Khutbah ‘Idul Adha: Menjadikan Kurikulum Nabi Ibrahim as Sebagai Solusi Pendidikan Bangsa
Ahmad Zanin Nu’man, M.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
الْحَمْدُ
لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى
أَنْ قَدْ جَعَلَ الْخَلِيلَ إِبْرَاهِيمَ إِمَامًا لَنَا وَلِسَائِرِ الْبَشَرِ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ
الْجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ
لِلنَّاسِ لِيُنْجِيَهُمْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ.
اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
الْأَخْيَارِ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ،
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillāhil-ḥamd.
Hadirin
rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah ﷻ. Atas izin dan kasih sayang-Nya, kita kembali hadir pada hari ini dan berkumpul dalam perayaan ‘Idul Adha sebagai simbol persatuan kaum muslimin. Lebih dari satu miliar kaum muslimin saat ini sedang merajut kebersamaan dengan ikatan akidah yang kokoh. Jarak yang jauh, perbedaan suku, bangsa, dan bahasa kini menyatu dalam sebuah ritual besar, yaitu Hari Raya ‘Idul Adha.
Suara takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema ke angkasa sejak terbenam matahari kemarin hingga berakhirnya hari tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijjah merupakan proklamasi persatuan umat Islam sedunia. Kita menyaksikan betapa indahnya kebersamaan kaum muslimin saat mendatangi shalat ‘Id, serta betapa kuatnya pertautan hati mereka dalam rukuk dan sujud di hadapan Sang Khalik. Prosesi ini bernilai sakral dan berimplikasi nyata dalam membangun kekuatan umat Islam.
Suasana yang sama pada hari ini juga dirasakan oleh jutaan kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji di Baitullah. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan niat dan tekad yang sama, yaitu meraih haji yang mabrur. Prosesi ibadah haji ini, di samping bermakna ritual pelaksanaan rukun Islam, juga menjadi simbol persatuan umat Islam.
Semoga makna persatuan dari perayaan Hari Raya ‘Idul Adha pada hari ini menjadi spirit bersama dalam menyatukan potensi umat Islam. Saatnya kita menyadari bahwa peradaban Islam yang pernah jaya selama berabad-abad hanya dapat diulang dengan persatuan dan kebersamaan. Saatnya kita akhiri berbagai pertentangan yang justru menjerumuskan umat kita sendiri. Hari ini kita bangkit dan mengibarkan panji persatuan umat Islam sedunia.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillāhil-ḥamd.
Hadirin rahimakumullah,
Di tengah kebersamaan merayakan ‘Idul Adha ini, kita sejenak perlu mengenang keteladanan Nabiullah Ibrahim ‘alaihis salam dan Siti Hajar ‘alaihas salam dalam melahirkan seorang generasi teladan bernama Ismail ‘alaihis salam. Keberhasilan mereka berdua dalam mendidik putra mereka merupakan sebuah pola pendidikan yang telah terbukti melahirkan generasi muttaqin yang berpredikat nabi. Ketakwaan dan ketaatan Ismail ‘alaihis salam diabadikan oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur’an, dan sejarah hidupnya menjadi tapak tilas pelaksanaan ibadah haji hingga hari ini.
Penyembelihan hewan qurban yang menjadi bagian dari syariat Islam, yang insya Allah akan kita laksanakan setelah shalat ‘Id ini, merupakan perwujudan dari ketakwaan Ismail ‘alaihis salam kepada Allah ﷻ. Ismail ‘alaihis salam dengan ikhlas menerima perintah ayahandanya untuk disembelih sebagai bukti cintanya kepada Allah ﷻ. Ia mampu mengalahkan keinginan hawa nafsu dan tuntutan duniawi, karena menyadari bahwa cinta dan rida Allah ﷻ lebih utama daripada segalanya.
Oleh karena itu, kepada segenap umat Islam yang menyembelih hewan qurban pada hari ini dan tiga hari tasyrik berikutnya, berqurbanlah dengan ikhlas, berlandaskan cinta dan takwa kepada Allah ﷻ. Hindarkan diri kita dari sikap riya’ dan berbagai motivasi yang dapat merusak pahala qurban. Allah ﷻ berfirman,
لَن يَنالَ اللَّهَ لُحومُها وَلا دِماؤُها
وَلٰكِن يَنالُهُ التَّقوىٰ مِنكُم ۚ
كَذٰلِكَ سَخَّرَها لَكُم لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلىٰ ما هَداكُم ۗ
وَبَشِّرِ المُحسِنينَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS. Al Haj [22]: 37)
Hadirin rahimakumullah,
Bagaimana pola Ibrahim ‘alaihis salam mencetak kader berpredikat nabi itu? Al-Qur’an memberi gambaran dengan tahapan yang sistematis dan detail. Hal ini dapat kita fahami dengan penjelasan berikut:
Pertama, Visi pendidikan Ibrahim ‘alaihis salam adalah mencetak generasi shaleh yang menyembah hanya kepada Allah ﷻ. Dalam penantian panjang beliau berdo’a agar diberi generasi shaleh yang dapat melanjutkan perjuangan agama tauhid. Visi Ibrahim ‘alaihis salam ini diabadikan Allah ﷻ dalam Al-Qur’an,
رَبِّ هَب لي مِنَ الصّالِحينَ
“(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash Shaaffaat [37]: 100)
Ibrahim ‘alaihis salām sangat konsisten dengan visi ini. Ia tidak pernah terpengaruh oleh predikat dan gelar apa pun selain kesalehan. Dalam mentransfer nilai kepada anaknya, Ibrahim ‘alaihis salām selalu bertanya, “Mā ta‘budūna min ba‘dī,” bukan “Mā ta’kulūna min ba‘dī.” Artinya, “Nak, apa yang kamu sembah sepeninggalku?” bukan pertanyaan, “Apa yang kamu makan sepeninggalku?” Ibrahim ‘alaihis salām tidak terlalu khawatir terhadap nasib ekonomi anaknya, tetapi ia sangat khawatir jika kelak anaknya menyembah tuhan selain Allah ﷻ.
Kedua, misi pendidikan Ibrahim ‘alaihis salām adalah mengantar Ismail ‘alaihis salām dan anak-anaknya agar mengikuti ajaran Islam secara totalitas. Ketaatan ini dimaksudkan sebagai bentuk proteksi agar mereka tidak terkontaminasi oleh ajaran berhala yang telah mapan di sekitarnya. Allah ﷻ menjelaskan harapan Ibrahim ‘alaihis salām melalui sebuah doanya, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, (Ibrahim berkata),
يا
بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصطَفىٰ لَكُمُ الدّينَ فَلا تَموتُنَّ إِلّا وَأَنتُم
مُسلِمونَ
“Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 132)
Ketiga, kurikulum pendidikan Ibrahim ‘alaihis salām juga sangat lengkap. Muatannya telah menyentuh kebutuhan dasar manusia. Aspek yang dikembangkan meliputi: tilawah untuk pencerahan intelektual, tazkiyah untuk penguatan spiritual, ta‘lim untuk pengembangan keilmuan, dan hikmah sebagai panduan operasional dalam amal-amal kebajikan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillāhil-ḥamd.
Hadirin raḥimakumullāh…
Pendidikan Nabiullah Ibrahim ‘alaihis salām memang patut dicontoh. Beliau adalah satu-satunya nabi yang berhasil mengantar seluruh anaknya menjadi nabi. Dari keturunan anak cucu beliau pula muncul Nabi akhir zaman, yaitu Rasulullah ﷺ. Mengapa bisa demikian? Karena pendidikan yang ditawarkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salām adalah pendidikan yang berorientasi pada pencetakan generasi muttaqin (bertakwa) kepada Allah ﷻ. Orang yang bertakwa merupakan profil insan kāmil, yang keberadaannya telah ditamsilkan dalam Al-Qur’an,
أَلَم تَرَ كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا
كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُها ثابِتٌ وَفَرعُها فِي السَّماءِ
تُؤتي أُكُلَها كُلَّ حينٍ بِإِذنِ رَبِّها ۗ
وَيَضرِبُ اللَّهُ الأَمثالَ لِلنّاسِ لَعَلَّهُم يَتَذَكَّرونَ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبيثَةٍ كَشَجَرَةٍ
خَبيثَةٍ اجتُثَّت مِن فَوقِ الأَرضِ ما لَها مِن قَرارٍ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim [14]: 24-26)
Untuk mencapai kondisi umat Islam yang lebih baik, umat Islam dituntut mampu menciptakan sejarah, bukan hanya sekedar bangga dengan sejarah, sehingga keberadaan umat islam bukan lagi sebagai Maf’ul (obyek) melainkan sebagai fa’il (subyek) yang mampu mewarnai dan menentukan sejarah peradaban dunia.
Hadirin rahimakumullah,
Sosok insan muttaqin seperti inilah yang sejak lama diharapkan hadir tampil di republik tercinta ini, republik yang sedang sakit, republik yang sedang terpuruk, republik yang setiap harinya dihiasi dengan berbagai praktik kejahatan dan kriminalitas.
Kita dapat membayangkan apabila kehidupan suatu bangsa menjadikan takwa sebagai jati diri bangsa; para pemimpinnya adalah orang-orang yang bertakwa, bersikap dan bertindak jujur, menepati janji, tidak berkhianat, adil, dan bijaksana dalam membuat kebijakan serta undang-undang, istiqamah dalam kebenaran. Maka kata korupsi, kolusi, nepotisme, serta berbagai bentuk kejahatan lainnya yang setiap hari kita saksikan tidak akan lagi menghiasi negeri tercinta ini. Tidak hanya itu, masyarakat yang marḥamah (aman dan sejahtera), baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr, bukan mustahil akan terwujud di republik ini. Firman Allah ﷻ ,
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ
مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَرْضِ
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,” (QS. Al A'raaf [7]: 96)
Namun sebaliknya, sulit kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan suatu bangsa apabila masing-masing individu masyarakatnya, baik pemimpin maupun rakyatnya, bukan orang-orang yang bertakwa. Maka manusia yang semula merupakan “aḥsanu taqwīm” (makhluk termulia di antara makhluk lainnya) akan turun derajat ke tingkatan “asfala sāfilīn” (serendah-rendahnya derajat).
Hadirin rahimakumullah,
Manusia adalah mahluk yang sangat mulia, sehingga malaikat pun diperintahkan Allah ﷻ untuk sujud (hormat) kepadanya.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰئِكَةِ ٱسْجُدُوا
لِءَادَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ
ٱلْكَٰفِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 34)
Namun, dengan kondisi seperti yang kita saksikan saat ini, kejahatan merajalela, korupsi dan perzinaan seolah bukan lagi barang tabu, artis semakin dipuja sementara ulama dicerca dan dicela, kriminalitas kian menjamur, keadilan tidak berpihak kepada rakyat kecil, serta hukum yang semakin amburadul, dengan kondisi seperti ini, apakah manusia masih pantas untuk disujudi (dihormati) oleh para malaikat?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillāhil-ḥamd.
Hadirin rahimakumullah,
Ada kesalahan dari kita, sebagai orang tua, dalam menilai keberhasilan anak-anak kita. Terkadang kita sangat bangga ketika anak meraih juara olimpiade sains atau menjadi siswa teladan dalam prestasi akademik. Namun, kita jarang mengaitkan prestasi tersebut dengan akhlak dan kepribadiannya. Maka, menjadi hal yang lumrah apabila kita mendapati anak-anak yang cerdas secara intelektual dan memiliki keterampilan tinggi, tetapi ibadah, akhlak, dan kepribadiannya sangat memprihatinkan.
Persoalan bangsa kita memang sudah sangat kompleks, dan penyelesaiannya pun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, penyelesaian itu dapat kita mulai dari diri kita sendiri, dengan selalu menyadari betapa pentingnya sikap rela berkorban sebagai esensi dan buah dari ibadah qurban. Berkorban sekuat tenaga untuk menjauh dari sifat rakus, sikap mengumbar hawa nafsu, perilaku korup, dan ketidakjujuran, serta berkorban sekuat tenaga untuk senantiasa bertindak jujur dan adil.
Oleh karena itu, demi terwujudnya Indonesia yang madani, Indonesia yang bersatu, adil, dan makmur, masing-masing dari kita dituntut untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh dalam mempersiapkan generasi mendatang. Apabila setiap orang tua benar-benar bertanggung jawab mendidik dan membimbing putra-putrinya menjadi generasi muttaqin, atau kita sendiri yang masih belajar juga mempersiapkan diri menjadi generasi muttaqin, maka generasi muttaqin inilah yang kelak akan menggantikan para pemimpin yang korup, rakus, dan menzalimi rakyat kecil. Generasi muttaqin pula yang akan membawa negara ini, republik tercinta ini, menuju arah yang lebih baik, menjadi negeri yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya, di penghujung khutbah ‘Idul Adha ini, marilah kita bersama-sama menundukkan kepala dan membersihkan hati dari berbagai penyakit riya’ dan kesombongan, seraya memohon kepada Allah ﷻ agar setiap langkah dan aktivitas kita senantiasa mendapatkan ridha-Nya.
Do’a
اَللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ
كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ
آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ.
اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
وَعِلْمِكَ، وَأَوْزِعْنَا أَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ
عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ
شَرٍّ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا،
وَيَقِيْنًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعِلْمًا
وَاسِعًا نَافِعًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا،
وَدُعَاءً مَقْبُوْلًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ،
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Tidak ada komentar