Tuntunan Ringkas Salat Gerhana Menurut Muhammadiyah
TUNTUNAN
RINGKAS SALAT GERHANA
MAJELIS
TARJIH DAN TAJDID
PIMPINAN
PUSAT MUHAMMADIYAH
Islam
mengajarkan bahwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan adalah peristiwa astronomi
yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ, tidak berkaitan dengan nasib buruk
seseorang atau suatu negara. Sejumlah peristiwa Gerhana Matahari telah terjadi
di Indonesia, baik Gerhana Matahari Total, Gerhana Matahari Sebagian, Gerhana
Matahari Cincin, Gerhana Matahari Hibrida, Gerhana Bulan Total, maupun Gerhana
Bulan Sebagian. Peristiwa gerhana tersebut harus disikapi secara ilmiah dan
dituntunkan untuk berzikir melalui salat gerhana.
Dasar
Salat Gerhana
عَنْ
عَائِشَةَ قَالَتْ كَسَفَتِ الشَّمْسُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا فَنَادَى أَنِ
الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَكَبَّرَ .... .... ....
ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ فِيهِمْ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى
عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ
أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا
خَسَفَ بِهِمَا أَوْ بِأَحَدِهِمَا فَافْزَعُوا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
بِذِكْرِ الصَّلَاةِ [رواه النسائي].
Dari
‘Aisyah (diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari lalu
Rasulullah ﷺ
memerintahkan seseorang menyerukan aṣ-ṣalātu jāmi‘ah. Kemudian orang-orang
berkumpul, lalu Rasulullah ﷺ salat mengimami mereka. Beliau bertakbir
…., kemudian membaca tasyahud, kemudian mengucapkan salam. Sesudah itu beliau
berdiri di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian bersabda:
Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau
hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran
Allah. Oleh karena itu apabila yang mana pun atau salah satunya mengalami
gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir melalui salat [HR.
an-Nasai].
عَنْ
عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ
قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ َ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ
وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ
كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ
لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً
طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ
الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا هُوَ
أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ - وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ
سَجْدَتَيْنِ - ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى
اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ
قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ
بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا
رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ [رواه مسلم].
Dari
‘Aisyah, istri Nabi ﷺ,
(diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa hidup Nabi
ﷺ.
Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian berdiri dan bertakbir dan orang banyak
berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah ﷺ membaca (al-Fatihah dan surah) yang
panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang lama, kemudian mengangkat
kepalanya sambil mengucapkan sami‘allāhu li man ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd, lalu berdiri lurus dan membaca
(al-Fatihah dan surah) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama,
kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama, namun lebih pendek dari rukuk pertama,
kemudian mengucapkan sami‘allāhu li man ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd, kemudian beliau sujud. Sesudah
itu pada rakaat terakhir (kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada
rakaat pertama, sehingga selesai mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu
matahari terang (lepas dari gerhana) sebelum beliau selesai salat. Kemudian
sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada para jamaah di mana beliau
mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya, kemudian beliau bersabda:
Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah,
dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu
melihatnya, maka segeralah salat [HR Muslim].
Waktu
Salat Gerhana dan Orang yang Dapat Mengerjakannya
Salat
gerhana dilaksanakan pada saat terjadi gerhana sampai dengan usai gerhana, baik
pada saat gerhana Matahari maupun gerhana Bulan, pada gerhana total atau
gerhana sebagian. Apabila gerhana usai sementara salat masih ditunaikan, maka
salat tetap dilanjutkan dengan memperpendek bacaan.
Orang
yang dapat mengerjakan salat gerhana adalah mereka yang mengalami gerhana atau
berada di kawasan yang dilintasi gerhana. Orang yang berada di kawasan yang
tidak dilintasi gerhana tidak perlu mengerjakan salat gerhana. [sumber: Rubrik
Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah No. 19 tahun 2008]
Khutbah Shalat Gerhana: Pelajaran Akidah dan Ibadah dari Gerhana
Tata Cara Salat Gerhana
Salat gerhana dilaksanakan secara berjamaah, tanpa azan dan ikamah. Dilaksanakan dua rakaat, pada setiap rakaat melakukan rukuk, qiyam dan sujud dua kali. Salat gerhana boleh dilakukan di tanah lapang ataupun di masjid. Urutan tata cara salat gerhana adalah sebagai berikut:
- Imam menyerukan aṣ-ṣalātu jāmi‘ah.
- Takbiratul-ihram, lalu membaca surah al-Fatihah dan surah panjang dengan jahar.
- Rukuk, dengan membaca tasbih yang lama.
- Mengangkat kepala dengan membaca sami‘allāhu li man ḥamidah, makmum
membaca rabbanā wa lakal-ḥamd.
- Berdiri tegak, lalu membaca al-Fatihah dan surah panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama.
- Rukuk, sambil membaca tasbih yang lama tetapi lebih singkat dari yang pertama.
- Bangkit dari rukuk dengan membaca sami‘allāhu li man ḥamidah, makmum membaca rabbanā wa lakal-ḥamd.
- Sujud.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud.
- Bangkit dari sujud, berdiri tegak mengerjakan rakaat kedua seperti rakaat pertama.
- Salam.
- Setelah salat, imam berdiri menyampaikan khutbah satu kali yang berisi
nasihat serta peringatan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ serta mengajak memperbanyak istigfar,
sedekah dan berbagai amal kebajikan.
Sumber: Lampiran Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 01/MLM/ I.1/E/2026 tanggal 3 Ramadan 1447 H/20 Februari 2026 M Tentang Gerhana Bulan Total
Tidak ada komentar