Header Ads

Header ADS

Tafsir Al-Kahfi Ayat 82: Keshalihan Orang Tua Jadi Investasi Terbaik Anak


Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah

 

Orang tua bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya. Mereka rela bekerja banting tulang dari pagi hingga malam, bahkan merangkap beberapa pekerjaan demi mendapatkan harta lebih untuk menyiapkan kenyamanan hidup anak-anaknya.

Namun, dalam menyiapkan kenyamanan hidup seorang anak, orang tua Muslim tidak boleh lepas dari kegiatan spiritual. Kerap kali, orang tua yang bekerja keras justru meninggalkan kewajiban spiritual yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan.

Tulisan ini menawarkan solusi inspiratif melalui QS. Al-Kahfi ayat 82 sebagai motivasi bagi para orang tua dalam menyiapkan kehidupan anak keturunannya.

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ ۝٨٢

Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua. Ayah mereka adalah orang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku sendiri. Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”

Dalam tafsir QS. Al-Kahfi ayat 82, terdapat lima poin tadabbur yang dapat direfleksikan oleh masyarakat:

Pertama, keshalihan orang tua akan berefek positif kepada anak-anak. Keshalihan tersebut diwariskan melalui qudwah (keteladanan) dan tarbiyah (pendidikan).

Keteladanan dan pendidikan orang tua menjadi sorotan utama sebagai penentu kehidupan seorang anak di kemudian hari. Jika orang tua membiasakan hal baik, seperti membaca buku di depan anak, kelak anak akan menirunya. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus membiasakan diri memberikan teladan yang baik.

Selain itu, dalam ayat ini terdapat warisan yang lebih mulia dari keshalihan orang tua, yaitu penjagaan dari Allah kepada anak-anaknya. Mengutip penafsiran As-Sa’di, kedua anak tersebut dijaga karena keshalihan orang tuanya.

Kedua, keshalihan orang tua memberikan efek positif pada generasi-generasi selanjutnya. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah menjaga orang yang saleh beserta anak keturunannya, bahkan hingga generasi yang jauh darinya. Disebutkan bahwa penjagaan tersebut dapat mencapai generasi ketujuh.

Ketiga, Allah memberikan penjagaan kepada anak keturunan orang saleh melalui dua faktor. Pertama, sebagai balasan atas keberkahan amalan orang tua. Kedua, melalui doa ishlah dzuriyah (perbaikan keturunan) yang dipanjatkan secara terus-menerus.

Hal ini sekaligus membantah persepsi bahwa balasan Allah hanya berupa surga. Pandangan tersebut terlalu sempit. Balasan Allah juga hadir dalam kehidupan dunia, seperti penjagaan, keamanan, dan kebahagiaan yang sering kali tidak disadari manusia.

Keempat, ayat ini menjadi motivasi bagi orang tua untuk lebih giat dalam beramal saleh. Dampak dari kesungguhan tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga membawa keberkahan kolektif bagi keluarga dan keturunannya.

Kelima, amalan saleh orang tua dapat menjadi bentuk tawasul atau stimulus syar’i agar Allah berkenan menjaga anak keturunannya.

Dikisahkan, Sa’id bin Al-Musayyab, seorang tabi’in, pernah menambah rakaat salat malamnya, lalu berkata kepada anaknya, “Sesungguhnya aku menambah salatku, dengan harapan Allah senantiasa menjagamu.”

Lebih lanjut, tawasul sering dianggap sebagai amalan bid’ah. Padahal, terdapat tawasul syar’i, seperti berdoa dengan menyebut Asmaul Husna dan meminta doa kepada orang-orang alim yang masih hidup.

Terakhir, keshalihan orang tua memberikan efek positif yang terpancar bagi keturunannya. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya tidak jenuh dan malas dalam berlomba-lomba memperbanyak amalan saleh.

Orang tua sering tidak pernah lelah bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya. Namun, yang lebih penting adalah menyiapkan investasi akhirat bagi kehidupan anak-anak dengan memperbanyak amalan saleh, yang semoga menjadi keberkahan bagi mereka di masa depan. (Affiq/Humas UMS)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh Deejpilot. Diberdayakan oleh Blogger.