Ramadhan Bulan Tazkiyah: Momentum Rehab Hati
KH.
Ihsan Saifuddin, S.Ag
Penasihat
Majelis Tabligh PDM Sukoharjo
Makna
tazkiyatun nafs
Dalam kamus
Lisanul Arab karya Ibnu Mandzur dijelaskan, kata "Tazkiyah"
berasal dari: Zakka-yuzakki-tazkiyatan, artinya menyucikan. Dalam
gramatika bahasa Arab, kata tazkiyah adalah bentuk fi’il tsulasi
mujarrad dari kata: zaka-yazku- zakaan.
Kata "Tazkiyah" dalam Kamus al-Munjid, diidentikkan dengan kata zakat, disebutkan demikian,
الزَّكَاةُ
مَا تُقَدِّمُهُ مِنْ مَالِكَ لِتُطَهِّرَهُ بِهِ أَيِّ الصَّدَقَةُ،
الطَّهَارَةُ: صَفْوَةُ الشَّيْءِ
“Az-Zakat artinya mengeluarkan hartamu untuk membersihkannya atau bersedekah. At-Thaharah (Az-Zakat) adalah beningnya sesuatu”.
Dalam Kamus al-Munawwir, oleh Ahmad Warson, tazkiyah mengandung makna al-nama’ (tumbuh) dan al-ziyadah (tambah).
Istilah "Tazkiyah nafsi" ada yang menerjemahkan dengan "Manajemen qalbu" yaitu menata hati, karena obyek pembahasannya masalah rehab hati.
Energi Syukur: Sikap Hidup yang Membuahkan Kebahagiaan
Ramadhan dan
rehab hati
Memasuki bulan Ramadhan banyak hal yang harus kita siapkan, utamanya adalah persiapan rehab hati setelah 11 bulan sebelumnya hati kita lelah atau rusak hingga perlu perbaikan. Bulan Ramadhan adalah momentum perbaikan hati. Ibarat kendaraan, Ramadhan adalah momentum servis berkala tahunan.
Ramadhan sebagai momentum rehab hati juga telah diingatkan oleh Amru ibn Qais rahimahullah, beliau berkata,
طُوبَى
لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمَضَانَ (لطائف المعارف ١٣٨)
"Beruntunglah orang yang memperbaiki jiwanya sebelum memasuki Ramadhan." (Kitab Latho'iful Ma'arif: 138)
Peduli rehab hati
Antara perawatan diri dan perawatan hati, kebanyakan manusia lebih peduli perawatan diri. Demi perawatan diri tak sedikit orang berani bayar mahal, namun tidak demikian dengan perawatan hati.
Sekadar untuk perawatan diri, banyak orang pasang rambut palsu, gigi palsu, alis palsu, bulu mata palsu, dan lain-lain yang serba palsu.
Demi perawatan wajah, seseorang rela terbang ke luar negeri, hanya untuk oplas (operasi plastik) yang menghamburkan uang ratusan juta. Namun sayangnya, biaya yang mahal tersebut tidak untuk rehab hati. Itulah fenomena keanehan manusia yang lebih peduli rehab diri dari pada rehab hati. Padahal, rehab wajah mau berapapun biayanya, penampilan wajah hanyalah untuk mencari penilaian manusia.
Di mata para ulama, mengutamakan perawatan wajah daripada hati adalah perkara yang aneh. Hal yang aneh tersebut pernah dikeluhkan oleh Imam Al Ghazali rahimahullah. Di zaman beliau saja sudah sedemikian marak, apakah lagi di zaman kini. Zaman yang lebih peduli penampilan lahiriyah dibanding batiniah.
Imam Al Ghazali rahimahullah pernah berkata,
عَجِبْتُ لِمَنْ
يَهْتَمُّ بِوَجْهِهِ وَهُوَ مَحَلُّ نَظَرِ الخَلْقِ، وَلَا يَهْتَمُّ بِقَلْبِهِ
وَهُوَ مَحَلُّ نَظَرِ الخَالِقِ
"Aku heran terhadap orang yang sibuk dengan penampilan wajahnya tapi abai dengan penampilan hatinya. Padahal, penampilan wajah hanyalah tempat manusia memandang, sedangkan hati adalah tempat Allah memandang." (Imam Al Ghazali)
Apa yang dikeluhkan Imam Al Ghazali rahimahullah senada dengan apa yang juga digelisahkan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, beliau mengatakan,
عَجَبًا
مِنَ النَّاسِ يَبْكُونَ عَلَى مَنْ مَاتَ جَسَدُهُ وَلَا يَبْكُونَ عَلَى مَنْ
مَاتَ قَلْبُهُ وَهُوَ أَشَدُّ
"Manusia itu aneh, mereka menangisi kematian jasadnya, namun tidak menangisi kematian hatinya, padahal kematian hati lebih berbahaya." (Imam Asy-Syafi'i)
Matinya hati jauh lebih berbahaya daripada matinya jasad. Bahkan bisa jadi, matinya jasad tidak menimbulkan bahaya sama sekali. Oleh karena kematian jasad tidak menimbulkan bahaya, orang Jawa mengatakan "wong mati ora obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko dhuwit".
"Urip golek dhuwit" bagi orang yang hatinya mati sangatlah berbahaya. Sebab dia tidak memiliki hati nurani. Demi golek dhuwit mereka menipu, korupsi, manipulasi, dll. Hasil dari duit yang didapat untuk flexing (pamer kemewahan), wasting (pemborosan), itulah fenomena matinya nurani.
Kiat-kiat rehab hati
Konsep rehabilitasi hati sangatlah banyak dan beragam, di antara sekian banyak konsep rehab hati, menurut Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mencakup beberapa langkah sebagaimana beliau katakan berikut ini,
مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يَفْتَحَ اللهُ قَلْبَهُ أَوْ يُنَوِّرَهُ: فَعَلَيْهِ بِالخَلْوَةِ،
وَقِلَّةِ الأَكْلِ، وَتَرْكِ مُخَالَطَةِ السُّفَهَاءِ، وَبُغْضِ أَهْلِ العِلْمِ
الَّذِينَ لَيْسَ مَعَهُمْ إِنصَافٌ وَلَا أَدَبٌ (المَجمُوعُ شَرحُ المُهَذَّب لِلنَّوَوِيِّ ١ : ٣١)
"Barangsiapa ingin agar Allah membukakan hatinya atau menerangi dengan cahaya-Nya, hendaknya dia suka menyendiri, sedikit makan, tidak bergaul dengan orang bodoh, menjauh dari sebagian ahli ilmu yang tidak memiliki sifat adil dan beradab." (Majmu' Syarhil Muhadzab. Imam An Nawawi: 1/31)
Berdasarkan nasihat Imam Asy Syafi'i rahimahullah di atas, ada beberapa langkah yang harus ditempuh agar berhasil meraih futuh qalbi, yaitu hati terbukanya hati manusia. Ketika hati manusia sudah futuh, dia akan memiliki ketajaman mata batin yang mampu "menembus batas".
Beberapa upaya meraih futuh qalbi secara singkat dapat diterapkan demikian:
[1] Lebih
suka menyendiri
Sikap suka menyendiri inilah yang diistilahkan dengan "khalwat" atau terkadang juga dinamakan "uzlah". Akan tetapi, bukan asal menyendiri dari pergaulan masyarakat, tapi menyendiri agar lebih fokus untuk perbaikan diri.
Meski demikian, ketika pergaulan bersama umumnya masyarakat tidak mendatangkan kebaikan, atau bahkan akan merusak kehidupan agamanya, maka seseorang boleh melakukan uzlah. Hal ini sebagaimana disebutkan para seorang ulama berikut ini,
إِذَا
فَسَدَ الزَّمَانُ وَرَأَيْتَ أَنَّ اِخْتِلَاطَكَ مَعَ النَّاسِ لَا يَزِيدُكَ
إِلَّا شَرًّا وَبُعْدًا عَنِ اللهِ، فَعَلَيْكَ بِالوَحْدَةِ [شرح رياض الصالحين
٣٥٤/٥]
"Apa kondisi zaman telah rusak, sedangkan bergaulmu dengan masyarakat umum hanya menambah keburukan atau bahkan menjauhkan dirimu dari Allah, maka hendaklah kamu menyendiri." (Syarh Riyadhish Shalihin: 5: 354)
Ucapan tersebut di atas, selaras dengan perkataan Syaikh Muhammad ibn Aman Al Jamiy rahimahullah juga berkata,
خَيْرٌ لِلإِنْسَانِ فِي هَذِهِ الأَيَّامِ أَنْ يُلازِمَ العُزْلَةَ مَا لَمْ يَجِدْ مَجَالًا لِلْمُخَالَطَةِ النَّافِعَةِ الَّتِي يَنْتَفِعُ بِهَا، أَوْ يُنْفِعُ بِهَا [«شرح أسباب انشراح الصدر : 79]
"Sikap terbaik yang harus ditempuh manusia hari kini adalah melakukan uzlah manakala pergaulan tidak mendatangkan kemanfaatan." (Syarh Asbab Insyirahish Shadr: 79)
Realisasi uzlah (menyendiri) yang lebih tepat saat ini adalah lebih banyak berdiam di masjid daripada tempat lain. Fakta membuktikan bahwa di banyak tempat hari ini, tidak mendukung kebaikan agama seseorang. Karena itulah masjid adalah tempat terbaik sebagaimana disabdakan Nabi ﷺ, beliau bersabda,
إِذَا
رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ
آمَنَ بِاللَّهِ
"Apabila
kalian melihat seorang laki-laki yang terbiasa mendatangi masjid, maka
bersaksilah atas keimanannya". Sesungguhnya Allah ﷻ berfirman:
(artinya) "Sesungguhnya hanyalah yang memakmurkan masjid itu adalah
orang-orang yang beriman kepada Allah. (At Taubah: 18)". (HR. Ibnu
Majah 794)
[2] Sedikit
makan
Kata "sedikit" lebih tepatnya adalah makan secara proporsional. Makan yang proporsional, sesuai ukuran sangatlah dianjurkan dalam pandangan agama. Berkenaan dengan makan, Al-Qur'an secara khusus mengungkapkannya dalam ayat berikut,
فَلْيَنظُرِ
ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
"Hendaknya manusia itu memperhatikan makannya." (QS. Abasa: 24)
Berlebihan dalam urusan makan menyebabkan mudah terserang penyakit, baik penyakit jasmani maupun ruhani. Berkenaan dengan hal berikut Imam Al Ghazali rahimahullah pernah berkata,
لاَ تُمِيتُوا اَلْقُلُوبَ بِكَثْرَةِ
اَلطَّعَامِ وَ اَلشَّرَابِ وَ إِنَّ اَلْقُلُوبَ تَمُوتُ كَالزَّرْعِ إِذَا كَثُرَ
عَلَيْهِ اَلْمَاءُ
"Janganlah
kalian mematikan hati dengan banyak makan dan minum, sesungguhnya hati itu
seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu banyak air." (Imam Al
Ghazali)
[3]
Menjauhi teman buruk
Menjauhi pertemanan dengan orang-orang buruk bukan berarti sama sekali tidak bertegursapa dengan mereka. Akan tetapi, sekadar membatasi agar tidak tertular keburukannya. Karena sifat buruk itu mudah menular.
Persahabatan yang buruk itulah yang diistilahkan dalam ilmu psikologi dengan toxic friend, kebalikan dari clean friends. Jauh sebelum muncul istilah toxic friends, lebih dari 1400 tahun yang lalu nabi sudah menyebutnya dengan istilah "shahibul kiir". Inilah hadits Nabi ﷺ berkenaan dengan hal tersebut, beliau ﷺ bersabda,
مَثَلُ
الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ، وَكِيرِ
الْحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ
رِيحَهُ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ
رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan persahabatan dengan teman yang shaleh dan teman yang buruk bagaikan berteman dengan tukang minyak wangi dan berteman dengan tukang pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan tukang pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari: 2101)
Berkenaan dengan hadits tersebut di atas, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits tersebut juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” [Fathul Bari 4/324]
Berkah pertemanan dengan orang yang betul-betul shaleh, sekadar memandang wajahnya saja dapat mencerahkan hati, inilah perkataan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو
القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mencemerlangkan hati.” [Syiyarul Alam Annubala': 8/435]
Persahabatan dengan orang shaleh sangatlah penting, sedemikian pentingnya hingga orang yang bertakwa sekalipun, masih diperintahkan agar tetap bersama orang-orang yang jujur. Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu selalu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)
Makna "Bersama orang orang-orang yang benar" dalam tafsir Al Muyassar diartikan demikian,
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ فِي
أَيْمَانِهِمْ وَعُهُودِهِمْ، وَفِي كُلِّ شَأْنٍ مِنْ شُؤُونِهِمْ
"Bersamalah
orang-orang yang benar dalam keimanannya dan ketepatan terhadap janji-janjiya
bahkan dalam segala urusannya."
(Tafsir Al Muyassar)
[4] Selektif
memilih guru
Pada umumnya semua guru adalah baik, kita tidak boleh sembarangan menilai dengan penilaian negatif terhadap guru, ustadz atau kyai. Kita harus husnudzon bahwa ustadz itu orang baik, selama tidak ada bukti nyata keburukannya. Ketika kedapatan ada ustadz yang buruk, itu ustadz jadi-jadian.
Menurut Imam Asy Syafi'i rahimahullah, ustadz jadi-jadian itu dapat dikenali dari dua ciri utama, yaitu: tidak bersikap adil dalam penyampaian ilmunya dan buruk dalam adab.
Untuk mengenali mereka cukuplah kita berpedoman pada hadits Nabi ﷺ berikut ini,
بِحَسْبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى
الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
"Cukuplah seseorang disebut jahat manakala suka merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya, haram dilanggar keselamatan darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim : 2564)
Termasuk sifat guru yang lebih buruk lagi adalah suka mencari-cari kesalahan orang lain, Rasulullah ﷺ bersabda,
يَا مَعْشَرَ
مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا
المُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ
تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ
اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, sedangkan keimanan belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin juga janganlah mencela mereka, serta janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Sesungguhnya, barangsiapa yang mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Barangsiapa yang aibnya dicari-cari oleh Allah, niscaya Allah akan membingkar aibnya walaupun dia berada di tengah rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi)
Suka mencari-cari aib orang lain adalah sifat kaum munafik, hal ini sebagaimana dikatakan Abdullah ibn Mubarak rahimahullah berikut,
الْمُؤْمِنُ
يَطْلُبُ الْمَعَاذِيرَ وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ الْعَثَرَاتِ
"Seorang mukmin itu mencari-cari alasan untuk memaklumi kesalahan orang lain, sedangkan orang munafik itu mencari-cari kesalahan orang lain untuk disebarluaskan." (Abdullah Ibnul Mubarak)
Mencari-cari aib orang lain dalam Al-Qur'an diistilahkan dengan "tajassus" (Al Hujurat: 14).
Imam Abu Hatim Al-Busti rahimahullah berkata, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.” [Raudhatul Uqala' : 131]
Tajassus termasuk dilarang. Kita menghukumi seseorang berdasarkan lahiriyahnya, dan tidak boleh mencari-cari aibnya.
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Janganlah sebagian kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya. Hendaklah kamu menilai seseorang berdasarkan sesuatu yang nampak bagi kamu, dengan yang tampak itu hendaknya kamu memuji atau mencela, bukan dengan rahasia-rahasianya yang tidak kamu ketahui.” (Tafsir Ath-Thabar 22/304)
Wa shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi, walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
_________
Follow :
ihsansfofficial 08122592911 (Sinau Agami Lumantar Piwulang Jawi)
*) Disampaikan pada Kuliah Subuh Barakah di Masjid Agung Imam Syuhodo Wonorejo, Polokarto Sukoharjo (Sabtu 30 Januari 2026)
Tidak ada komentar