Header Ads

Header ADS

Khutbah Jumat: Tabayyun di Era Viral: Menjaga Hati, Menjaga Keadilan, Menjaga Diri


KHUTBAH JUMAT

Tabayyun di Era Viral: Menjaga Hati, Menjaga Keadilan, Menjaga Diri

Ust. H. Nafsir Abu Annas, S.Ag., M.Si

Anggota Majelis Tabligh PDM Sukoharjo

 

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya. Takwa adalah ketika hati merasa diawasi, lalu lisan menjadi terjaga, sikap menjadi bijaksana, dan keputusan menjadi adil.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kita hidup di zaman yang serba cepat dan serba instan. Berita datang begitu cepat, komentar hadir dengan cepat, penilaian dibuat dengan cepat, dan kesimpulan diambil dengan cepat. Kadang sesuatu yang belum utuh telah ramai dibicarakan dan disebarkan. Yang belum jelas telah berani disimpulkan. Yang belum tentu benar kadang telah jauh diteruskan. Lalu setelah keadaan menjadi gaduh, barulah disadari bahwa ternyata tidak seperti yang disangka.

Allah berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kalian menyesal.” (QS. Al-Hujurat: 6)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa penyesalan sering lahir dari ketergesaan dan ketidakcermatan. Banyak persoalan bukan bermula dari kebencian, tetapi dari sikap tergesa-gesa dalam menilai. Banyak hubungan rusak bukan karena niat jahat, tetapi karena tidak sabar memeriksa kebenaran. Ada hati yang terluka bukan karena niat menyakiti, tetapi karena lisan yang tidak terjaga. Ada pula hati yang hancur bukan karena kebencian, melainkan karena kata-kata yang terlanjur terucapkan.

Kadang kita berkata, “Saya hanya meneruskan,” atau “Saya hanya mendengar lalu menyampaikan,” bahkan “Saya tidak bermaksud apa-apa.” Padahal satu kalimat yang kita teruskan bisa menjadi beban panjang bagi orang lain. Boleh jadi kita sudah lupa, namun orang yang terkena fitnah masih menyimpan luka. Boleh jadi kita menganggapnya ringan, namun nama baik seseorang sedang runtuh. Boleh jadi kita mengiranya biasa, namun rumah tangga seseorang sedang terguncang.

Rasulullah bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ada pahala yang terus mengalir ketika seseorang menjadi sebab datangnya kebaikan. Namun ada pula dosa yang terus mengalir ketika seseorang menjadi sebab tersebarnya keburukan. Satu ucapan dapat memancing ghibah, satu kiriman dapat menyalakan fitnah, dan satu tuduhan dapat menggerakkan banyak lisan. Lalu yang lain ikut menyebarkan, sedangkan kita menjadi pintu awalnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ

“Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di zaman ini kadang kita mudah melihat kekurangan orang lain, namun lambat melihat kekurangan diri sendiri. Mudah membicarakan aib saudara, namun lupa bahwa diri sendiri pun masih banyak cela yang Allah tutupi.

Karena itu Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ، تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya. Dan siapa yang Allah buka aibnya, niscaya ia akan dipermalukan meskipun berada di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hadis ini bukan untuk menunjuk orang lain, tetapi untuk mengingatkan diri kita semua. Boleh jadi bukan orang lain yang paling membutuhkan nasihat ini, melainkan diri kita sendirilah yang paling memerlukannya. Maka jangan sibuk mencari kesalahan orang lain sementara diri sendiri masih banyak yang harus dibenahi. Jangan cepat menilai sebelum jujur menilai diri sendiri. Jangan mudah membuka aib orang lain sementara aib kita sendiri masih Allah tutupi dengan kasih sayang-Nya.

Tabayyun bukan hanya memeriksa berita, tetapi juga memeriksa hati. Apakah saya sedang adil? Apakah saya sedang marah? Apakah saya sedang iri? Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar ingin menang? Jika hati belum jernih, penilaian mudah condong dan berat sebelah. Jika hati penuh emosi, fakta sering diabaikan.

Karena itu marilah kita membiasakan diri untuk menahan diri ketika sesuatu belum jelas, diam ketika sedang marah, menunggu ketika informasi belum lengkap, dan berpikir berkali-kali ketika menyangkut kehormatan seseorang. Sebab menjatuhkan kehormatan orang lain pada hakikatnya akan merugikan diri kita sendiri.

Semoga Allah menjaga lisan kita, menjaga jari-jari kita, menjaga hati kita, dan menjadikan kita sebab hadirnya kedamaian.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Mari kita mulai dari diri sendiri. Sebelum memperbaiki kabar, perbaikilah hati. Sebelum menilai orang lain, nilailah dahulu diri sendiri. Sebelum membuka aib orang lain, ingatlah bahwa kita pun memiliki aib yang masih Allah tutupi. Sebelum berbicara tentang kesalahan orang lain, ingatlah betapa banyak kesalahan kita yang Allah maafkan setiap hari.

Andai Allah membuka seluruh kekurangan kita, mungkin kita tidak sanggup berjalan tenang di tengah manusia. Maka sebagaimana kita senang ditutupi aib kita, jangan mudah menyingkap aib saudara kita. Sebagaimana kita ingin dipahami, jangan tergesa-gesa menyalahkan. Sebagaimana kita berharap diampuni, maka belajarlah untuk memaafkan.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ...

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

أَقِمِ الصَّلَاة

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.