Header Ads

Header ADS

Menyalakan Eco-Literacy dari Rumah: Ikhtiar Perempuan Muda Nasyiatul 'Aisyiyah Mewujudkan Keluarga Cerdas Ekologis


apt. Fauzia Nur Laili, S.Farm., M.M.

Pimpinan Cabang Nasyiatul 'Aisyiyah Blimbing, Daerah Sukoharjo

Penggerak Eco-Literacy di PPTQ Muhammadiyah Shirathunnajah Sukoharjo


Pendahuluan

Peradaban berkelanjutan tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar, teknologi canggih, atau pembangunan infrastruktur berskala besar. Peradaban juga dapat tumbuh dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan manusia, yaitu keluarga. Di rumah, manusia pertama kali belajar tentang kebersihan, kepedulian, tanggung jawab, kesederhanaan, dan cara memperlakukan alam. Oleh karena itu, ketika bumi hari ini menghadapi persoalan seperti gunung sampah, pencemaran lingkungan, krisis air, banjir, perubahan iklim, dan pola konsumsi berlebihan, keluarga perlu kembali dilihat sebagai ruang awal perubahan.

Dalam semangat Muktamar ke-15 Nasyiatul 'Aisyiyah, tema "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan" perlu diterjemahkan ke dalam gerakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan muda berkemajuan tidak cukup hadir sebagai penonton atas krisis ekologis, tetapi perlu mengambil peran sebagai pelaku perubahan yang menawarkan jalan keluar. Salah satu jalan keluar tersebut adalah membangun eco-literacy atau literasi ekologis dalam keluarga, agar keluarga berkembang menjadi keluarga yang memiliki eco-intelligence atau kecerdasan ekologis.

Eco-literacy dapat dimaknai sebagai kemampuan memahami hubungan antara manusia, kebiasaan hidup, dan lingkungan, lalu menyelaraskannya dalam tindakan nyata. Sementara itu, eco-intelligence adalah kemampuan menggunakan pemahaman tersebut untuk mengambil keputusan yang lebih bijak, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab. Dengan kata lain, eco-literacy membuat keluarga sadar, sedangkan eco-intelligence membuat keluarga berubah.

Dalam perspektif Nasyiatul 'Aisyiyah, gagasan ini sejalan dengan semangat Keluarga Muda Tangguh, khususnya pilar cakap literasi, ramah lingkungan, sehat jasmani, rohani dan lingkungan, serta tanggap bencana. Keluarga muda tangguh bukan hanya keluarga yang kuat secara ekonomi, spiritual, dan sosial, melainkan juga keluarga yang mampu hidup selaras dengan alam. Di sinilah perempuan muda, baik yang sudah maupun belum menikah, memiliki peran penting sebagai penggiat eco-literacy menuju keluarga cerdas ekologis.


Isi/Pembahasan

Krisis lingkungan sering kali tampak sebagai persoalan besar yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, banyak persoalan ekologis justru berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Sampah rumah tangga yang tidak dipilah, makanan yang terbuang, penggunaan plastik sekali pakai, pemborosan air, konsumsi berlebihan, dan kurangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan merupakan contoh nyata bahwa persoalan bumi juga berkaitan dengan perilaku keluarga.

Karena itu, membangun peradaban berkelanjutan tidak cukup hanya melalui kampanye besar. Perubahan harus masuk ke dalam pola hidup keluarga. Keluarga perlu memahami bahwa setiap pilihan memiliki dampak ekologis. Ketika keluarga membawa tas belanja sendiri, menghabiskan makanan secukupnya, menghemat air, memilah sampah, menanam tanaman, atau menggunakan kembali barang yang masih layak, sesungguhnya keluarga sedang membangun budaya ekologis.

Dalam proses inilah perempuan muda memiliki peran strategis. Peran ini tidak berarti bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan hanya dibebankan kepada perempuan. Sebaliknya, perempuan muda perlu diposisikan sebagai penggerak, pendidik, komunikator, dan katalis perubahan seperti enzim yang mempercepat reaksi. Ia menyalakan kesadaran bahwa tanggung jawab ekologis harus dijalankan bersama oleh seluruh anggota keluarga.

Perempuan muda yang sudah menikah dapat membangun eco-literacy dalam keluarga inti. Ia dapat mengajak pasangan dan anak-anak untuk membiasakan hidup lebih ramah lingkungan, misalnya membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, mengurangi makanan terbuang, dan mengenalkan tanaman sebagai bagian dari kehidupan. Pendidikan seperti ini tampak sederhana, tetapi dampaknya panjang karena anak-anak belajar mencintai bumi sejak dari rumah.

Sementara itu, perempuan muda yang belum menikah juga memiliki ruang kontribusi yang sama pentingnya. Ia dapat menjadi penggerak eco-literacy dalam keluarga, komunitas, kampus, sekolah, tempat kerja, maupun organisasi. Ia dapat mengajak orang tua dan saudara untuk memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, atau memulai kebiasaan hidup bersih dan hemat. Dengan demikian, status menikah atau belum menikah tidak membatasi kontribusi perempuan muda. Setiap perempuan muda dapat menjadi agen perubahan ekologis di lingkungannya masing-masing.

Peran perempuan muda sebagai penggiat eco-literacy dalam keluarga dapat diwujudkan melalui beberapa peran yang saling melengkapi. Pertama, perempuan muda dapat hadir sebagai eco-educator, yaitu pendidik lingkungan yang membantu keluarga memahami bahwa menjaga alam bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual. Kedua, ia dapat menjadi eco-role model, yaitu teladan dalam tindakan sehari-hari, karena ajakan menjaga lingkungan akan lebih mudah diterima ketika dimulai dari contoh nyata. Ketiga, perempuan muda berperan sebagai eco-communicator, yaitu penyampai pesan ekologis dengan bahasa yang lembut, membumi, dan tidak menghakimi. Keempat, ia dapat menjadi eco-organizer, penggerak praktik sederhana seperti memilah sampah, mengurangi limbah makanan, membuat kompos, membawa wadah sendiri, atau menanam tanaman di rumah. Kelima, perempuan muda dapat menjadi eco-transformer, yaitu sosok yang mengubah pengetahuan ekologis menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi budaya keluarga.

Agar eco-literacy tidak berhenti sebagai pengetahuan, Nasyiatul 'Aisyiyah dapat merumuskan gagasan Kurikulum Rumah Hijau Keluarga Muda Tangguh. Kurikulum ini bukan dimaksudkan sebagai kurikulum formal yang kaku, melainkan sebagai panduan pembiasaan keluarga untuk membangun kesadaran, keterampilan, dan budaya hidup ramah lingkungan. Melalui kurikulum ini, rumah dijadikan ruang belajar ekologis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Keluarga muda dapat belajar memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengolah sampah organik, mengurangi limbah makanan, menghemat air dan energi, menanam tanaman, membiasakan belanja bijak, serta mendidik anak-anak agar mencintai alam sejak dini.

Kurikulum Rumah Hijau Keluarga Muda Tangguh dapat memuat beberapa ruang pembelajaran sederhana, seperti Sadar Sampah, Dapur Minim Limbah, Hemat Air dan Energi, Pojok Hijau Keluarga, Belanja Bijak, Anak Cinta Bumi, dan Refleksi Keluarga. Setiap ruang pembelajaran dapat diterapkan sesuai kemampuan dan kondisi keluarga masing-masing. Misalnya, keluarga yang belum memiliki halaman luas tetap dapat menanam tanaman dalam pot; keluarga yang belum mampu membuat kompos dapat memulai dari memilah sampah; dan keluarga dengan anak kecil dapat memulai dari kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, serta merawat tanaman bersama.

Melalui pendekatan ini, perempuan muda tidak hanya mengajak keluarga untuk mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga membimbing keluarga agar mampu dan terbiasa hidup lebih ramah lingkungan. Di sinilah eco-literacy bertransformasi menjadi eco-intelligence. Pengetahuan berubah menjadi kesadaran, kesadaran berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tumbuh menjadi budaya keluarga. Dengan demikian, Kurikulum Rumah Hijau Keluarga Muda Tangguh dapat menjadi ikhtiar nyata Nasyiatul 'Aisyiyah dalam membangun keluarga yang tidak hanya tangguh secara spiritual, sosial, dan ekonomi, tetapi juga cerdas secara ekologis.

Dalam Islam, merawat bumi adalah bagian dari tanggung jawab keimanan. Al-Qur'an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul karena ulah tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41). Pesan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini, ketika sampah, pencemaran, banjir, dan krisis iklim banyak lahir dari pola konsumsi dan kebiasaan manusia sendiri. Karena itu, eco-literacy dalam keluarga bukan sekadar pendidikan lingkungan, melainkan ikhtiar mengembalikan manusia pada tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi. Larangan untuk berbuat kerusakan di bumi setelah Allah menciptakannya dengan baik (QS. Al-A'raf: 56) menjadi pengingat bahwa rumah tangga muslim seharusnya menjadi ruang lahirnya perilaku yang merawat, bukan merusak kehidupan.


Penutup

Peradaban berkelanjutan membutuhkan keluarga yang sadar, peduli, dan cerdas secara ekologis. Eco-literacy menjadi langkah awal agar keluarga memahami hubungan antara tindakan sehari-hari dan kondisi lingkungan. Namun, kesadaran itu perlu ditingkatkan menjadi eco-intelligence, yaitu kemampuan keluarga untuk mengambil keputusan yang lebih bijak, bertanggung jawab, dan selaras dengan alam.

Perempuan muda, baik yang sudah maupun belum menikah, memiliki peran penting dalam proses tersebut. Ia dapat menjadi pendidik, teladan, komunikator, penggerak, dan pengubah budaya keluarga. Namun, peran itu tidak boleh dipahami sebagai beban tunggal perempuan. Perempuan muda adalah penyala gerakan, sedangkan perubahan ekologis harus dijalankan bersama oleh seluruh anggota keluarga.

Dalam perspektif Nasyiatul 'Aisyiyah, semangat Keluarga Muda Tangguh adalah semangat keluarga yang tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan zaman, tetapi juga mampu merawat kehidupan. Melalui Kurikulum Rumah Hijau Keluarga Muda Tangguh, eco-literacy dapat masuk ke ruang keluarga dan tumbuh menjadi kebiasaan nyata. Dari rumah yang belajar mengurangi sampah, dari dapur yang mengurangi limbah makanan, dari halaman kecil yang ditanami kehidupan, dan dari anak-anak yang diajari mencintai bumi, lahirlah keluarga yang cerdas ekologis.

Muktamar ke-15 Nasyiatul 'Aisyiyah menjadi momentum untuk meneguhkan bahwa perempuan muda berkemajuan tidak hanya hadir untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan bumi. Sebab, dari rumah yang sadar, dari perempuan muda yang bergerak, dan dari keluarga yang belajar hidup selaras dengan alam, peradaban berkelanjutan dapat dimulai.


Referensi

McBride, B. B., Brewer, C. A., Berkowitz, A. R., & Borrie, W. T. (2013). Environmental literacy, ecological literacy, ecoliteracy: What do we mean and how did we get here? Ecosphere, 4(5), 1-20. https://doi.org/10.1890/ES13-00075.1

Muhammadiyah. (2021, 2 Agustus). Gagasan Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) perkuat dakwah kemanusiaan. Muhammadiyah.or.id.

Penguin Random House. (n.d.). Ecological intelligence by Daniel Goleman: Teacher's guide. Penguin Random House.

Suara Muhammadiyah. (2025, 19 Mei). Upaya Nasyiatul Aisyiyah wujudkan keluarga peduli iklim dan lingkungan berkelanjutan. Suara Muhammadiyah.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.