Header Ads

Header ADS

Ketika Jalan Raya Dibungkam, Masihkah Kita Punya Suara?


Catatan Kritis atas Blokade Aksi Mahasiswa Menuju Bundaran HI

Oleh: Firmansyah, S.Hum.

Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah


"Jika gedung parlemen telah berubah menjadi benteng yang angkuh bagi kepentingan elite, maka jalan raya adalah satu-satunya ruang sidang yang tersisa bagi rakyat. Di sana, kebenaran tidak lagi disaring oleh protokol kekuasaan."

Siang itu, selepas salat Jumat, aspal Sudirman tidak hanya menyimpan panas matahari Jakarta yang menyengat, tetapi juga ketegangan yang merambat naik dari sepatu-sepatu yang beradu dengan beton. Di antara aroma knalpot yang pekat dan keringat yang mengucur, terlihat sebuah pemandangan yang terasa mencekam: barisan pasukan gabungan TNI-Polri yang digelar serupa pagar betis, memisahkan rakyat dari jantung ibu kotanya sendiri.

Di balik barikade itu, mahasiswa-mahasiswa UI muncul dengan jaket almamater yang bercampur debu dan peluh. Bukan untuk berpiknik mereka datang. Mata mereka menyala, bukan oleh kebencian, melainkan oleh urgensi yang tak lagi sanggup disimpan di dalam ruang kuliah. Bundaran HI menjadi tujuan. Bagi mereka, itu bukan sekadar titik geografis, melainkan panggung legitimasi tempat suara yang diabaikan bisa menembus dinding-dinding kaca gedung pencakar langit.


Benturan Dua Dunia

Di depan mereka, barisan aparat berdiri dengan tameng yang memantulkan bayangan langit Jakarta yang terik. Ada kontras yang menusuk mata: di satu sisi, barisan seragam yang disiplin, kaku, dan penuh instruksi; di sisi lain, kelompok muda yang membawa pengeras suara, spanduk bertuliskan keresahan, dan nyali.

Seorang mahasiswa di barisan depan tampak dengan suara parau, namun tangan terkepal mantap. Saat usaha merangsek maju dilakukan, dorongan itu bukan hanya fisik, tetapi eksistensial. "Beri jalan!" Teriakan itu memecah kebisingan kota. Dan jawaban yang diterima hanyalah dinding manusia yang semakin merapat. Polisi dan tentara, dengan pandangan yang kosong, membentuk kepungan yang presisi. Di mata mereka, mungkin mahasiswa ini hanyalah "gangguan ketertiban". Namun, di mata sejarah, mereka adalah detak jantung demokrasi yang sedang berusaha bertahan hidup di tengah upaya pembungkaman.

Ada saat-saat hening yang mencekam, ketika suara sirene ambulans di kejauhan terdengar lebih nyaring dari biasanya. Pada momen itulah disadari bahwa blokade ini bukan sekadar urusan lalu lintas. Ini adalah upaya sistematis untuk memindahkan "kegaduhan" demokrasi ke sudut-sudut yang tak terlihat. Penguasa ingin agar protes ini tidak terdengar, tidak terlihat, dan akhirnya tidak bermakna. Mereka ingin membungkam suara rakyat di ruang publik agar kebijakan yang cacat tidak diganggu oleh logika mahasiswa yang kritis.


Luka pada Demokrasi

Mengapa negara begitu takut pada sekelompok anak muda dengan selebaran kertas?

Spanduk yang terinjak-injak di aspal diangkat kembali. Kesadaran muncul: jika mundur dilakukan sekarang, jika membiarkan diri diarahkan ke titik yang sepi, maka perjuangan akan menjadi sia-sia. Protes tanpa pendengar adalah ritual yang mati.

Negara memiliki seribu alasan. Narasi tentang keamanan, hak warga lain untuk bekerja, dan ketertiban selalu menjadi tameng utama. Namun, mari bersikap jujur: Apakah pembatasan akses ini benar-benar demi melindungi warga, atau justru untuk memastikan agar kritik mahasiswa tidak pernah sampai ke telinga penguasa?

Ada garis tipis namun krusial antara "mengatur" dan "membungkam". Ketika aparat menutup akses ke titik strategis, operasi senyap sedang dilakukan untuk mematikan esensi perlawanan. Mereka ingin mengubah demonstrasi dari sebuah kekuatan politik yang menekan menjadi sebuah pertunjukan teater yang sunyi di tempat terpencil.


Panggilan Nurani

Keinginan untuk beraktivitas dengan tenang adalah hal manusiawi. Namun, bayangkan jika harus memilih: antara kenyamanan sesaat atau masa depan bangsa yang sedang digadaikan oleh kebijakan yang tak berpihak pada rakyat?

Mahasiswa yang turun ke jalan tidak membawa senjata. Tidak ada anggaran negara, tidak ada kursi jabatan, tidak ada akses ke media arus utama yang bisa memelintir opini. Senjata utama hanyalah nurani, buku, dan keberanian yang tulus. Ketika ruang gerak dibatasi oleh barisan aparat dengan tameng dan kawat berduri, bukan hanya mahasiswa yang dirugikan, tetapi kualitas demokrasi yang sedang mengalami kemunduran tajam.

Negara yang berdaulat dan percaya diri dengan kebijakannya tidak akan pernah takut pada suara mahasiswa. Sebaliknya, rasa takut yang berlebihan dari aparat terhadap massa mahasiswa adalah bukti nyata bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, ada kebijakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan ada ketakutan akan kebenaran yang akan terungkap di depan publik.


Sebuah Catatan Akhir di Atas Aspal

Ketika hari mulai sore dan matahari meredup di balik gedung-gedung tinggi, massa masih bertahan. Lelah, namun belum menyerah. Solidaritas terbentuk; satu botol air minum dibagikan, satu napas ditarik bersama sebelum teriakan yel-yel kembali membahana.

Dukungan publik, bahkan sekadar empati di media sosial atau apresiasi terhadap keberanian mereka, bukanlah soal setuju dengan metode aksi secara teknis. Ini adalah soal hak dasar untuk didengar. Jika hari ini kita diam, membiarkan mahasiswa dibungkam di jalanan, atau bahkan mencela mereka karena mengganggu lalu lintas, maka jangan kaget jika besok suara Anda sendiri yang akan diabaikan saat benar-benar membutuhkan bantuan negara.

Pertanyaannya sederhana namun mendalam: Apakah negara ingin mengelola perbedaan pendapat dengan bijak, atau justru ingin mengendalikan agar perbedaan itu tidak terdengar sama sekali?

Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan menentukan apakah kita masih berdiri tegak dalam semangat Reformasi, atau justru perlahan-lahan menjauh dan mengkhianati cita-cita mereka yang dahulu berdarah-darah di jalan yang sama. Demokrasi yang kaku, yang hanya ada di atas kertas undang-undang, tidaklah cukup. Dibutuhkan demokrasi yang hidup, yang bernapas, yang berani dikritik, dan yang mampu mendengar suara-suara yang selama ini disingkirkan.

Jangan biarkan jalan raya menjadi sunyi dari kebenaran. Jangan biarkan suara-suara mahasiswa terkubur oleh barikade kekuasaan. Pahami bahwa setiap tetes keringat mereka adalah investasi untuk masa depan yang lebih adil. Jika tidak bisa ikut berdiri di sana, minimal jangan biarkan narasi pembungkaman menang atas akal sehat.

Indonesia membutuhkan keberanian. Dan keberanian itu, hari ini, sedang diuji di aspal-aspal Jakarta. Apakah akan menjadi bagian dari mereka yang membungkam, atau mereka yang memberikan ruang bagi suara-suara rakyat untuk terus bergema? Pilihan ada di tangan kita. Karena ketika jalan raya dibungkam, bukan hanya mahasiswa yang kehilangan suaranya, tetapi kita semua, seluruh rakyat Indonesia, yang perlahan-lahan kehilangan hak untuk bermimpi tentang negara yang lebih baik.

Jalanan adalah milik rakyat. Jangan biarkan mereka mengambilnya! [fms]

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.