Sibuk Bangun Citra, Lalai Bangun Karakter: Pesan Khutbah Jumat Masjid An-Nuur
![]() |
| Sibuk Bangun Citra vs. Lalai Bangun Karakter: Kaidah Imam Syafi'i tentang mencari rida Allah, bukan rida manusia. (Sumber Foto: Ilustrasi AI) |
PEDAN – Sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Troketon, Ustaz Muhammad Farhan Al Yuflih, menekankan bahaya penyakit riya dan haus pujian yang membuat seseorang lebih mementingkan penilaian manusia daripada penilaian Allah. Pesan ini disampaikan saat beliau bertindak sebagai khatib sekaligus imam salat Jumat di Masjid An-Nuur Tegalan, Troketon, Pedan, Klaten, Jumat (3/4/2026).
Dalam khotbahnya, Ustaz Farhan Yuflih menyoroti fenomena zaman di mana "penilaian orang lain" seolah menjadi standar kebahagiaan bagi banyak orang. Ketergantungan pada pujian manusia disebut sebagai pintu masuk bagi penyakit hati yang paling halus, yaitu riya.
Bahaya Membangun "Istana Pasir"
Khatib mengibaratkan orang yang berbuat sesuatu hanya demi pujian atau "jempol" manusia seperti sedang membangun istana di atas pasir. Karakter yang dibangun di atas fondasi tersebut akan sangat rapuh dan mudah runtuh seketika saat angin kritikan datang menerjang.
"Kita merasa mulia jika dipuji, dan merasa hancur jika dicaci. Kita sibuk membangun citra di mata manusia, namun sering kali lalai membangun karakter di hadapan Allah," ungkap Ustaz Muhammad Farhan Al Yuflih.
Merdeka dari Lisan Manusia
Jemaah khutbah Jumat Masjid An-Nuur diingatkan pada kaidah penting dari Imam Syafii bahwa mencari rida manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Seseorang yang standar nilainya masih bersandar pada lisan orang lain cenderung akan berhenti atau tidak lagi beramal karena dicela oleh manusia.
Oleh karena itu, khatib mengajak warga Tegalan untuk merdeka dari pandangan manusia dan beralih pada standar sejati, yakni penilaian Allah. "Jika Allah rida, maka celaan seluruh dunia tidak akan membahayakan, namun jika Allah murka, pujian setinggi langit tidak akan mampu menolong."
Khotbah ditutup dengan ajakan untuk fokus pada perbaikan diri di dalam sunyi, karena Allah melihat apa yang tersembunyi sementara manusia hanya melihat apa yang tampak.

Tidak ada komentar