Khutbah Jumat: Kemerdekaan, Nikmat yang Terlalu Lama Kita Anggap Biasa
Khutbah Jumat: Kemerdekaan, Nikmat yang Terlalu Lama Kita Anggap Biasa
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ ٱلْإِيمَانِ وَٱلْإِسْلَامِ، وَعَلَى مَا هَدَانَا إِلَىٰ صِرَاطِهِ ٱلْمُسْتَقِيمِ، وَنَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُثَبِّتَ قُلُوبَنَا عَلَى ٱلتَّوْحِيدِ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ عِبَادِهِ ٱلْمُخْلَصِينَ ٱلَّذِينَ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ٱلَّذِي بَلَّغَ ٱلرِّسَالَةَ وَأَدَّى ٱلْأَمَانَةَ وَدَعَا إِلَىٰ عِبَادَةِ ٱللَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى ٱللَّهِ، فَإِنَّ ٱلتَّقْوَىٰ هِيَ سَبَبُ ٱلنَّجَاةِ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ، وَبِهَا يُثَبِّتُ ٱلْعَبْدَ عَلَى ٱلْحَقِّ عِنْدَ ظُهُورِ ٱلْفِتَنِ وَٱخْتِلَافِ ٱلنَّاسِ فِي أُمُورِ ٱلدِّينِ. قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَىٰ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْكَرِيمِ :﴿ وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ﴾
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, keamanan, dan kesempatan, sehingga pada hari yang mulia ini kita dapat kembali berkumpul di rumah-Nya untuk menunaikan ibadah shalat Jumat.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta senantiasa menyadari dan mensyukuri berbagai nikmat yang Allah ﷻ karuniakan kepada kita.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Khutbah Jumat: Kemerdekaan dan Bahaya "Londo Ireng" di Era Modern
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Di antara nikmat besar yang sering hadir begitu dekat dengan kehidupan kita adalah keamanan dan kemerdekaan. Karena kita dilahirkan dalam keadaan merdeka, sering kali kita lupa bahwa kemerdekaan bukanlah sesuatu yang sederhana; ia adalah nikmat yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan dan kini menjadi amanah yang diwariskan kepada kita.
Maka melalui momentum kemerdekaan, marilah kita kembali menyadari nikmat tersebut, mensyukurinya, dan bertanya kepada diri kita: apakah kemerdekaan yang kita terima telah kita jaga dan kita isi dengan kebaikan?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu sifat manusia yang sering tidak kita sadari: kita baru benar-benar memahami nilai sesuatu setelah kita kehilangannya. Ketika sehat, kita jarang memikirkan betapa berharganya kesehatan. Ketika orang tua masih bersama kita, kehadiran mereka sering terasa biasa. Ketika rumah dalam keadaan aman, kita tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan. Demikian pula dengan kemerdekaan. Karena kita lahir dalam keadaan merdeka, kita tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa kebebasan. Kita menerima kemerdekaan bukan sebagai sesuatu yang kita perjuangkan, melainkan sebagai keadaan yang sudah ada ketika kita membuka mata untuk pertama kalinya.
Generasi kita tidak mengalami bagaimana rasanya menjadi bangsa yang terjajah. Kita tidak merasakan kecemasan ketika tanah tempat kita berpijak berada di bawah kekuasaan bangsa lain. Kita tidak merasakan kegelisahan orang tua yang hidup dalam ketidakpastian, atau ketakutan ketika kebebasan dan keselamatan tidak berada di tangan sendiri. Kita lahir ketika semua itu telah berlalu. Karena itu, kemerdekaan menjadi sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan kita, hingga perlahan kehilangan rasa istimewanya. Kita memperingatinya setiap tahun, mengibarkan bendera, mendengar kembali kisah perjuangan, lalu menjalani kehidupan seperti biasa. Maka marilah sejenak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah sesuatu yang kita terima sejak lahir masih mampu kita rasakan sebagai sebuah nikmat?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mungkin persoalannya bukan karena kemerdekaan itu kehilangan nilainya, melainkan karena kita terlalu lama hidup di dalamnya. Sesuatu yang dahulu begitu mahal diperjuangkan, bagi kita telah menjadi keseharian. Sesuatu yang dahulu dirindukan, bagi kita telah menjadi kenyataan. Dan sesuatu yang dahulu mungkin harus dibayar dengan pengorbanan jiwa, bagi kita cukup diterima sebagai warisan. Kita sulit menghargai sesuatu yang tidak pernah kita kehilangan. Maka sebelum kita berbicara tentang bagaimana mengisi kemerdekaan, marilah kita belajar terlebih dahulu untuk merasakan kembali kemerdekaan sebagai nikmat; sebuah nikmat yang tidak kita perjuangkan sendiri, tetapi telah hadir dalam kehidupan kita bahkan sebelum kita mengenal arti kata merdeka.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa perubahan dari keadaan tertindas menuju keadaan yang lebih baik bukanlah sesuatu yang berada di luar kehendak Allah ﷻ. Dalam kisah Fir‘aun dan Bani Israil, Allah ﷻ memperlihatkan bagaimana sebuah kaum yang dilemahkan dan ditindas pada akhirnya diangkat dari keadaan tersebut.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 5:
وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَۙ ٥
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang telah ditindas di bumi, dan menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)
Perhatikan tiga ungkapan dalam ayat ini: اسْتُضْعِفُوْا orang-orang yang dilemahkan dan ditindas: نَّمُنَّ karunia yang Allah ﷻ berikan; dan الْوٰرِثِيْنَ, orang-orang yang kemudian menjadi pewaris. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa terbebas dari penindasan dan memperoleh kesempatan untuk menentukan kehidupan sendiri adalah sebuah karunia yang besar. Kita tidak mengatakan bahwa ayat ini secara khusus berbicara tentang kemerdekaan Indonesia. Namun kita dapat mengambil pelajaran bahwa ketika suatu kaum keluar dari keadaan tertindas menuju keadaan yang lebih bebas dan bermartabat, di sana terdapat nikmat dan karunia Allah ﷻ yang patut disadari. Maka ketika bangsa ini keluar dari penjajahan dan berdiri sebagai bangsa yang merdeka, sudah semestinya kemerdekaan itu tidak hanya kita kenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi kita pandang sebagai nikmat yang harus disyukuri dan amanah yang harus dijaga.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setelah menyadari bahwa kemerdekaan adalah sebuah nikmat, marilah kita arahkan pandangan kepada diri kita sendiri. Apa yang terjadi ketika sebuah nikmat terlalu lama kita miliki? Sering kali kita berhenti merasakannya sebagai nikmat. Kemerdekaan menjadi biasa, keamanan menjadi biasa, kesehatan menjadi biasa, keluarga menjadi biasa, rezeki menjadi biasa, bahkan kesempatan untuk bersujud dan menghadap Allah ﷻ setiap hari pun dapat menjadi sesuatu yang terasa biasa. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang tabiat manusia yang sering lalai terhadap nikmat yang dimilikinya. Beliau bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Perhatikanlah bagaimana manusia sering baru memahami nilai sebuah nikmat ketika nikmat itu berkurang atau bahkan hilang. Ketika tubuh sehat, kita lupa bahwa setiap tarikan napas adalah pemberian Allah ﷻ. Ketika keluarga masih berkumpul, kita sering lupa bahwa kebersamaan itu tidak selamanya ada. Ketika hidup aman, kita tidak membayangkan betapa berharganya keamanan. Demikian pula kemerdekaan; karena kita telah terlalu lama hidup di dalamnya, kita mungkin tidak lagi merasakan betapa besar nikmat yang sedang kita jalani. Jangan-jangan nikmat Allah ﷻ tidak pernah berkurang; yang berkurang adalah kemampuan hati kita untuk menyadarinya. Maka kemerdekaan semestinya tidak hanya membuat kita mengenang masa lalu, tetapi membuat hati kita kembali peka terhadap nikmat Allah ﷻ yang setiap hari hadir dalam kehidupan kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah ﷻ menutup janji-Nya kepada orang-orang yang dahulu ditindas dengan firman-Nya, وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ- “dan Kami menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.”
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini pada akhirnya membawa kita pada kesadaran bahwa kita adalah pewaris. Kita menerima sebuah negeri yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelum kita. Kita menerima kebebasan yang tidak kita bayar dengan darah kita sendiri. Kita menerima keamanan yang dahulu mungkin hanya menjadi harapan bagi mereka yang hidup dalam penjajahan. Tetapi seorang pewaris tidak hanya menerima; ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan apa yang diwariskan kepadanya. Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita? Apakah mereka akan menerima negeri yang lebih baik daripada yang kita terima, keluarga yang lebih baik, masyarakat yang lebih adil, dan kehidupan yang lebih bermartabat?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Para pendahulu kita telah mewariskan kepada kita kemerdekaan. Mereka telah memberikan kepada kita kesempatan untuk hidup dalam keadaan yang dahulu tidak mereka miliki. Maka jangan sampai kita hanya mewariskan kepada anak cucu kita sebuah cerita tentang kemerdekaan, sementara kita gagal mewariskan nilai-nilai yang membuat kemerdekaan itu bermakna. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita bukan sekadar generasi yang menikmati kemerdekaan, tetapi generasi yang mampu menjaga amanahnya; bukan hanya pandai mengenang perjuangan masa lalu, tetapi mampu menghadirkan kebaikan bagi masa depan. Sebab pada akhirnya, kita bukan hanya ditanya tentang nikmat yang telah kita terima, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan dengan nikmat tersebut. Semoga ketika kelak generasi setelah kita memandang masa lalu, mereka dapat berkata: mereka telah menerima kemerdekaan dari para pendahulunya, dan mereka telah menjaganya dengan sebaik-baiknya.
بَارَكَ ٱللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ ٱللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِجَمِيعِ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، فَٱسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ ٱللَّهِ وَرَسُولُهُ. ٱللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ ٱلطَّيِّبِينَ ٱلطَّاهِرِينَ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى ٱلتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Maka marilah kita melihat kemerdekaan bukan hanya sebagai sesuatu yang diwariskan kepada kita, tetapi sebagai nikmat Allah ﷻ yang harus kita syukuri dan amanah yang harus kita jaga. Kita mungkin tidak ikut mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab untuk mengisinya dengan kebaikan. Dengan menjaga keutuhan keluarga, menegakkan keadilan, menghormati sesama, menjaga persatuan, menuntut ilmu, bekerja dengan jujur, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Sebab kemerdekaan akan menjadi nikmat ketika ia melahirkan manusia yang lebih bersyukur, masyarakat yang lebih adil, dan kehidupan yang lebih bermartabat.
Para pendahulu kita telah mewariskan kepada kita kemerdekaan; dan kita adalah generasi yang menerima warisan itu. Kelak, kita pun akan menjadi pendahulu bagi generasi setelah kita. Maka semoga Allah ﷻ tidak menjadikan kita sekadar generasi yang menikmati kemerdekaan, tetapi generasi yang mampu menjaga dan meneruskannya dalam kebaikan. Semoga apa yang kita terima sebagai nikmat hari ini dapat kita wariskan sebagai kebaikan kepada mereka yang datang kemudian. Karena pada akhirnya, yang penting bukan hanya bahwa kita pernah hidup dalam keadaan merdeka, tetapi bahwa selama kemerdekaan itu berada di tangan kita, kita telah menggunakannya untuk menjadi hamba Allah ﷻ yang lebih bersyukur dan manusia yang lebih bermanfaat.
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ ٱلْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ ٱلْكَرِيمِ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، ٱللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
ٱللَّهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ ٱلدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ ٱلْحَاجَاتِ، ٱللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي ٱلدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي ٱلْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي ٱلْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي ٱلرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ ٱلْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ ٱلْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ ٱلْمَوْتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ ٱلرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، الْحَافِظِينَ لِأَمَانَاتِكَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَمْنِنَا وَسَلَامِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْخَوْفِ وَالْإِنْقِسَامِ، وَاجْعَلْنَا أَهْلًا لِنِعْمَةِ الْحُرِّيَّةِ، نَسْتَعْمِلُهَا فِي الْخَيْرِ وَالْعَدْلِ وَالطَّاعَةِ، وَلَا نَسْتَعْمِلُهَا فِي الظُّلْمِ وَالْفَسَادِ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا وَشَعْبَنَا، وَوَفِّقْ قَادَتَنَا وَمَنْ وَلَّيْتَهُمْ أَمْرَنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا جِيلًا يَحْفَظُ مَا وَرِثَهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَيُوَرِّثُهُ لِأَبْنَائِنَا وَأَحْفَادِنَا أَحْسَنَ مِمَّا وَرِثْنَاهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّنَا لِوَطَنِنَا سَبَبًا لِفِعْلِ الْخَيْرِ وَخِدْمَةِ النَّاسِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَشْكُرُونَ نِعْمَتَكَ، وَيَحْفَظُونَ أَمَانَتَكَ، وَيَسْعَوْنَ فِي إِصْلَاحِ الْأَرْضِ. اللَّهُمَّ أَدِمْ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالْوَحْدَةِ وَالسَّلَامِ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
FILE PDF

Tidak ada komentar