Khutbah Jumat: Jembar Lan Resik Wadahe, Akeh Lan Berkah Rejekine
Khutbah Jumat: Jembar Lan Resik Wadahe, Akeh Lan
Berkah Rejekine
Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd
Anggota Majelis
Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo, Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah
Angkatan 3
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ
أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا،
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ،
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara perkara yang paling sering dipikirkan
manusia adalah rezeki. Banyak orang mengukur kebahagiaan dari banyaknya harta,
luasnya usaha, tingginya jabatan, atau besarnya penghasilan.
Padahal seorang mukmin memahami bahwa rezeki
bukan hanya tentang berapa banyak yang Allah ﷻ berikan,
tetapi juga tentang seberapa siap dirinya menerima, menjaga, dan memanfaatkan
karunia tersebut.
Saudaraku seiman,
Seorang hamba ibarat bejana, sedangkan rezeki
Allah ﷻ ibarat air yang tercurah dari langit.
Jika bejana itu kecil, ia hanya mampu menampung
sedikit. Jika bocor, air yang masuk akan terbuang. Jika kotor, air yang bersih
menjadi tercemar. Jika terbalik, sebanyak apa pun air yang turun tidak akan
masuk ke dalamnya.
Karena itu tugas kita bukan sekadar meminta
hujan rezeki, tetapi mempersiapkan wadah agar layak menerima karunia Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا
عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi
melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Dan Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ
الْمَتِينُ
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki
yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)
Maka jangan pernah menyangka bahwa rezeki datang
semata karena kecerdasan, jabatan, relasi, atau strategi. Semua itu hanyalah
sebab. Adapun yang menentukan kadar dan jumlahnya adalah Allah ﷻ, Ar-Razzaq.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mengapa ada orang yang rezekinya lapang dan ada
yang sempit?
Allah ﷻ berfirman,
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ
وَيَقْدِرُ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia
kehendaki dan menyempitkannya.” (QS.
Ar-Ra’d: 26)
Namun perlu dipahami, banyaknya rezeki bukan
selalu tanda kemuliaan.
Sedikitnya rezeki bukan selalu tanda kehinaan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ
وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada
orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Tetapi Allah tidak
memberikan iman kecuali kepada orang yang Dia cintai.” (HR. Ahmad)
Karena itu ukuran kemuliaan seorang hamba
bukanlah banyaknya dunia yang ia miliki, melainkan ketakwaannya kepada Allah ﷻ.
Hadirin yang dimuliakan Allah ﷻ,
Salah satu sebab sempitnya rezeki dan hilangnya
keberkahan adalah dosa dan maksiat. Betapa banyak orang yang bekerja keras,
namun hidupnya terasa sempit. Betapa banyak orang yang hartanya banyak, namun
hatinya tidak pernah tenang.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka
baginya kehidupan yang sempit.” (QS.
Thaha: 124)
Dosa mengotori hati. Maksiat menggelapkan jiwa.
Hati yang keras adalah bejana yang kotor. Karena itu, wahai kaum muslimin,
bersihkanlah bejana hati kita dengan taubat dan istighfar.
Allah ﷻ berfirman
melalui lisan Nabi Nuh عليه السلام,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ
كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan
memperbanyak harta serta anak-anakmu.” (QS.
Nuh: 10–12)
Istighfar bukan hanya menghapus dosa. Istighfar
juga membuka pintu keberkahan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ikhtiar Memperluas Bejana
Selain membersihkan bejana, kita juga harus
memperbesar kapasitasnya. Bagaimana caranya? Dengan ilmu, amanah, dan
ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ
لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ
“Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada
seluruh hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi.” (QS. Asy-Syura: 27)
Kadang Allah ﷻ belum
memberi lebih banyak karena kita belum siap memikul amanah yang lebih besar.
Maka perbesar kapasitas diri dengan ilmu yang bermanfaat, ikhitiar maksimal,
dan tanggung jawab yang kuat.
Jangan menjadi bejana yang bocor!
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا
الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk
menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)
Orang yang tidak amanah sulit dipercaya manusia
dan sulit mendapatkan keberkahan dari Allah ﷻ dan
hanya akan mempersulit urusan sesama manusia lainnya.
Kemudian jagalah bejana itu
dengan syukur!
Allah ﷻ berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah
nikmat kepada kalian.” (QS.
Ibrahim: 7)
Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, “Syukur adalah pengikat nikmat yang telah ada
dan pemburu nikmat yang belum ada.”
Betapa banyak nikmat hilang karena tidak
disyukuri. Betapa banyak nikmat bertambah karena syukur.
Dan jangan lupa, wahai kaum muslimin, untuk
bertawakal kepada Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ
حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah
dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana
burung diberi rezeki.” (HR.
Tirmidzi)
Burung tidak berdiam diri di sarangnya. Burung
tetap terbang mencari makan.
Maka tawakal
bukan meninggalkan ikhtiar, tetapi menyandarkan hasil kepada Allah ﷻ setelah
melakukan ikhtiar yang maksimal.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَحْدَهُ، وَالصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ
اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ التَّقْوَى.
Kaum muslimin Rahimakumullah,
Pada akhirnya, rezeki terbesar bukanlah
banyaknya harta, tetapi keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
»لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى
النَّفْسِ«
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda,
tetapi kekayaan adalah kayanya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka marilah kita memantaskan diri menjadi wadah
rezeki yang baik dengan bertaubat dari dosa, memperbanyak istighfar, menuntut
ilmu, menjaga amanah, memperbanyak syukur, gemar bersedekah, menyambung
silaturahim, bertawakal kepada Allah ﷻ.
Alangkah lebih indah jika kita tidak hanya sibuk
meminta hujan rezeki. Tapi juga meyibukkan diri membersihkan bejana,
memperbesar kapasitasnya, dan menutup segala kebocorannya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan
hati kita wadah yang luas bagi iman, ilmu, dan keberkahan. Aamiin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ،
وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا
أَعْطَيْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى
ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى﴾
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Tidak ada komentar