Pengajian Tarjih Pertemuan 5: Iman Kepada Rasul
Pengajian Tarjih
Pertemuan 5: Iman Kepada Rasul
Oleh: Nur Fajri
Romadhon, Lc., M.A
Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah DKI Jakarta
Ketua Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Daerah
Muhammadiyah Kota Depok
الإيمانُ بِالرُّسُلِ
يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ اللَّهَ
الْحَكِيمَ أَرْسَلَ رُسُلًا لِهَدَايَةِ النَّاسِ إِلَى الصِّرَاطِ
الْمُسْتَقِيمِ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ؛ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى
اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ.
Kita wajib percaya
bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus para rasul untuk memberi
petunjuk ummat manusia akan jalan yang lurus. Mereka adalah pembawa berita
gembira dan peringatan, agar bagi manusia tiada alasan untuk membantah Allah
setelah diutusnya para Rasul.
Pengajian Tarjih Pertemuan 4: Iman Kepada Kitab
Al-Farhāriyy kala
mensyarah Al-‘Aqāid An-Nasafiyyah memaparkan bahwa Allah subhaanahuu wata’aalaa bisa saja membimbing manusia secara langsung
tanpa perantara, namun dengan hikmah kebijaksanaan-Nya, Dia menghendaki agar
membimbing manusia utamanya melalui para nabi/rasul yang Dia utus[1]. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Dan
(Kami telah mengutus) beberapa Rasul yang telah Kuceritakan kepadamu dan ada
pula yang tidak Ku-ceritakan kepadamu. Dan Allah telah berbicara benar-benar
kepada Nabi Musa. (Mereka Kami utus) selaku Rasul-Rasul yang memberi kabar
gembira dan kabar yang menakutkan.” [QS. An-Nisā` (4): 164-165] Para
manusia pilihan inilah yang menjadi pembimbing, pemberi kabar gembira, pemberi
peringatan, serta argumen Allah subhaanahuu
wata’aalaa atas manusia supaya tak bisa lagi mengelak kelak di akhirat.
وَالرُّسُلُ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا يَأْكُلُونَ
وَيَشْرَبُونَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ. اصْطَفَاهُمُ اللَّهُ لِرِسَالَتِهِ
وَاخْتَصَّهُمْ بِالْوَحْيِ وَهُمْ صَادِقُونَ أُمَنَاءُ مُبَلِّغُونَ
الرِّسَالَةَ فُطَنَاءُ يَفْهَمُونَ وَيُفْهِمُونَ، وَإِنَّهُمْ بَشَرٌ
يَعْتَرِيهِمْ مَا يَعْتَرِي سَائِرَ الْأَفْرَادِ مِمَّا لَا يَمَسُّ
أَرَاءَتَهُمْ فِي مَرَاتِبِهِمُ الْعَالِيَةِ.
Para rasul itu adalah
manusia seperti kita: makan, minum, dan pergi ke pasar. Yang telah dipilih oleh
Allah, menjadi utusan-Nya dan mengistimewakan mereka dengan diberi wahyu.
Mereka adalah orang-orang yang jujur, terpercaya, menyampaikan tugas mereka, dan
cerdas, dapat memahami dan memahamkan. Mereka adalah manusia yang mengalami
yang biasa dialami oleh orang lain selagi tidak mengurangi kehormatan mereka
dalam martabat mereka yang luhur.
Dari satu sisi, para
nabi/rasul tetaplah manusia biasa. Tidak masalah mereka makan, minum, menikah,
berbelanja, dan seterusnya. Justru dengan itulah kita bisa meneladani mereka.
Allah subhaanahuu wata’aalaa
berfirman: “Dan tidaklah Aku mengutus beberapa rasul sebelummu (wahai Nabi
Muhammad), kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan
Aku jadikan cobaan sebagianmu kepada yang lain.” [QS. Al-Furqān (25): 20]
Namun di sisi lain,
para nabi/rasul adalah para manusia pilihan Allah subhaanahuu wata’aalaa. Dari sinilah As-Saffārīniyy menjelaskan
bahwa logika kita dan wahyu Tuhan menunjukkan kewajiban mereka memiliki
beberapa sifat, semisal shidq (kejujuran)[2]. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Perhatikanlah
akan Nabi Ibrahim dalam Al-Kitab, sesungguhnya ia jujur dan seorang Nabi.”
[QS. Maryam (19): 41], “Perhatikanlah akan Isma’il dalam Al-Kitab,
sesungguhnya ia benar janjinya dan ia adalah Rasul dan Nabi.” [QS. Maryam
(19): 54], dan “Perhatikanlah akan Idris di dalam Al-Kitab, sesungguhnya ia
adalah jujur dan seorang Nabi.” [QS. Maryam (19): 56] Sifat amānah juga
disebut As-Saffārīniyy sebagai salah satu sifat yang wajib dimiliki nabi/rasul
secara dalil ‘aqliyy dan naqliyy[3]. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Dan
tidaklah ia (Muhammad) menyembunyikan berita ghaib.” [QS. At-Takwīr (81):
24]
Para nabi/rasul juga,
sebagaimana dipaparkan As-Sanūsiyy, wajib memiliki sifat tablīgh[4]. Selain
logika, dalilnya juga firman Allah subhaanahuu
wata’aalaa: “Mereka yang telah menyampaikan risalah-risalah Allah dan
takut kepada-Nya, serta tidak ada sesuatu yang ditakuti kecuali Allah, dan
cukuplah Allah yang menghitung.” [QS. Al-Aḥzāb (33): 39] Kemudian sifat
wajib keempat para nabi/rasul yang didukung dalil ‘aqliyy dan naqliyy ialah
fathānah (cerdas). Al-Laqāniyy menerangkan, bahwa dengan sifat inilah mereka
bisa memahami wahyu, memahami perkataan orang-orang dengan baik, memahami
situasi dengan cermat, menyelesaikan masalah, serta mampu membuat paham umat
mereka[5]. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Supaya
ia mengetahui, bahwa mereka telah menyampaikan risalahrisalah tuhan mereka, dan
pengetahuan-Nya meliputi apa yang ada di antara mereka dan menghitung bilangan
segala sesuatu.” [QS. Al-Jinn (72): 28], serta “Kemudian atas tanggung
jawab-Ku penjelasan Al-Qur’an itu.” [QS. Al-Qiyāmah (75): 19]
Dengan paduan
sifat-sifat manusiawi dan sifat-sifat wajib inilah mereka berada dalam
kedudukan termulia. Mereka di satu sisi hamba, tidak boleh disembah dan
dijadikan sekutu di samping Allah subhaanahuu
wata’aalaa dalam ibadah. Tetapi mereka di sisi lain juga nabi/rasul, tidak
boleh diabaikan bimbingan dan keteladanannya. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Katakanlah (olehmu wahai Nabi
Muhammad): Bahwasanya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku bahwasanya Tuhan kamu sekalian hanyalah Tuhan yang Esa. Maka
barangsiapa yang ada mengharap bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah beramal
shaleh dan janganlah menyekutukan sesuatupun dalam berbakti kepada Tuhan-Nya.”
[QS. Al-Kahfi (18): 110]
وَمِنَ الرُّسُلِ الَّذِينَ وَرَدَتْ أَسْمَاؤُهُمْ فِي
الْقُرْآنِ هُمْ: آدَمُ، إِدْرِيسُ، نُوحٌ، هُودٌ، صَالِحٌ، إِبْرَاهِيمُ،
إِسْمَاعِيلُ، إِسْحَاقُ، يَعْقُوبُ، يُوسُفُ، لُوطٌ، أَيُّوبُ، شُعَيْبٌ، مُوسَى،
هَارُونُ، ذُو الْكِفْلِ، دَاوُدُ، سُلَيْمَانُ، إِلْيَاسُ، الْيَسَعُ، يُونُسُ،
زَكَرِيَّا، يَحْيَى، عِيسَى، مُحَمَّدٌ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.
وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُقَصِّصْهُمُ اللَّهُ عَلَيْنَا، وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ
إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ.
Di antara para Rasul
yang tersebut nama mereka dalam Al-Qur’an adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud,
Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Luth, Ayyub, Syu’aib, Musa,
Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’. Yunus, Zakariya, Yahya, Isa
dan Muhammad ‘alaihimus-shalatu wassalam. Dan ada Rasul-rasul-Nya yang tidak
diberitakan Allah kepada kita. Tiada ummat yang terdahulu melainkan pernah
kedatangan Nabi.
Para nabi/rasul
jumlahnya tidak kita ketahui. Pastinya, mereka tidak sebatas berjumlah 25
orang. Itu karena di samping 25 orang nabi/rasul yang Allah subhaanahuu wata’aalaa sudah sebutkan
secara eksplisit nama mereka dalam Al-Qur’an, Allah subhaanahuu wata’aalaa mengatakan bahwa masih ada banyak nabi/rasul
yang tidak Dia ceritakan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: “Dan (Kami
telah mengutus) beberapa Rasul yang telah kuceritakan kepadamu dari yang
sebelumnya dan ada pula beberapa Rasul yang tidak Kuceritakan kepadamu. Dan
Allah benar-benar berbicara kepada Nabi Musa.” [QS. An-Nisā` (4): 164]
Malahan Allah subhaanahuu wata’aalaa
pertegas bahwa semua umat yang telah berlalu dalam sejarah manusia sejak
manusia pertama sudah Dia utus seorang nabi/rasul kepada mereka. Allah subhaanahuu wata’aalaa firmankan: “Sungguh
Aku telah mengutus engkau (wahai Nabi Muhammad) dengan membawa kebenaran untuk
memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Dan tidak ada sesuatu ummat yang
dahulu, kecuali ada seorang (Nabi) yang memberi peringatan.” [QS. Fāthir
(35): 24]
Adapun kedua puluh lima
nabi/rasul yang disebutkan nama-nama mereka secara jelas ialah yang tercantum
dalam list di atas. Di antara ayat yang menyebutkan nama-nama mereka ialah: “Sungguh
telah Aku memberi wahyu kepadamu (wahai Nabi Muhammad) sebagaimana yang telah
Ku-berikan kepada Nabi Nuh dan Nabi-nabi sesudahnya, begitu juga Aku telah
memberikan wahyu-wahyu kepada Nabi-Nabi: Ibrahim, Ishaq, Yaqub, serta
turunannya, serta Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan kepada dawud
Kuberikan kitab Zabur.” [QS. An-Nisā` (4): 163], “Dan itulah Hujjah
(pembuktian)-Ku yang Ku-berikan kepada Nabi Ibrahim untuk mengalahkan kaumnya,
Aku mengangkat beberapa derajat orang yang Aku kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu
maha bijaksana lagi maha mengetahui.” [QS. Al-An’ām (6): 84], “Dan Aku
telah karuniakan kepada Ibrahim (keturunan) yaitu Nabi Ishaq dan Ya’qub,
masing-masing Ku-berikan petunjuk kepada Nabi Nuh dan diantara keturunanya
yakni Nabi Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikian juga Aku
menganugerahi orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al-An’ām (6): 85], “Dan
Nabi Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, kesemuanya dari orang-orang yang sahalih.”
[QS. Al-An’ām (6): 86], “Dan Nabi Isma’il, Ilyasa’, Yunus dan Luth; dan
kesemuanya telah Kuberikan dari semua orang.” [QS. Al-An’ām (6): 87], serta
“Dan Nabi Ismail, Idris dan Dzulkifli; kesemuanya dari orang-orang yang
sabar.” [QS. Al-Anbiyā` (21): 84]
Begitu pula dalam
firman-Nya: “Dan kepada penduduk Madyan Aku telah mengutus saudara mereka
yaitu Nabi Syu’aib.” [QS. Hūd (11): 84], “Dan kepada kaum Tsamud Aku
telah mengutus saudara mereka yaitu Nabi Shalih.” [QS. Hūd (11): 61], “Dan
kepad kaum ‘Ad. Aku telah mengutus saudara mereka yaitu Nabi Hud.” [QS. Hūd
(11): 50], “Perhatikanlah Nabi Idris dalam kitab, sesungguhnya ia benar lagi
menjadi Nabi.” [QS. Maryam (19): 56], “Sungguh Allah telah memilih Nabi
Adam, Nuh, dan keturunan Nabi Ibrahim, keturunan Imran (melebihi) semua orang.”
[QS. Āli ‘Imrān (3): 33], serta “Muhammad adalah Utusan Allah dan
orang-orang yang mengikutinya, sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan
kasih sayang diantara sesama mereka.” [QS. Al-Fatḥ (48): 29]
وَقَدْ أَيَّدَهُمُ اللَّهُ بِالْآيَاتِ
وَالْمُعْجِزَاتِ الْبَاهِرَةِ.
Dan Allah telah
mengokohkan mereka dengan beberapa pembuktian dan segala macam mu’jizat yang
nyata.
Ibnu Taimiyyah
memaparkan bahwa bukti kebenaran para nabi/rasul sangatlah banyak, di antaranya
ialah mukjizat[6].
Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman:
“Yang demikian itu karena mereka telah kedatangan para utusan yang membawa
tanda bukti, kemudian mereka kafir, maka Allah menimpakan siksanya.” [QS.
Al-Mu`min (40): 22] Siapapun yang melihat atau mendengar langsung mukjizat,
wajiblah secara logika ia beriman bahwa sosok pembawa mukjizat ini merupakan
benar-benar nabi/rasul yang Allah subhaanahuu
wata’aalaa utus. Sebab tidak ada yang mampu melakukan hal-hal di luar
normalnya yang terjadi di alam semesta ini melainkan Sang Pencipta alam semesta
atau manusia-manusia pilihan Sang Pencipta alam semesta.
تَنْبِيهٌ
لَقَدْ ثَبَتَ بِأَنَّ مِمَّا تَنَاوَلَتْهُ الْقُدْرَةُ
الْإِلَهِيَّةُ أَنْ تَصْدُرَ أُمُورًا خَارِقَةً لِلْعَادَةِ حَصَلَتْ
لِأَنْبِيَاءِ اللَّهِ تَأْيِيدًا لِرِسَالَتِهِمْ وَإِعْجَازًا لِمُعَارِضِيهِمْ
وَآيَةً عَلَى تَكْرِيمِهِمْ، مِثْلَ مَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ عَدَمِ
احْتِرَاقِ النَّارِ لِإِبْرَاهِيمَ، وَانْقِلَابِ الْعَصَا ثُعْبَانًا لِمُوسَى،
وَإِحْيَاءِ الْمَوْتَى لِعِيسَى، وَإِنْزَالِ الْقُرْآنِ لِمُحَمَّدٍ، وَغَيْرِ
ذَلِكَ مِمَّا وَرَدَ فِي مَوَاضِعَ مُتَعَدِّدَةٍ. وَكُلُّ مَا وَرَدَ مِنْ ذَلِكَ
فَهُوَ حَقٌّ يَجِبُ الْإِيمَانُ بِهِ.
PERHATIAN
Adalah suatu kebenaran,
bahwa kekuasaan Allah dapat mengadakan hal-hal yang menyimpang dari hukum
kebiasaan yang pernah berlaku bagi para Nabi untuk menguatkan penugasan dan
menundukkan lawan-lawan mereka dan tanda kebenaran mereka terhadap mereka yang
mengingkari, misalnya apa yang tersebut dalam Al-Qur’an: api yang tak membakar
Nabi Ibrahim, tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular, Nabi Isa yang dapat
menghidupkan kembali orang mati, dan diturunkannya Al-Qur’an bagi Nabi
Muhammad, dan lain sebagainya yang tersebut dalam beberapa ayat, dan semua itu
adalah hal yang wajib diimani.
Di antara contoh
mukjizat para nabi/rasul ialah mukjizatnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
yang tidak terbakar hangus saat dilempar ke api. Allah subhaanahuu wata’aalaa kisahkan hal itu dalam firman-Nya: “Aku
berkata: Hai api! Jadilah dingin dan selamatkanlah Ibrahim.” [QS. Al-Anbiyā`
(21): 69] Juga mukjizat Nabi Musa ‘alaihis salam yang diberi kemampuan
mengubah tongkat menjadi ular. Allah subhaanahuu
wata’aalaa firmankan: “Kemudian Nabi Musa melemparkan tongkatnya,
seketika menjadi ular yang nyata.” [QS. Al-A’rāf (7): 107]
Begitu pula mukjizat
Nabi Isa ‘alaihis salam yang membuat burung hidup dari tanah liat,
membuat orang yang buta sejak lahir jadi mampu melihat, menyembuhkan penyakit
sopak yang nyaris mustahil disembuhkan, menghidupkan orang yang sudah meninggal
dunia, serta mengungkapkan makanan yang disimpan oleh orang-orang di rumah
mereka. Allah subhaanahuu wata’aalaa
sebutkan itu semua dalam firman-Nya: “Dan sebagai utusan kepada Bani Israil
(berkata): Sungguh aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti dari tuhanmu,
bahwasanya aku membuat untukmu seperti burung dari tanah lalu aku tiup, maka
akan jadilah burung atas idzin Allah. Aku menyembuhkan orang buta dan orang
yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah;
begitu juga aku memberitakan kepadamu akan apa yang kamu makan dan apa yang
kamu simpan di dalam rumah-rumahmu. Yang demikian itu adalah menjadi bukti
bagimu, kalau kamu beriman.” [QS. Āli ‘Imrān (3): 49]
Begitu pula Nabi
Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam diberikan banyak mukjizat, yang
terbesar ialah Al-Qur’an. Allah subhaanahuu
wata’aalaa firmankan: “Katakanlah: Kalaupun manusia dan jin berkumpul
untuk mengadakan seperti Quran ini, tentulah tidak akan mampu mengadakannya
meskipun sebagian menolong sebagian yang lain.” [QS. Al-Isrā`(17): 88] Nashrun
minallāhi wafatḥun qarīb wabasysyiril mu`minīn.
Pengajian Tarjih
Pertemuan 5: Iman Kepada Rasul, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah
Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI Jakarta) Masjid Jami'
Asy-Syakirin, 16 Februari 2024
[1] Al-Farhāriyy, An-Nibrās hlm. 573-574 (Istanbul:
Maktabah Yāsīn, 2012).
[2] As-Safffārīniyy, Lawāmi’ul Anwāril Bahiyyah jld. III
hlm. 415 (Riyadh: Dārut Tawḥīd, 2016).
[3] As-Safffārīniyy, Lawāmi’ul Anwāril Bahiyyah jld. III
hlm. 415-416.
[4] As-Sanūsiyy, Syarḥul ‘Aqīdatish Shughrā hlm. 244-246
(Damaskus: Dārut Taqwā, 2019).
[5] Al-Laqāniyy, ‘Umdatul Murīd jld. II hlm. 899-900
(Beirut: Dārul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2018).
[6] Ibnu Taimiyyah, An-Nubuwwāt jld. II hlm. 848-850
(Riyadh: Adhwāus Salaf, 2000).
Tidak ada komentar