Header Ads

Header ADS

Urgensi Amar Makruf Nahi Munkar (Bagian III)


H. Nafsir Asfan, S.Ag, M.Si

Anggota Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

Metode amar makruf nahi munkar

Metode yang patut diterapkan dalam amar makruf nahi munkar secara khusus maupun untuk berdakwah ke jalan Allah secara umum sangat banyak dan luas. Di antaranya adalah apa yang telah disebutkan sebelumnya, seperti mendahulukan yang dipandang lebih penting, menimbang manfaat dan madharat, melihat situasi dan kondisi, dan yang lainnya.

Baca juga:

Urgensi Amar Makruf Nahi Munkar (Bagian I)

Di antara metode lain yang perlu diperhatikan adalah lemah lembut dan kasih sayang. Allah berfirman,

فَبِمَا رَحْـمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَـهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran [3]: 159)

 

Allah menjelaskan kepada kita bahwa lemah lembut dalam berdakwah dan amar makruf nahi munkar adalah suatu tuntutan sejauh tidak menyebabkan remehnya ilmu dan meremehkan amar makruf nahi munkar. Sebagaimana telah banyak bukti yang menunjukkan kepada kita akan hal tersebut. Rasulullah bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya jika lemah lembut itu ada dalam sesuatu, maka ia akan senantiasa menghiasanya. Jika kelembutan itu hilang, maka pastilah hanya akan mendatangkan kejelekan.(HR. Muslim)

 

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يـُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ

Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia menyukai kelembutan dan Dia akan memberi kepada kelembutan yang tidak diberikan jika seseorang bersikap kasar. (HR. Muslim)

Metode yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam memulai dakwahnya adalah dengan kasih sayang, kelembutan dan hikmah. Metode seperti ini membuat obyek dakwah (mad’u) merasa disayang dan dibimbing menuju kebaikan, sehingga dengan sendirinya membuka diri untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Dan sebaik-baik teladan bagi kita dalam hal ini adalah Rasulullah , yang mana beliau banyak menggunakan cara yang halus ketika mencegah manusia yang tengah berbuat mungkar. Dalam Sahih Muslim dari Muawiyah bin Hakam As Sulami radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku shalat bersama Rasulullah tiba-tiba ada seseorang yang bersin, maka aku berkata ‘yarhamukallah’ (semoga Allah merahmatimu). Mendengar perkataanku, orang-orang melirik ke arahku lantas aku katakan, “Celaka, mengapa kalian memperhatikan aku?” Mereka memukulkan tangan ke paha mereka. Ketika aku melihat, mereka telah mendiamkan aku dan akupun telah diam. Setelah Rasulullah usai dari shalatnya, demi bapak dan ibuku, aku belum pernah melihat pendidik yang lebih baik dari beliau, baik sebelum atau sesudahnya. Beliau tidak mencercaku, memukul atau mencelaku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam shalat tidak pantas di dalamnya mengatakan sesuatu dari ucapan manusia, yang ada hanya tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur’an.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Suatu ketika ada seorang Badui berdiri lalu kencing di dalam masjid, kemudian orang-orang pun hendak memukulnya, maka Nabi bersabda, “Biarkanlah ia, guyurlah kencingnya dengan seember air, karena kalian diutus hanya untuk memberikan kemudahan dan bukan untuk mempersulit.” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Suatu ketika seorang Badui masuk ke dalam masjid sedangkan Rasulullah sedang duduk. Dia berdoa, “Ya Allah ampunilah aku dan juga Muhammad dan jangan Engkau ampuni seorangpun selainnya.” Maka Rasulullah tertawa dan bersabda, “Engkau telah mempersempit yang luas.” Selanjutnya orang tersebut beranjak, hingga ketika sampai di salah satu sudut masjid tiba-tiba ia kencing di sana. Maka berkatalah orang Badui tersebut setelah dia memahami kesalahannya. “Maka Nabi berdiri menghampiriku, demi bapak dan ibuku, beliau tidak memarahi dan mencelaku, beliau hanya bersabda, “Sesungguhnya masjid ini, tidak boleh dikencingi. Masjid ini dibangun untuk berzikir kepada Allah dan shalat.” Kemudian beliau memerintahkan untuk mengambil seember air dan mengguyur air kencing tersebut.” (HR. Ibnu Majah)

Beberapa kisah diatas adalah teladan Rasulullah tentang bagaimana seni menegur kesalahan dan akhlak untuk memperlakukan manusia dengan baik. Kita juga mungkin pernah mendengar kisah tentang bagaimana Hasan radhiallahu ‘anhuma dan Husein radhiallahu ‘anhuma kecil yang berdebat tentang wudhu di dekat seorang yang sudah cukup berumur. Dari perdebatan sandiwara yang mereka lakukan maka tersadarlah orangtua tersebut tentang kesalahannya dalam berwudhu.

Inilah metode meluruskan tanpa harus mematahkan, mengingatkan tanpa harus menggurui dan inilah cara yang tidak boleh dilupakan dalam ber-amar makruf nahi munkar.

Jika kemungkaran dianggap sebagai penyakit sosial, harusnya kita mampu memposisikan diri sebagai dokter sosial. Seorang dokter tidak mungkin dapat mengetahui penyakit masyarakat kecuali dia telah berilmu terlebih dahulu. Ilmu tentang penyakit harus disertai pula dengan ilmu tentang manusia dan akhlak terhadap pasien. Sehingga ketika berhadapan dengan pasien yang terjangkit penyakit tersebut, kita dapat memperlakukannya dengan kasih sayang, kesabaran dan kelembutan. Tentu saja hal ini juga membutuhkan diagnosa yang tepat. 

Maka orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sudah selayaknya menempuh cara yang lembut dan halus. Menunjukkan rasa empati agar dicintai manusia dan didengar seruannya dan agar hati mereka tertarik dengan hal itu. Karena kita telah berupaya untuk memperbaiki mereka, menghimpun kekuatan mereka, memberikan pelajaran kepada mereka dan memberikan arahan kepada mereka. Bukan untuk mengecewakan mereka, menghinakan mereka, menelanjangi dan memperolok-olok mereka. Sebagaimana seorang dokter yang tidak selayaknya dia menghardik pasiennya, namun mestinya ia berlaku lembut sehingga pasien menurut dan mendengarkan petunjuknya.

Di antara metode amar makruf nahi munkar adalah, hendaknya persoalan-persoalan yang bersifat rahasia tidak diselesaikan secara terang-terangan, namun diselesaikan secara diam-diam pula, tidak dipublikasikan di hadapan masyarakat umum. Agar kemungkaran tersebut tidak tersebar beritanya dan justru dapat mempermalukan pribadi pelakunya. Jika kemungkaran dikerjakan secara terang-terangan maka tidak mengapa diselesaikan secara terang-terangan pula, sebab orang yang melakukan kemungkaran secara terang-terangan berarti dia telah memperlihatkan perbuatannya dan telah siap dengan resiko yang harus ditanggungnya.

 

Faidah amar makruf nahi munkar dan bahaya meremehkannya

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنـْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِـمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka kami menyelamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang yang berbuat dzalim siksaan yang keras disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al-A’raf [7]:165)

Dengan menegakkan amar makruf nahi munkar kita akan menemukan kehidupan yang baik, memiliki kewibawaan dan berada di atas umat-umat yang lain. Dengannya kita termasuk pembawa risalah dan sebagai saksi bagi manusia pada hari ditegakkannya kesaksian.

Apabila umat mau menegakkan urusan ini maka akan terwujud pula kemuliaan dan persatuan. Namun jika kita menyia-nyiakannya maka kita akan mendapatkan sesuatu yang pantas kita dapatkan meski sebenarnya sangat tidak kita kehendaki, yaitu kenistaan dan kehinaan.

Sebagaimana melaksanakan amar makruf nahi munkar mengandung banyak kemaslahatan bagi umat manusia di dunia maupun di akhirat, maka begitu pula sebaliknya, meninggalkan amar makruf nahi munkar akan menimbulkan berbagai kerusakan yang dapat menghilangkan ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan. Di antara kerusakan tersebut adalah: Pertama, kemaksiatan dan dosa akan semakin merajalela, keburukan dan kekejian akan terus bertambah dan pada akhirnya akan semakin sulit untuk dihilangkan. Pelakunya pun akan terus melakukan perbuatan nistanya, sehingga sedikit demi sedikit akan hilang cahaya kebenaran dari tengah-tengah umat manusia.

Kedua, Sikap diam orang-orang yang mampu menegakkan amar makruf nahi munkar akan membuat perbuatan tersebut terlihat biasa dan lumrah di mata masyarakat, mereka akan memakluminya, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku maksiat, dan hal ini adalah termasuk musibah dan bencana yang sangat besar.

Ketiga, Sikap tidak mau ber-amar makruf nahi munkar merupakan salah satu sebab hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Menyebarnya kemungkaran tanpa adanya seorang pun yang mengingkarinya akan membentuk anggapan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kemungkaran. Bahkan bisa jadi mereka melihatnya sebagai perbuatan yang baik untuk dikerjakan. Pada akhirnya, akan kian merajalela sikap menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah , dan mengharamkan hal-hal yamg dihalalkan oleh-Nya. Na’uzubillah.

Semua hal itu akan terjadi karena kita tidak mau mengambil peran dalam amar makruf nahi munkar. Selain itu keburukan lain dari ditinggalkannya amar makruf nahi munkar adalah setelah dahulunya menjadi kaum yang paling mulia kini menjadi kaum yang paling hina. Setelah dahulunya menjadi orang yang paling berwibawa namun kini menjadi orang yang paling nista. Setelah tadinya menjadi kaum terkemuka, namun kini menjadi kaum yang paling terbelakang. Setelah dulunya menjadi kaum pemimpin, kini menjadi kaum yang dipimpin. Setelah dulunya sebagai imam, namun kini sebagai makmum.

Maka, marilah kita terus ber-amar makruf dan nahi munkar dengan iman dan niat yang lurus, cara yang benar, cinta kasih, dakwah kepada Allah dengan hikmah, dan pelajaran yang baik, bukan dengan kekerasan dan cara-cara yang salah. Kita terus berjuang, beramar makruf nahi munkar, berdakwah dengan sabar, tegar terhadap halangan dan kesulitan-kesulitan yang kita temui. Kita semua berharap agar kebaikan terwujud di masyarakat Islam dan manusia secara umum, seperti dijanjikan Allah kepada kita. Tidak ada yang kita inginkan, kecuali perbaikan sesuai dengan kemampuan kita. Kita selalu memohon bimbingan dan kekuatan dari Allah semata. Cukuplah Allah bagi kita karena Dia sebaik-baik Pemelihara dan Pelindung. Wallahu a’lam (selesai)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.