Kultum Ramadhan: Tauhid, Ilmu dan Amal Adalah Senjata
Kultum Ramadhan: Tauhid, Ilmu dan Amal Adalah Senjata
H. Wiwaha Aji Santosa, S.Pd
Wakil Ketua PDM Sukoharjo
اَلسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ
اَللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
اِتَّقِ
اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Islam adalah
agama yang membangun manusia secara menyeluruh: akidah, akal,
dan amal. Seorang mukmin tidak hanya dikenal dari keimanannya secara lisan, tetapi
dari kekuatan tauhid
yang mengokohkan keyakinan, ilmu yang menerangi akal, dan amal dalam kehidupan nyata.
Di kehidupan modern, kita menyaksikan banyak orang tidak beriman, tetapi maju dalam ilmu, ekonomi, dan teknologi. Sementara sebagian umat Islam, yang memiliki tauhid
dan amal shaleh,
justru tertinggal. Ini menimbulkan pertanyaan: di manakah
letak janji Allah ﷻ bagi orang beriman?
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Tauhid: Senjata Keimanan dan Keteguhan Hati
Secara bahasa,
tauhid berarti “mengesakan”. Secara istilah, tauhid
adalah meyakini bahwa hanya
Allah ﷻ satu-satunya Tuhan
yang berhak disembah, ditaati, dan diandalkan dalam
segala hal. Dalam Al-Qur’an
surat Al-Ikhlas [112] ayat 1–4 Allah ﷻ
berfirman,
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ
ٱلصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ
يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah
(Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.
(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun
yang setara dengan Dia.’”
Tauhid melahirkan ketenangan hati, karena seorang mukmin hanya menggantungkan hidupnya kepada
Allah ﷻ semata, bukan kepada
manusia, benda, atau kekuasaan.
Tauhid adalah pondasi amal. Dalam
hadis
sahih yang diriwayatkan Abu Dawud Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia
adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.”
Namun tauhid bukan hanya kalimat di lisan, melainkan komitmen hidup. Tauhid yang benar akan menumbuhkan kekuatan moral dan spiritual. Ia menjadi akar dari seluruh amal shaleh.
Menjadikan Allah ﷻ sebagai satu-satunya tempat bergantung dan sandaran hidup. Tidak takut kepada makhluk, jabatan, atau harta. Meluruskan niat bahwa semua amal hanya untuk mencari ridha Allah ﷻ. Dalam pedoman hidup Islami
warga Muhammadiyah disebutkan bahwa warga kita wajib menjadikan tauhid sebagai
sumber seluruh kegiatan hidup, dan menjauhi dari syirik, takhayul, bid‘ah, dan khurafat.
Kultum Ramadhan: Marhaban Yaa Ramadhan
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Ilmu: Senjata Pencerahan dan Kemajuan
Ilmu adalah perintah Allah ﷻ dalam Al-Qur’an. Wahyu pertama yang turun menandai pentingnya
ilmu dalam Islam. Dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq [96] ayat 1–5 Allah ﷻ
berfirman,
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ
الَّذِيْ خَلَقَ ١
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ
الْاَكْرَمُ ٣
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ
مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya.”
Ilmu adalah cahaya penerang kehidupan. Tanpa ilmu, tauhid akan kabur, dan amal menjadi
salah arah.
Orang yang
berilmu mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah ﷻ. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujādilah [58] ayat 11 Allah ﷻ berfirman,
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ
اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
“Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ
عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu
itu wajib atas setiap muslim.”
Islam tidak hanya menuntut penguasaan ilmu agama, tetapi juga ilmu duniawi yang membawa kemaslahatan. Dalam pandangan
Muhammadiyah, tidak ada dikotomi
antara ilmu agama dan ilmu umum, karena
keduanya sama-sama sarana
ibadah kepada Allah ﷻ.
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Amal: Senjata Pengubah Kehidupan
Iman sejati selalu diikuti oleh amal shaleh. Al-Qur’an berulang kali menyandingkan keduanya. Di antaranya dalam Surat Al-Bayyinah [98] ayat 7 Allah ﷻ berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ
هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk.”
Amal shaleh adalah bukti keimanan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ
خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin
yang lemah.”
Amal adalah wujud nyata iman. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin giat ia beramal. Amal shaleh tidak hanya ritual ibadah, tetapi juga mencakup: Bekerja keras dengan
jujur, Menegakkan keadilan sosial, menolong sesama manusia,
menjaga lingkungan dan memakmurkan bumi.
Prinsip amal dalam Muhammadiyah adalah: Ikhlas,
ilmiah, terorganisasi, dan bermanfaat bagi umat.
KH. Mas Mansur pernah menasihatkan, “Iman yang benar itu tidak cukup hanya
di dalam hati dan diucapkan dengan lisan saja, tapi harus dibuktikan dengan
amal nyata.”
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Menyikapi Fenomena: Orang Kafir Sukses, Mukmin Justru Sulit
Sunnatullah berlaku untuk semua. Allah ﷻ menegaskan bahwa hukum sebab-akibat (sunnatullah) berlaku universal. Sebagaimana dalam Surat Al-Fatḥ [48] ayat 23 Allah ﷻ berfirman,
سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ
وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
“(Demikianlah) sunatullah yang sungguh telah berlaku sejak dahulu.
Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu.”
Artinya, siapa pun yang bekerja keras, disiplin, jujur, dan berilmu, akan menuai hasil, meskipun ia tidak beriman.
Keberhasilan duniawi tidak selalu mencerminkan ridha Allah ﷻ, tetapi konsekuensi dari hukum alam yang Allah tetapkan.
Keberhasilan duniawi bukan ukuran kemuliaan.
Dalam Surat Al-Fajr [89]
ayat 15–17 Allah ﷻ berfirman,
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا
مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُۙ
وَأَمَّا
إِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۙ
فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِۙ كَلَّا
بَلْ لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَۙ
“Adapun
manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan,
maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Tuhannya
mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah
menghinaku.’ Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.”
Jadi, kekayaan bukan bukti kemuliaan, dan kesulitan bukan tanda kehinaan. Dunia hanyalah ujian keimanan.
Ujian bagi mukmin adalah
keutamaan baginya, karena semisal dengan para nabi. Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia
berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”
Beliau ﷺ menjawab,
الأَنْبِيَاءُ
ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad
Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At
Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Orang yang bertauhid kuat justru diuji untuk mengukur kesabarannya. Karena balasan yang dijanjikan bukan
sekadar dunia, tetapi
kebahagiaan abadi di akhirat.
Sikap mukmin terhadap fenomena ini yaitu dengan meneladani etos kerja orang kafir tanpa meniru akidahnya. Meyakini bahwa hasil duniawi bukan ukuran keberhasilan sejati. Menguatkan tauhid, memperdalam ilmu, dan meneguhkan amal, karena itulah senjata
menghadapi dunia dan akhirat.
Kaum Muslimin
yang dimuliakan Allah,
Tauhid, ilmu, dan amal adalah tiga senjata yang membentuk kekuatan mukmin sejati. Dengan tauhid, ia tegar; dengan
ilmu, ia bijak;
dengan amal, ia bermanfaat.
Fenomena keberhasilan orang kafir dan kesulitan mukmin bukan kontradiksi janji Allah
ﷻ, melainkan bagian
dari sunnatullah dan ujian iman. Karena bagi seorang mukmin, ukuran kemenangan bukanlah harta dan pangkat, melainkan ridha Allah ﷻ dan keselamatan akhirat. Dalam Surat Al-Qaṣaṣ [28]
ayat 83 Allah ﷻ
berfirman,
وَالْعَاقِبَةُ
لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang
yang bertakwa.”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
وَاَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tidak ada komentar