Khutbah Idul Adha: Meneladani Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam
Khutbah Idul Adha:
Meneladani Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar Nabi
Ibrahim ‘Alaihis Salam
KH. Tarno, S.Ag
Anggota Majlis Tabligh PDM Sukoharjo
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ
وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
وَمَنْ
يَّتَّقِ
اللّٰهَ
يَجْعَلْ
لَّهٗ
مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ
مِنْ
حَيْثُ
لَا
يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ
يَّتَوَكَّلْ
عَلَى
اللّٰهِ
فَهُوَ
حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ
بَالِغُ
اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ
اللّٰهُ
لِكُلِّ
شَيْءٍ
قَدْرًا
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، واَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Pada hari yang
agung ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk
selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah ﷻ
anugerahkan, serta senantiasa bertakwa kepada-Nya dalam kondisi apapun.
Shalawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarga dan para shahabat beliau, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta semua
orang yang mengikuti sunnah beliau, agar mendapatkan syafa’at di hari kiamat
kelak.
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Hari ini kita
berkumpul untuk mengharap ridha dan maghfirah Allah ﷻ.
Hari ini juga merupakan hari yang sangat mulia, di mana tidak ada amalan yang
lebih utama selain menyembelih hewan kurban. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ
أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ
لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا
بِهَا نَفْسًا
“Tidak ada amalan
yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adhha) yang lebih dicintai
oleh Allah selain dari pada mengucurkan darah (hewan kurban). Karena
sesungguhnya ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk,
bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah
sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian
dengan berkurban.” (HR. At-Tirmizi)
Khutbah ‘Idul Adha: Menjadikan Kurikulum Nabi Ibrahim as Sebagai Solusi Pendidikan Bangsa
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Setiap tanggal 10
Dzulhijjah, kita merayakan ‘Idul Adha dan menyembelih hewan kurban. Saat
merayakan Idul Adha, kita selalu diingatkan akan kisah seorang hamba Allah ﷻ yang sangat dicintai-Nya, yaitu Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau adalah nabi yang mulia, cerdas, dan
disayangi Allah ﷻ, bergelar Khalilullah.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berhasil menghadapi ujian dan cobaan yang
silih berganti, dengan kesabaran menghadapi ujian yang sangat berat. Oleh
karena itu, sangat pantas jika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam beserta
orang-orang yang bersamanya dijadikan teladan bagi seluruh manusia.
Allah berfirman ﷻ:
إِنَّ إِبرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ
حَنِيفٗا وَلَم يَكُ مِنَ ٱلمُشرِكِينَ
“Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada
Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
(Tuhan).” (QS. An-Nahl [16]: 120)
Allah ﷻ juga
berfirman:
لَقَد كَانَ لَكُم فِيهِم أُسوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن
كَانَ يَرجُواْ ٱللَّهَ وَٱليَومَ ٱلأٓخِرَۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ
ٱلغَنِيُّ ٱلحَمِيدُ
“Sesungguhnya
pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu)
bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari
Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang
Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 6)
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، واَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Perjuangan Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam dalam menegakkan aqidah, kesabaran dan keberanian
dalam berdakwah, serta kesabaran menghadapi berbagai ujian ketaatan yang berat,
semuanya dilalui dengan selamat. Semua hal tersebut sangat pantas dijadikan teladan
bagi kita semua.
Ujian pertama yang
beliau hadapi adalah kondisi ayahnya yang tidak beriman dan menyekutukan Allah ﷻ, karena ayahnya adalah penyembah berhala.
Tugas berat bagi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah mengajak ayahnya
agar tidak berbuat syirik kepada Allah ﷻ.
Kisah ini Allah ﷻ ceritakan dalam
Al-Quran:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ
أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada
ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?
Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am [6]: 74)
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا
لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
“Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya; “Wahai
Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat
dan tidak dapat menolong engkau sedikit pun?”. (QS. Maryam [19]: 42)
يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ
مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu
akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi
setan“. (QS. Maryam [19]: 45)
Lihatlah,
bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam melakukan dakwah tauhid kepada
ayahnya dengan ungkapan yang sangat lembut dan ucapan yang baik.
Namun selembut apa
pun Nabi Ibrahim alaihis salam mengingatkan ayahnya, tetap saja yang
didapatkannya adalah ancaman dan umpatan kotor.
Allah ﷻ berfirman:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا
إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Berkata bapaknya, ‘Bencikah kamu kepada
tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan
kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS. Maryam [19]: 46)
Ketika orang
tuanya tidak beriman, kafir kepada Allah ﷻ,
dan menolak dakwah beliau dengan sikap yang kasar, hal itu tidak menyurutkan
semangat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam maupun rasa sayangnya terhadap
ayahnya. Beliau tetap memintakan ampunan untuk ayahnya dengan mengatakan:
قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي
إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Berkata Ibrahim, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan
kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat
baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]:
47)
Sekalipun permohonan ampun itu tidak dibenarkan
oleh Allah ﷻ.
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ
إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ
عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah)
untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya
kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh
Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang
sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Tawbah [9]: 114)
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، واَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Coba kita sejenak
merenung: andai kata ujian serupa menimpa kita, mana yang akan lebih kita
patuhi—Allah ﷻ atau
orang tua? Sudah selayaknya kita lebih dulu menaati Allah ﷻ, kemudian setelah itu menaati orang tua. Allah ﷻ berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan
sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra
[17]: 23)
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam lahir dalam keluarga dan masyarakat penyembah berhala, yaitu
masyarakat yang tidak beriman kepada Allah ﷻ.
Namun, beliau telah dianugerahi kecerdasan dalam aqidah dan keberanian untuk
mengajak orang tuanya ke jalan yang benar, meskipun tidak disambut baik dan
bahkan diusir dari rumah. Ujian pertama yang beliau hadapi adalah ayahnya, dan
alhamdulillah beliau selamat.
Setelah menghadapi
ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berhadapan dengan umat yang
menyembah berhala. Allah ﷻ menceritakan
bagaimana beliau menghancurkan berhala-berhala itu, sehingga masyarakat marah
luar biasa dan pada hari itu juga mereka menyiapkan kayu bakar untuk membakar
Nabi Ibrahim. Allah ﷻ berfirman:
قَالُوا ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي
الْجَحِيمِ. فَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ
Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk
(membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.
Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka
orang-orang yang hina. (QS. Ash-Shaffat [37]: 95-98)
Namun, pada saat
itu pertolongan Allah ﷻ datang
secara langsung. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak gentar menghadapi
ancaman dan eksekusi kaumnya. Beliau hanya berdoa kepada Allah ﷻ dengan penuh keyakinan. Ketika diletakkan
di ujung manjaniq, dalam keadaan terbelenggu dengan tangan di belakang, kaumnya
kemudian melemparkan beliau ke dalam kobaran api.
Apa yang diucapkan
oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saat itu? Beliau berdoa,
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
“Cukuplah Allah bagi
kami, dan Dia sebaik-baik Penolong.”
Allah ﷻ tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang
membela agama-Nya. Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dikabulkan oleh Allah
ﷻ. Bahkan, Allah ﷻ
memerintahkan agar api menjadi dingin dan memberikan keselamatan kepada beliau.
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى
إِبْرَاهِيمَ
“Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan
menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’” (QS. Al-Anbiya’[21]: 69)
Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam selamat. Diuji dengan orang tua, selamat. Diuji dengan siksa bakar,
selamat.
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، واَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Idul Adha
rahimakumullah,
Setelah ujian
berupa kekufuran orang tua dan masyarakat berlalu, Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam mendapat ujian berikutnya, yaitu ujian pernikahan. Beliau telah lama
menikah dengan Sayyidah Sarah, namun belum dikaruniai anak. Beliau kemudian
menikah lagi dengan Sayyidah Hajar, namun juga belum dikaruniai keturunan.
Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ,
baik di waktu pagi maupun sore, siang maupun malam, memohon karunia anak yang
shalih. Doa beliau bahkan diabadikan oleh Allah ﷻ
dalam Al-Quran sebagai teladan bagi umat manusia.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak)
yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 100)
Setelah berusia
delapan puluh enam tahun, barulah Allah ﷻ
menganugerahi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam seorang anak bernama Ismail.
Kemudian beliau
diuji dengan ujian anak, yaitu ketika Allah ﷻ
memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk menyembelih putra
kesayangannya, Ismail. Ujian ini sungguh berat, namun benar-benar merupakan
cobaan dari Allah ﷻ, dan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam mampu melewatinya dengan selamat. Allah ﷻ
berfirman:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ
أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shafat [37]: 102)
فَلَمَّآ أَسلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلجَبِينِ
وَنَٰدَينَٰهُ أَن يَٰٓإِبرَٰهِيمُ قَد
صَدَّقتَ ٱلرُّءيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجزِي ٱلمُحسِنِينَ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ
ٱلبَلَٰٓؤُاْ ٱلمُبِينُ وَفَدَينَٰهُ بِذِبحٍ عَظِيمٖ
“Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah
membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS.
Ash-Shafat [37]: 103-107)
Sungguh luar biasa
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mampu menghadapi ujian yang paling berat
dalam kehidupan ini, terbukti beliau lebih mengutanmakan ketaatan kepada Allah ﷻ dibandingkan dengan
cintanya kepada anak kesayangannya.
اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، واَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jama’ah ‘Idul Adha
rahimakumullah,
Dari kisah-kisah perjuangan,
dakwah dan ujian yang dijalani oleh Nabi Ibrahim alaihis salam itu,
dapat kita ambil beberapa pelajaran yang sangat berharga bagi seorang muslim
apalagi bagi seorang da’i dan muballigh bahwa:
1. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok
yang sangat cerdas. Saat kebanyakan orang menyembah berhala, beliau tetap teguh
dalam aqidah, meyakini bahwa hanya Allah ﷻ yang berhak disembah dan diibadahi. Karena itu, Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam menjadi ikon perlawanan terhadap kemusyrikan.
2. Setiap orang yang mengaku beriman pasti akan diuji
oleh Allah ﷻ, sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam yang terus-menerus menghadapi berbagai ujian dari Allah ﷻ.
3. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berhasil
mendidik anaknya menjadi anak yang shalih, berbakti kepada Allah dan orang tua,
serta selalu mengikuti perintah Allah ﷻ,
bahkan dalam hal-hal yang tampak sulit atau tidak masuk akal untuk dijalankan.
Karena itu, beliau menjadi ikon kesabaran dalam ketaatan kepada Allah ﷻ.
4. Bagi seorang da’i, kita dapat meneladani apa yang
dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam berdakwah, mulai dari dakwah kepada
ayahnya sendiri, kepada umat, hingga kepada penguasa. Beberapa teladan beliau
antara lain:
a. Dalam berdakwah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
mengutamakan akhlaqul karimah. Beliau bersikap santun dalam berdialog, seperti
terlihat dalam dialognya dengan ayahnya. Meski berbeda aqidah, beliau tetap
memanggil ayahnya dengan sopan, “Wahai Bapakku”.
b. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah sosok pemberani
luar biasa. Beliau tidak gentar menghadapi siapa pun, termasuk Raja Namrud yang
zalim, sehingga beliau menjadi ikon perlawanan terhadap tirani dan kezaliman.
c. Beliau juga mampu berdialog secara diplomatis,
sehingga mampu mengarahkan pikiran seseorang untuk menyadari kekeliruan dan
mengakui kebenaran. Meski akhirnya sebagian tetap memilih kafir, Nabi Ibrahim
menjadi promotor akal sehat dan logika dalam ketuhanan.
Semoga kita mampu
meneladani akhlaqul karimah dan perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
dalam menjalankan tugas sebagai hamba Allah ﷻ
dan sebagai Rasul utusan-Nya, dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, serta
membimbing umat agar selamat di dunia dan akhirat.
Demikian khutbah
Idul Adha pada pagi hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Sebagai
penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan menundukkan hati di hadapan Allah ﷻ, sembari memanjatkan doa.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى
النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ
حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, اللَّهُمَّ إنَّا
نَسْأَلُكَ الهُدَى والتُّقَى والعَفَافَ والغِنَى، رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا هَذَا يَسُوْدُهُ
الْأَمْنُ وَالْإِيْمَانُ، وَالسَّلَامَةُ وَاْلِإسْلَامُ، وَسَائرَ بِلَادِ
الْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الرِّبَا وَاْلوَبَا، وَالْغَلَا
وَالزِّنَا، وَسَائِرَ الْمَصَائِبِ وَالْبَلَايَا.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ
أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى
اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ..
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Tidak ada komentar