Khutbah Jumat: Ketika Dunia Bergoncang, ke Mana Hati Bersandar?
Ketika Dunia Bergoncang, ke Mana Hati
Bersandar?
Ust. H. Nafsir Abu Muhammad As Sambasy, S.Ag.,
M.Si.
Anggota Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ،
وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ،
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan
kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya. Sebab, hanya dengan takwa seseorang akan memperoleh keselamatan
di dunia dan akhirat.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Beberapa waktu terakhir, masyarakat kita sering
disuguhi berbagai berita yang membuat hati gelisah. Harga kebutuhan pokok naik.
Lapangan pekerjaan semakin ketat. Nilai tukar rupiah melemah. Keadaan ekonomi
dunia tidak menentu.
Belum lagi berbagai konflik dan bencana yang
terjadi di berbagai belahan dunia.
Banyak orang bertanya-tanya, “Apa yang akan
terjadi besok? Bagaimana masa depan keluarga kami? Apakah keadaan akan semakin
sulit?”
Pertanyaan-pertanyaan itu manusiawi. Namun, di
tengah semua kegelisahan tersebut, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Ketika dunia bergoncang, ke mana hati kita bersandar?”
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Dunia memang tidak pernah menjanjikan
kestabilan.
Hari ini sehat, esok bisa sakit.
Hari ini kaya, esok bisa miskin.
Hari ini tertawa, esok bisa menangis.
Hari ini dipuji, esok bisa dicela.
Karena dunia memang bukan tempat menetap. Dunia
adalah tempat ujian.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan
dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai
Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah
[2]: 155)
Perhatikan ayat ini.
Allah tidak mengatakan, “jika ujian datang.”
Akan tetapi, Allah mengatakan, “Kami pasti akan menguji kalian.”
Artinya, setiap manusia akan diuji.
Ada yang diuji dengan kekurangan.
Ada yang diuji dengan kelebihan.
Ada yang diuji dengan kesulitan.
Ada yang diuji dengan kemudahan.
Maka, ukuran keberhasilan hidup bukanlah
seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan seberapa dekat hati kita kepada
Allah ketika ujian datang.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Masalah terbesar bukanlah ketika rupiah melemah.
Masalah terbesar adalah ketika iman melemah.
Karena ada orang yang hidup sederhana, tetapi
tidurnya nyenyak. Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya penuh
kecemasan.
Mengapa demikian?
Karena ketenangan bukan berasal dari banyaknya
harta. Ketenangan berasal dari dekatnya hati kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah
hati akan selalu tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa sumber ketenangan
bukanlah rekening yang besar, bukan pula jabatan yang tinggi, melainkan
hubungan yang baik dengan Allah ﷻ.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Ketika kondisi ekonomi sulit, setan sering
menanamkan rasa takut dalam hati manusia.
Takut miskin.
Takut gagal.
Takut menghadapi masa depan.
Takut kehilangan.
Padahal, Allah ﷻ telah
memberikan janji yang luar biasa.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ
مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia
akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari
arah yang tidak dia duga." (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Betapa banyak orang yang pernah berada di titik
terendah kehidupannya. Mereka merasa tidak ada jalan keluar. Mereka merasa
semua pintu telah tertutup.
Namun, ternyata Allah ﷻ membukakan
pintu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Karena rezeki tidak hanya datang melalui
hitungan manusia. Rezeki datang dari Allah ﷻ, Yang
menggerakkan hati manusia, Yang membukakan kesempatan, Yang memberikan
keberkahan, dan Yang mengubah kesempitan menjadi kelapangan.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Renungkanlah kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salām.
Beliau kehilangan harta. Beliau kehilangan kesehatan. Beliau menghadapi
penderitaan yang sangat panjang.
Namun, beliau tidak kehilangan iman. Beliau
tidak kehilangan kesabaran. Beliau tidak kehilangan harapan kepada Allah ﷻ.
Yang membuat Nabi Ayyub ‘alaihis salām
tetap kuat bukan karena hartanya masih ada. Yang membuat beliau tetap tenang
bukan karena tubuhnya masih sehat.
Akan tetapi, karena beliau masih memiliki
Allah.
Dan siapa yang masih memiliki Allah,
sesungguhnya ia tidak kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Ada tiga bekal yang perlu kita pegang ketika
menghadapi masa-masa sulit.
Pertama,
memperkuat ketakwaan.
Kedua,
memperbanyak istigfar.
Allah ﷻ berfirman
melalui lisan Nabi Nuh ‘alaihis salām:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ
كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada
Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat
dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan
kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh [71]: 10-12)
Ketiga, memperbanyak sedekah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR.
Muslim)
Jangan takut berbagi.
Karena apa yang kita sedekahkan tidak akan
hilang. Justru Allah ﷻ menyimpannya dan mengembalikannya kepada kita dalam bentuk
keberkahan yang sering kali tidak kita sadari.
Ma‘āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Boleh jadi Allah ﷻ mengambil
sebagian dunia yang kita cintai agar hati kita kembali mencintai-Nya melebihi
segala sesuatu.
Tidak ada krisis yang abadi. Tidak ada kesulitan
yang berlangsung selamanya. Dan tidak ada malam yang tidak diikuti oleh
terbitnya fajar.
Karena itu, jangan gantungkan hati kepada dunia
yang selalu berubah. Gantungkanlah hati kepada Allah ﷻ yang tidak
pernah berubah.
Jangan gantungkan harapan kepada makhluk yang
lemah. Gantungkanlah harapan kepada Allah ﷻ Yang Maha
Kaya.
Jangan biarkan berita-berita dunia lebih banyak
memenuhi hati kita daripada ayat-ayat Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ menjadikan
kita hamba-hamba yang sabar, bertakwa, istiqamah, dan bertawakal kepada-Nya
dalam segala keadaan.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya kebahagiaan bukan terletak pada
banyaknya harta. Bukan pula pada tingginya jabatan. Akan tetapi, kebahagiaan
sejati adalah ketika hati mengenal Allah ﷻ, percaya
kepada janji-Nya, rida terhadap takdir-Nya, dan berharap kepada rahmat-Nya.
Maka, perbanyaklah doa. Perbanyaklah zikir.
Perbanyaklah membaca Al-Qur'an. Perbanyaklah sedekah dan amal saleh. Karena
semua itu merupakan bekal yang akan menenangkan hati ketika dunia sedang tidak
baik-baik saja.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي
هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ
حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا
وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِينَا وَأَوْلَادِنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا
كَامِلًا، وَيَقِينًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا،
وَرِزْقًا وَاسِعًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ
وَالْبَلَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ
الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً،
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.
Tidak ada komentar