Al-Qur’an, Pedoman atau Sekadar Bacaan?
Muhamad Fikri Aththoriq, S.Pd.
Anggota Majelis Tabligh PCM Blimbing Daerah Sukoharjo, Peserta Sekolah
Tabligh PWM Jawa Tengah Angkatan 3
Dalam
hidup, Allah ﷻ memberi kita
banyak pilihan: ada yang melalaikan dan ada yang menyadarkan. Dengan akal yang
Allah ﷻ titipkan sebagai amanah, sudah
seharusnya kita memilih hal-hal yang mengingatkan kita kepada-Nya sebagai
pemberi nikmat akal sehat.
Begitu
besar kasih sayang Allah ﷻ, sampai-sampai Dia terus
mengingatkan kita lewat ayat-ayat-Nya. Namun, coba kita tanya diri sendiri:
seberapa sering kita membaca, merenungi, atau bahkan sekadar mendengarkan
Al-Qur’an dibandingkan hal-hal lain yang melalaikan?
Sayangnya,
kita sering lebih sibuk dengan hal yang kurang bermanfaat. Al-Qur’an hanya
dibaca sesekali, bahkan ada yang berbulan-bulan tidak menyentuhnya. Kalaupun
dibaca, sering kali belum disertai pemahaman dan perenungan. Sementara itu,
pikiran kita justru dipenuhi oleh hal-hal yang melalaikan.
Semoga
kita termasuk orang yang kembali dekat dengan Al-Qur’an, bukan yang
menjauhinya.
Jika
kita benar-benar menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah ﷻ, maka
tidak pantas ia hanya menjadi bacaan sesekali. Ia adalah pedoman utama hidup
yang seharusnya didahulukan di atas hawa nafsu, kebiasaan, dan penilaian
manusia.
Allah
ﷻ sendiri menegaskan fungsi Al-Qur’an
sebagai petunjuk hidup:
إِنَّ
هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini
memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’/17: 9)
Bukan
hanya itu, Al-Qur’an juga diturunkan untuk direnungi dan diamalkan, bukan
sekadar dibaca:
كِتَابٌ
أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو
الْأَلْبَابِ
“(Al-Qur’an ini adalah)
kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya
mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat
pelajaran.” (QS. Sad/38: 29)
Bahkan
Rasulullah ﷺ kelak mengadukan kondisi umat yang menjauh
dari Al-Qur’an:
وَقَالَ
الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Rasul
(Nabi Muhammad) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan’.” (QS.
Al-Furqan/25: 30)
Ayat-ayat
ini seharusnya cukup menjadi tamparan keras bagi kita. Masalah kita hari ini
bukan tidak punya pedoman, tetapi tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman
utama.
Kita
sering membalik urutan: mengikuti keinginan, lalu mencari pembenaran. Padahal
seharusnya kita mencari petunjuk terlebih dahulu, lalu menundukkan diri
kepadanya.
Maka
titik baliknya jelas, bukan sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi menjadikannya
sebagai standar berpikir, sumber nilai, dan penentu arah hidup.
Karena
hidup tanpa Al-Qur’an sebagai pedoman pada akhirnya hanyalah perjalanan tanpa
arah, meskipun tampak sibuk dan penuh aktivitas. Jika Al-Qur’an benar-benar
kita yakini sebagai pedoman hidup, maka pertanyaannya bukan lagi “apakah kita
membacanya?”, tetapi “sudahkah kita hidup dengannya?”
Realitanya,
banyak dari kita bukan tidak mampu, tetapi belum terbiasa. Waktu ada, tetapi
lebih sering habis untuk hal lain. Hati ingin dekat dengan Al-Qur’an, tetapi
kalah oleh kebiasaan yang terus diulang. Di sinilah letak ujiannya: bukan pada
sulitnya, tetapi pada konsistensi kita.
Maka
mulailah dari yang sederhana, tetapi nyata: luangkan waktu setiap hari untuk
tilawah, walau hanya beberapa ayat. Jangan sekadar membaca, tetapi cobalah
pahami satu makna yang bisa diamalkan. Saat menghadapi masalah, biasakan
bertanya, “Apa petunjuk Al-Qur’an dalam hal ini?”
Karena
kedekatan dengan Al-Qur’an tidak dibangun dalam satu malam, tetapi dari
langkah-langkah kecil yang dijaga terus-menerus.
Sadarilah,
hati yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah kosong, gelisah, dan kehilangan arah.
Sebaliknya, hati yang dekat dengannya akan lebih tenang, lebih terjaga, dan
lebih tahu ke mana harus melangkah.
Maka
jangan tunggu waktu luang untuk kembali kepada Al-Qur’an. Justru dengan
Al-Qur’an, hidup kita akan menjadi lebih terarah.
Mulai hari ini, jangan biarkan satu hari berlalu tanpa Al-Qur’an. Walau hanya sebentar, jadikan ia bagian dari hidup kita—bukan sekadar hiasan, tetapi benar-benar sebagai pedoman. Baarakallāhu fīkum.

Tidak ada komentar