Header Ads

Header ADS

Menyampaikan Kebenaran dengan Hikmah, Meski Terasa Pahit


Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh pemberitaan tentang seorang ustadz yang mendapat kritik dari sebagian netizen setelah menyampaikan tausiyah dalam acara pernikahan seorang artis. Ceramah tersebut dinilai menyinggung hal-hal yang dianggap sensitif. Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, peristiwa semacam ini mengingatkan kita pada satu pertanyaan penting: apakah seorang dai harus menyembunyikan kebenaran demi menjaga kenyamanan pendengarnya?

Jika memperhatikan pokok-pokok yang dipersoalkan, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang keluar dari koridor dakwah. Apa yang disampaikan hanyalah perkara-perkara yang memang telah dikenal dalam syariat. Bukankah salah satu tugas seorang ustadz adalah menyampaikan kebenaran, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar)?

Tidak dapat dimungkiri, seorang dai terkadang berada pada situasi yang tidak mudah. Ada kalanya ia diminta mengisi tausiyah dalam sebuah acara, sementara di dalam acara tersebut terdapat hal-hal yang secara syariat tidak dibenarkan dan dilakukan secara terbuka. Dalam kondisi seperti itu, diam bukanlah selalu pilihan terbaik. Selama diberi kesempatan berbicara, maka kebenaran tetap perlu disampaikan, tentu dengan bahasa yang santun, penuh hikmah, serta tetap menjaga adab kepada tuan rumah dan seluruh hadirin.

Cara penyampaiannya pun sangat menentukan. Islam tidak mengajarkan dakwah dengan caci maki atau dengan sengaja mempermalukan orang lain. Sebaliknya, nasihat hendaknya disampaikan dengan kelembutan, penuh kasih sayang, dan disertai doa agar Allah ï·» memberikan hidayah kepada semua yang hadir. Apabila perlu, seorang dai juga dapat menyampaikan permohonan maaf apabila nasihatnya terasa berat diterima, bukan karena ia ragu terhadap kebenaran yang disampaikan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada pihak yang mengundangnya.

Di sisi lain, ada pula yang memilih menghindari undangan karena mengetahui akan ada kemungkaran dalam acara tersebut. Sikap seperti ini tentu memiliki pertimbangan masing-masing. Namun, selama kehadiran seorang dai masih membuka peluang untuk menyampaikan nasihat dan mengingatkan dengan cara yang baik, maka kesempatan tersebut justru dapat menjadi sarana dakwah yang sangat berharga. Bisa jadi satu kalimat yang disampaikan dengan ikhlas menjadi sebab terbukanya hati seseorang untuk berubah.

Seorang dai juga tidak semestinya menjadikan penerimaan masyarakat sebagai ukuran utama dalam berdakwah. Jika karena menyampaikan kebenaran kemudian ia tidak lagi diundang di acara yang lain, hal itu bukanlah kerugian selama ia telah menunaikan amanah yang Allah ï·» bebankan kepadanya. Yang lebih dikhawatirkan justru ketika seorang dai mengetahui adanya kemungkaran, tetapi memilih diam demi menjaga popularitas, kehormatan, atau kenyamanan dirinya.

Tentu saja, menyampaikan kebenaran bukan berarti boleh bersikap kasar, merendahkan, atau merasa paling benar. Kebenaran harus dibungkus dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana Allah ï·» berfirman,

اُدْعُ اِÙ„ٰÙ‰ سَبِÙŠْÙ„ِ رَبِّÙƒَ بِالْØ­ِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ الْØ­َسَÙ†َØ©ِ ÙˆَجَادِÙ„ْÙ‡ُÙ…ْ بِالَّتِÙŠْ Ù‡ِÙŠَ اَØ­ْسَÙ†ُۗ

" Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik."
(QS. An-Nahl [16]: 125)

Prinsip dakwah inilah yang harus selalu dijaga: kebenaran tidak dikurangi, tetapi cara penyampaiannya tetap mengedepankan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.

Rasulullah ï·º juga telah memberikan teladan kepada para sahabat agar tidak takut menyampaikan kebenaran, meskipun terasa pahit. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata:

ÙˆَØ£َÙ…َرَÙ†ِÙŠ Ø£َÙ†ْ Ø£َÙ‚ُولَ بِالْØ­َÙ‚ِّ ÙˆَØ¥ِÙ†ْ Ùƒَانَ Ù…ُرًّا

"Beliau memerintahkanku untuk mengatakan yang benar walaupun itu pahit."
(HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak boleh menyembunyikan kebenaran hanya karena khawatir kehilangan simpati manusia. Selama yang disampaikan benar menurut syariat, dilakukan dengan ilmu, adab, dan hikmah, maka itulah bagian dari amanah dakwah yang harus ditunaikan.

Pada akhirnya, dakwah bukanlah upaya mencari tepuk tangan atau pujian manusia. Dakwah adalah ikhtiar mengajak manusia menuju jalan Allah ï·». Tugas seorang dai adalah menyampaikan, sedangkan hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah ï·». Karena itu, jangan sampai rasa takut terhadap penilaian manusia membuat kita mengurangi atau menyembunyikan kebenaran. Sampaikanlah dengan ilmu, dengan hikmah, dengan kasih sayang, dan dengan keikhlasan. Mudah-mudahan Allah ï·» menjadikan setiap nasihat sebagai sebab datangnya hidayah dan kebaikan bagi banyak orang. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.