PPDB dan Mitos Sekolah Favorit: Sekolah Terbaik adalah yang Sesuai Potensi Anak
Drama Tahunan Bernama PPDB
Setiap musim PPDB, masyarakat kembali disuguhi fenomena yang sama: antrean panjang pendaftaran sekolah negeri, perpindahan alamat demi zonasi, hingga kecemasan orang tua yang terus memantau posisi anaknya dalam seleksi. Bagi sebagian keluarga, diterima di sekolah negeri dianggap sebagai jalan terbaik untuk memperoleh pendidikan berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau.
Menariknya, di tengah membludaknya pendaftar sekolah negeri, sejumlah sekolah swasta di Solo Raya justru telah penuh sebelum PPDB negeri berakhir. SMP Muhammadiyah 8 Surakarta, misalnya, bahkan menambah rombongan belajar dari lima menjadi delapan kelas karena tingginya minat masyarakat. Fakta ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kini semakin ditentukan oleh mutu layanan pendidikan, bukan semata-mata oleh label negeri atau swasta (radarsolo.jawapos.com).
Faktor ekonomi menjadi alasan utama tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri. Biaya yang lebih terjangkau karena subsidi pemerintah menjadikannya pilihan rasional bagi banyak keluarga, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan pendidikan yang harus ditanggung secara bersamaan.
Penulis sempat membaca curahan hati seorang ibu di media sosial yang mengaku cemas menghadapi PPDB karena harus membiayai empat anak sekaligus: satu kuliah, satu mendaftar SMA, dan dua anak kembar masuk SD. Baginya, sekolah negeri bukan sekadar pilihan, melainkan solusi agar seluruh anaknya tetap dapat mengakses pendidikan.
Karena itu, membludaknya pendaftar sekolah negeri tidak selalu berarti masyarakat menganggap mutunya lebih baik. Sering kali, pilihan tersebut lebih mencerminkan pertimbangan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga Indonesia.
Sekolah negeri masih menjadi pilihan utama karena adanya persepsi yang telah terbentuk sejak lama. Pada masa lalu, sekolah negeri memang identik dengan guru terbaik, fasilitas yang lebih lengkap, dan dukungan pemerintah yang kuat. Citra tersebut kemudian melekat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori cultural capital dari sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu (1930–2002). Bourdieu (1986) menjelaskan bahwa pilihan pendidikan seseorang tidak hanya didasarkan pada pertimbangan objektif, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai, kebiasaan, dan persepsi yang diwariskan dalam keluarga dan lingkungan sosial.
Akibatnya, meskipun kualitas sekolah swasta saat ini banyak yang setara, bahkan unggul, sebagian masyarakat masih memandang sekolah negeri sebagai pilihan yang lebih baik karena pengaruh persepsi yang telah mengakar lama.
Mutu Pendidikan Tidak Ditentukan Status Kepemilikan
Pandangan bahwa sekolah negeri selalu lebih baik dibanding sekolah swasta perlu ditinjau kembali. Anies Baswedan, dalam diskusi "Pemuda Bertanya, Anies Menjawab" pada 14 Juli 2023, menegaskan bahwa kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas guru, kepala sekolah, dan kepemimpinan pendidikan. Menurutnya, "kualitas guru dan kualitas kepala sekolah" merupakan sumber utama mutu pendidikan, sementara "kepemimpinan menentukan kualitas sekolah" (www.suara.com).
Oleh karena itu, ukuran sekolah yang baik seharusnya tidak didasarkan pada status negeri atau swasta, melainkan pada kualitas ekosistem pembelajaran yang dibangun di dalamnya.
Fakta tersebut terlihat dari prestasi SMA Trensains Muhammadiyah Sragen. Berdasarkan data Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) tahun 2025, sekolah ini menempati peringkat pertama sekolah paling berprestasi di Indonesia dengan raihan sekitar 1.105 medali dari berbagai kompetisi nasional dan internasional. Prestasi tersebut menempatkan SMA Trensains di atas banyak sekolah negeri unggulan di Indonesia (muhammadiyah.or.id).
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sekolah unggul tidak ditentukan oleh status kepemilikannya, melainkan oleh kualitas pengelolaan, dedikasi guru, serta budaya akademik yang mampu mendorong peserta didik meraih prestasi terbaik.
Kesuksesan Anak Tidak Ditentukan Nama Sekolah
Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh nama sekolah, melainkan oleh kerja keras, karakter, dan kemauan belajar. Sekolah hanyalah salah satu faktor, sementara dukungan keluarga, motivasi, dan daya juang sering kali menjadi penentu utama.
Kisah Bahlil Lahadalia menjadi contoh menarik bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh nama sekolah. Ia menempuh pendidikan S-1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay Jayapura, sebuah perguruan tinggi swasta daerah yang tidak termasuk kampus ternama nasional. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister (S-2) di Universitas Cenderawasih dan kemudian meraih gelar doktor (S-3) pada Program Kajian Stratejik dan Global di Universitas Indonesia pada tahun 2024. Namun, yang mengantarkannya ke panggung nasional bukanlah nama kampus semata, melainkan kerja keras, pengalaman organisasi, dan daya juangnya. Dari mahasiswa yang pernah bekerja sebagai sopir angkot untuk membiayai kuliah, ia kemudian menjadi Ketua Umum HIPMI, Menteri Investasi, hingga Menteri ESDM (www.detik.com).
Perjalanan Bahlil menunjukkan bahwa masa depan seseorang lebih ditentukan oleh karakter, ketekunan, dan kemauan belajar sepanjang hayat daripada sekadar label sekolah atau perguruan tinggi yang ditempuh.
Bahaya Mitos Sekolah Favorit
(a) Menimbulkan Tekanan pada Anak. Mitos sekolah favorit membuat banyak anak dibebani target masuk sekolah tertentu seolah masa depannya ditentukan oleh satu lembaga. Padahal, psikolog pendidikan Benjamin Bloom dalam Developing Talent in Young People (1985) menyebutkan bahwa keberhasilan anak lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan, dukungan keluarga, dan motivasi belajar.
(b) Memperlebar Kesenjangan Pendidikan. Label "favorit" menyebabkan penumpukan siswa di sekolah tertentu, sementara sekolah lain kekurangan peminat. Menurut H.A.R. Tilaar dalam Paradigma Baru Pendidikan Nasional (2004), pengelompokan sekolah unggulan dan nonunggulan dapat memperkuat ketimpangan pendidikan.
(c) Mengabaikan Potensi Sekolah Lain. Banyak sekolah berkualitas kurang mendapat apresiasi karena tidak memiliki label "favorit". Padahal, menurut Anies Baswedan, kualitas sekolah ditentukan oleh ekosistem belajar, guru, dan kepemimpinannya, bukan oleh status negeri atau swasta. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih fokus pada mutu daripada label sekolah.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Orang tua perlu lebih jeli melihat mutu pendidikan daripada sekadar label sekolah. Di sisi lain, pemerintah harus terus mendorong pemerataan kualitas agar setiap sekolah mampu menjadi pilihan yang baik bagi masyarakat. Sudah saatnya paradigma "sekolah favorit" bergeser menjadi "sekolah bermutu".
Pada akhirnya, masa depan anak tidak ditentukan oleh status negeri atau swasta, melainkan oleh semangat belajar, kualitas guru, lingkungan yang mendukung, dan peran keluarga. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Apakah ini sekolah favorit?", melainkan "Apakah sekolah ini sesuai dengan kebutuhan dan potensi anak saya?".
PROFIL PENULIS
Dr. Eko Purbiyanto, S.Mn., M.M., lahir di Karanganyar pada 15 Juli 1983. Sempat menempuh S-1 Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret. Menyelesaikan S-1 Manajemen di Universitas Terbuka (2012), S-2 Manajemen di Universitas Slamet Riyadi Surakarta (2014), dan S-3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta (2025). Menempuh pendidikan diniyah di Pondok Pesantren Nashirus Sunnah Mesir.
Selain mengajar, juga aktif menulis berbagai karya sastra dan akademik. Dalam bidang sastra, ia menulis sejumlah book chapter dan karya seperti Esai Ramadhan Ramah Anak, Kumpulan Doa untuk Ibu, serta Cerpen Cerita Anak Indonesia. Dalam bidang akademik, ia berkontribusi dalam berbagai book chapter ilmiah, antara lain BUM Desa Sebagai Kekuatan Ekonomi Baru (Sebuah Gagasan untuk Desa di Indonesia); Setahun Covid-19 dalam Perspektif Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan, Sosial Budaya, Komunikasi, dan Hukum; Literasi Digital dan Peningkatan Daya Saing UMKM Masa Kini; serta Pembangunan Inklusif Disabilitas Menuju Indonesia Emas 2045. Menulis artikel ilmiah dalam jurnal nasional maupun internasional, termasuk jurnal terindeks SINTA dan Scopus.
Tidak ada komentar