Kultum Ramadhan: Tiga Racun Hati yang Membinasakan
Jubriya (Ujub, Kibir, dan Riya):
Tiga Racun Hati yang Membinasakan
Dr. H.
Srie Lahir, M.Pd
Ketua Majelis Dikdasmen-PNF PDM Sukoharjo
السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
اَلْـحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ التَّقْوَى لِبَاسَ الصَّالِحِينَ، وَزَيَّنَ بِهَا
قُلُوبَ الْمُتَّقِينَ، وَأَمَرَنَا بِهَا فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ، فَقَالَ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أُوصِيكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا زَادُ السَّالِكِينَ، وَسَبَبُ نَجَاةِ
الْعَالَمِينَ.
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Manusia seringkali berdiri
di depan cermin dan mengagumi
bayangannya sendiri. Ia melihat wajah yang tampak
shaleh, amal terasa
banyak, dan diri yang dianggap baik. Namun cermin bisa menipu,
sebab yang dipantulkan hanyalah rupa, bukan hati. Begitulah tabiat
manusia. Ia mudah silau oleh kebaikan yang dilakukannya sendiri, lalu lupa siapa yang menggerakkannya.
Ia merasa telah menempuh jalan kebaikan, padahal ia tersesat oleh rasa bangga
pada dirinya.
Imam Al-Ghazali berkata
dalam Ihya’ Ulumiddin: “Ujub adalah kekaguman
seseorang terhadap dirinya sendiri, hingga ia lupa bahwa semua kebaikan berasal
dari Allah.”
Inilah awal kehancuran jiwa ketika manusia
memuja dirinya dalam diam.
Dan dari benih ujub itu tumbuh
dua cabang yang lebih beracun: kibr (kesombongan) dan riya (pamer amal).
Tiga sifat ini ujub, kibr, dan riya dikenal para ulama
sebagai “tiga racun hati” yang paling halus namun paling mematikan. Ketiganya
berpadu menjadi satu istilah: Jubriya.
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Ujub: Ketika Amal Menjadi Bayangan
Diri
Ujub itu halus, nyaris tak terasa. Ia menyusup lewat
celah-celah kebaikan. Ketika seseorang selesai
beramal, lalu muncul
rasa hangat di dada rasa puas, rasa bangga, rasa “aku telah
berbuat baik” di situlah ujub mulai berbisik. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari
Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW,
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ
بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi Dzat yang diriku berada
ditanganNya, jika kalian tidak berbuat dosa Allah akan hilangkan
kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta
ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka.”
Hadis ini mengandung rahasia besar: bahwa rasa butuh kepada ampunan Allah lebih
berharga daripada bangga dengan amal shaleh.
Kultum Ramadhan: Seteguk Air yang Dirindu Surga
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Kibr: Kesombongan yang Menutupi Cahaya
Kesombongan adalah anak kandung dari ujub. Jika ujub membuat
seseorang mengagumi dirinya, maka kibr membuatnya meremehkan orang lain. Ujub masih
berbicara “aku baik”, tetapi kibr sudah berani berkata, “aku lebih baik
dari dia”. Dan inilah kalimat
yang menjerumuskan Iblis ke neraka selamanya. Dalam Al-Qur’an Surat Al A’raf [7] ayat 12 Allah SWT berfirman,
قَالَ
مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
Dia
(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud
ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia.
Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Kesombongan menutup mata dari cahaya kebenaran. Ia
membuat manusia sulit menerima nasihat, enggan belajar,
dan cepat menilai rendah orang lain. Kibir menjerumuskan setiap diri tidak masuk surga. Dalam hadis
riwayat Muslim, dari Ibnu
Mas’ud RA, Nabi SAW bersabda,
لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang
yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.”
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Riya: Amal yang Tak Sampai
ke Langit
Riya adalah bayangan lain dari ujub dan kibr, penyakit yang paling tersembunyi. Ia
membuat seseorang beramal bukan karena Allah,
melainkan karena ingin dilihat manusia. Mungkin ia shalat dengan khusyuk ketika
orang menatapnya, atau bersedekah dengan nama yang diumumkan keras. Dalam hadis sahih Riwayat Ahmad [5:
429], Rasulullah SAW bersabda,
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ
الشِّرْكُ الأَصْغَرُ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ «الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ
تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً»
“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan
akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa
itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik
ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’
pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah
kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah
apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’
Riya ibarat menanam
pohon di pasir tampak hijau sebentar, lalu layu sebelum
berbuah.
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Kisah Hikmah: Tiga Golongan Pertama
di Neraka
Dalam sebuah hadis yang panjang dari Imam Muslim (Kitabul
Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau
(III/1513-1514 no. 1905), Rasulullah SAW menerangkan bahwa pada hari kiamat
nanti, manusia pertama yang diadili adalah tiga golongan: orang yang mati
syahid, orang yang menuntut ilmu dan membaca Al-Qur’an, serta orang yang diberi
harta melimpah. Masing-masing mengaku beramal karena Allah, namun Allah
membongkar niat mereka yang sebenarnya bukan karena-Nya, melainkan demi pujian
dan pengakuan manusia. Akibatnya, ketiganya diperintahkan untuk diseret dan
dilemparkan ke dalam neraka karena amal mereka tidak ikhlas. Betapa mengerikan,
ketika amal yang tampak besar di mata manusia ternyata kosong di sisi Allah.
Pesan KH. Ahmad
Dahlan: Jangan Kagum
pada Diri Sendiri
KH. Ahmad
Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pernah menegaskan kepada murid-muridnya: “Jangan
merasa berjasa kepada Allah. Justru
kitalah yang diberi kehormatan oleh Allah
untuk berbuat baik.” Beliau adalah
contoh nyata dari ketulusan yang
tidak mencari tepuk tangan. Ketika
murid-muridnya memuji perjuangannya, beliau
hanya menunduk dan berkata, “Kita hanyalah
pelayan agama, bukan pemiliknya.” Setelah mengajar, KH. Ahmad Dahlan sering membaca
dan merenungkan surat Al-Ma’un dan Al-‘Asr berulang kali. Beliau ingin menanamkan kesadaran bahwa agama bukan
sekadar ibadah ritual,
melainkan kerja nyata dan keikhlasan hati. Riya dan ujub
lahir dari perasaan ingin diakui. Sedangkan KH. Ahmad Dahlan mengajarkan ikhlas beramal
tanpa menuntut nama. Inilah jihad yang paling berat: melawan diri sendiri yang ingin
dilihat.
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Jalan Penyembuhan: Menundukkan Ego, Menghadirkan Allah
Imam Al-Ghazali memberikan tiga kunci untuk menyembuhkan hati dari racun Jubriya:
Pertama, Menyadari bahwa semua berasal
dari Allah. Jika engkau beramal,
katakan dalam hatimu:
“Ini semua bukan karena aku, tapi karena
rahmat-Mu ya Allah.” Tanpa taufik-Nya, kita takkan mampu mengucap satu
dzikir pun.
Kedua, Melihat kekurangan diri. Setiap amal pasti ada cela. Rasa takut amal tidak diterima
membuat hati lebih rendah dan lembut.
Umar bin Khattab pernah berkata: “Seandainya aku tahu satu amalku diterima Allah, niscaya itu lebih berharga bagiku
daripada dunia dan isinya.”
Ketiga, Menyembunyikan amal. Latihlah diri dengan amal yang tidak diketahui orang
lain. Bersedekah diam-diam, menangis di malam hari, berbuat baik tanpa nama. Sebab rahasia
keikhlasan adalah ketika
tiada satu pun mata yang mengetahuinya selain Allah.
Kaum Muslimin yang Berbahagia,
Hati yang selamat
bukanlah hati yang tanpa dosa,
tetapi hati yang selalu kembali
kepada Allah setelah
terjatuh. Ujub, kibr, dan riya akan
memenjarakan manusia dalam bayangan dirinya sendiri. Namun begitu ia mengingat Allah,
bayangan itu sirna,
dan cahaya cinta pun menerangi jiwanya. Maka, janganlah menjadi
manusia Jubriya menjadi hamba yang kagum pada dirinya, sombong pada makhluk, dan ingin
dipuja oleh sesama. Jadilah manusia yang diam-diam berbuat, yang sembunyi-sembunyi menangis, dan yang hanya
ingin dikenal oleh Allah, bukan oleh dunia.
Di antara pesan yang pernah
disampaikan oleh KH. Ahmad Dahlan adalah, “Jangan sombong dan berbesar hati
jika menerima pujian. Jangan Jubriya!”
H. Ahmad Syafi’i Ma’arif pernah
mengatakan, “Rendah hati adalah refleksi dari iman!”
Setiap kali hati mulai kagum
pada diri sendiri, ingatlah: Kita hanyalah debu yang dititipi cahaya. Jika Allah berkehendak, cahaya itu bisa padam kapan
saja. Kita tidak
sedang berlomba untuk menjadi
yang paling tampak baik, melainkan berusaha agar hati ini tetap lembut di
hadapan Allah.
“Ya Allah,
jangan biarkan kami terperdaya oleh amal kami. Jadikanlah kami hamba yang
mengingat-Mu di kala sepi dan ramai. Ajari
kami menunduk ketika
dipuji, dan bersyukur ketika diberi. Bersihkan hati kami dari ujub, kibr,
dan riya, agar setiap langkah
kami kembali kepada- Mu, bukan kepada diri kami
sendiri.”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ
بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Tidak ada komentar