Mencerahkan! Kajian AIK di PCM Grogol Kupas Thaharah dari Dimensi Aqidah
Kajian menghadirkan KH. Awaluddin Mufti Efendi, S.Pd.I., M.Si, anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Daerah Sukoharjo, sebagai narasumber. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Turba PDM Sukoharjo dalam rangka penguatan ideologi, pemahaman keislaman, serta pemantapan manhaj tarjih di lingkungan pimpinan cabang.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Awaluddin menegaskan bahwa kesucian (thaharah) dalam Islam tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga secara maknawi dan akidah. Hal ini ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa seorang mukmin pada hakikatnya tidaklah najis.
“Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin itu tidak najis. Najis secara maknawi adalah kesyirikan, bukan keimanan,” jelas Awaluddin.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 28 yang menyebutkan bahwa yang dinyatakan najis adalah orang-orang musyrik, bukan orang beriman. Dengan demikian, setiap mukmin yang tidak melakukan kesyirikan pada dasarnya adalah suci.
Materi kajian merujuk pada kitab Matan Fiqh Ghusl karya Ustadz KH. Sholahuddin Sirizar, Lc., M.A.. Salah satu pembahasan penting adalah penjelasan ayat lā yamassuhu illā al-muṭahharūn dalam QS. Al-Wāqi‘ah ayat 79. Menurut pemaparan narasumber, ayat tersebut tidak berkaitan dengan mushaf Al-Qur’an sebagaimana yang sering dipahami secara umum.
“Surah Al-Wāqi‘ah diturunkan di Makkah, jauh sebelum mushaf Al-Qur’an dibukukan pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan. Karena itu, ayat tersebut tidak berbicara tentang mushaf, melainkan tentang kesucian maknawi,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa menurut para mufassir, yang dimaksud al-muṭahharūn adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah, yakni mereka yang benar-benar beriman, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Kajian ini menekankan bahwa kesucian hati dan keimanan menjadi kunci utama untuk dapat menyentuh dan memahami kandungan serta makna Al-Qur’an secara hakiki. Dengan kajian AIK Turba ini, PDM Sukoharjo berharap Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di tingkat cabang semakin kokoh dalam pemahaman keislaman yang mencerahkan, berkemajuan, dan berlandaskan dalil yang kuat.

Tidak ada komentar