Header Ads

Header ADS

Pengajian Tarjih Pertemuan 6: Iman Pada Hari Kemudian


Pengajian Tarjih Pertemuan 6: Iman Pada Hari Kemudian

Oleh: Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A

Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta

Ketua Majelis Tarjih & Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok

 

الإِيمَانُ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ

يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ مِنْ خَرَابِ هٰذِهِ الْعَوَالِمِ، وَمَا أَخْبَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَوَاتَرَ مِنَ الْبَعْثِ وَالنَّشْرِ وَالْحِسَابِ وَالْجَزَاءِ.

 

Kita wajib percaya tentang adanya hari akhir dan segala yang terjadi di dalamnya tentang kerusakan alam ini, serta percaya akan hal-hal yang diberitakan oleh Rasulullah dengan riwayat mutawattir tentang kebangkitan dari kubur, pengumpulan di Makhsyar, pemeriksaan (ḥisāb) dan pembalasan.


Pengajian Tarjih Pertemuan 5: Iman Kepada Rasul

Keyakinan adanya kehidupan lain setelah kehidupan kita sekarang ini merupakan kesepakatan seluruh agama sekalipun mungkin berbeda rinciannya. Itu menunjukkan bahwa seluruh nabi semenjak Nabi Adam ‘alaihis salam telah mengajarkan konsep akhirat, meski kemudian banyak penganut agama yang mendistorsi ajaran para nabi tadi atau menyimpang darinya. Prof. Buya HAMKA menuliskan: “Apabila kita telah masuk ke dalam lingkungan agama, walau agama mana jua pun, kita mesti bertemu dengan kepercayaan kepada hari akhirat.”[1]

Adanya kehidupan setelah kita mati telah menjadi konsep yang logis agar nampaklah kemahaadilan Allah subhaanahuu wata’aalaa. Prof. K.H. Ahmad Azhar Basyir menjelaskan: “Banyak perbuatan baik dan buruk telah dilakukan. Yang baik ada yang telah dirasakan buahnya di dunia dan ada pula yang belum. Yang buruk ada yang telah dirasakan akibatnya di dunia tetapi lebih banyak yang belum. Oleh karenanya, harus ada alam lain tempat setiap orang akan menerima balasan yang seimbang dengan perbuatan yang dilakukan di dunia kini. Alam lain yang akan menjadi tempat balasan yang adil itu diadakan menjadi ganti dunia kita yang tidak mengenal keadilan yang mutlak ini.”[2]

Ibnu Taimiyyah memaparkan bahwa tahapan pertama Hari Kemudian ialah Alam Kubur[3]. “Yang dimaksud dengan alam kubur bukanlah semata kuburan, tetapi alam yang dimasuki oleh setiap orang yang meninggal dunia, apakah dia dikuburkan atau tidak dikuburkan. Misalnya jasad Fir’aun (Ramses II), meskipun sampai sekarang masih utuh sebagai mummi dan disimpan di Museum Tahrir Cairo Mesir, namun tetap tidak bisa terbebas dari alam kubur. Begitu juga jasad-jasad lain, baik yang utuh maupun yang hancur bagai tepung tetap memasuki alam kubur. Alam kubur dikenal juga dengan sebutan Alam Barzakh. Barzakh artinya yang membatasi antara dua hal. Dalam hal ini Alam Barzakh adalah alam pembatas antara alam dunia dan alam akhirat. Setelah seseorang memasuki alam kubur, dia akan ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir tentang Tuhan, Agama, dan Nabinya.

“Orang yang beriman akan menjawab: Tuhanku Allah, Agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad saw. Sedangkan orang yang tidak beriman atau orang yang ragu akan mengatakan tidak tahu, lalu dia akan disiksa. Yang menentukan bisa dan tidaknya seseorang menjawab pertanyaan Malaikat adalah iman dan amal shalehnya selama hidup ini dunia. Oleh sebab itu tidak ada persiapan untuk menjawab pertanyaan itu kecuali meningkatkan kualitas iman dan memperbanyak amal shaleh untuk mencari keridhaan Allah subhaanahuu wata’aalaa semata.

“Setiap orang yang lulus dalam ujian alam kubur akan merasakan kenikmatan, sebaliknya yang tidak lulus akan merasakan azab dan penderitaan. Bagaimana bentuk dan teknis kenikmatan dan siksaan itu tidaklah perlu kita selidiki dan kita banding-bandingkan dengan apa yang didapat di dunia sekarang ini karena tentu saja alam kubur yang ghaib berbeda dengan alam dunia yang nyata ini,” tulis Prof. Buya Yunahar Ilyas[4].

Tentang azab/nikmat kubur ini, disebutkan dalam salah satu Fatwa Tarjih: “Mengenai siksa kubur bagi yang berbuat dosa sesuatu hal yang tidak perlu diragukan lagi, mengingat tuntunan Nabi yang selalu dibaca pada waktu shalat di waktu duduk tahiyyat (akhir) yang mohon perlindungan dari empat hal: yaitu dari siksa Jahannam, siksa kubur, dari fitnah hidup dan fitnah mati serta minta perlindungan dari fitnah dajjal. Dasar tuntunan ini antara lain diriwayatkan oleh Muslim.”[5] Terlebih hadis tentangnya memang mutawātir, diriwayatkan oleh puluhan Sahabat[6].

Kemudian bila sudah terjadi kiamat dengan ditiupkannya sangkakala yang kali pertama, lalu disusul dengan ditiupkannya sangkakala kali kedua, maka semua orang akan dibangkitkan dari kuburnya. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Sangkakala pun ditiup sehingga matilah semua (makhluk) yang (ada) di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian, ia ditiup sekali lagi. Seketika itu, mereka bangun (dari kuburnya dan) menunggu (keputusan Allah).” [QS. Az-Zumar (39): 68]

Dan setelah sangkakala ditiup mereka keluar dari kubur bergegas ke Tuhan mereka. Mereka berkata: Celakalah kami, siapakah kami yang membangkitakan kami dari tempat tidur kami (kubur)? Inilah yang telah dijanjikan oleh Yang Maha Pemurah, dan benarlah Rasul-rasul. Tidak adalah tiupan itu kecuali hanya sekali, maka tiba-tibalah mereka semua dihadapan-Ku.” [QS. Yāsīn (36): 51-53]

Allah subhaanahuu wata’aalaa juga berfirman: “Orang-orang kafir beranggapan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ‘Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu mudah bagi Allah.” [QS. At-Taghābun (64): 7] dan berfirman: “Kemudian kamu semua dibangkitkan kelak pada hari kiamat.” [QS. Al-Mu`minūn (23): 16]

Setelah dibangkitkan, mereka semua dikumpulkan di Padang Maḥsyar. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Dia (Allah) itulah yang telah menjadikan bumi mudah (digarap) oleh kalian, maka jelajahilah pelosok-pelosoknya dan makanlah dari rizki-Nya. Dan kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [QS. Al-Mulk (67): 15]

Kemudian seluruh manusia akan diadili dan dihitung (ḥisāb) amalnya. Allah subhaanahuu wata’aalaa menghikayatkan doanya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua ayah-bundaku dan orangorang mukmin pada hari berlakunya pengadilan (Hari Kiamat).” [QS. Ibrāhīm (14): 41] Begitu juga hikayat-Nya tentang doa Nabi Musa ‘alaihis salam: “Dan berkata Nabi Musa: sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang takabbur (sombong) yang tidak percaya pada Hari Hisab.” [QS. Al-Mu`min (40): 27]

Lepas dari itu, maka masing-masing orang akan diberikan balasan sesuai hasil perhitungan amalnya. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Pada hari ini (Kiamat) dibalaslah tiap-tiap orang atas segala perbuatannya, pada hari itu tidak ada kezhaliman. Sesungguhnya Allah itu sangat cepat penghisabannya.” [QS. Al-Mu`min (40): 17]

فَيَقْضِي اللَّهُ بَيْنَهُمْ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ خَالِدًا فِيهَا وَلَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَهُمُ الْكَافِرُونَ وَالْمُشْرِكُونَ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ فِيهَا ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا، وَهُمُ الْمُؤْمِنُونَ الْعَاصُونَ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَيُخَلَّدُ، وَهُمُ الْمُؤْمِنُونَ الصَّادِقُونَ.

Maka Allah memberi keputusan tentang perbuatan orang, lalu ada yang masuk neraka selama-lamanya tidak keluar dari padanya, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, dan ada yang masuk kemudian keluar dari neraka, yaitu orang-orang mukmin yang berbuat dosa, dan ada yang masuk sorga dan kekal, yaitu orang-orang mukmin yang benar-benarnya.

Pada akhirnya, setelah beragam peristiwa di akhirat yang disebutkan misalnya oleh Al-Ījiyy dalam perkataan beliau -mengutip pendapat para ulama berdasarkan dalil-dalil ayat/hadis- berupa apa yang disampaikan Allah subhaanahuu wata’aalaa dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam tentang adanya Shirāth (jembatan di atas neraka yang diseberangi menuju surga), Mīzān (timbangan hakiki untuk menimbang amal perbuatan), Ḥaudh (telaga milik para nabi sebagai tempat minum umat mereka), yang semuanya benar adanya serta kita imani[7], maka Allah subhaanahuu wata’aalaa akan membagi manusia menjadi tiga golongan:

Kelompok pertama ialah mereka yang langsung masuk ke dalam neraka serta kekal di dalamnya. Mereka inilah orang yang kafir lagi musyrik. Allah subhaanahuu wata’aalaa firmankan: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu, di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah sejahat-jahat makhluk.” [QS. Al-Bayyinah (98): 6]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila penghuni Surga itu telah menuju ke Surga dan penghuni Neraka menuju ke Neraka, maka kematian dibawa di antara Surga dan Neraka, lalu disembelih, kemudian diserukan (Malaikat): Hai penghuni Surga, kekallah kamu dan tidak akan mati. Maka bertambah gembiralah penghuni Surga dan bertambah sedihlah penghuni Neraka.” [HR. Al-Bukhāriyy & Muslim]

Dalam Tafsir At-Tanwir dituliskan: “Kalau pertanyaannya, orang kafir itu terdiri atas siapa saja, maka surah Al-Bayyinah menyatakan bahwa orang kafir itu terdiri dari ahlulkitab dan orang-orang msuyrik sebagaimana disebutkan ‘Sesungguhnya orang-orang kafir yang berasal dari ahlulkitab dan orang-orang msuyrik itu masuk di neraka Jahannam.’ Dalam surah al-Munafiqun ayat 3 dinyatakan bahwa orang munafik itu tadinya beriman kemudian kafir, lalu di kalbu mereka dicap sebagai orang yang tidak memahami. Dengan demikian orang kafir juga terdiri atas orang munafik. Orang munafik itu ‘KTP’-nya Islam, tetapi keyakinan dan perilakunya memusuhi Islam. Jadi orang kafir itu bisa berasal dari orang musyrik, orang ahlulkitab, dan orang Islam ‘KTP’.”[8]

Kelompok kedua ialah mereka yang masuk ke dalam neraka tapi tidak kekal di dalamnya melainkan akan dikeluarkan dari neraka kemudian dimasukkan ke dalam surga serta kekal di dalamnya. Mereka inilah orang-orang muslim yang penuh dosa serta tidak langsung Allah subhaanahuu wata’aalaa ampuni dosa mereka. Dalam sebuah hadis dari Abi Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Apabila ahli Surga itu telah masuk Neraka, maka Allah berfirman: Barang siapa di dalam hatinya ada iman sekalipun sebesar biji sawi, keluarkanlah ia (dari Neraka), lalu mereka keluar…..” [HR. Al-Bukhāriyy]

Abul Mu’īn An-Nasafiyy tegaskan bahwa dalil-dalil ayat/hadis menunjukkan bahwa Allah subhaanahuu wata’aalaa berhak mengampuni pelaku dosa besar yang meninggal dunia sebelum sempat bertaubat dengan karunia-Nya sebagaimana Dia juga berhak mengizinkan para nabi, malaikat, dan orang salih untuk memberikan syafa’at baginya sehingga ia dikeluarkan dari neraka setelah sempat memasukinya, diselamatkan dari neraka sebelum memasukinya, atau bahkan diditinggikan derajatnya di surga[9].

“Syafa'ah artinya pertolongan atau doa yang terkabul. Kelak di padang mahsyar semua orang merasa takut dan khawatir terhadap bahaya yang akan menimpa dirinya. Dalam keadaan kacau-balau di bawah panas terik, mereka berlari kian-kemari mencari perlindungan atau orang yang dapat menolong nasibnya. Maka Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memberi syafa'ah kepada di antara mereka yang benar-benar mukmin dan ta'at, yaitu memohonkan kepada Allah agar mereka dimasukkan Surga tanpa dihisab, atau agar diampuni segala dosanya supaya dapat terus ke Surga tanpa lebih dahulu disiksa dalam Neraka. Allah mengabulkan permohonannya.

Memasukkan orang ke Surga atau mengampuni dosa adalah bukan kekuasaan Rasul tetapi mutlak wewenang Allah, Rasul hanya memohonkan, inilah dia syafa'ah itu. Sudah tentu Rasulullah hanya mau memberikan syafa'ahnya kepada orang yang beramal dan ta'at kepada Allah dan Rasulnya, yaitu mereka yang memang ahli Surga tetapi harus lebih dahulu disiksa karena ada dosanya. Maka syafa'ah itu ialah menghilangkan siksa tersebut sehingga dapat langsung ke Surga,” jelas K.H. Djarnawi Hadikusuma tentang syafa’at[10]. Seluruh ulama telah ber-ijmā’ bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki syafa’at sebagaimana dinukilkan Abul Ḥasan Al-Asy’ariyy[11] serta hadis-hadis tentang syafa’at pun mutawatir[12].

Terakhir ialah kelompok ketiga, yaitu mereka yang langsung masuk ke surga dan kekal di dalamnya tanpa masuk neraka lebih dahulu. Mereka inilah orang-orang yang tidak membawa dosa saat wafatnya karena ma’shūm -seperti halnya para nabi- atau telah bertaubat sungguh-sungguh di dunia. Begitu pula orang yang wafat membawa amal buruk yang belum ia taubati tetapi diampuni bersih dengan seizin Allah subhaanahuu wata’aalaa karena semisal amal salihnya lebih banyak. Allah subhaanahuu wata’aalaa berfirman: “Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan.” [QS. Al-Qāri’ah (101): 6-7]

Allah subhaanahuu wata’aalaa juga firmankan: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, jiwa dan harta benda mereka dengan Surga; mereka berperang pada jalan Allah, lalu ada yang membunuh dan ada yang terbunuh….” [QS. At-Taubah (9): 11] serta berfirman: “Tuhan menggembirakan mereka dengan rahmat, keridhaan dan Surga mereka memperoleh kesenangan yang tetap, mereka kekal di dalamnya selamalamanya.” [QS. At-Taubah (9): 21-22]

Abū Ya’lā kutipkan pandangan para ulama bahwasanya memang berdasarkan dalil-dalil ayat/hadis, surga dan neraka itu tidak akan sirna. Keduanya sudah ada dan kekal[13]. Dalam sebuah Fatwa Tarjih dijelaskan: “Keabadian di dalam neraka maupun di surga menurut ayat itu tidak sama dengan keabadian Allah yang disebut Baqaa. Keabadian neraka dan surga sesuai dengan kehendak Allah, dan tidak bertentangan tentang keabadian di neraka dan surga itu.”[14]

As-Saffārīniyy menyimpulkan urutan kejadian-kejadian di akhirat yang tadi disebutkan sebagaimana berikut[15].

 

 

Pada akhirnya, banyak sekali hikmah dan pengaruh positif dari keimanan kepada Hari Kemudian ini bagi hidup kita sebagai manusia. Prof. K.H. Ahmad Azhar Basyir menyatakan: “Beriman kepada hari akhir berikut segala sesuatu yang menjadi rangkaiannya amat besar artinya bagi manusia. Pertanggungjawaban yang akan dimintakan kepada manusia atas segala perbuatannya di dunia berikut balasan baik yang dijanjikan amal kebajikan dan balasan buruk terhadap amalan buruk sebagaimana telah diterangkan di atas mendorong kita untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhkan perbuatan yang buruk.”[16] Tak heran kita dapati banyak sekali ayat dan hadis yang menyinggung tentang keimanan kepada Hari Kemudian, semoga kita dapat meningkatkan iman kita, keluarga, dan masyarakat kita terhadapnya. Nashrun minallāhi wafatḥun qarīb wabasysyiril mu`minīn.

 

Materi Pengajian Tarjih Pertemuan 6: Iman Pada Hari Kemudian, Pimpinan Ranting Muhammadiyah & Aisyiyah Ciganjur-Cipedak (Jagakarsa-Jakarta Selatan-DKI Jakarta), Masjid Jami' Asy-Syakirin, 23 Februari 2024

 



[1] Hamka, Pelajaran Agama Islam hlm. 268 (Jakarta: Bulan Bintang, 1996).

[2] Ahmad Azhar Basyir, Akidah Islam hlm. 144 (Yogyakarta: UII Press, 2013).

[3] Ibnu Taimiyyah, Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah hlm. 63 (Kairo: Dārussalām, 2009).

[4] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam hlm. 155-156 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020).

[5] Tanya Jawab Agama jld. II hlm. 3-4 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015).

[6] Muḥammad Al-Kattāniyy, Nadzhmul Mutanātsir hlm. 134-135 (Beirut: Dārul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1987).

[7] Al-Ījiyy, Al-Mawāqif hlm. 383 (Beirut: ‘Ālamul Kutub, 1997).

[8] Tafsir At-Tanwir jld. I hlm. 78 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2022).

[9] Abul Mu'iin An-Nasafiyy, Tabshiratul Adillah jld. II hlm. 1066 (Kairo: Al-Maktabah Al-Azhariyyah, 2022).

[10] Djarnawi Hadikusuma, Kitab Tauhid hlm. 58 (Yogyakarta: Percetakan Persatuan, 1964).

[11] Abul Ḥasan Al-Asy’ariyy, Al-Ibānah hlm. 241 (Kairo: Dārul Anṣār, 1397 H).

[12] Muḥammad Al-Kattāniyy, Nadzhmul Mutanātsir hlm. 246.

[13] Abū Ya’lā, Mukhtashar Al-Mu’tamad hlm. 370 (Mekkah: Dār Thaybah Al-Khadhrā`, 2019).

[14] Tanya Jawab Agama jld. III hlm. 29.

[15] As-Safffārīniyy, Lawāmi’ul Anwāril Bahiyyah jld. III hlm. 82 (Riyadh: Dārut Tawḥīd, 2016).

[16] Ahmad Azhar Basyir, Akidah Islam hlm. 152.

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.