Kultum Ramadhan: Beriman Kepada Malaikat
Kultum Ramadhan: Beriman Kepada Malaikat
Rudiyanto, S.Pd.I., M.Pd.
Bendahara Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْـحَمْدُ
لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا
وَيَرْضَى.
نَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْكَثِيْرَةِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا
تُحْصَى.
وَنُصَلِّي
وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، خَيْرِ الْوَرَى، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا
بَعْدُ
Hadirin yang dirahmati Allah,
Salah satu rukun iman yang wajib kita yakini adalah iman kepada
malaikat. Dengan beriman kepada malaikat, kita menyadari bahwa Allah ﷻ memiliki makhluk-makhluk yang senantiasa taat dan tidak pernah
bermaksiat kepada-Nya. Mereka melaksanakan perintah Allah ﷻ dengan penuh ketaatan, mencatat amal, menjaga, dan melaksanakan
tugas sesuai kehendak-Nya.
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Keimanan yang harus kita tanamkan yaitu
bahwa Malaikat adalah Makhluk Ciptaan Allah ﷻ
yang taat. Allah ﷻ menciptakan malaikat untuk taat kepada-Nya. Malaikat tidak pernah
durhaka pada yang Allah ﷻ perintahkan kepada mereka. Dalam QS. At-Tahrim [66] ayat 6 Allah Ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ
وَأَهۡلِيكُمۡ
نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ
عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ
شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ
ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ
مَا يُؤۡمَرُونَ
“Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azhim [7:322] berkata, “Ketika ada perintah dari Allah pada malaikat,
mereka langsung segera melakukannya, mereka tidak menundanya walau sekejap mata
pun. Mereka mampu untuk melakukannya, bukan tidak mampu menjalankannya.”
Keimanan selanjutkan yang harus kita
tanamkan adalah bahwa Malaikat diciptakan dari cahaya. Malaikat itu adalah
bentuk jamak dari kata al-malak. Malaikat adalah hamba Allah ﷻ
yang mulia, ia menjadi perantara antara Allah dengan rasul-Nya, ia
adalah makhluk yang taat dan suci. Malaikat diciptakan dari cahaya. Dalam HR.
Muslim, no. 2996, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُلِقَتِ
الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ
آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin
diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah ada pada kalian.”
Keimanan berikunya yang harus ada pada
diri kita adalah bahwa Malaikat pemikul Arsy. Kata Imam Al-Muzani, “Di antara malaikat itu ada
yang (bertugas) dengan kemampuannya memikul ‘Arsy.” Dalilnya adalah QS. Al-Haaqqah [69] ayat 17, Allah berfirman,
وَالْمَلَكُ
عَلَىٰ أَرْجَائِهَا ۚوَيَحْمِلُ
عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ
“Dan malaikat-malaikat berada di
penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung
‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.”
Kultum Ramadhan: Syahrul Tarbiyah
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Ada
Tiga Hikmah Diciptakannya Makhluk oleh Allah
Pertama: Agar makhluk
mentauhidkan Allah. Dalam QS. Adz-Dzariyat/51 ayat 56-57, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ
رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
“Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki
rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka
memberi-Ku makan.”
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan
utama Allah menciptakan manusia dan jin bukan untuk hal lain, tetapi agar kita
beribadah kepada-Nya. Artinya, hidup kita di dunia ini bukan sekadar mencari
uang, mengejar jabatan, atau bersenang-senang, melainkan untuk menyembah dan
mengabdi kepada Allah dengan penuh ketaatan. Allah tidak butuh apa pun dari
kita, tidak butuh rezeki, tidak butuh makanan, dan tidak butuh bantuan kita.
Justru kitalah yang membutuhkan Allah, karena dari-Nya-lah datang segala nikmat
dan rezeki.
Maka, kalau kita hidup tanpa mengingat
Allah, tanpa shalat, tanpa bersyukur, seolah-olah kita lupa dengan tujuan hidup
yang sebenarnya. Dunia ini hanya sementara, tapi ibadah kepada Allah adalah
bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Kedua: Agar para makhluk mengenal kesempurnaan nama dan sifat Allah. Dalam QS.
Ath-Thalaq [65] ayat 12, Allah Ta’ala berfirman,
اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ
الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Allah-lah yang menciptakan tujuh
langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu
mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya
Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah
menciptakan langit dan bumi bukan tanpa tujuan. Semua ciptaan itu ada agar kita
mengenal kebesaran, kekuasaan, dan ilmu Allah yang tidak terbatas.
Coba kita lihat langit yang luas, bumi
yang kokoh, gunung, laut, dan seluruh makhluk di dalamnya, semuanya berjalan
dengan teratur tanpa pernah bertabrakan. Itu semua menjadi bukti bahwa Allah
Maha Kuasa dan Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang luput
dari pengetahuan-Nya.
Dari ayat ini kita belajar, bahwa semakin
kita mengenal ciptaan Allah, seharusnya semakin bertambah rasa kagum dan iman
kita kepada-Nya. Karena ciptaan yang begitu sempurna hanya mungkin dibuat oleh
Zat yang Maha Sempurna.
Maka, marilah kita
jangan hanya memandang alam sebagai keindahan, tapi juga sebagai tanda
kebesaran Allah. Ketika melihat langit, gunung, laut, atau bahkan tubuh kita
sendiri, hendaklah hati kita berkata, “Subhanallah, sungguh besar kekuasaan
Allah yang menciptakan semua ini.”
Dengan begitu,
iman kita akan semakin kuat, dan kita akan semakin yakin bahwa Allah selalu
mengetahui, mengatur, dan menjaga setiap langkah kehidupan kita.
Ketiga: Untuk menguji makhluk, siapa yang paling baik amalnya. Dalam QS. Huud
[11] ayat 7, Allah Ta’ala berfirman,
وَهُوَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ
عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar
Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup di
dunia ini bukan tanpa maksud. Allah menciptakan langit, bumi, dan seluruh
isinya sebagai tempat ujian, untuk melihat siapa di antara kita yang paling
baik amalnya. Perhatikan, Allah tidak mengatakan “siapa yang paling banyak
amalnya”, tapi “siapa yang paling baik amalnya.”
Artinya, bukan sekadar banyak ibadah atau
amal, tapi amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan
tuntunan Rasulullah ﷺ.
Jadi, kehidupan ini sebenarnya adalah
ujian dari Allah. Ujian bisa datang dalam bentuk kesenangan maupun kesulitan, harta,
jabatan, kesehatan, keluarga, semuanya bisa menjadi sarana untuk melihat apakah
kita tetap taat kepada Allah atau malah lalai dari-Nya.
Maka, marilah kita jadikan hidup ini
sebagai kesempatan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbaiki niat, dan
memperindah amal. Karena yang Allah lihat bukan penampilan atau banyaknya amal,
tapi ketulusan hati dan kebaikan perbuatan kita.
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Dari pembahasan tadi kita tahu bahwa
beriman kepada malaikat bukan sekadar tahu namanya, tapi menumbuhkan kesadaran
bahwa kita selalu diawasi oleh makhluk Allah yang tidak pernah lalai
menjalankan tugasnya.
Malaikat mencatat setiap amal kita, baik
atau buruk. Maka, marilah kita menjaga hati, lisan, dan perbuatan, agar yang
tercatat di sisi Allah hanyalah kebaikan.
Buya Yunahar Ilyas mengatakan, “Dengan
beriman kepada malaikat, seseorang akan berusaha selalu berbuat kebaikan dan
menjauhi segala kemaksiatan serta ingat senantiasa kepada Allah ﷻ.
Semoga dengan keimanan kepada malaikat,
kita semakin takut berbuat dosa, semakin semangat beramal shaleh, dan selalu
merasa dekat dengan Allah ﷻ. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
اللَّهُمَّ
ثَبِّتْ إِيمَانَنَا إِلَى آخِرِ الْحَيَاةِ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْخَيْرِ.
جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِينَ
اسْتَقَامُوا عَلَى الْحَقِّ وَثَبَتُوا عَلَى الْإِيمَانِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Tidak ada komentar