramadhan yang dapat
kita lakukan adalah mempersiapkan diri secara pribadi, baik lahir maupun batin,
serta memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya‘ban, berdasarkan hadits Nabi
Muhammad SAW:
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ ... مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى
الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ
أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: Saya tidak pernah
melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan saya
tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya‘ban.” (Muttafaq ‘Alaih).
Untuk menyambut bulan suci Ramadhan, beberapa langkah persiapan dapat dilakukan di lingkungan masyarakat, rumah, dan masjid. Langkah pertama adalah melakukan pengkondisian Ramadhan pada bulan Sya‘ban dengan memperbanyak informasi dan kajian tentang tuntunan ibadah Ramadhan. Selain itu, perlu mempersiapkan sarana dan prasarana yang memadai, seperti sistem suara, tempat wudhu yang bersih, air wudhu, kotak infak, peralatan ta’jil, dan kebutuhan lainnya. Kebersihan di dalam masjid maupun di lingkungan sekitarnya juga menjadi prioritas. Selanjutnya, perlu dilakukan pengaturan shaf shalat dan keamanan, serta penyusunan jadwal muadzin, imam, penceramah, dan penjemputannya. Jadwal kegiatan seperti kajian, TPA, dan bakti sosial juga harus disiapkan dengan baik. Untuk menyambut Idul Fitri, tempat shalat, imam atau khatib, serta transportasi penjemputannya juga perlu direncanakan. Terakhir, penting membentuk tim ‘Amil Zakat yang bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan.
Tidak ada komentar