Header Ads

Header ADS

"Wajjahtu Wajhiya Lilladzi", Salah Satu Doa Iftitah Muhammadiyah


Oleh: Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc

(Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kulonprogo DIY)

 

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Bahwa jika Rasulullah berdiri shalat, beliau membaca, "Wajjahtu wajhiya lilladzi... (Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim)." (HR. Muslim)

 

Sebagian warga Muhammadiyah menganggap, bahwa jika ada orang yang doa iftitahnya seperti di atas, maka dia adalah orang NU.

Suatu anggapan yang bisa dibilang wajar, karena di lingkungan Muhammadiyah memang biasa diajarkan dan mengamalkan doa iftitah "Allahumma ba'id baini..." Sementara orang NU biasa membaca doa di atas dalam iftitahnya.

Namun demikian, dalam buku Himpunan Tarjih Muhammadiyah halaman 76 (Kitab Shalat), selain doa iftitah "Allahumma ba'id baini…" juga disebutkan doa iftitah di atas, sebagaimana dalam gambar 1. Juga disebutkan takhrijnya pada halaman 85 (lihat gambar 2).

Jadi, sebetulnya dulu itu para ulama Muhammadiyah sudah cukup toleran dan lentur dalam menghadapi ikhtilaf, setidaknya dalam hal ini. Selain itu, hadisnya juga shahih, di mana di antara jargon Muhammadiyah adalah kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah. Bahkan, jumhur ulama juga mengamalkan doa iftitah di atas.

Para ulama mengatakan;

ذهب جمهور الفقهاء - الحنفية والشافعية والحنابلة - إلى أن من سنن الصلاة دعاء الاستفتاح بعد تكبيرة الإحرام. ..... ولما رواه علي بن أبي طالب - رضي الله تعالى عنه - عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا قام للصلاة قال: وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين. إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

"Jumhur ulama -Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah- berpendapat, bahwa di antara sunnah-sunnah shalat adalah doa istiftah setelah takbiratul ihram. ..... Dan berdasar hadis Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu..." (disebutkan hadis di atas). [Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27/88]

-----

     Muhammadiyah tidak bermazhab. Sehingga bisa saja berbeda dengan mayoritas mazhab.

     Tetapi Muhammadiyah tidak anti mazhab, dalam arti pendapat para ulama 4 mazhab dan selain mereka, tetap menjadi pertimbangan.

     Hendaknya warga Muhammadiyah tidak lagi menganggap orang yang doa iftitahnya "Wajjahtu…" adalah NU (dengan nada negatif). Karena warga Muhammadiyah juga boleh membaca doa itu, sebagaimana disebutkan dalam HPT.

     Dan semoga orang NU juga menoleransi warganya yang membaca "Allahumma ba'id baini…" sebagai doa iftitah. Karena, Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan hadis doa iftitah "Allahumma ba'id baini…" sebagai pilihan kedua setelah "Wajjahtu…" dalam Al-Majmu'nya, sebagaimana dalam gambar ketiga. (An Nawawi, Al-Majmu', 3/267)

     Namun sebelum “Wajjahtu…”, orang NU biasanya terlebih dulu membaca: “Allahu Akbar Kabira…

     Dalam HPT jilid 3, hlm 543, juga disebutkan hadis doa “Allahu akbar kabira ...” (Lihat gambar 4)

     Jadi, sebetulnya Muhammadiyah dan NU itu dalam hal ini 11-12 lah, beda-beda tipis.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.