Header Ads

Header ADS

Hukum Shalawat Nariyah dan Shalawat Badar


Pertanyaan:

Bagaimana hukum shalawat nariyah dan shalawat badar?


Hukum Menutup Khutbah Jumat dengan Salam

Jawab:

Lafadz shalawat nariyah antara lain sebagai berikut:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ


“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau (bukan karena Allah-red) semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat diri beliau  yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarga beliau serta para sahabat beliau, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Konon jika membaca shalawat ini sebanyak 4444 kali, sebagian orang meyakini akan dimudahkan semua rizki dan dihilangkan semua penyakit.

Paling tidak ada dua kesalahan yang terdapat pada shalawat ini:

Pertama, di dalamnya terkandung makna ber-wasilah/tawassul dengan perantara Nabi Muhammad , seperti pada lafadz  تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ dst, mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad mampu mengurai berbagai ikatan kesulitan dan menjadi solusi untuk segala kesusahan, pada pernyataan tersebut ada unsur tawassul syirik yang jelas dilarang. Antara lain bertentangan dengan QS. Al A’raf/7  ayat 188, Allah berfirman:

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُۛ اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ۝١٨٨

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.”

Kedua, shalawat tersebut lazim dibaca dengan bilangan tertentu dan waktu tertentu, yang kedua hal tersebut memerlukan dalil yang shahih dalam pengkhususannya, sehingga rentan untuk terjatuh ke dalam bid’ah.

Adapun lafadz shalawat badar antara lain sebagai berikut (sebenarnya ada lebih dari 25 bait, namun kami tuliskan secukupnya):

صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ اللهِ عَلَى طه رَسُولِ اللهِ — صَلَاةُ اللهِ سَلَامُ اللهِ عَلَى يس حَبِيبِ اللهِ

تَوَسَّلْنَا بِبِسْمِ اللهِ وَبِالْهَادِي رَسُولِ اللهِ — وَكُلِّ مُجَاهِدٍ لِلَّهِ بِأَهْلِ الْبَدْرِ يَا اللهُ

“Semoga rahmat dan keselamatan Allah senantiasa tercurah kepada Thaha, utusan Allah. Semoga rahmat dan keselamatan Allah senantiasa tercurah kepada Yasin, kekasih Allah.

Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan Rasulullah, Sang Pemberi Petunjuk. Dan dengan setiap orang yang berjihad karena Allah, dengan para Ahli Badar, wahai Allah.”

Hampir sama dengan shalawat nariyah, untuk shalawat badar ini juga terkandung makna ber-wasilah/tawassul dengan diri Rasulullah dan para mujahidin dalam perang Badar, selain itu ada pemberian nama baru untuk Rasulullah yaitu يس  dan طه  yang tidak ada sandaran dalil sama sekali.

Karena dalam tinjauan aqidah Islam kedua shalawat tadi tidak terlepas dari masalah, maka hendaknya kita berpegang kepada petunjuk Rasulullah dalam bershalawat, dengan membaca shalawat yang standar, seperti lafadz “Allahumma shalli ‘ala Muhammad” atau shalawat yang kita baca dalam shalat kita. Wallahu a’lam.

 

*) Hasil Mudzakaroh Majelis Tarjih dan Tajdid PCM Blimbing Daerah Sukoharjo Periode Maret 2012

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.