Header Ads

Header ADS

Meneguhkan 10 Komitmen Kader Nasyiatul Aisyiyah Pasca-Muktamar ke-15


Oleh: Ambar Sari, M.Pd.

Guru SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo, Kader Nasyiatul 'Aisyiyah Cabang Blimbing

 

Nasyiatul Aisyiyah merupakan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang memiliki sejarah panjang dalam membina dan menggerakkan perempuan muda Islam berkemajuan. Sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah terus berkembang dan berupaya menjawab tantangan zaman melalui gerakan keagamaan, pendidikan, sosial, kepemimpinan, serta pemberdayaan masyarakat.

Secara historis, Nasyiatul Aisyiyah ditetapkan lahir pada 16 Mei 1931 di Yogyakarta. Keputusan Congres Muhammadiyah-'Aisyiyah ke-20 tersebut menetapkan Nasyiatul Aisyiyah sebagai bagian dari organisasi 'Aisyiyah dengan nama Bahagian 'Aisjijah Oeroesan Nasjiah. Tanggal 16 Mei 1931 atau 28 Zulhijah 1345 Hijriah kemudian menjadi hari lahir Nasyiatul Aisyiyah.

Perjalanan panjang tersebut terus berlanjut hingga Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah yang diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah, pada 6–8 Agustus 2026. Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”. Tema tersebut menegaskan pentingnya peran perempuan muda dalam menjawab tantangan zaman sekaligus ikut membangun masa depan yang lebih adil, berkemajuan, dan berkelanjutan.

Muktamar Nasyiatul Aisyiyah bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan lima tahunan. Sebagai forum tertinggi organisasi, Muktamar menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, memperkuat kaderisasi, menentukan arah gerakan, serta merumuskan program strategis Nasyiatul Aisyiyah untuk periode berikutnya.

Dalam Muktamar ke-15, agenda organisasi juga mencakup penyusunan dan penetapan program kerja Nasyiatul Aisyiyah periode 2026–2030 serta rekomendasi strategis organisasi.

 

Meneguhkan Komitmen Kader Nasyiatul Aisyiyah

Salah satu hal penting yang perlu terus dijaga setelah Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah adalah komitmen kader. Komitmen kader Nasyiatul Aisyiyah tidak cukup berhenti sebagai slogan organisasi, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan, keteladanan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sepuluh komitmen kader Nasyiatul Aisyiyah yang kembali diteguhkan tersebut meliputi:

Pertama, senantiasa salat fardu tepat waktu dan berjamaah.

Kehidupan kader Nasyiatul Aisyiyah harus dibangun di atas fondasi ketakwaan. Kesibukan dalam organisasi, pekerjaan, pendidikan, maupun keluarga tidak boleh menjadikan ibadah wajib terabaikan. Salat tepat waktu dan berjamaah menjadi bentuk kedisiplinan sekaligus penjagaan hubungan seorang kader dengan Allah SWT.

Kedua, membaca Al-Qur'an dan memahami maknanya.

Kader perempuan muda Islam berkemajuan tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi. Kader juga perlu memperkuat literasi Al-Qur'an dengan membaca, memahami makna, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, beradab Islami dalam kehidupan.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan seiring dengan kemajuan akhlak. Adab dalam berbicara, bermedia sosial, bekerja, berorganisasi, maupun berinteraksi dengan orang lain merupakan bagian penting dari karakter kader Nasyiatul Aisyiyah.

Keempat, beramal saleh mulai dari diri sendiri.

Perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Seorang kader Nasyiatul Aisyiyah dapat memulainya dari keluarga, lingkungan kerja, sekolah, organisasi, dan masyarakat sekitar. Keteladanan pribadi menjadi salah satu bentuk dakwah yang paling dekat dan nyata.

Kelima, menyediakan waktu untuk Nasyiah minimal satu kali dalam sepekan.

Komitmen berorganisasi membutuhkan konsistensi. Di tengah berbagai kesibukan, kader Nasyiatul Aisyiyah diharapkan tetap menyediakan waktu untuk belajar, berdiskusi, mengikuti kegiatan, dan berkontribusi dalam gerakan perempuan muda Muhammadiyah.

Keenam, membaca satu hari satu tema.

Perempuan muda berkemajuan perlu terus mengembangkan wawasan. Membaca satu tema setiap hari dapat menjadi kebiasaan sederhana untuk membangun budaya literasi, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan dalam memahami berbagai persoalan masyarakat.

Ketujuh, mengikuti kajian minimal satu kali dalam sepekan.

Kajian menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus meningkatkan wawasan kader. Konsistensi mengikuti kajian diharapkan melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga memiliki dasar keilmuan dan spiritual yang kuat.

Kedelapan, berjiwa mandiri dan berpikir positif dalam segala hal.

Perempuan muda Islam berkemajuan dituntut memiliki keberanian untuk mandiri, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta melihat peluang di tengah berbagai tantangan. Sikap positif juga menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Kesembilan, responsif terhadap permasalahan lingkungan sekitar.

Peradaban berkelanjutan tidak mungkin dibangun tanpa kepedulian terhadap lingkungan. Karena itu, kader Nasyiatul Aisyiyah perlu peka terhadap persoalan sosial dan ekologis di sekitarnya, mulai dari kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, ketahanan keluarga, hingga berbagai persoalan masyarakat.

Perhatian terhadap isu lingkungan juga relevan dengan arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah dalam menghadapi tantangan peradaban berkelanjutan. Perempuan muda diharapkan tidak hanya menjadi penerima perubahan, tetapi juga tampil sebagai aktor yang ikut menciptakan perubahan sosial dan ekologis.

Kesepuluh, mampu membagi waktu antara keluarga dan Nasyiah.

Aktivitas organisasi hendaknya tidak menjadikan kader kehilangan keseimbangan dalam kehidupan. Keluarga tetap menjadi bagian penting yang harus diperhatikan. Kemampuan mengatur waktu antara keluarga, pekerjaan, pengembangan diri, dan pengabdian di Nasyiatul Aisyiyah merupakan bagian dari kedewasaan seorang kader.

 

Dari Komitmen Kader Menuju Aksi Nyata

Sepuluh komitmen kader Nasyiatul Aisyiyah tersebut menunjukkan bahwa perempuan muda berkemajuan diharapkan menjadi pribadi yang utuh: kuat secara spiritual, luas dalam wawasan, baik dalam akhlak, mandiri, peduli terhadap lingkungan, aktif dalam organisasi, sekaligus mampu menjaga kehidupan keluarga.

Semangat tersebut selaras dengan tema Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan.” Tema ini menempatkan perempuan muda bukan sekadar sebagai penerima perubahan, tetapi sebagai aktor perubahan dan penggerak peradaban.

Tantangan perempuan muda hari ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pola kerja, persoalan lingkungan, hingga perubahan iklim menuntut kader Nasyiatul Aisyiyah memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan pijakan nilai.

Karena itu, kader membutuhkan perpaduan antara iman, ilmu, akhlak, kepemimpinan, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi. Perempuan muda Muhammadiyah perlu hadir sebagai generasi yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sekaligus tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keislaman, dan keberlanjutan lingkungan.

Komitmen kader Nasyiatul Aisyiyah juga mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang dalam organisasi. Kemajuan justru terlihat dari seberapa besar nilai-nilai Islam mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan seberapa besar keberadaan seorang kader memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta menjadi momentum penting untuk melanjutkan perjalanan panjang gerakan perempuan muda Muhammadiyah. Dengan tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, Nasyiatul Aisyiyah memiliki tantangan untuk menerjemahkan gagasan besar tersebut menjadi gerakan yang nyata, membumi, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, sepuluh komitmen kader Nasyiatul Aisyiyah bukanlah daftar yang cukup untuk dibaca, melainkan amanah yang perlu diamalkan. Salat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, menjaga adab, terus belajar, aktif berorganisasi, peduli terhadap lingkungan, serta mampu menyeimbangkan keluarga dan Nasyiah merupakan langkah-langkah sederhana yang apabila dilakukan secara konsisten akan menjadi kekuatan besar bagi gerakan.

Dari kader yang berkomitmen akan lahir gerakan yang kuat. Dari gerakan perempuan muda yang berkemajuan, insyaallah akan tumbuh peradaban yang lebih berkeadilan, berkemanfaatan, dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.