Khutbah Idul Adha: Bapak-Anak Bersatu dalam Ketaatan, Bukan Kemaksiatan
Bapak-Anak Kompak: Bersatu dalam Ketaatan, Bukan
Kemaksiatan
Harjanto, S.Pd.I, M.Pd
Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا
بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ
وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ
تَعَالَى: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ
أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Hari
ini, kita kembali merasakan nikmat dan karunia Allah dengan berkumpul di tempat
yang mulia ini, menggemakan takbir, tahlil, dan tahmid, menyambut Hari Raya
Iduladha. Sebuah hari yang bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah
monumen agung yang mengingatkan akan puncak ketundukan, ketaatan, dan
pengorbanan hamba kepada Rabb-nya. Di balik setiap kumandang takbir, kita
diingatkan pada jejak-jejak keteladanan seorang hamba Allah yang begitu agung,
yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Marilah
kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan
bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah, tetapi juga dalam kuatnya iman,
besarnya pengorbanan, dan luasnya kepedulian terhadap sesama.
اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak bapak dan
anak hidup kompak. Oleh karena itu, pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib
mengambil tema: “Bapak dan Anak Kompak”. Bukan kompak dalam kemaksiatan, bukan
kompak dalam korupsi, bukan kompak dalam menzalimi, bukan pula kompak dalam
mencaci maki dan sebagainya. Bukan pula kompak mengubah slogan: ing ngarso
numpuk bondo, ing madya nendang konco, tut wuri golek rai. Akan tetapi,
kompak dalam ketaatan, yaitu tunduk dan patuh mengikuti perintah Sang Pencipta.
Rela mengorbankan sesuatu yang dicintai sebagai bukti ketakwaan kepada Sang
Ilahi.
Siapakah bapak dan anak tersebut? Tidak lain dan tidak
bukan adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Ismail ‘alaihis
salam.
Ketika telah lanjut usia dan belum mempunyai putra,
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memohon kepada Allah agar diberi seorang
putra, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya
Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang
saleh.”
Kemudian Allah memberikan kabar gembira dengan
mengabulkan permintaannya, yaitu menganugerahkan seorang putra, sebagaimana
disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 101:
فَبَشَّرْنَاهُ
بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka
Kami memberi dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat penyantun.”
اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Sungguh
merupakan suatu kebahagiaan ketika permohonan dan harapan menjadi kenyataan,
yaitu dianugerahi seorang putra yang diharapkan menjadi generasi penerus dalam
melanjutkan misi dakwahnya. Namun, ketika Ismail telah dewasa, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam untuk menyembelih Ismail. Mengorbankan sesuatu yang paling dinanti
dan dicintainya.
Sungguh berat rasanya melaksanakan perintah tersebut.
Akan tetapi, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tetap teguh menjalankan
perintah Allah ﷻ, dan Nabi Ismail ‘alaihis salam pun taat terhadap
perintah Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka
ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab:
‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
Dalam ayat tersebut, tampak bahwa bapak dan anak
begitu kompak dalam ketaatan, tunduk, dan berserah diri kepada Allah. Sang
bapak rela mengorbankan anak yang dimiliki dan dicintainya, sedangkan sang anak
rela mengorbankan dirinya untuk disembelih sebagai bukti ketundukan dan
kepatuhan terhadap perintah Ilahi. Tidak protes, tidak lari, dan tidak melawan.
Bahkan, ia justru memerintahkan ayahnya untuk melaksanakan perintah tersebut
seraya berkata bahwa, insyaallah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar.
Mengapa Ismail begitu taat? Karena sejak kecil ia
dibesarkan dalam rumah tauhid. Anak tidak serta-merta menjadi saleh. Anak akan
meniru apa yang dilihat dari bapaknya. Oleh karena itu, berilah teladan yang
baik kepada anak-anak kita.
اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Ismail ‘alaihis
salam kompak dalam ketaatan dan kebaikan. Apakah kesengsaraan yang mereka
dapatkan? Tidak. Justru kebahagiaanlah yang diperoleh ketika taat kepada
perintah Allah. Nabi Ismail ‘alaihis salam tidak jadi disembelih,
melainkan digantikan dengan seekor gibas yang besar. Betapa bahagianya ketika
anak yang dicintai tidak jadi meninggal, bahkan Allah memberikan pengganti
berupa seekor gibas.
Sebagaimana disebutkan dalam Surah Ash-Shaffat
ayat 107:
وَفَدَيْنَاهُ
بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
Selain itu, nama beliau diabadikan dengan pujian di
kalangan orang-orang yang datang setelahnya serta mendapatkan salam
kesejahteraan dalam kehidupannya.
وَتَرَكْنَا
عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ كَذَٰلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim pujian
yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ‘Selamat sejahtera bagi
Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (Qs. Ash Shoffat :107-111)
اللهُ
أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada
hari ini, kita melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk ketaatan
terhadap perintah Allah ﷻ yang
tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Kautsar ayat 2:
﴿
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴾
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan
berkurbanlah.”
Maka, jangan ragu dan jangan bimbang untuk berkurban.
Bukan kesengsaraan yang akan kita dapatkan, melainkan kebahagiaan, baik di
dunia maupun di akhirat.
Di dunia, kurban menjadi sarana untuk mendekatkan diri
kepada Allah ﷻ. Sebab, kata kurban berasal dari kata qaruba–yaqrubu–qurban
(قَرُبَ – يَقْرُبُ – قُرْبًا) yang bermakna dekat atau mendekat. Ketika dekat dengan Sang
Pencipta, hidup akan terasa bahagia. Hati menjadi tenang, tenteram, dan jauh
dari kegelisahan hidup.
Allah ﷻ akan
memberikan keberkahan rezeki, mengganti harta yang kita nafkahkan di jalan-Nya
dengan ganjaran yang melimpah, serta melapangkan rezeki dari arah yang tidak
disangka-sangka.
﴿
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾
“Barang
siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq:
2–3)
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Di
akhirat, akan mendapatkan pahala berkurban setiap bulunya satu kebaikan. Hadis
riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dari sahabat Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu:
قَالُوا: فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: «بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ» قَالُوا: فَالصُّوفُ؟ قَالَ: بِكُلِّ
شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ
Para sahabat bertanya, “Lalu apa yang akan kami
peroleh dari kurban ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada setiap helai
bulunya terdapat satu kebaikan.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana dengan bulu
wolnya?” Beliau menjawab, “Pada setiap helai bulu wolnya terdapat satu
kebaikan.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Mayoritas ulama ahli hadis memandang sanad hadis ini
memiliki kelemahan (daif) karena adanya perawi bernama Abu Daud Al-A‘ma. Namun,
maknanya sering digunakan oleh para ulama untuk memotivasi umat Islam agar
tidak ragu dalam berkurban.
Hewan
kurban akan menjadi kendaraan di atas jembatan (shirath) bersumber dari
sebuah riwayat yang sangat populer di dalam kitab-kitab fikih klasik:
عَظِّمُوا ضَحَايَاكُمْ فَإِنَّهَا عَلَى
الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
“Besarkanlah hewan-hewan kurbanmu, karena sesungguhnya
hewan-hewan itu akan menjadi kendaraan kalian di atas shirath (jembatan).”
Sebagian ulama menilai hadis ini lemah (daif). Namun,
maknanya digunakan untuk memotivasi semangat umat Islam dalam berkurban.
Allah
akan mengampuni dosa pada tetesan darah yang pertama bersumber dari hadis saat
Rasulullah ﷺ
berbicara kepada putrinya, Fatimah Radhiyallahu ‘anha:
يَا فَاطِمَةُ قُومِي إِلَى أُضْحِيَّتِكِ
فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّ لَكِ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا يُغْفَرُ
لَكِ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِكِ
"Wahai Fatimah, bangkitlah dan saksikanlah korbanmu. Karena
sesungguhnya pada tetesan darahnya yang pertama, akan diampuni dosa-dosamu yang
terdahulu." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaki, Hadis ini dinilai
daif oleh sebagian ulama)
Kurban
sebagai benteng atau hijab dari api neraka bersumber dari hadis riwayat Imam
At-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dari sahabat Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhu:
مَنْ ضَحَّى طَيِّبَةً نَفْسُهُ
مُحْتَسِبًا لِأُضْحِيَّتِهِ، كَانَتْ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berkurban dengan kelapangan dada (ikhlas)
dan mengharap pahala dari kurbannya, maka kurban itu akan menjadi hijab
(pembatas/perisai) baginya dari api neraka." (HR.
At-Thabarani)
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ
أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketika
bapak dan anak kompak dalam ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta saling
mendukung dalam berkurban, ketahuilah bahwa di situlah pintu-pintu kebahagiaan
dunia dan akhirat akan dibukakan selebar-lebarnya oleh Allah ﷻ. Rumah tangga akan dipenuhi kedamaian,
rezeki akan diberkahi, dan kelak di akhirat kita akan dikumpulkan bersama di
dalam surga-Nya.
Hari ini Allah tidak meminta kita menyembelih anak
sebagaimana yang dialami Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah hanya
meminta sedikit dari harta yang kita miliki. Maka sungguh mengherankan apabila
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mampu menyerahkan anaknya, sementara kita
belum mampu menyerahkan sebagian rezeki kita.
Bagi kaum muslimin yang pada tahun ini belum dapat
berkurban, jangan berkecil hati. Teruslah memohon kepada Allah ﷻ agar pada
tahun yang akan datang diberikan kemudahan untuk berkurban. Aamiin ya Rabbal
‘alamin.
ا اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ.
يَا رَبَّنَا لَكَ
الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ
الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ
عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ
مِنَّا ضَحَايَانَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ، يَا كَرِيمُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Tidak ada komentar