Luka di Hati Kaum Beriman: Menjaga Kehormatan Al-Qur'an dari Konten Pelecehan
Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Anggota
Majelis Tabligh dan KMM PCM Blimbing Daerah Sukoharjo
Belakangan ini, muncul isu yang melukai hati
kaum muslimin: adanya konten atau challenge media sosial yang mengaitkan
botol minuman keras dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an seolah dijadikan alat
tukar, gimmick, atau sekadar bagian dari sensasi demi popularitas.
Sebagai seorang muslim, terlebih aktivis
dakwah, rasa marah dan cemburu terhadap kehormatan Al-Qur’an adalah hal yang
wajar, bahkan menjadi tanda adanya iman. Al-Qur’an bukan sekadar tulisan atau
simbol, melainkan kalamullah, firman Allah yang Mahamulia.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan
yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak
menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan, diturunkan dari Rabb semesta
alam.” (QS. Al-Waqi‘ah [56]:
77–80)
Ayat ini menunjukkan betapa agung dan
mulianya Al-Qur’an. Sungguh tidak pantas Al-Qur'an ditempatkan dalam konteks
yang merendahkan, apalagi dicampur dengan simbol kemaksiatan seperti minuman
keras yang jelas-jelas diharamkan Allah ﷻ.
Hukum Mengolok-olok Agama Islam: Teguran
Keras dari Al-Qur'an
Allah ﷻ telah
menegaskan dengan sangat keras tentang ancaman bagi orang-orang yang menjadikan
agama sebagai bahan permainan, ejekan, atau olok-olokan.
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ
كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا
قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah,
ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Janganlah kalian
meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (QS. At-Taubah [9]: 65–66)
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang
yang mengucapkan kata-kata merendahkan terhadap Nabi ﷺ
dan para sahabat. Ketika mereka berdalih hanya bercanda, Allah ﷻ
tidak menerima alasan tersebut.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan:
وهذه الآية الكريمة نصٌّ في أن من هزل بشيء فيه
ذكر الله أو القرآن أو الرسول فهو كافر
“Ayat yang mulia ini merupakan nash yang
tegas bahwa siapa saja yang bercanda atau mengolok-olok sesuatu yang di
dalamnya terdapat penyebutan Allah, Al-Qur’an, atau Rasul, maka ia telah
kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir,
surah At-Taubah: 65–66)
Menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai bahan
sensasi, bercandaan, atau gimmick yang merendahkan kehormatannya adalah
perkara yang sangat berbahaya bagi akidah.
Mengapa Alasan "Cuma Bercanda"
Tidak Diterima dalam Syariat?
Sebagian orang mungkin berdalih, “Ini
hanya konten,” “Cuma challenge,” atau “Bentuk kreativitas media
sosial.”
Jawabannya tegas: syariat melarang keras
menjadikan agama sebagai bahan permainan.
Allah ﷻ
berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا
كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka,
niscaya mereka akan berkata: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan
bermain-main saja.’” (QS.
At-Taubah [9]: 65)
Alasan “cuma bercanda” sudah ada sejak zaman
Nabi ﷺ, dan Allah ﷻ
membantahnya dengan vonis yang sangat keras.
Para ulama menjelaskan bahwa penghinaan
terhadap Al-Qur’an tidak terbatas pada ucapan langsung seperti mencaci mushaf.
Segala bentuk perendahan, pelecehan, atau penempatan Al-Qur’an pada konteks
yang merusak pengagungannya termasuk dosa besar yang sangat berat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
menegaskan:
فإن الاستهزاء بالله وآياته ورسوله كفر يكفر به
صاحبه بعد إيمانه
“Sesungguhnya mengolok-olok Allah,
ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang menyebabkan pelakunya
menjadi kafir setelah sebelumnya beriman.” (Ash-Sharim al-Maslul, hlm. 524)
Ghirah (Cemburu) terhadap Agama adalah Tanda
Keimanan
Seorang muslim tidak boleh mati rasa ketika
syariat Allah ﷻ
dinistakan. Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ
يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah memiliki ghirah
(kecemburuan), dan seorang mukmin juga memiliki ghirah. Ghirah Allah adalah
ketika seorang mukmin melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari no. 5223 & Muslim no. 2761)
Imam An-Nawawi rahimahullah
menjelaskan bahwa ghirah seorang mukmin adalah wujud ketidaksukaannya
ketika batasan-batasan Allah ﷻ
dilanggar. Ketika Al-Qur’an direndahkan, seorang mukmin seharusnya merasa
sedih, marah karena Allah ﷻ,
dan terdorong membela kehormatan agamanya, bukan justru ikut menyebarkan,
menertawakan, atau menganggapnya biasa saja.
Menyeimbangkan Ghirah dan Hikmah
Meskipun wajib ber-ghirah, rasa
cemburu tersebut tidak boleh berubah menjadi kezaliman. Kita membela agama
dengan ilmu, hujjah (argumentasi yang kuat), dan adab syar'I, bukan
dengan cacian, fitnah, atau tindakan yang melanggar aturan.
Allah ﷻ berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)
Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi
Pelecehan Agama
Ketika menghadapi fenomena pelecehan atau
perendahan simbol agama di media sosial, berikut sikap yang seharusnya kita
ambil:
- Mengingkari dengan tegas melalui hati dan lisan (atau tulisan) sesuai
kapasitas kemampuan.
- Tidak ikut menyebarkan (stop share) konten yang merendahkan
Al-Qur’an agar tidak memperluas jangkauannya.
- Memberi edukasi secara meluas mengenai kemuliaan dan
keagungan Al-Qur’an.
- Menuntut klarifikasi dan penghentian secara tertib jika terbukti ada unsur
pelecehan.
- Mendoakan hidayah bagi pelaku agar disadarkan dan bertaubat
kepada Allah ﷻ.
Penutup: Jangan Sampai Hati Kehilangan
Kepekaan
Saudaraku, bahaya terbesar bukanlah sekadar
munculnya konten-konten yang merendahkan agama. Bahaya terbesar adalah ketika
umat Islam tidak lagi merasa sakit melihat kehormatan Al-Qur’an dinodai.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu 'anhu
berkata:
الْمُؤْمِنُ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ
تَحْتَ جَبَلٍ، يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ.
“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya
seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang ia khawatir gunung itu akan
menimpanya.” (HR. Bukhari)
Jika terhadap dosa pribadi saja kita harus
waspada, bagaimana jika yang diremehkan adalah ayat-ayat Allah ﷻ?
Mari kita jaga ghirah ini. Bukan ghirah
yang liar, melainkan ghirah yang dibimbing oleh ilmu. Bukan kemarahan
untuk melampiaskan emosi, melainkan kemarahan karena Allah ﷻ.
Bukan sekadar membela mushaf secara fisik, melainkan membela kehormatan wahyu
dengan dakwah, pendidikan, dan pengagungan Al-Qur’an dalam kehidupan
sehari-hari.
Semoga Allah ﷻ menjadikan
kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memuliakan Al-Qur’an, mengamalkannya,
membelanya dengan cara yang benar, dan diwafatkan di atas husnul khatimah dan
keimanan.
Baarakallahu fiikum.

Tidak ada komentar