Header Ads

Header ADS

Urgensi Amar Makruf Nahi Munkar (Bagian I)


H. Nafsir Aspan, S.Ag, M.Si

Anggota Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

Sesungguhnya apa saja yang menimpa manusia, baik itu kemadharatan, kesempitan, keburukan, dan segala permasalahan kehidupan, tidak lain terjadi karena kemaksiatan yang dilakukannya. Hal itu disebabkan kelalaian manusia dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta karena manusia melupakan syariat-syariat Allah dan ajaran-ajaran Nabi-Nya .

Baca juga:

Urgensi Amar Makruf Nahi Munkar (Bagian II)

Allah mengabadikan hal tersebut dalam Al-Qur’an agar kita dapat berhati-hati dan waspada. Allah berfirman, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An-Nisa’ [4]: 79).

Allah juga berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura [42]: 30).

Seperti halnya pada suatu ketika di zaman salafush shalih, Madinah pernah diguncang gempa. Maka seketika itu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai penduduk Madinah, sungguh aku tidak akan hidup bersama kalian hingga kalian kembali kepada kitab dan sunnah.”

Satu hal yang harus kita ketahui adalah bahwa seluruh perbuatan manusia akan mendapatkan balasan, baik itu keburukan maupun kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dari sini terdapat hukum kausalitas (sebab-akibat) antara amalan seseorang dengan balasan yang akan diperolehnya. Kemudian, apabila ditelusuri, akan kita dapati adanya sebab dari timbulnya bencana dan segala permasalahan yang melanda kita sebagai manusia. Salah satu sebabnya adalah menyebarnya kemaksiatan dan hilangnya amar makruf nahi munkar.

 

Hukum Amar Makruf Nahi Munkar

Hukum amar makruf nahi munkar adalah fardhu (wajib) kifayah. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa fardhu (wajib) ‘ain adalah kewajiban yang dibebankan atas setiap individu, seperti halnya shalat lima waktu. Sedangkan fardhu kifayah adalah suatu kewajiban yang apabila telah ditegakkan oleh sebagian orang dan telah tercapai tujuan, maka terbebaslah orang lain dari dosa. Dengan kata lain, ia sebenarnya adalah wajib ‘ain atas seluruh manusia, namun apabila sebagian telah menegakkannya dan telah tercapai tujuan, maka yang lain terbebas dari fardhu ‘ain dan akan mendapat pahala bagi yang menegakkan urusan ini.

Sebagian ulama menimbang keutamaan fardhu kifayah bahwa ia adalah suatu keutamaan dan berpahala banyak, karena orang yang melakukan suatu amal yang bersifat fardhu ‘ain hanya membebaskan dirinya sendiri dari dosa, sedangkan orang yang dapat menegakkan fardhu kifayah telah membebaskan dirinya dan juga orang lain dari dosa. Dari sinilah fardhu kifayah menjadi lebih utama dari fardhu ‘ain.

Amar makruf nahi munkar ibarat atap dalam suatu bangunan. Atap mempunyai peranan penting dalam suatu bangunan, maka amar makruf nahi munkar sudah barang tentu mempunyai peranan penting dalam menjaga Islam. Ada banyak alasan mengapa amar makruf nahi munkar berperan penting dalam menjaga Islam. Di antaranya adalah:

Pertama, amar makruf nahi munkar merupakan salah satu ciri dari umat terbaik. Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110). Dari sinilah dapat kita simpulkan bahwa umat Islam akan senantiasa menjadi umat terbaik selama mereka masih melaksanakan amar makruf nahi munkar.

Kedua, amar makruf nahi munkar merupakan implementasi dari keimanan seseorang. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, maka apabila tidak mampu hendaklah dengan lisannya, apabila tidak mampu hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim). Kita mengetahui bahwa keimanan seseorang itu bertingkat-tingkat, dan salah satu barometer untuk mengukur keimanan seseorang adalah bagaimana sikapnya ketika dihadapkan dengan sebuah kemungkaran.

Ketiga, amar makruf nahi munkar merupakan sebab tertahannya azab dari Allah . Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah memerintahkan kaum muslimin agar tidak membiarkan kemunkaran di tengah-tengah mereka agar tidak diratakan azab.” Salah satu hal yang menarik dalam Islam dan tidak ditemukan pada agama dan ideologi selainnya adalah ukhuwah dan rasa persaudaraan antar sesama kaum muslimin. Hal ini sangat bertolak belakang dengan pemikiran Barat yang terjebak dalam sikap egois dan individualis. Dalam masyarakat muslim, rasa memiliki dan saling menasihati antar sesama anggota masyarakat sangat terjaga, karena adanya kemaksiatan dari salah satu orang akan mengakibatkan dampak negatif bagi seluruh masyarakat. Sahabat Ka’ab radhiallahu ‘anhu berkata, “Bumi itu terguncang (gempa) hanyalah apabila telah dilakukan kemaksiatan di atasnya.”

 

Persiapan Amar Makruf Nahi Munkar

Lantas, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menegakkan amar makruf nahi munkar? Berikut beberapa di antaranya.

Pertama, ilmu. Wajib atas orang yang beramar makruf nahi munkar untuk memiliki ilmu tentang sesuatu yang akan ia perintahkan maupun yang akan ia cegah. Ini merupakan suatu keniscayaan yang harus ada sebelum memulai memerintah, mengajak, atau mencegah. Hendaknya ia mengetahui segala hal yang makruf agar ia dapat memerintahkan atau mengajak kepadanya, serta mengetahui apa saja perkara yang munkar agar ia dapat mencegahnya dengan benar.

Bukan berarti seseorang tidak boleh memerintahkan suatu kebaikan kecuali jika ia telah memiliki ilmu dalam segala hal. Seorang penuntut ilmu, misalnya, dapat beramar makruf nahi munkar sebatas pada hal-hal yang telah diketahuinya saja. Ia mengetahui urusan apa saja yang hendak dicegahnya, bahwa hal itu jelas-jelas merupakan suatu kemunkaran, serta mengetahui sesuatu yang hendak diperintahkan kepada manusia bahwa hal tersebut benar-benar merupakan perkara yang makruf. Dengan demikian, para pegiat amar makruf nahi munkar benar-benar memiliki bashirah dan termasuk dalam golongan yang difirmankan Allah :

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108).

Yang dimaksud dengan “hujjah yang nyata” atau “di atas bashirah” adalah di atas ilmu dan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya . Telah dimaklumi bahwa maksud ditegakkannya urusan ini adalah untuk mengentaskan orang bodoh dari kebodohannya menuju ilmu, serta mengentaskan ahli maksiat dari kemaksiatan menuju ketaatan. Hal ini tidak mungkin dapat diraih kecuali dengan ilmu, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan sunnah Nabi Muhammad .

Oleh karena itu, ilmu menjadi hal yang paling penting dan utama ketika seseorang akan menegakkan amar makruf nahi munkar. Jangan sampai karena tidak adanya ilmu, justru mengajak kepada yang makruf dengan cara yang munkar, atau mencegah dari yang munkar tetapi justru menimbulkan kemunkaran yang baru. Na‘uzubillah.

Kedua, sabar. Sabar terhadap apa pun yang dihadapi dalam beramar makruf nahi munkar. Umat ini memang telah disifati dengan kesabaran dan didorong untuk memiliki sifat tersebut. Sesungguhnya salah satu urusan utama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad adalah agar beliau menyampaikan risalah amar makruf nahi munkar. Sebagaimana firman Allah :

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Mudatsir [74]: 1–7)

Allah memerintahkan Rasulullah untuk menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, “bangunlah dan berilah peringatan.” Kemudian Allah memerintahkan beliau agar bersabar di atas jalan tersebut. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui bahwa kelak Rasulullah akan menghadapi berbagai rintangan dan cobaan. Allah berfirman:

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 35)

Merupakan suatu keharusan bagi para pegiat amar makruf nahi munkar untuk melatih jiwanya agar senantiasa bersabar ketika mendapatkan cobaan dari Allah . Sabar menempati kedudukan yang tinggi dan agung. Sungguh, orang yang mendapati dirinya termasuk golongan yang sabar adalah orang yang mendapatkan taufik dari Allah , sehingga Allah menjadikan pahala sabar dengan hitungan yang tanpa batas. Allah berfirman:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Ketiga, lapang dada. Wajib bagi orang yang beramar makruf nahi munkar untuk memiliki sifat lapang dada, sehingga ia tidak menjadi goyah dan marah ketika seruannya disambut dengan sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkannya. Sebab, hal tersebut akan menimbulkan kerusakan yang lebih banyak daripada maslahat yang diraih. Dengan lapang dada, ia juga tidak akan marah hingga menimbulkan rasa dendam dan kebencian pribadi, bukan pengingkaran yang bertujuan untuk meraih ridha Allah dan melakukan pembenahan keadaan.

Maka sudah sepatutnya bagi penyeru ke jalan Allah untuk melatih jiwanya terlebih dahulu, dengan mendidik jiwa agar tetap lapang dada, sekalipun ditampar pada sebelah pipinya karena Allah . Bahkan, jika ia harus ditampar pada pipi yang lain, ia akan semakin berlapang dada karena menyadari bahwa hal tersebut semata-mata karena Allah dan berada di atas jalan Allah . Oleh karena itu, hendaknya seorang pegiat amar makruf nahi munkar berusaha memahami bahwa amalan ini dilakukan semata-mata untuk Allah . Wallahu a‘lam. (Insya Allah bersambung…)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.