Kultum: Tawakal, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab Sosial di Tengah Kesulitan Ekonomi
Kultum: Tawakal, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab
Sosial di Tengah Kesulitan Ekonomi
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Hari ini kita hidup di masa ketika persoalan ekonomi
menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Harga kebutuhan naik, biaya hidup
semakin berat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, dan banyak keluarga
merasakan tekanan ekonomi.
Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan: bagaimana
Islam mengajarkan kita menyikapinya?
Pertama, kita harus memahami satu hal penting: Allah ﷻ adalah
Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ
الْمَتِيْنُ
“Sesungguhnya
Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” (QS. Az-Zariyat [51]: 58)
Rezeki datang dari Allah ﷻ. Jangankan manusia, hewan,
ikan, bahkan serangga pun dijamin rezekinya oleh Allah ﷻ.
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
“Tidak satu pun hewan
yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah.” (QS. Hud [11]: 6)
Tetapi memahami bahwa Allah ﷻ adalah
Ar-Razzaq bukan berarti kita berhenti berpikir, berhenti berusaha, atau tidak
peduli terhadap keadaan.
Hidup mudah, rezeki dari Allah ﷻ. Hidup sulit, rezeki juga
dari Allah ﷻ. Tetapi jika ada jalan yang lebih baik dan lebih maslahat,
mengapa memilih jalan yang lebih sulit?
Karena itu, tawakal dalam Islam bukan berarti pasrah
tanpa usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah ﷻ sambil
melakukan ikhtiar terbaik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau
bertawakal!” (HR. At-Tirmidzi)
Para ulama menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah
menghadirkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan. Maka memperjuangkan
kehidupan yang lebih baik, memperbaiki keadaan, dan mencari solusi atas
kesulitan ekonomi juga bagian dari ikhtiar yang diajarkan agama.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Ada hadis yang sangat relevan dalam persoalan ekonomi.
Ketika harga-harga naik, para sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan meminta beliau menetapkan harga.
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ
الْبَاسِطُ الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى رَبِّي وَلَيْسَ أَحَدٌ
مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ.
“Sesungguhnya
Allah-lah Yang Menetapkan Harga, Yang Menyempitkan, Yang Melapangkan, dan Yang
Memberi Rezeki. Sungguh aku berharap bertemu dengan Rabbku dalam keadaan tidak
ada seorang pun di antara kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman dalam
urusan darah maupun harta.” (HR.
At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dari hadis ini kita belajar bahwa Rasulullah ﷺ berhati-hati terhadap kebijakan yang dapat menzalimi manusia,
terutama produsen atau penjual.
Tetapi kita juga harus memahami bahwa Rasulullah ﷺ bukan berarti membiarkan pasar berjalan tanpa aturan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُتَلَقَّى الْجَلَبُ
“Rasulullah ﷺ melarang seseorang mencegat
rombongan dagang.” (HR. Muslim)
Hal ini agar harga terbentuk secara wajar dan tidak
dimanipulasi tengkulak yang lebih dulu tahu informasi harga.
Beliau juga melarang penimbunan. Beliau melarang
manipulasi pasar. Beliau melarang praktik yang merugikan masyarakat. Beliau
melarang tindakan yang menciptakan ketidakadilan ekonomi.
Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan tawakal, tetapi
juga keadilan sosial.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Masalah sosial juga tidak bisa diselesaikan dengan sikap
tidak peduli.
وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗ
“Berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
(QS. Al-Qasas [28]: 77)
Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari Rasulullah ﷺ pernah memberikan perumpamaan tentang penumpang kapal. Sebagian
berada di atas, sebagian berada di bawah. Orang yang di bawah ingin melubangi
kapal agar mudah mengambil air. Jika dibiarkan, seluruh kapal akan tenggelam.
Tetapi jika dicegah, semuanya akan selamat.
Pelajarannya jelas. Kerusakan yang dibiarkan akan
berdampak kepada semua orang. Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar bukan hanya
urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial.
Peduli terhadap keadaan masyarakat, mengingatkan ketika
ada kesalahan, memberi masukan, menyampaikan kritik dengan adab yang baik, dan
memperjuangkan kemaslahatan adalah bagian dari tanggung jawab bersama.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Ketika ekonomi sulit, tentu rakyat perlu didakwahi untuk
bersabar, bertawakal, bekerja keras, saling membantu, dan memperkuat
solidaritas.
Namun dakwah tidak boleh berhenti hanya kepada rakyat. Para
pemegang amanah, pemegang kebijakan, stakeholder, dan siapa pun yang memiliki
kekuasaan juga harus diingatkan tentang tanggung jawabnya. Karena kepemimpinan
dalam Islam adalah amanah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan
dimintai pertanggung jawaban.” (HR. Ahmad)
Maka tidak cukup hanya meminta masyarakat tenang di
tengah kesulitan. Mereka yang mengelola kebijakan juga memiliki tanggung jawab
untuk menghadirkan keadilan, menjaga distribusi yang baik, mengurangi
kemudaratan, dan memastikan amanah dijalankan dengan benar. Karena kebijakan
yang baik adalah bagian dari amanah.
Jamaah yang dirahmati Allah ﷻ,
Maka ada empat pelajaran yang dapat kita ambil:
Pertama, bertawakallah kepada Allah
karena rezeki berasal dari-Nya.
Kedua, jangan tinggalkan ikhtiar.
Belajar, bekerja, memahami keadaan, dan beradaptasi adalah bagian dari tawakal.
Ketiga, bangun kepedulian sosial.
Masalah masyarakat tidak selesai hanya dengan doa, tetapi juga dengan usaha dan
kepedulian bersama.
Keempat, amanah berlaku untuk
semua. Rakyat memiliki kewajiban untuk berusaha dan menjaga kebaikan, sementara
para pemimpin dan pemegang kebijakan memiliki tanggung jawab besar untuk
mengurus masyarakat dengan adil dan penuh tanggung jawab.
Semoga Allah memberi kita rezeki yang halal, hati yang
tenang, masyarakat yang peduli, dan pemimpin-pemimpin yang amanah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar