Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Jalan Cinta kepada Allah ﷻ
Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah
Sukoharjo, Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah Angkatan 3
Tauhid dalam Mahabbah, Khauf, dan Raja’
Di tengah kehidupan manusia yang dipenuhi berbagai
bentuk kecintaan—kepada harta, keluarga, pujian, jabatan, bahkan dirinya
sendiri—Islam datang mengajarkan bahwa cinta tertinggi hanya pantas diberikan
kepada Allah ﷻ. Karena hakikat tauhid bukan sekadar mengenal Allah sebagai
Pencipta, tetapi juga memurnikan seluruh bentuk penghambaan hati hanya
kepada-Nya.
Inilah jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam; jalan tauhid yang dibangun di atas mahabbah (cinta), khauf (takut),
dan raja’ (harap) kepada Allah. Allah ﷻ berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا
أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar
cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti keimanan adalah
kecintaan kepada Allah yang melebihi segala sesuatu. Karena itu, para ulama
menjelaskan bahwa ibadah bukan hanya gerakan tubuh, tetapi juga amalan hati.
Seseorang mungkin shalat, berpuasa, dan berdzikir, namun apabila hatinya lebih
dipenuhi kecintaan kepada dunia daripada kepada Allah, maka tauhid dalam
hatinya masih lemah. Oleh sebab itu, para nabi diutus untuk memurnikan cinta
manusia agar hanya bergantung kepada Allah semata.
Cinta yang Mengalahkan Segalanya
Di antara manusia yang paling sempurna dalam tauhidnya
adalah Nabi Ibrahim عليه
السلام. Bahkan Allah memberinya kedudukan mulia sebagai
khalilullah—kekasih Allah. Allah ﷻ berfirman,
وَاتَّخَذَ اللَّهُ
إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil
(kekasih-Nya).” (QS. An-Nisa’: 125)
Para ulama menjelaskan bahwa khullah adalah tingkatan cinta tertinggi. Ibnul
Qayyim رحمه الله berkata,
وَالْخُلَّةُ هِيَ
أَعْلَى أَنْوَاعِ الْمَحَبَّةِ
“Khullah adalah tingkatan cinta yang paling tinggi.”
(Madarij as-Salikin, 3/29)
Karena itulah kehidupan Nabi Ibrahim dipenuhi
pengorbanan demi menjaga tauhid. Beliau rela meninggalkan negerinya, berpisah
dengan keluarganya, bahkan dilempar ke dalam api demi mempertahankan ibadah
hanya kepada Allah.
Tauhid Selalu Diuji pada Hal yang Paling
Dicintai
Puncak ujian cinta itu tampak ketika Allah
memerintahkannya untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail عليه السلام. Allah ﷻ berfirman:
يَا بُنَيَّ إِنِّي
أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Perintah ini bukan sekadar ujian fisik, tetapi ujian
hati: siapa yang paling dicintai? Ismail adalah anak yang lama dinanti di usia
tua, penyejuk mata, dan harapan keluarga. Namun ketika cinta kepada anak
berhadapan dengan cinta kepada Allah, Nabi Ibrahim memilih Allah. Di sinilah
tampak bahwa mahabbah yang benar selalu melahirkan ketaatan dan pengorbanan.
Semakin Mengenal Allah, Semakin Takut kepada-Nya
Namun ibadah tidak dibangun di atas cinta semata.
Seorang mukmin juga harus memiliki khauf, yaitu rasa takut kepada Allah. Takut
yang dimaksud bukan ketakutan yang membuat seseorang putus asa, tetapi rasa
takut yang menjaga hati dari dosa dan kesombongan. Menariknya, meskipun Nabi
Ibrahim adalah imam tauhid dan penghancur berhala, beliau tetap takut dirinya
dan keturunannya terjatuh ke dalam syirik. Dalam doanya beliau berkata,
وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah
berhala.” (QS. Ibrahim: 35)
Nabi Ibrahim Saja Takut Syirik, Lalu Bagaimana
dengan Kita?
Perhatikanlah, seorang nabi yang sangat kokoh tauhidnya ternyata masih takut
terhadap syirik. Karena itulah seorang tabi’in bernama Ibrahim At-Taimi رحمه الله berkata,
وَمَنْ يَأْمَنُ
الْبَلَاءَ بَعْدَ إِبْرَاهِيمَ؟
“Siapa yang merasa aman dari ujian setelah Ibrahim?”
(Tafsir Ibnu Katsir pada tafsir QS. Ibrahim: 35)
Ucapan ini mengajarkan bahwa rasa aman dari kesesatan
justru bisa menjadi awal kehancuran. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin
ia takut amalnya tidak diterima dan takut hatinya berpaling dari kebenaran.
Harapan yang Tidak Pernah Padam kepada Allah
Selain cinta dan takut, jalan para nabi juga dipenuhi
raja’, yaitu harapan besar kepada rahmat Allah. Raja’ bukan sekadar angan-angan
kosong, melainkan harapan yang disertai amal dan ketundukan. Nabi Ibrahim
menunjukkan hal ini ketika membangun Ka’bah bersama Ismail. Walaupun beliau
sedang melakukan amal yang sangat agung, beliau tetap berdoa,
رَبَّنَا تَقَبَّلْ
مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Rabb kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:
127)
Orang Beriman Tidak Pernah Ujub terhadap Amal
Beginilah keadaan hati orang-orang beriman. Mereka
tidak ujub terhadap amalnya dan tidak merasa pasti diterima. Mereka terus
berharap kepada rahmat Allah sambil terus memperbaiki diri. Harapan inilah yang
membuat seorang hamba tetap hidup meski berkali-kali jatuh dalam dosa, karena
ia yakin pintu taubat Allah tidak pernah tertutup.
Cinta adalah Kepala, Takut dan Harap adalah
Sayapnya.
Para ulama salaf menjelaskan bahwa keseimbangan antara
mahabbah, khauf, dan raja’ adalah inti perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata,
القَلْبُ فِي سَيْرِهِ
إِلَى اللَّهِ كَالطَّائِرِ، الْمَحَبَّةُ رَأْسُهُ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ
جَنَاحَاهُ
“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti
seekor burung; cinta adalah kepalanya, sedangkan takut dan harap adalah kedua
sayapnya.” (Madarij as-Salikin, 1/517)
Apabila salah satu unsur ini hilang, maka ibadah
menjadi pincang. Cinta tanpa takut bisa membuat seseorang meremehkan dosa.
Takut tanpa harap dapat menjerumuskan kepada putus asa. Sedangkan harapan tanpa
amal hanya akan menjadi angan-angan kosong. Adapun jalan Nabi Ibrahim adalah
jalan yang seimbang: mencintai Allah sepenuh hati, takut kepada-Nya dengan
penuh ketundukan, dan berharap kepada rahmat-Nya dalam setiap keadaan.
Siapa yang Paling Memenuhi Hati Kita?
Mungkin selama ini kita merasa telah beribadah kepada
Allah, tetapi pertanyaan besarnya adalah: siapakah yang paling memenuhi hati
kita? Sebab seseorang akan selalu bergerak menuju apa yang paling ia cintai,
paling ia takutkan, dan paling ia harapkan.
Nabi Ibrahim
mengajarkan bahwa tauhid bukan sekadar mengesakan Allah dalam ucapan, tetapi
menjadikan Allah:
- -
pusat cinta,
- -
tempat bergantung,
- -
sumber harapan, dan
- -
satu-satunya yang paling
ditakuti.
Ketika cinta kepada
Allah memenuhi hati, maka pengorbanan terasa ringan. Ketika takut kepada Allah
hidup dalam jiwa, maka dosa mulai dijauhi. Dan ketika harapan kepada Allah
tetap menyala, maka seorang hamba tidak akan pernah benar-benar putus asa.
Barangkali masalah terbesar kita hari ini bukan
kurangnya aktivitas ibadah, tetapi hati yang terlalu penuh dengan selain Allah.
Maka jalan Nabi
Ibrahim adalah jalan untuk kembali:
- -
membersihkan hati,
- -
memurnikan cinta, dan
- -
menyerahkan hidup sepenuhnya
hanya kepada Allah ﷻ. (*)
Tidak ada komentar