Khutbah Jumat: Pelajaran Tauhid dari Peristiwa Pengangkatan Nabi Isa ‘alaihis salam
H. Aris Rakhmadi,
S.T., M.Eng.
Dosen Universitas
Muhammadiyah Surakarta
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ ٱلْإِيمَانِ وَٱلْإِسْلَامِ،
وَعَلَى مَا هَدَانَا إِلَىٰ صِرَاطِهِ ٱلْمُسْتَقِيمِ، وَنَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ
أَنْ يُثَبِّتَ قُلُوبَنَا عَلَى ٱلتَّوْحِيدِ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ عِبَادِهِ
ٱلْمُخْلَصِينَ ٱلَّذِينَ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ٱلَّذِي
بَلَّغَ ٱلرِّسَالَةَ وَأَدَّى ٱلْأَمَانَةَ وَدَعَا إِلَىٰ عِبَادَةِ ٱللَّهِ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّ
ٱلتَّقْوَىٰ هِيَ سَبَبُ ٱلنَّجَاةِ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ، وَبِهَا
يُثَبِّتُ ٱلْعَبْدَ عَلَى ٱلْحَقِّ عِنْدَ ظُهُورِ ٱلْفِتَنِ وَٱخْتِلَافِ
ٱلنَّاسِ فِي أُمُورِ ٱلدِّينِ. قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ
ٱلْكَرِيمِ:
﴿إِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ
إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ
فَوْقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴾.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Segala puji bagi
Allah ﷻ,
Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan
kesempatan sehingga kita dapat kembali berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan
ibadah shalat Jumat. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada
Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya,
karena hanya ketakwaan yang akan menjadi penyelamat kehidupan di dunia dan
akhirat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Di tengah berbagai
peringatan dan peristiwa yang berkaitan dengan Nabi Isa ‘alaihis salam,
seorang nabi mulia yang sangat dihormati dalam Islam, kita perlu memahami kisah
beliau dengan cahaya Al-Qur’an dan kemurnian tauhid. Peristiwa pengangkatan
Nabi Isa ‘alaihis salam bukan sekadar kisah sejarah, tetapi mengandung
pelajaran besar tentang kekuasaan Allah, kemuliaan para nabi, serta pentingnya
menempatkan manusia sesuai kedudukannya sebagai hamba Allah agar keimanan kita
tetap lurus dan tidak melampaui batas dalam memuliakan makhluk.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Allah ﷻ
membuka kisah keluarga Imran dengan penegasan tentang kemuliaan para nabi dan
orang-orang saleh yang dipilih-Nya. Allah ﷻ berfirman
dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 33:
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ
عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ
“Sesungguhnya
Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran atas
seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).”
Para nabi dan
keluarga, menurut ayat ini, yang dimuliakan Allah memperoleh kedudukan tinggi
bukan karena memiliki sifat ketuhanan, melainkan karena iman, tauhid, dan
ketaatan mereka kepada Allah. Nabi Adam ‘alaihis salam, Nabi Nuh ‘alaihis
salam, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, hingga keluarga Imran adalah
hamba-hamba pilihan yang menunjukkan ketundukan sempurna kepada Rabb semesta
alam. Maka, kemuliaan seorang nabi dalam Islam tidak pernah mengangkatnya
menjadi Tuhan atau menyisipkan unsur ilahi, melainkan justru menjadi teladan
penghambaan kepada Allah. Inilah fondasi tauhid yang penting untuk kita pahami
sebelum membahas kisah Nabi Isa ‘alaihis salam, agar kita dapat
menempatkan beliau sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an: sebagai nabi yang
mulia, hamba Allah, dan utusan-Nya.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Dalam Surah Ali
'Imran, Allah ﷻ juga menjelaskan kemuliaan
Maryam sebagai wanita suci yang kehormatannya dijaga. Allah memilih Maryam
untuk menerima kabar agung tentang kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam
tanpa ayah. Allah ﷻ berfirman dalam QS Ali
Imran/3 ayat 45:
اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى
ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ
(Ingatlah) ketika
Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar
gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang diciptakan) dengan kalimat
dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di
akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).
Kelahiran
Nabi Isa ‘alaihis salam tanpa ayah adalah mukjizat besar yang menunjukkan
kekuasaan Allah, namun mukjizat itu tidak pernah menjadikan Nabi Isa ‘alaihis salam
Tuhan. Sebab Allah juga telah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam
dalam keadaan yang lebih menakjubkan, tanpa ayah dan tanpa ibu. Dalam QS. Ali
Imran/3 ayat 59 Allah ﷻ
menegaskan:
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ
ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Sesungguhnya
perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia
menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka,
jadilah sesuatu itu.
Karena
itu, setiap mukjizat para nabi seharusnya semakin menguatkan tauhid kita kepada
Allah, bukan justru mengangkat manusia menjadi sesembahan selain-Nya. Semua terjadi
semata-mata karena kehendak dan kekuasaan Allah Rabbul ‘alamin.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Nabi
Isa ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada Bani Israil bukan untuk
mengajak manusia menyembah dirinya, melainkan untuk menegakkan tauhid dan
mengajak manusia kembali beribadah hanya kepada Allah ﷻ. Beliau membenarkan kitab Taurat yang telah diturunkan sebelumnya
dan menjadi rasul yang membawa petunjuk bagi kaumnya. Allah ﷻ berfirman dalam QS Ali 'Imran/3 ayat 49:
وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙ
(Allah akan
menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,)
“Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu.”
Beliau datang
membawa mukjizat atas izin Allah, namun seluruh
mukjizat itu justru menjadi bukti bahwa Nabi Isa adalah
hamba dan utusan
Allah. Oleh karena
itu, inti dakwah Nabi Isa ‘alaihis salam adalah ajakan kepada tauhid. Allah ﷻ mengabadikan perkataan beliau:
اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
Sesungguhnya Allah
itu Tuhanku dan Tuhanmu. Oleh karena itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang
lurus.”
Inilah inti ajaran
seluruh nabi dan rasul: memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Maka mencintai
Nabi Isa ‘alaihis salam dalam Islam adalah dengan memuliakannya sebagai
nabi yang agung, mengikuti ajaran tauhidnya, dan tidak melampaui batas dalam
memujinya hingga menempatkannya pada kedudukan ketuhanan.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Ketika dakwah Nabi
Isa ‘alaihis salam semakin jelas menyeru manusia kepada tauhid, sebagian
kaum Bani Israil justru menolak dan merencanakan makar untuk mencelakakan
beliau. Mereka tidak menyukai kebenaran yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihis
salam. Namun dalam kehidupan ini, sebesar apa pun rencana manusia,
keputusan tertinggi tetap
berada di tangan
Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali 'Imran/3 ayat 54:
وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ ࣖ
Mereka
(orang-orang kafir) membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya
(mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Ayat
ini mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang memusuhi kebenaran mungkin mampu menyusun rencana,
menyebarkan kebencian, bahkan
melakukan kezaliman. Akan tetapi, Allah adalah penguasa seluruh langit
dan bumi. Tidak ada satu pun rencana manusia yang dapat mengalahkan
kehendak-Nya. Karena itu seorang mukmin tidak boleh putus asa ketika menghadapi
tekanan, hinaan, ataupun fitnah dalam mempertahankan iman dan kebenaran.
Pertolongan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat menurut hikmah-Nya.
Kemudian Allah menunjukkan kemuliaan
yang diberikan kepada
Nabi Isa ‘alaihis salam dengan menyelamatkan dan mengangkat beliau. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali Imran/3 ayat 55:
اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ
وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا
(Ingatlah) ketika
Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu, mengangkatmu
kepada-Ku, menyucikanmu dari orang-orang yang kufur.”
Peristiwa
pengangkatan Nabi Isa ‘alaihis salam merupakan bukti kekuasaan Allah dan
kemuliaan yang diberikan kepada nabi-Nya. Allah mampu menyelamatkan siapa pun
yang Dia kehendaki dengan cara yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia.
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa para nabi adalah hamba-hamba pilihan yang
dijaga oleh Allah, bukan sosok yang memiliki kekuasaan ketuhanan. Justru
seluruh kisah ini semakin menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya pemilik
kekuasaan mutlak, pengatur kehidupan, pemberi pertolongan, dan tempat
bergantung bagi seluruh makhluk.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Dari seluruh kisah
Nabi Isa ‘alaihis salam yang dijelaskan dalam Al-Qur'an, kita memahami
bahwa beliau adalah hamba Allah dan rasul mulia-Nya. Beliau lahir dengan
mukjizat, berdakwah dengan hikmah, serta diangkat dan diselamatkan oleh Allah
dari makar orang-orang kafir. Namun, semua itu tidak menjadikan Nabi Isa ‘alaihis
salam sebagai Tuhan atau memberikan-Nya sifat ketuhanan. Kekuasaan mutlak
tetap hanya milik Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Karena
itu, Islam mengajarkan keseimbangan: mencintai dan menghormati seluruh nabi,
tetapi tidak melampaui batas dalam memuliakan mereka. Sebab keselamatan hidup
di dunia dan akhirat terletak pada tauhid yang murni, yaitu menyembah Allah
semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.
Maka marilah kita
memperkuat iman dan menjaga kemurnian akidah di tengah berbagai fitnah zaman
ini. Jadikan kisah para nabi sebagai pelajaran untuk semakin dekat kepada
Allah, memperbanyak ketaatan, dan memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah tempat
bergantung dan memohon pertolongan. Hormatilah seluruh nabi dan rasul
sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, tanpa merendahkan dan tanpa berlebihan.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas tauhid hingga akhir hayat,
mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh, serta menjadikan kita hamba-hamba
yang istiqamah di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ ٱللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي
هَٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ ٱللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ ٱلْمُسْلِمِينَ
وَٱلْمُسْلِمَاتِ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ
ٱللَّهِ وَرَسُولُهُ. ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِهِ ٱلطَّيِّبِينَ ٱلطَّاهِرِينَ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ،
وَعَلَى ٱلتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Marilah kita mengambil
pelajaran dari kisah Nabi Isa ‘alaihis salam yang telah dijelaskan dalam
Al-Qur'an. Semua mukjizat, kemuliaan, dan peristiwa pengangkatan beliau
merupakan tanda kekuasaan Allah ﷻ
serta bukti bahwa para nabi adalah hamba-hamba pilihan
yang diutus untuk mengajarkan tauhid. Nabi Isa ‘alaihis salam datang menyeru
manusia agar menyembah Allah semata, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, serta
mengajarkan jalan yang lurus. Oleh karena itu, seorang Muslim mencintai dan
memuliakan Nabi Isa ‘alaihis salam sebagaimana ajaran Islam, tanpa
mengurangi kemuliaannya dan tanpa melampaui batas hingga menempatkan beliau
pada kedudukan ketuhanan. Sebab hanya Allah, satu-satunya Rabb, yang berhak
disembah dan menjadi tempat bergantung bagi seluruh makhluk.
Maka marilah kita
menjaga kemurnian iman dan ketakwaan di tengah berbagai fitnah pemikiran serta
perbedaan keyakinan di zaman ini. Jadikan kisah para nabi sebagai penguat
keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu bersama orang-orang yang beriman dan istiqamah
pada kebenaran. Perkuat ibadah, perbanyak dzikir dan amal saleh, serta tanamkan
dalam hati bahwa keselamatan hidup di dunia dan akhirat hanya dapat diraih melalui
tauhid yang murni. Semoga Allah ﷻ
meneguhkan hati kita di atas agama-Nya, menjaga
keluarga dan keturunan kita dalam iman, serta mengumpulkan kita kelak bersama
para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ
وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ ٱلْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ
وَجْهِكَ ٱلْكَرِيمِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ
إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
ٱللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ
وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ
مُجِيبُ ٱلدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ ٱلْحَاجَاتِ، ٱللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ
سَلَامَةً فِي ٱلدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي ٱلْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي ٱلْعِلْمِ،
وَبَرَكَةً فِي ٱلرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ ٱلْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ
ٱلْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ ٱلْمَوْتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ
ٱلرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا
مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا.
ٱللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ ٱلْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى
ٱلتَّوْحِيدِ وَٱلْإِيمَانِ، وَٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلْمُخْلَصِينَ
ٱلَّذِينَ يَعْبُدُونَكَ وَلَا يُشْرِكُونَ بِكَ شَيْئًا. ٱللَّهُمَّ ٱرْزُقْنَا
فَهْمًا صَحِيحًا لِدِينِكَ، وَٱجْعَلِ ٱلْقُرْآنَ ٱلْكَرِيمَ نُورًا لِقُلُوبِنَا
وَهُدًى لِحَيَاتِنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَىٰ صِرَاطِكَ ٱلْمُسْتَقِيمِ حَتَّىٰ
نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.
ٱللَّهُمَّ كَمَا أَكْرَمْتَ أَنْبِيَاءَكَ وَرُسُلَكَ وَعَظَّمْتَ
قُدْرَتَكَ، فَٱحْفَظْ أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنَ ٱلْفِتَنِ مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يَعْتَصِمُونَ
بِأَنْبِيَائِكَ بِٱلْحَقِّ، وَيَهْتَدُونَ بِهَدْيِهِمْ، وَلَا يَغْلُونَ فِي
دِينِهِمْ وَلَا يَنْحَرِفُونَ عَنْ سَبِيلِكَ. ٱللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى
ٱلْإِيمَانِ وَٱلتَّوْحِيدِ، وَأَمِتْنَا عَلَى ٱلْإِسْلَامِ وَٱلسُّنَّةِ،
وَٱحْشُرْنَا مَعَ ٱلنَّبِيِّينَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَاءِ وَٱلصَّالِحِينَ،
يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِينَ، وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ.
Tidak ada komentar