Malam Tirakatan HUT ke-81 RI : Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo Ingatkan Warga Isi Kemerdekaan Tanpa Maksiat dan Pengkhianatan
SUKOHARJO — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung penuh kehangatan dan sarat pesan moral. Warga Blimbing RT 05 RW 04 Wonorejo, Polokarto, menggelar Malam Tirakatan dan Pengajian Warga di halaman rumah Almarhum Bapak Harto Diharjo pada Ahad Kliwon malam (16/8/2026). Dalam momen tersebut, warga diajak menjaga nikmat kemerdekaan dengan tidak mengisinya melalui perbuatan maksiat maupun tindakan yang merusak persatuan.
Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo sekaligus Ketua RW 04 Desa Wonorejo, Dr. Muhammad Nasri Dini, menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan anugerah besar yang wajib disyukuri dengan tindakan nyata.
Fenomena Menjadi WNI dan Refleksi Kemerdekaan
Mengawali tausiyahnya, Nasri memantik interaksi hangat dengan melempar pertanyaan mendasar kepada ratusan jamaah yang hadir. "Sudahkah kita merdeka?" tanyanya kepada warga. Sontak, warga yang memadati lokasi acara serentak menjawab, "Belum!"
Nasri lantas menghubungkan jawaban kompak warga tersebut dengan fenomena media sosial yang belakangan viral dari pernyataan Dokter Gia. Ia mengutip ulang pandangan tersebut untuk menggambarkan dinamika berbangsa saat ini.
"Dulu aku pikir, menikah itu ibadah terpanjang dan terlama. Ternyata salah, ibadah terpanjang dan terlama itu menjadi Warga Negara Indonesia. Maka jadi WNI memang harus ikhlas," ungkapnya sambil mengutip postingan Dokter Gia.
Ia menjelaskan bahwa meski secara fisik Indonesia sudah bebas dari penjajah asing, perjuangan mengisi kemerdekaan membutuhkan keikhlasan serta rasa syukur yang dalam.
Mengisi Kemerdekaan dengan Syukur, Bukan Laknat Allah
Nasri mengingatkan bahwa Pembukaan UUD 1945 alenia ketiga secara tegas mencantumkan bahwa kemerdekaan diraih atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, masyarakat tidak sepatutnya membalas nikmat besar tersebut dengan perbuatan maksiat, kemalasan, atau melanggar nilai-nilai agama.
"Kemerdekaan adalah nikmat yang besar dari Allah ï·». Maka, janganlah kita isi kemerdekaan ini dengan maksiat, kemalasan, atau budaya yang menjauhkan kita dari Islam. Kita tidak layak membalas rahmat Allah ï·» dengan perbuatan yang mengundang laknat-Nya," tegas Nasri.
Ia juga menyitir firman Allah dalam Surat Ibrahim ayat 7 tentang janji penambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur, serta peringatan azab bagi mereka yang mengingkarinya.
Bahaya Pengkhianat Bangsa 'Londo Ireng' di Era Modern
Dalam porsi materi yang mendalam, Nasri menyoroti ancaman pengkhianatan dari dalam negeri. Ia merujuk pada istilah sejarah londo ireng, yakni sebutan bagi pihak pribumi yang justru menjadi kaki tangan penjajah pada masa kolonial. Peringatan ini senada dengan pesan historis Presiden Soekarno bahwa perjuangan melawan bangsa sendiri akan jauh lebih sulit.
Ia memperingatkan agar generasi hari ini tidak menjadi londo ireng modern yang menjual kehormatan, memecah persatuan, atau menindas rakyatnya sendiri demi kepentingan pribadi.
"Jangan sampai kita lupa bahwa kita adalah anak bangsa Indonesia, dan justru memilih menjadi orang-orang fasik, pengkhianat bangsa yang malah menindas saudaranya sendiri dengan berperan sebagai 'Londo Ireng' di era kemerdekaan, penjajah berdarah pribumi," lanjutnya.
Mengutip Surat Al-Hasyr ayat 19, ia mendoakan agar bangsa Indonesia dijauhkan dari orang-orang dengan sifat fasik. Tausiyah diakhiri dengan lantunan doa, termasuk di dalamnya doa dari Surat Ibrahim ayat 35 demi keselamatan dan keutamaan negeri.
Kebersamaan Warga dan Kemeriahan Ratusan Doorprize
Rangkaian acara diawali secara khidmad dengan pembacaan basmalah, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hari Merdeka, serta tilawah Al-Qur'an. Ketua RT 05, Abdul Rokhim, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga yang hadir bergotong royong menyukseskan acara meski dikemas secara sederhana.
Suasana guyub rukun sangat terasa ketika lebih dari 300 warga dari kalangan tua, muda, hingga anak-anak lesehan bersama di bawah terpal dan tenda berhias nuansa merah putih.
Acara ditutup dengan pembagian ratusan doorprize yang menambah kemeriahan suasana. Hadiah yang dibagikan sangat beragam, mulai dari deterjen, peralatan dapur seperti wajan dan kompor, kipas angin, karpet, hingga hadiah utama berupa kasur lipat. Kemeriahan ini menjadi bukti eratnya tali silaturahmi warga Blimbing Wonorejo dalam merawat kebersamaan di hari kemerdekaan.

Tidak ada komentar