Hikmah di Balik Hijrah: Tinjauan Resolusi dalam Islam
Oleh: Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo,
Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah Angkatan 3
Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam.
Ia adalah pengingat atas salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah umat
manusia, Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah
ke Madinah. Peristiwa ini menjadi titik balik kebangkitan Islam, dari fase
tekanan dan penindasan menuju fase pembangunan peradaban.
Di tengah budaya modern yang mengenal istilah resolusi sebagai
tekad memperbaiki diri di masa depan, Islam telah lebih dahulu mengajarkan
konsep yang jauh lebih mendalam, yaitu hijrah. Jika resolusi adalah
keinginan untuk berubah, maka hijrah adalah perubahan yang diwujudkan dengan
keimanan, pengorbanan, perencanaan, dan istiqamah.
Oleh karena itu, memahami hikmah hijrah akan membantu kita menyusun
resolusi hidup yang tidak hanya berorientasi dunia, tetapi juga bernilai ibadah
dan berbuah keselamatan di akhirat.
Sekilas Kisah Hijrah Rasulullah ﷺ
Selama tiga belas tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah ﷺ dan para
sahabat menghadapi berbagai bentuk penindasan. Kaum Quraisy menolak dakwah
tauhid yang beliau bawa. Kaum muslimin disiksa, diusir, diboikot, bahkan
sebagian dibunuh karena mempertahankan keimanan mereka.
Di tengah situasi tersebut, Allah ﷻ membuka
jalan baru melalui penduduk Yatsrib (Madinah) yang menerima Islam dan berjanji
melindungi Rasulullah ﷺ. Maka Allah ﷻ mengizinkan kaum muslimin berhijrah ke Madinah.
Kaum Quraisy yang mengetahui rencana tersebut kemudian bersepakat
membunuh Rasulullah ﷺ. Allah ﷻ mengabarkan makar mereka kepada Nabi-Nya.
Pada malam yang telah ditentukan, Rasulullah ﷺ keluar dari
rumahnya dan meminta Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidur di
tempat beliau. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau
menuju Gua Tsur dan bersembunyi selama tiga hari.
Ketika para pengejar Quraisy telah berada sangat dekat dengan mulut gua,
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir. Rasulullah ﷺ menenangkan
beliau dengan kalimat yang diabadikan dalam Al-Qur’an,
لَا تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Setelah keadaan aman, Rasulullah ﷺ melanjutkan
perjalanan menuju Madinah. Setibanya di sana, beliau disambut dengan penuh
kegembiraan oleh kaum Anshar. Di Madinah inilah kemudian dibangun masjid,
dipersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, ditegakkan syariat Islam, dan
lahirlah masyarakat Islam yang kuat.
Hijrah bukanlah pelarian dari kesulitan, tetapi langkah menuju masa
depan yang lebih baik dengan tetap berpegang teguh kepada prinsip-prinsip
agama.
Hakikat Hijrah: Berpindah dari Kemaksiatan kepada Ketaatan
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالْمُهَاجِرُ
مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang
oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari no.
10)
Makna hijrah tidak berhenti pada perpindahan fisik dari suatu tempat ke
tempat lain. Setiap muslim dituntut untuk berhijrah dari syirik menuju tauhid,
bid’ah menuju sunnah, maksiat menuju ketaatan, kelalaian menuju kesungguhan
beribadah.
Di sinilah relevansi hijrah dengan resolusi. Resolusi dalam Islam bukan
sekadar target duniawi, melainkan tekad untuk menjadi hamba yang lebih baik di
hadapan Allah ﷻ.
Hikmah Pertama: Hijrah Mengajarkan Visi yang Jelas
Hijrah Rasulullah ﷺ bukan langkah spontan tanpa tujuan. Beliau berhijrah untuk
menjaga agama dan membangun masyarakat Islam yang kokoh.
Allah ﷻ berfirman,
وَمَنْ
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapati di
muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 100)
Resolusi yang baik harus memiliki tujuan yang jelas. Seorang muslim
hendaknya bertanya, apa target ibadah saya tahun ini? Apa dosa yang harus saya
tinggalkan? Ilmu apa yang harus saya pelajari? Amal apa yang ingin saya
tingkatkan?
Tanpa visi yang jelas, resolusi hanya menjadi daftar harapan tanpa arah.
Hikmah Kedua: Hijrah Mengajarkan Pengorbanan
Tidak ada perubahan besar tanpa pengorbanan.
Rasulullah ﷺ meninggalkan kota kelahirannya yang sangat beliau cintai. Para
sahabat meninggalkan rumah, harta, dan keluarga demi mempertahankan agama
mereka.
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan
Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218)
Begitu pula dalam kehidupan. Seseorang yang ingin memperbaiki hafalan
Al-Qur’an harus mengorbankan waktunya. Yang ingin meninggalkan dosa harus
berani meninggalkan lingkungan yang buruk. Yang ingin sukses dalam dakwah harus
siap mengorbankan tenaga, pikiran, dan kenyamanannya.
Hikmah Ketiga: Hijrah Mengajarkan Perencanaan yang Matang
Salah satu pelajaran besar dari hijrah adalah pentingnya perencanaan.
Meskipun Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah ﷻ, beliau tetap melakukan sebab-sebab yang diperlukan. Memilih
waktu keberangkatan yang tepat, menggunakan jalur yang tidak biasa, menyewa
penunjuk jalan yang ahli, menyiapkan logistik, membagi tugas kepada para
sahabat.
Ini menunjukkan bahwa tawakal tidak berarti pasrah tanpa usaha.
Allah ﷻ berfirman,
فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Dalam menyusun resolusi, seorang muslim perlu membuat target yang
terukur, langkah yang jelas, dan jadwal yang realistis.
Hikmah Keempat: Hijrah Mengajarkan Optimisme dan Tawakal
Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu merasa cemas melihat para
pengejar berada tepat di depan Gua Tsur, Rasulullah ﷺ berkata,
لَا تَحْزَنْ
إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At Taubah: 40)
Kalimat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus optimis meskipun
keadaan tampak sulit.
Resolusi yang baik harus dibangun di atas keyakinan bahwa Allah ﷻ mampu
membuka jalan keluar yang tidak pernah kita sangka.
Hikmah Kelima: Hijrah Mengajarkan Istiqamah
Perjalanan hijrah berlangsung dengan penuh kesulitan. Namun Rasulullah ﷺ dan para
sahabat tidak berhenti di tengah jalan.
Inilah pelajaran penting dalam setiap resolusi.
Rasulullah ﷺ bersabda,
أَحَبُّ
الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara
terus-menerus meskipun sedikit.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Keberhasilan bukan ditentukan oleh semangat di awal Muharram, tetapi
oleh konsistensi sepanjang tahun.
Resolusi Seorang Muslim di Tahun Baru Hijriyah
Momentum hijrah seharusnya melahirkan resolusi yang berorientasi pada
perbaikan diri. Dimulai dari perbaiki kembali akidah kita sebagai seorang
muslim dengan terus kembali mempelajari agama Islam yang mulia ini untuk
semakin mengenal Allah ﷻ, Rasul-Nya
dan syari’at agama. Kemudian disusul dengan memperbaiki kualitas ibadah kita
kepada Allah ﷻ; menjaga shalat
berjama’ah, menambah kualitas dan kuantitas serta intensitas dalam berinteraksi
dengan Al-Qur’an. Begitu pula amalan ibadah-ibadah sunnah lainnya yang
menjadikan kita semakin dekat dengan Allah ﷻ.
Selain itu, tak lupa kita sebagai manusia hendaknya senantiasa
memperbaiki akhlak kepada sesama manusia dengan lebih menjaga ucapan dan
perbuatan, mengurangi amarah dan mulai mudah memaafkan sesama manusia dimulai
dari internal keluarga kemudian masyarakat sekitar.
Dengan demikian, tidak hanya hablum minallah saja yang
diperbaiki, itu merupakan kewajiban kita dalam menunaikan hak Allah ﷻ. Namun kita juga memiliki kewajiban berupa hablum
minannaas yang tak kalah pentingnya untuk senantiasa kita
jaga. Yang dengannya akan terwujud sebuah kehidupan yang harmonis
khususnya dengan sesama muslim.
Pada akhirnya, hijrah Rasulullah ﷺ mengajarkan
bahwa perubahan sejati membutuhkan visi yang benar, pengorbanan, perencanaan,
tawakal, dan istiqamah. Karena itu, Tahun Baru Hijriyah hendaknya tidak hanya
menjadi momen mengenang sejarah dan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi
sarana mengevaluasi diri dan memperbarui tekad untuk menjadi muslim yang lebih
baik.
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Maka, makna terdalam dari resolusi dalam Islam adalah berhijrah
setiap hari menuju ridha Allah ﷻ, meninggalkan apa yang dibenci-Nya dan menempuh jalan yang
dicintai-Nya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan tahun yang baru ini dan hari-hari yang akan
kita lalui sebagai awal hijrah yang lebih baik dalam iman, ilmu, amal, dan
dakwah kita.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Tidak ada komentar