Shalat Syuruq, Ibadah Pagi yang Sarat Keutamaan
Shalat Syuruq, Ibadah Pagi yang
Sarat Keutamaan
Dosen Fakultas Agama Islam UMS
“Terdapat rentang waktu di pagi hari yang
lalai dilewatkan banyak muslim untuk beribadah. Padahal pahalanya setara haji
dan umrah.”
Bagi sebagian umat Islam, pagi hari setelah
shalat Subuh sering kali berlalu begitu saja. Padahal, dalam rentang waktu
tersebut terdapat satu amalan sunah yang memiliki keutamaan besar, yaitu shalat
Syuruq.
Shalat Syuruq kerap disebut memiliki pahala
setara haji dan umrah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ berikut ini:
مَنْ
صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ
الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ،
تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
“Barangsiapa yang shalat Subuh berjemaah,
kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua
rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna,
sempurna.” (HR. Tirmidzi)
Banyak Muslim masih kerap kebingungan tentang
shalat Syuruq. Apa sebenarnya shalat Syuruq itu? Kapan waktu terbaik untuk
mengerjakannya? Apakah shalat Syuruq berbeda dengan shalat Duha? Bagaimana niat
dan tata cara yang benar?
Pemahaman tentang shalat Syuruq perlu diletakkan
dalam kerangka fikih yang tepat agar tidak terjadi kekeliruan dalam
mengamalkannya.
Syuruq adalah Shalat Duha di Awal Waktu
Syuruq adalah sebutan bagi shalat Duha yang
dikerjakan pada awal waktunya. Ia bukan shalat sunah yang berdiri sendiri
sebagai ibadah terpisah.
Agar tidak membingungkan, shalat Syuruq juga
sering disebut sebagai shalat Isyraq. Ibadah ini merupakan bagian dari shalat
Duha, bukan amalan yang terpisah. Penjelasan ini merujuk pada keterangan para
ulama klasik yang tercatat dalam Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.
Penamaan “Isyraq” sendiri memiliki dasar dalam
Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Sad ayat 18, yang berbunyi sebagai berikut:
اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ
يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ
“Sesungguhnya Kami telah menundukkan
gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi
(isyraq).”
Sebagian ulama tafsir dari kalangan Syafi’iyah
menafsirkan kata isyraq dalam ayat tersebut sebagai waktu pelaksanaan
shalat, yaitu shalat Duha yang dikerjakan ketika matahari baru terbit dan mulai
meninggi.
Pemahaman tentang waktu Syuruq menjadi penting
agar ibadah ini tidak dilaksanakan pada waktu yang makruh. Waktu pelaksanaan
shalat Syuruq dimulai setelah matahari terbit dan meninggi setinggi satu
tombak, yakni ketika waktu larangan shalat setelah Subuh telah berakhir.
Secara perkiraan, waktu Syuruq berada sekitar
15–30 menit setelah matahari terbit. Rentang ini dipandang lebih aman dan lebih
hati-hati (ahwath) agar tidak jatuh pada waktu terlarang.
Apabila shalat Duha dikerjakan tepat pada awal
waktu tersebut, maka ia disebut shalat Syuruq atau Isyraq. Namun, jika
dikerjakan lebih siang, maka tetap disebut shalat Duha. Dengan demikian,
perbedaan istilah Syuruq dan Duha terletak semata pada waktu pelaksanaannya.
Tata Cara Shalat Syuruq
Keutamaan shalat Syuruq tidak terlepas dari tata
cara pelaksanaannya. Untuk memperoleh keutamaan tersebut, terdapat urutan
amalan yang perlu diperhatikan, di antaranya:
- Melaksanakan shalat Subuh secara berjemaah.
- Duduk di tempat shalat untuk berzikir serta tidak
melakukan aktivitas yang sia-sia.
- Menunggu hingga matahari terbit dan meninggi.
- Melaksanakan shalat dua rakaat.
Urutan ini penting. Jika seseorang datang
setelah matahari terbit tanpa mengikuti shalat Subuh berjemaah dan tanpa
berzikir sebelumnya, maka ia tetap memperoleh pahala shalat Duha. Namun, ia
tidak mendapatkan keutamaan khusus Syuruq atau Isyraq.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul
berkaitan dengan niat shalat Syuruq. Apakah ada bacaan niat khusus yang harus
dilafalkan?
Niat shalat Syuruq cukup diniatkan sebagai
shalat sunah Duha di dalam hati. Tidak ada tuntunan lafaz niat tertentu yang
dibaca secara lisan, karena niat pada hakikatnya merupakan amalan hati.
Karena shalat Syuruq atau Isyraq adalah bagian
dari shalat Duha, maka niatnya pun adalah niat shalat sunah Duha. Tidak
terdapat bacaan niat khusus yang diajarkan oleh Baginda Nabi ﷺ. Hal ini sejalan dengan tuntunan Muhammadiyah dalam Himpunan
Putusan Tarjih (HPT), yang menekankan kesederhanaan niat dan berpegang pada
dalil yang sahih.
Apa Doa Setelah Shalat Syuruq?
Tidak ada doa khusus setelah shalat Syuruq yang
secara spesifik dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Seorang Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa dan zikir
secara umum.
Karena waktu antara Subuh hingga terbit matahari
dianjurkan untuk diisi dengan zikir, maka setelah shalat Syuruq seseorang boleh
membaca doa apa pun yang bersifat umum sesuai dengan tuntunan sunah. Zikir
pagi, tasbih, tahmid, serta doa-doa kebaikan dunia dan akhirat merupakan amalan
yang dianjurkan untuk mengisi waktu tersebut.
Dalam perspektif Tarjih Muhammadiyah, shalat
Syuruq dipahami sebagai shalat Duha yang masyru’ (disyariatkan) apabila
dikerjakan pada awal waktu. Hal ini ditegaskan dalam Fatwa Tarjih Muhammadiyah
tahun 2009.
Mari mengamalkan shalat ini dengan benar,
semata-mata untuk meraih keutamaan besar yang dijanjikan Rasulullah ﷺ.
Sumber: Web UMS
Tidak ada komentar